HeksaGraf - Sastra Enam Paragraf diciptakan oleh Jisa Afta

HeksaGraf dibentuk dengan menggabungkan dua kata yaitu diambil dari kata "Hexa" (Yunani: enam) dan "graf" (tulisan/paragraf)..

Kekeliruan Kategori Puisi di Sekolah dan Kampus

Di sekolah dan kampus, pelajaran Bahasa Indonesia mengajarkan pada kita semua bahwa Puisi tergolong dalam kategori teks fiksi atau karya fiksi. .

Apa itu DREB?

Dreb diciptakan oleh Jisa Afta, DREB adalah esensi dari sebuah cerita seperti menonton hanya scene paling intens dari sebuah film.

Proses dI balik DREB: PROYEK VANTA-VOID

Gambaran besar Proyek 'Vanta-Void' di dalam pikiran dan imajinasi liar:.

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI | Oleh : Tea Terina

Membaca judulnya memang menimbulkan penafsiran yaitu bangga memiliki buku puisi karya sendiri.

Kereta Hantu





Kuliah Selesai 

Mari pecahkan pembaca kita jadi 3 tipe.

Contoh Tema : Kereta Hantu 

Malam itu pukul 8, dari kantor menuju stasiun Manggarai.

"ramai yah?" bisik hatiku pada aku

"Mas, es teh?" ditawari oleh orang di sebelah

"mkasih mas" kataku

jendela kereta berbayang, cahaya bias memendar. Ada lampu redup dan suara candaan. Tapi yang paling banyak adalah suara langkah dari sepatu dan sandal yang di paksa mengejar pintu-pintu kereta yg terbuka.

Mulai berjalan

"kog sepi, yah?" hedset ditelinga ku lepas

Orang-orang tampak menunduk menatap layar handphone nya masing2.

Ini laju, mungkin 80 km per jam? ah aku tak tahu. Tapi aku merasa kereta seolah tak berjalan.

"ya, benar, karena angin tidak menyentuh langsung rambut dan tubuhmu, jisa, kamu sedang terkurung dalam sebuah kaleng raksasa yg bergerak melaju" kata hatiku.

Aku lihat jam tangan digital ku 21.00 dan tanggal 15 Oktober 2017.

Seorang bapak kira2 usia 60 tahun sibuk membuka lembaran koran dan akhirnya dia meletakkannya ke tempat duduk disisiku

"boleh, pinjam?" tanyaku

dia mempersilahkan tapi tak bicara, bapak tua itu lalu terlelap pada sandaran dinding yg sepertinya berwarna gelap.

Hendak membaca koran itu, tiba-tiba kereta berhenti di stasiun bogor.

"jisa, yg lain tidak turun, kenapa mereka?" tanya hatiku
"iya yah? hendak memperhatikan kondisi keadaan dalam gerbong , tapi kereta sudah bergerak dan suasana dalam kereta sangat gelap, org-org tak bisa kulihat lagi dari luar dan kereta pun menjauh.

hendak berbalik, baru kusadari aku sedang berdiri di antara dua rel.

"Hei, bangun, mas" petugas membangunkan ku.

Aku baru saja terjaga?

"sejak kapan tidur di antara rel?" tanya nya padaku

"aku tak tidur" menatapny dgn wajah lucu. Bagiku petugas ini lucu bila ia menganggapku tidur.

"aku tadi naik kereta dan bahkan membaca koran, ini buktinya" tegasku. Padahal aku belum sempat baca.

si petugas mengambil koran ditanganku, aku melihat waktu di jam sudah jam 1 malam

"jam 1?" bisikku, bukankah tidak mungkin aku tiba jam 1 di bogor?

"hmmm, kamu orang kesekian kalinya" ungkap si petugas, sembari mengembalikan koran yg aku pinjam, ke aku.

"apa maksud nya pak?!" aku setengah berteriak sebab petugas itu langsung pergi.

penasaran, aku perhatikan koran yg membuat petugas tadi mengambil kesimpulan seolah-olah dari koran itu.

"Ya Allah, apa ini? apa yg yg baru saja terjadi?"

Pundakku serasa bergetar merinding dan perasaan takut ku memuncak. Tubuhku seketika dingin.

Koran ini di terbitkan tahun 1952, berita yg sedang kulihat ini di tulis tanggal 12 Januari 1952. Ini persinggahan stasiun terakhir dan tidak satupun dari penumpang yg turun kecuali aku.

Hampir terjatuh, badan ku lemas kupaksa berlari meninggalkan stasiun malam itu.

TERIMA KASIH

@Jisa_Afta

TEMARAM SENDU | Duet Syair Silvia Kusuma Dewi & Jisa Afta






TEMARAM SENDU

( Duet syair dgn Silvia Kusuma Dewi )

Pejamkan mata hati ketika mimpi bersua sang mahligai
Disana aku melihat dirimu

Mengenakan selendang rindu pemberian malaikat sunyi‎
Dan terdengarlah seruan cinta

Dari bibir sang waktu yang memejam takdir
‎ Jalan telah terbuka menuju sejatinya cinta
Hamparan bunga rindu jadikan warna swarga loka seelok jingga

Aku rengkuh manja sanubarimu
Seperti nada melepaskan birama sumbangnya
Lalu aku terjatuh dalam lautan keindahan rasa resah yang terpasung dalam kabut kesunyian

Aku pun menari diiringi denting dawai dewangga
Dan syahdu syair kerinduan menindih anganku jadi degup degup ragu

‎Aku jadi pemuja keanggunanmu
Rahasia yang tersembunyi di dalam kitab semilir
Membuka jendela hatiku
Dan aku terpukau dengan dirimu
‎Sedang aku terpenjara dalam kidung Asmaradana

Diatas petala maknawi puisi resahku
Tersimpan rindu resahku diantara puisi yang berserak
Juga semilir berrima cinta
Maka hujjah tlah merekahkan bunga sinur tanpa embun dari pucuk Karbala

Terbebaslah anugrah menjemput kesempurnaan jiwa
Mimpiku selalu kembali kala wahyu yang membawa pesan cinta darimu serupa nyanyian surgawi
Anganku tumbuh di jiwamu
Bersama seruan nirwana yang murung diambang fajar
Ini rima kami berupa alunan mimpi dari rindu yang terbang bagai anai

Kami jadikan archa membisu atas tarian aksara cinta Kahlah dan Dewangga

Syair kami,
Jisa Afta & Silvia Dee

TRAINING 5 DETIK | JISA AFTA





SIAPA YG SDH MEMAHAMI MATERI BUKU 5 DETIK, SILAHKAN DAFTAR UNTUK SAYA PERCAYAKAN JADI PEMBICARA DI SELURUH INDONESIA
(MENDAPAT ARAHAN LANGSUNG DARI SAYA (JISA AFTA).

____________________________

5 Detik Jadi PENULIS HEBAT
081241518638 WhatsApp

Bagaimana bisa anda katakan anda tidak dapat menjadi penulis HEBAT, sementara KEAHLIAN MENULIS anda setiap 5 Detik keluar dari bibir dan mulut anda tanpa di tuliskan ke laptop atau blog anda.
Siapa saja yang bisa mengikuti TRAINING 5 DETIK :
- PELAJAR
- MAHASISWA
- PROFESIONAL APA SAJA DAN UMUR BERAPA PUN
- PENULIS BLOG
- IBU RUMAH TANGGA YANG INGIN BERKARYA
- SIAPA SAJA YANG INGIN MEMILIKI KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI SECARA TERTULIS.
MATERI:
BAGAIMANA MEMPRODUKSI KATA MENJADI :
- PUISI
- PROSA
- ARTIKEL SEMUA BIDANG
- NOVEL
- PARODI SKETSA
- CERBUNG
- CERPEN
MATERI LANJUTAN:
- CARA BRANDING BUKU KAMU HINGGA DIKENALI KE SELURUH DUNIA
- CARA MENERBITKAN BUKU SECARA GRATIS
- CARA MEMBANGUN KEPERCAYAAN CALON PENGGEMAR ANDA MENJADI PENGGEMAR SESUNGGUHNYA
- CARA MENJUAL BUKU CETAK DAN DIGITAL SECARA ONLINE TANPA MODAL
Contact : 081241518638 WhatsApp


Jisa Afta

Implementasi Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Menulis Puisi dengan Teknik Jisa Afta | Oleh Riami






Implementasi Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Menulis Puisi dengan Teknik Jisa Afta

(Penjabaran sederhana untuk Penilaian oleh Riami)

Ketika kita menggunakan sebuah teknik untuk pembelajaran hal yang paling penting adalah kita mampu mengevaluasinya di akhir pembelajaran.

Mari kita lihat pengertian Penilaian autentik sebelum kita mengimplementasikan dalam teknik jisa Afta. Penilaian autentik merupakan bentuk penilaian yang menekankan pada kemampuan peserta didik untuk mendemonstrasikan pengetahuan yang dimilikinya secara nyata dan makna(Mahsun: 2013, 159)
Bagaimana kemampuan menulis puisi ini bisa dinilai secara nyata dan makna mari kita perhatikan penjelasan berikut.

Ketika Jisa Afta menulis kalimat seperti ini;

........adalah genggaman sang waktu ketika duri-duri bebungaan sinur kita semat pada magligai takdir. 

(5 Detik,Jisa Afta: 10) 

Titik-titik itu di suruh menulis satu kata yang indah. Maka ketika anda atau murid anda menulis satu kata di situ anda telah tentukan tema. Sederhana memang karena dari awal saya juga setuju berawal dari pemikiran yang sederhana. Lalu kalimat indah itu juga tertera dalam contoh kalimat yang ditulis di atas merupakan contoh bahwa dalam menulis puisi mengajak interaksi dan menuliskan benda itu bisa berlaku layaknya manusia. Sehingga anak tidak sulit untuk mempraktikan. 

Misal:
Tas
Indah
Biru

Tas indahku yang berwarna biru bercerita tentang lelahnya membawa buku buku.
Kalau saya amati kalimat rumpang itu sebenarnya ada satu kata indah dalam pemikiran yang membuat puisi dalam titik-titik yang belum terisi itu artinya yang akan ditulis atau dipikirkan. Katakanlah kita taruh kata Cinta maka itulah temanya. 

Nah dalam kalimat berikutnya kita ada kata:

Genggaman

Waktu

Ketika

Duri-duri

Bebungaan

Sinur

Kita

Semat

Pada

Mahligai

Takdir

Di situ sebenarnya ada pembelajaran penilaian penentuan diksi atau pilihan kata. Jumlah kata pendukung di situ merupakan contoh. Sekali lagi ini analisa saya dalam mempermudah penilaian. Maka kita boleh memberikan perintah kepada anak anak untuk menulis satu kata sebagai pokok pikiran. Kalau dia menulis di beri skor 1(satu). Bagaimana itu kriteria kata indah?

Kita simak pendapatnya jisa,

"Jika di dalam kehidupan anda sehari hari, anda tidak suka kata makian, hujatan maka jangan menulis kata kata makian dan hujatan.

Jadi kata inti yang ditulis anak dan kata pendukungnya harus indah. Bagaimana kriteria indah adalah bukan kata kebencian atau hujatan. Maka jika ia telah menulis 1 kata inti dan 5 kata pendukung yang indah skornya 6.

Selanjutnya bagaimana dalam pengembangan kalimat di baris baris puisi. Kalimat yang dipilih dengan kriteria bukan hujatan dan makian kita kembangkan menjadi kalimat indah yang bisa membawa anak bisa menulis benda- benda di sekitarnya menjadi sesuatu yang hidup yang bisa diajak bicara layaknya teman atau orang lain yang dia kenal. Kalau kita perintah menulis 5 kalimat dengan pengembangan dari dari kata indah yang ditulisnya yang syaratnya bukan kalimat kebencian dan bisa mengungkapkan benda / hal selain dirinya atau manusia bisa berlaku seperti manusia ketika dia bisa menulis skor nya 5.

Lalu berikutnya bagaimana ketika melihat unsur batinnya? Ketika menulis sendiri dia akan bisa menjelaskan isi/tema apa, perasaannya bagaima ketika menulis, nilai kehidupan apa yang di inginkan, dan pesan/ amanat apa yang ingin disampaikan kepada pembaca. 

Jika ia menuliskan:
Tema

Isi

Nilai kehidupan

Pesan

Perasaan

Maka skornya 5

Selanjutnya saya cenderung untuk bisa mencipta satu kata baru ini skornya 1 

Maka skor keseluruhan adalah 17 jika dipenuhi semua nilainya 17:17 nilainya 100

Mudah bukan menilai secara autentik dengan teknik Jisa Afta. Maka pedoman ini akan saya gunakan dalam menulis PTK saya agar benar benar memperoleh data yang valid. Jika ada teman-teman yang berkenan boleh kunjungi blog saya di situs berikut. https://riaminuris.blogspot.co.id/

Semoga menambah wawasan pemikiran sederhana ini.






Mengapa Aku Membaca Kitab Semilir Karya Jisa Afta | Oleh : Riami













Mengapa Aku Membaca Kitab Semilir Karya Jisa Afta
Sebuah Apresiasi oleh Riami

Perhatikan kalimat yang ditulis oleh Jisa Afta
"Inilah Kitab semilir untukmu
Kutulis dengan darah yang mengalir dari luka jiwaku
Kekasih,,"

Nazam tak Berdahak, jisa Afta: 28

Saya benar benar belajar mengolah rasa ketika membaca kalimat itu. Bagaimana sebuah kepedihan tetap menimbulkan semangat untuk menikmati hidup dengan tegar. Pada kalimat inilah semilir untukmu, kita bisa merasakan sebuah angin sejuk merasuk dalam jiwa. Sebuah nasehat yang lembut. Lebih hebat lagi ditulis "Kutulis dengan darah yang mengalir dari luka jiwaku kekasih."
Disini saya temukan bahwa karya sastra kalimatnya harus mampu membuat pembacanya memiliki kekuatan ketika sedang sedih atau menderita. Pada " kutulis dengan darah yang mengalir" saya mengartikan itu sebuah kehidupan yang harus dipelihara terus sampai alirannya terhenti oleh yang berhak memberhentikan. "...dari luka jiwaku kekasih..." memberikan rasa meski luka tetap menyayangi disebut kekasih bukan berarti orang yang selalu harus kita miliki kalau digandeng kata luka lalu kekasih merupakan dua hal kontra diksi yang memberikan kekuatan pada orang untuk saling mengasihi karena Tuhan.
Selanjutnya

" kepergianmu adalah kehidupan andai kubisa menari seindah malaikat
Tapi aku lelaki....

Hanya bisa berlari bagaikan lukisan patung yang memegang patung, dan jari jemarinya mengepakkan ayat-ayat resah, lalu seseorang bertanya kepadaku,,, inikah kitab semilir...?

Ketika kepergian dianggap sebuah kehidupan, maka disinilah letak kepasrahan yang luar biasa. Dan bagai lukisan patung memegang patung artinya disitu sudah tidak tumbuh hasrat lagi ketika kepergian itu melaju. Dan ".. Lalu seseorang bertanya" dan peristiwa yang menyedihkan atau menyakitkan kadang banyak yang bertanya termasuk diri sendiri inikah kitab semilir/ keindahan.

Apa jawab jisa dalam karyanya

" Lalu kurendahkan sujudku, lebih rendah dari dosaku, agar Tuhan menyayangiku, mempertemukan hatimu dan hatiku."

Nazam tak Berdahak: 29

Dalam sebuah tulis di dalam jiwa jika jawabnya mengantar pada keindahan sujud yang lebih rendah dari dosa adalah lebih rendah dari kesombongan yang kita miliki. Maka jika demikian yang terjadi Tuhan pasti menyayangi dan bertemu hati tidak selalu bertemu fisik. Bertemu hati adalah sebuah kedamaian ketika kita harus mengenang sebuah nama dalam suka maupun duka kita tetap memiliki semangat. Dan aku sepaham dengan kitab semilir karena aku belajar melukis debu dari bara api yang melahap rasa dengan berusaha memahami yang terbaik dalam kehidupan.

Salam semilir
Riami, 18 Okt 2017



Senja Bersama Sepi | Prosa Bersambung







Senja Bersama Sepi


Kopi pagi ini mengepul di ruang kerjaku. Tangan sepi yang selalu menyediakan kopi untukku. Ketika bunga mekar di bilik hatiku bersama sepi. Waktu itu Sepi masih ada di sini. Menemani hari hari bersama sepi terasa datar. Dia pendiam tidak banyak cakap.

-Ria

Sepi sungguh sangat membantu pekerjaanku saat itu. Selain menyediakan kopi di pagi hari, ia juga selalu mengurus perasaan gundahku dengan baik dimalam hari.

~ yuli ~

Aku ingat saat sendu kala itu. Belaian sepi sungguh menghangatkanku. Tatkala luka menertawaiku di seberang sana. Sepi juga memelukku erat, hingga ku terlelap dalam dekapannya. Ah, Sepi. Kau terasa sekali saat ku mengigau pedih. Namun kini, entah semu yang mana yang merenggut rasanya.

Teer~

Sepi yang lugu, sepi yang pendiam dan penurut, entah kemana angin semu tlah membawanya. Fatamorgana hidup tlah membantai kedamaian rumah tanggaku bersamanya. Semua salahku, andai kutahu akan jadi begini, tak hendak aku melontarkan izinku untuk aktif di luar rumah. Kini hari-harinya hanya dia habiskan bersama teman-teman lamanya itu...
Aku merindukan Sepiku yg dulu.

- Jamiel-


Pedih kurasakan sampai diujung sembilu. Hari hari terasa lengang,
hening tanpa Sepiku. Dapatkah aku menjalani kehidupan ini tanpamu lagi. Siapa yang akan selimuti ragaku di malam yang dingin. Bangunkan aku saat aku malas buka mata pagi hari. Okelah.. Sepi, kau adalah gayutanku,temanku sepanjang waktu. Aku tak akan menghalangi kepergianmu lagi karena aku sayang kamu. Kau punya hak untuk bahagia walau bukan bersamaku.
Di tepi pantai senja yang cerah ini marilah kita berpelukan untuk terakhir kali. Aaaahhh..jangan menangis, cengeng kau...
Kita punya cinta dihati kita. Jangan lupakan itu Sepi..!

~ Puji ~


Sepagi ini aku menggantung gelisah semenjak perpisahan kemarin. Ada sesak juga memikirkan Sepi yang tak lagi bersliweran menggangguku. Baru sebentar kok rindu menggerogoti hati yah..
Hmm.. kenapa harus menyesali yang sudah terjadi..? Sepi sudah ambil jalannya sendiri tanpa aku. Saat inipun aku harus bisa berjalan tanpa Sepi. Ku hela nafasku kuat kuat tuk memberi energi di syarafku. Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke dapur. Aaahhh.. Kopi.. itu ada kopi yang biasa Sepi buat untukku. Biarlah mulai detik ini aku sematkan dalam dalam di bathinku bahwa aku bisa melanjutkan hidup ini tanpa Sepi. Kuhirup aroma kopi masih wangi. Kuseruput pekatnyapun masih nikmat. Pertanda jiwaku kuat tuk mulai menapaki hari baruku.

~ Puji ~

Tetiba mentari tersenyum ceria menatapku. Seolah mengatakan 'hai' untukku yang kini duduk sendiri di beranda rumah. Aku balas senyumnya. Ya. Kini sepi pergi, dan aku memilih jalan lain. Jalan yg tak searah dg sepi tentunya. Deru napas kembali berhembus, mengisyaratkan siap untuk beranjak hari ini. Ya meski, tanpa sepi. Ah, sepi lagi.

Teer ~
Hari pertama tanpa sepi, sungguh tak semenarik yang kuduga. Bila begini akhirnya, tak akan ku biarkan ia pergi. Namun sudahlah, tak ada gunanya ku sesali yang sudah berlalu.

Sekarang aku dan sepi telah memilih jalan kami masing-masing. Jalan yang berbeda dan tak lagi sama. Kami berpisah di persimpangan rasa. Ku lihat ia berjalan ke arah kegelapan yang mendayu, sedangkan aku melangkah menuju hiruk-pikuk rasa cinta. Sebelum perpisahan itu terjadi, izinkan aku mengucapkan 'selamat jalan' untukmu, sepi. Agar ku bisa melepasmu tanpa gundah gulana.

-Yuli-

Masih jelas di mataku bayangan langit senja yg semakin temaram, jadi saksi pertemuanku dengannya.

Dan kinipun, di saat malam tlah bersiap menelan kemeriahan binar mentari, Sepiku tlaj pergi dariku. Bersamanya, malampun telah membiaskan bayangan kenanganku bersamanya. Sepiku yg pendiam, ayu dan lugu, tlah terbias riuhnya permainan dunia.
Diujung lorong sepi nan jauh di sana, pasti Tuhan tlah siapkan rencana indahNya, untukku... dan juga untukmu Sepiku

-Jamiel-

Butam | Karya : Yulia Roza


























Butam | Karya : Yulia Roza 

Ku duduk di sini berteman sunyi.
Mentapa lurus ke atas langit, tempat bulan dan bintang berada.

Hanya suara gemerisik dedaunan  yang berani memecah keheningan antara aku dan sunyi. Kini sunyi tak ingin lagi menemaniku di sini.
Ia cemburu oleh gemerisik dedaunan yang lebih menyita perhatianku tanpa tahu bahwa sesungguhnya ialah yang sangat ku inginkan saat ini di sisiku.

Ku cekal tangannya, saat sunyi mulai beranjak meninggalkanku. Ia menatapku dengan tatapan jengkel, "lebih baik kau ditemani olehnya saja, ia lebih mampun memberikan rasa nyaman padamu dari pada aku," ucapnya sebelum menepis tanganku.
Lalu ia berlalu bersama waktu.

Mengapa kau begitu emosian akhir-akhir ini, sunyi?

Kau membuat hatiku semakin gundah gulana. Sedangkan si gemerisik dedaunan  itu masih sibuk menawarkan kenyamanan pada gundahku.

Ku tak ingin memperdulikannya, ku pilih berlalu mengejar dirimu, sunyi.

Ku berlari pada gerakan waktu yang begitu cepat.
Namun kemanapun langkah ini membawaku.
Kau tak lagi ku temukan.
Dimanakah kini kau berada wahai sunyi?

Kenapa kau meninggalkanku seorang diri di sini?

Perasan Butam ini datang menyapa hatiku. Ia menari di atas rasa gundahku, saat diri ini sibuk mencari dirimu.
Butam, mengapa kau datang?
Kemana saja dirimu saat sunyi masih di sini?

Dasar butam yang pendiam. Ia tak menjawab hanya mengidikkan bahunya.
Ah, butam. Kau sungguh membuatku merindukan si sunyi.

Kenapa kita bertiga tidak bisa berkumpul bersama lagi seperti dulu?
Apakah ini akhir dari persahabatan kita, sunyi?

Ku berjalan beringan bersama si Butam di bibir pantai. Menatap ke arah yang sama, arah matahari tenggelam di ujung laut. Kami juga mengacuhkan berisiknya suara si deburan ombak.

"Hai, Butam!"

"Kenapa Yuli?"

"Dengarkah kau saat si deburan ombak itu mengatakan bahwa kita ini sangat sombong karena tak ingin bermain bersamanya?"

"Ya, ku dengar itu. Tapi aku tak perduli."

Dasar Butam, begitulah dirimu yang selalu cuek namun terkadang juga cerewet di saat yang bersamaan.

Aku dan Butam terus saja berjalan, menelusuri pantai sampai kami temui dirimu, sunyi.

Di sana kau rupanya. Duduk termenung seorang diri di bawah batang kelapa.

Aku dan Butam berlari menghampirimu. Kami tak ingin kau menghilang lagi.

Kau menoleh saat kami menyerukan namamu, kami lihat matamu sembab. Habis menangiskah kau, sunyi?

Oh, maafkan aku sunyi. Ku tak bisa tanpamu. Hanya kau dan Butam lah sahabat sejatiku. Jangan pernah tinggalkan aku lagi, sunyi. Berjanjilah padaku, dan aku pun berjanji tak akan mengacuhkanmu lagi.


Yulia Roza 

PENGHIMPUN HATI | Karya : Rudy Sembodo

























Rindu itu seperti menunggu waktu
Yang muncul saat dibutuhkan
Membebaskan rintihan meradang luka

By R PENGHIMPUN HATI
17.10.17

SELINGKUH | Karya : Tea Terina




















SELINGKUH

Perasaan apa ini?
Tiba-tiba saja aku gelisah
memang aku tak secantik dia
yang selalu memantaskan pesona
kepadamu
hanya sedikit jika kau bandingkan
aku dengannya
Aku miliki kesetiaan
Aku selalu jujur
Aku lebih mengerti kamu
Dan
Itu kamu tahu...
Mengapa kau mudah terpikat
kepadanya?
Kau terlalu cepat tergoda
Hanya karena manjanya
yang aku tak punya
Kau cepat terbawa asmara
dan rayuannya
Sayang...
Aku begitu merindukanmu
Aku sulit melupakanmu
Aku ingin bertahan
meski kau anggap aku sampah
meski kau buruk menilaiku
tapi
dalam hatiku

Aku tak kan menyerah
karena
kau hanya tergoda
yang menurutku sementara
Kau harus percaya
satu kelebihanku
yang berbeda dengannya
bahwa
kau telah melamarku

Tea Terina, 141017

Mengintip | Karya : Laily Adha Intan Putri



Mengintip | Karya : Laily Adha Intan Putri

"Bagaimana kerja pertamamu, Sekar?" ujar Gorry yang sudah duduk di teras rumahku. Entah sudah berapa lama dia menunggu.

"Menyenangkan. Seperti dugaanku. Kak Pric itu sangat baik," jawabku girang. Aku melepas kuncir hijauku, membiarkan rambut sepundakku terurai.

"Kau jangan mudah menganggap orang itu baik. Yang kamu kira paling baik, belum tentu paling baik," ujar Gorry sinis.

"Kau kenapa, Gorry. Kau tidak suka? Kenapa kau mudah marah, sih. Menyebalkan," aku menggerutu. Mengeluarkan kunci rumah dari tas selempang hitamku. Membuka pintu dan berjalan memasuki kamar.

"Aku benar, Sekar. Tidak semua orang yang kamu anggap baik itu akan benar-benar baik. Begitu juga sebaliknya," ujar Gorry, menyusulku ke kamar.

"Apa maksudmu? Siapa lagi yang ingin kau tunjukkan? Apa sih gunanya kamu mengorek-ngorek masa laluku. Apa tujuanmu sebenarnya? Aku tidak mengerti, Gorry."

"Sabar, Sekar. Aku akan tunjukkan secara perlahan. Sekarang, maukah kau bermain denganku?" ajak Gorry, tampak meyakinkan. Seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan malam ini.

Aku mengangguk. Gorry memejamkan mata sejenak. Kepalanya kini sudah dilengkapi mahkota bundar, tangannya mengeluarkan petir, dikibaskan ke arah dinding kamarku.

Pusaran besar muncul. Aku menyipitkan mata, silau. Ini kedua kalinya Gorry mengajakku bermain ke masa laluku. Menujukkan saat-saat dimana aku menangis di depan jenazah ibu.

Sampai sekarang aku belum mengerti mengapa Gorry melakukan semua ini.

Gorry menggengam tanganku, kaki kanan kami serempak melangkah ke pusaran itu. Badan kami langsung terjun, melewati lorong hitam yang menurun terjal, berkelok-kelok. Aku memejamkan mata, bagai naik roller coaster.

Tiga puluh detik, kami sampai di ujung lorong. Aku dan Gorry berdiri, aku memandang sekelilingku dengan heran.

"Aku tidak pernah melihat tempat ini sebelumnya, Gorry."

"Tentu saja. Ini masa dimana kau belum lahir," ujar Gorry.

"Untuk apa kau membawaku kesini?"

Gorry diam. Kami terus berjalan. Langkah kami terhenti di sebuah rumah tua.

"Ini adalah rumah ayahmu saat masih bujang," ujar Gorry, mengajakku masuk ke rumah itu.

Gorry benar. Disana ada ayah yang sedang merawat wanita tua. Aku tidak mengenal wanita itu. Tanpa menungguku bertanya, Gorry menjawab kalau itu adalah nenekku, ibunya ayah.

"Lihatlah, betapa berbaktinya ayah yang akhir-akhir ini kau benci," ujar Gorry. Sejak ibu pergi, aku mulai membenci ayah yang kuanggap sangat sering menyakiti ibu.

"Terus, kenapa dia tidak pernah membahagiakan ibu?"

"Ini yang mungkin belum kau tahu, Sekar. Dengarkan apa yang nenekmu sampaikan.

Aku diam, mengangguk. Mendekati nenek dan ayah.

"Reksa, ibu ingin kau menikah dengan Kirana. Ibu akan sangat senang jika dia bisa menjadi menantu ibu," ujar wanita yang tampak begirtu pucat itu. Suaranya lirih dan tersendat.

Aku menatap wajah sedih ayahku. Aku sangat mengerti wajah sedih itu. Sedih takut kehilangan ibu yang sangat disayangi. Ayah pun mengangguk. Tersenyum, namun seperti dipaksakan.

Mata nenek kemudian tertutup. Ayah terpekik. Meraung, menangis. Aku tidak mengerti banyak kisah masa lalu ayah sebelum menikah dengan ibu. Yang aku tahu, ayah selalu bersikap dingin pada ibu.

Tak terasa, airmataku ikut menetes. Ayah pasti sangat sedih saat itu. Aku sangat mengerti.

"Sampai disini dulu, Sekar. Perlahan." ujar Gorry, menggenggam tanganku. Pusaran besar muncul di dinding rumah tua itu. Meski enggan, aku menurut, melangkahkan kaki menuju pusaran.

Kami kembali lagi di kamarku. Gorry tersenyum, berjalan meninggalkan rumahku.

Aku diam. Makin tidak mengerti.

IBU SANG PENAKLUK | Karya Y.S. Sunaryo





















IBU SANG PENAKLUK
Karya Y.S. Sunaryo
Di ujung subuh
Terdengar keluh seorang ibu
Berbaur dengan rintik hujan
Tak inginkan pagi segera menggeliat
Sebab sang buah hati bangun adalah rintih
Tak mampu memberi jajan
Pun sekolah yang berderet pungutan
Sarapan pagi tak dapat terhidang
Suapan suami tinggal kerinduan
Sebatang kara selami kehidupan
O, keluhmu malah menjadi tenaga rakit
Bangkit, punguti rumput-rumput laut
Bersama ombak, kau wanita penakluk
Telusuri pesisir harapan
Melepas serpihan lirih yang tak ingin menindih

Bandung, 17 Oktober 2017

Falling in Love | Puisi Berbalas
















Falling in Love
Rasa apa yang telah membawaku kedalam pusar pesona mu
Aku terjebak diantara lakumu yang yang bersahaja
Gerak tubuhmu dan indah bahasamu masih teringat jelas
Apa ini??
Bayangmu selalu menggoda di setiap hariku
Tawamu masih terngiang di telinga
Berdegup kencang bila mata saling bertatap
Aku merasa bunga-bunga di taman hati tengah bermekaran
~dessy~
Rasa indah yang alam berikan
Jua menarikku pada keindahan dirimu
Indahnya bola matamu
Membuatku tak mampu berpaling
Dan anggunnya gerakmu
Menggoda diri ini untuk mendekat padamu
Oh, inikah yang namanya cinta?
Sebuah rasa indah mengalun lembut dalam hatiku
Membuat hati terus menyerukan namamu
-Yulia-
Pesonamu kini telah membelenggu jiwaku
Kikisan debar ini makin menggerus jurang perasaan
Tak sanggup lagi ku palingkan netraku tuk memiliki raut wajahmu
Sedalam inikah pagutan percik labirinmu
Tawa riangmu membungkamku tuk berdiam
Menikmati manis senyummu yang terkulum indah
Cinta....ooh cinta..
Terjatuh hatiku di pangkuan dermaga magismu
~ Puji ~
Senyummu bak ombak dilaut mengguncang rasa
Tiap aksaramu menggetar di jiwa
Wahai cinta ajari aku mengikat rasa
Agar tak terpuruk dalam jelusi penuh nista
Tawarkan geloraku pada sebening telaga kasih di jiwanya
Temukan rinduku dan rindunya dalam alunan lembut pa da lagu merdu di atas sajadah
Ria
Dan terlelaplah
Pada selir rindu yg kau kasihi
Jatuhnya hati meringkih lirih
Untuk sekedar berbisik
Bagaimana akan ku titahkan
Jika bumi mulai kelu dg teriakanku atas dirimu
Atas perasaan yg kuinginkan bersamamu
Sejak terpaut hai itu rasa
Mengalir derik dalam setiap aliran darah.
Ya. Cinta.
Kutasbihkan nadi ini
Untuk ruh yg terbungkus bernama manusia
Dan itu dirimu.
Teer ~

Penantian | Puisi Berbalas

























Penantian

Masih terselimuti kabut lara
Aku terdiam di atas pilu
Di tengah hamparan Padang cinta semumu

Disini
Tempat gersang tanpa ada hujan kasihmu
Ku berteman sepi
Saat malam tiba

-Yuli-

Jangan biarkan sepi mendekap malammu
Dengarkan suara alam yang merobek sunyi
Pandanglah taburan bintang yang kejora

Lepaskan lara yang memasungmu
Nikmati belai mesra sang Bayu yang membisikkan namaku
Tersenyumlah pada rembulan yang menyapa mu
Bahkan senyummu lebih indah

- Dessy -

Menantilah dalam dekapan kasihku
Lewat semilir angin yang mengantar pertemuan rindu kita dalam alam indah di bukit kasih
Aku pun setia di sini menjabat penantian rasamu

Aku tak ingin juga penantian kita sia sia kan kuremah waktu dan kuhancurkan semua sekat rindu agar tak ternoda penantian ketika berjalan melewati waktu

Ria

Maka luruhlah bersama desir kepastian
Bahwa kabar angin kan membawamu
Tiada lagi sekat
Tiada lagi obat
Karena penantian ini haruslah ke pertemuan

Duhai,
Kau tetaplah kasih
Meski 1000 hari penantian kn kujalani
Karena hati sudah termiliki
Oleh dirimu yg tertelan sunyi.

Teer~


Di sini, di hamparan altar penantian
Kita akan meleburkan cinta dan kasih di selambu peraduan malam
Meluruhkan segenap kerinduan yang teramat dalam
Menitiskan gelora jiwa bermahkotakan asmara

Jiwa,
Sambutlah derai kesempurnaan rasa
Hanya kita, yah kita berdua
Lepaskan segala rajut kegelisahan
Selama waktu penantian panjang yang melelahkan dera

Kini kita telah melabuhkan asa bersama
Jangan pergi dan peluklah jiwa ini
Tiada waktu tuk melerai duka
Yang ada tinggal bahagia kita di pangkuan cinta


~ puji ~

Bersama desir semilir sang Bayu
Lara penantian kan jadi luruh

Tersibaklah selimut kabut laramu
Mengikis habis seribu hari penantianmu
Luruh bersama pagutan hangat
Saat jemari  menyatu dalam hangatnya dekapan malam
Diantara kejora

-Jamiel-

Kitab Semilir | Nazam Tak Berdahak



Pemesanan 
Via WhatsApp : 081241518638

Kitab Semilir
56 Colour Pages & 169 B/W Pages
Kategori: Novel
Harga: Rp 555000
KITAB SEMILIR

“Bila lampu lampu ditaman terlarang telah padam
pertanda fajar tlah berakhir
Engkau seperti pendaran cahaya
Melukai hasratku dengan tatapan teduh
Sinar matamu menyingkap suara hati
Dalam gegap jiwaku
Yang hampir punah oleh kematian cinta
Aku menulis catatan bagi teduhnya telaga nazam
Berharap disuatu senja
Berjumpa denganmu disurga
Berlarian diantara para penyair pemalu
Sambil menyuarakan kebebasan pada sang kegaiban
Hingga kedua ruh kita berdiri diantara tiang tiang candi
Disana senyum kita tak lagi tertawan kegelisahan
Jemari kita saling menyulam
Mengalirlah kehangatan jadi sungai sungai kecil didalam taman Nutfah
Taman yang membuatku menemukan makna
bukan cinta
Taman yang membuatku menemukan arti
bukan rindu
Taman yang membuatku menemukan kehidupan
bukan puisi dan syair...
~ ~ ~
Nazam-Nazam dalam Kitab Semilir adalah rangkaian Karya Semilir, kisah pertemuan Seorang bernama San Sirah dan Putri Zain didalam Istana Negeri Kahlah. Kisah ini bermula dari Bukit Lanta tempat seorang peziarah meninggalkan catatan-catatan bodohnya. Catatan tersebutlah yang menuntun lahirnya keyakinan San akan adanya sebuah negeri dan putri tercantik itu.