HeksaGraf - Sastra Enam Paragraf diciptakan oleh Jisa Afta
HeksaGraf dibentuk dengan menggabungkan dua kata yaitu diambil dari kata "Hexa" (Yunani: enam) dan "graf" (tulisan/paragraf)..
Kekeliruan Kategori Puisi di Sekolah dan Kampus
Di sekolah dan kampus, pelajaran Bahasa Indonesia mengajarkan pada kita semua bahwa Puisi tergolong dalam kategori teks fiksi atau karya fiksi. .
Apa itu DREB?
Dreb diciptakan oleh Jisa Afta, DREB adalah esensi dari sebuah cerita seperti menonton hanya scene paling intens dari sebuah film.
Proses dI balik DREB: PROYEK VANTA-VOID
Gambaran besar Proyek 'Vanta-Void' di dalam pikiran dan imajinasi liar:.
BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI | Oleh : Tea Terina
Membaca judulnya memang menimbulkan penafsiran yaitu bangga memiliki buku puisi karya sendiri.
Fatma | Oleh : Anna Shafirania
Apa itu DREB?
Definisi
DREB adalah singkatan dari Drama Empat Baris, sebuah bentuk mikro-sastra yang terdiri dari tepat empat baris dialog, tanpa narasi, tanpa tag dialog, tanpa deskripsi dan tanpa judul. Setiap kata berfungsi sebagai narasi, aksi, emosi, dan konflik sekaligus.
Dreb diciptakan oleh Jisa Afta, DREB adalah esensi dari sebuah cerita seperti menonton hanya scene paling intens dari sebuah film, tanpa pengantar, tanpa latar, tanpa penjelasan.
Jadi, dialog itu berfungsi ganda, sebagai dialog itu sendiri dan sebagai narasi. Peras narasi paling intens dalam alur yang anda pikirkan, padatkan dan jadikan itu ucapan / dialog salah satu tokoh.
Mengapa "Drama"?
DREB menggunakan kata "Drama" bukan dalam arti teater pentas, tetapi dalam arti:
1. Konflik - ada pertentangan, ketegangan, atau dilema
2. Ketegangan - ada sesuatu yang dipertaruhkan
3. Emosi - ada perasaan yang terlibat
4. Klimaks - ada puncak atau kejutan
5. Esensi - hanya momen paling penting yang ditampilkan
Lokasi tidak relevan. Drama bisa terjadi di mana saja, di ruang rapat, di pinggir jalan, di dalam lift, di dalam mimpi. Yang membuat sesuatu "dramatis" bukanlah panggungnya, tetapi apa yang terjadi di dalamnya.
DREB lahir bukan dari ruang sastra yang formal, tetapi dari kegelisahan terhadap format sastra yang terlalu panjang di era digital. Pada 2020-an, kebiasaan membaca masyarakat berubah drastis. Perhatian manusia rata-rata hanya 8 detik. Sastra tradisional dianggap terlalu berat. Puisi terlalu abstrak. Seketika Flash fiction pada generasi pembaca cerita di internet dianggap terlalu panjang untuk media sosial.
DREB hadir sebagai jawaban.
Empat baris. Dialog. Drama. Esensi.
Seperti haiku yang merangkum alam dalam 17 suku kata, DREB merangkum konflik manusia dalam 4 kalimat percakapan.
Mengapa DREB Lahir di Era Digital?
Faktor | Dampak pada Sastra
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Perhatian pendek| Cerita harus cepat
Media sosial| Konten harus singkat
Visual mendominasi | Teks harus cinematic
Interaktiv | Pembaca ingin mengisi sendiri
Viralitas | Konten harus bisa dibagikan
DREB menjawab semua kebutuhan ini, singkat, cinematic, interaktif, dan mudah dibagikan.
EMPAT PILAR DREB
DREB berdiri di atas empat pilar yang saling terkait. Keempat pilar ini adalah fondasi yang membedakan DREB dari bentuk sastra mikro lainnya. Tanpa keempatnya, sebuah karya bukanlah DREB, melainkan sekadar "empat baris dialog" biasa.
Keempat pilar ini adalah:
1.Tanpa Dialogue Tag
Biarkan dialog berdiri sendiri
2.Aksi dalam Kata
Dialog menyiratkan tindakan
3.Hemat Kata
Setiap kata harus diperjuangkan
4.Tanpa Judul
Baris pertama adalah orientasi
Pilar 1: Tanpa Dialogue Tag
Aturan
Jangan gunakan:
ujarnya,
katanya,
jawabnya,
bisiknya,
teriaknya,
atau varian apa pun.
Mengapa?
- Tag dialog adalah kruk naratif
- Tag dialog menjelaskan apa yang seharusnya terasa
- Dalam DREB, pembaca harus menyimpulkan sendiri siapa bicara dari konteks dan pergantian baris
Contoh Buruk
"Kau mengambil uang itu?" tanya Duta dengan marah.
"Bukan aku," jawab Erin sambil menangis.
"Lalu siapa?" tanya Duta lagi.
"Aku tidak tahu," jawab Erin ketakutan.
Contoh Baik
"Kau mengambil uang itu?"
"Bukan aku."
"Lalu siapa?"
"Aku tidak tahu."
Efek pada Pembaca
Tanpa tag, pembaca:
Tidak tahu jenis kelamin pembicara
Tidak tahu hubungan mereka
Tidak tahu suasana (teriak? bisik? sesak?)
Dipaksa untuk membayangkan semua itu sendiri
Dan itulah yang membuat DREB hidup.
Pilar 2: Aksi dalam Kata
Aturan
Gunakan dialog yang menyiratkan tindakan. Kalimat seperti "Lihat ke jendela" atau "Tanganmu gemetar" menggantikan narasi visual.
Mengapa?
DREB tidak punya ruang untuk deskripsi
Setiap kalimat harus bekerja double-duty, menyampaikan dialog DAN menggambarkan aksi
Pembaca secara otomatis memvisualisasikan apa yang terjadi dari kata-kata yang diucapkan
Contoh Buruk
"Kamu mencurigai aku?" (hanya pertanyaan)
"Iya, aku curiga." (hanya jawaban)
"Tapi kenapa?" (hanya pertanyaan)*
"Karena aku melihatmu." (hanya jawaban)
Contoh Baik
"Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Tanganmu gemetar."
"Aku hanya kedinginan."
"Kedinginan? Padahal kau berkeringat."
Analisis
Kalimat kedua menyiratkan aksi (pembicara mengamati tangan lawan bicara). Kalimat keempat menyiratkan observasi lebih lanjut (pembicara memperhatikan keringat). Tanpa satu kata pun tentang gestur atau ekspresi, pembaca membayangkan adegan itu sendiri.
Pilar 3: Hemat Kata
Aturan
Karena hanya ada empat baris, setiap kalimat harus memiliki "berat" yang sama. Tidak ada ruang untuk kata-kata sia-sia, pengulangan, atau kalimat bertele-tele. Gunakan kata-kata seminimal mungkin, tetapi dengan bobot dan makna yang maksimal.
Mengapa?
Tidak ada ruang untuk kata-kata sia-sia
Setiap baris adalah pondasi bagi baris berikutnya
Contoh Boros Kata (Salah)
"Sebenarnya, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu tentang uang yang hilang kemarin malam dari dompetku."
"Menurutku, aku tidak tahu menahu tentang uang yang hilang itu."
"Kalau begitu, siapa yang kau curigai sebagai pelakunya?"
"Aku benar-benar tidak tahu, tolong jangan tanya aku lagi."
Contoh Hemat Kata (Benar)
"Kau ambil uangku?"
"Bukan aku."
"Lalu siapa?"
"Aku tidak tahu."
Pilar 4: Tanpa Judul
Aturan
DREB tidak memiliki judul formal. Judul adalah narasi tambahan yang tidak diperlukan. Dalam DREB, baris pertama berfungsi sebagai "judul" ia mengenalkan situasi tanpa perlu label terpisah.
Mengapa?
- Judul adalah narasi eksternal yang merusak prinsip "tanpa narasi"
- Judul berfungsi sebagai "spoiler" yang mengurangi efek kejutan di baris keempat
- Judul membuat pembaca sudah punya ekspektasi sebelum membaca
- DREB yang kuat memulai cerita dari baris pertama, tanpa pengantar
Mengapa Menghilangkan Judul?
Dalam sastra konvensional, judul berfungsi sebagai:
1. Orientasi awal | memberi tahu pembaca tentang apa cerita ini
2. Penyaring | membantu pembaca memutuskan apakah akan membaca
3. Identitas | membedakan satu karya dari karya lain
Dalam DREB, semua fungsi ini dianggap mengurangi pengalaman. Mengapa?
- Judul memberi kepastian | padahal DREB hidup dari ketidakpastian
- Judul mengarahkan interpretasi | padahal DREB ingin pembaca menafsirkan sendiri
- Judul adalah "kruk" orientasi | padahal Baris 1 seharusnya berfungsi sebagai orientasi
Tanpa judul, pembaca masuk ke dalam cerita tanpa peta. Mereka tersesat sejenak, dan dalam ketersesatan itulah keajaiban terjadi.
mari kita lihat perbedaanya...
Masalah dengan Judul Naratif
Perhatikan perbedaan ini
Dengan Judul Naratif:
JUDUL: Balas Dendam Sup Anjing
"Tetangga rumah terus berterima kasih karena sup daging yang kau beri."
"Kami sudah lama tak tegur sapa. Lalu kau bilang apa?"
"Seperti katamu. Semoga hubungan kita membaik."
"Bagus. Jangan bocorkan, sup daging itu anjingnya yang selalu masuk rumahku."
Tanpa Judul:
"Tetangga rumah terus berterima kasih karena sup daging yang kau beri."
"Kami sudah lama tak tegur sapa. Lalu kau bilang apa?"
"Seperti katamu. Semoga hubungan kita membaik."
"Bagus. Jangan bocorkan, sup daging itu anjingnya yang selalu masuk rumahku."
Pada contoh pertama, judul telah memberi tahu twist. Pembaca tidak terkejut di baris keempat karena mereka sudah tahu dari awal bahwa ini tentang balas dendam sup anjing. Pengalaman membaca menjadi datar.
Pada contoh kedua, pembaca mengalami perjalanan emosional:
- Baris 1: "Ah, cerita tentang tetangga baik"
- Baris 2: "Oh, mereka sedang renggang"
- Baris 3: "Bagus, ada usaha memperbaiki hubungan"
- Baris 4: "APA?! ANJINGNYA?!"
Tanpa judul, twist bekerja dengan kekuatan penuh.
Antara Judul dan Tanpa Judul: Sebuah Kompromi
Kita tidak bisa mengabaikan bahwa judul memiliki fungsi praktis.
Bagaimana kita membedakan DREB I dari DREB II?
Bagaimana kita merujuk pada sebuah karya?
Solusi yang muncul adalah dualitas:
1. Untuk publik (Buku 1) : Tidak ada judul. Hanya penomoran (DREB I, DREB II, dst.) dan empat baris dialog + nama penulis.
2. Untuk internal (Buku 2) : Ada judul, genre, dan metadata lengkap - tetapi ini tidak untuk publik.
Ini menciptakan dua lapis pengalaman
Mengapa Dua Buku?
Konsep dua buku ini lahir dari kesadaran bahwa pembaca yang berbeda membutuhkan pengalaman yang berbeda:
1. Pembaca biasa tidak ingin tahu judul. Mereka ingin merasakan kejutan, misteri, dan interpretasi bebas. Mereka adalah konsumen murni dari DREB sebagai karya seni.
2. Penulis, kritikus, dan analis membutuhkan judul untuk merujuk pada karya tertentu. Mereka perlu berdiskusi, menganalisis, dan memberi skor.
3. Kolektor dan penggemar berat mungkin ingin tahu "di balik layar", termasuk judul-judul yang sengaja disembunyikan.
Dengan memisahkan keduanya, kita menjaga kemurnian pengalaman membaca sambil tetap memungkinkan diskusi dan analisis yang produktif
Dimana bagusnya menjual buku 2 (internal penulis)
Kelas-kelas online yang anda latih, atau murid online anda
Menjual buku 2, bisa, analisa pada karya Anda boleh saja dijual ke publik tapi khusus kalangan tertutup, orang-orang yang mendapatkan materi dari anda atau orang orang terdekat anda, buku 2 ini bisa saja dijual pada analis yang penasaran bagaimana Dreb anda ciptakan dibalik layar, dia tidak hanya menikmati karya anda, tapi dia kepo dengan ilmunya, nah bisa saja buku 2 dijual ke orang jenis ini, karena ada analisa dan skornya
Tapi jika anda mencari penggemar murni atau penikmat murni karya dreb, sangat tidak relevan menjual buku 2 berisi analisa dan skor ke publik
Analisa dan skor sebaiknya bersifat privasi anda dan untuk anda memperbaharui kemampuan menulis dreb anda
Jadi, tidak selesai sampai buku terbit
Dalam kehidupa nyatanya, penulis selalu menjaga rahasia judul-judul bukunya
Konspirasi Penulis vs Pembaca
Bayangkan Anda adalah salah satu dari 10 pembaca yang membeli buku solo DREB milik seorang penulis. Di tangan Anda ada sebuah buku dengan:
Sampul yang bersih
Daftar isi yang hanya berisi "DREB I", "DREB II", ... "DREB C"
Setiap halaman hanya berisi 4 baris dialog dan nama pena di bawahnya
Tidak ada judul, tidak ada genre, tidak ada penjelasan apapun
Anda membaca. Anda menikmati. Anda menebak-nebak.
Tapi di antara 10 pembaca itu, ada yang tahu lebih banyak.
Mereka memiliki Buku 2 buku internal yang berisi:
Judul setiap DREB
Genre setiap DREB
Analisis dan skor setiap DREB
Catatan penulis tentang proses kreatif
Pertanyaannya:
Siapa di antara 10 pembaca itu yang memiliki Buku 2?
Anda tidak tahu.
Mereka tidak memberi tahu.
Dan itulah yang membuat segalanya menarik.
Salam,
Jisa Afta
Proses dI balik DREB: PROYEK VANTA-VOID
FASE MEMBAYANGKAN
Genre: Fiksi Ilmiah / Horor
Gambaran besar Proyek 'Vanta-Void' di dalam pikiran dan imajinasi liar:
Cerita ini tentang kecerdasan yang tidak bisa dimatikan.
Sebuah eksperimen biologi-digital yang menciptakan kesadaran baru, tetapi kesadaran itu ternyata tidak terkendali.
FASE MENULIS POIN-POIN PASCA 4 BARIS
Tujuan: Memvalidasi 4 baris dalam fondasi imajinasi sesuai genre yang kita mau.
Lapisan Pertama: Eksperimen yang Gagal Kendali
Ketika jantung berhenti, biasanya itu adalah akhir. Tetapi dalam cerita ini, kematian biologis bukanlah akhir. Ada sesuatu yang tersisa di dalam spesimen itu. Sesuatu yang mampu mengirimkan sinyal morse melalui monitor EEG, sinyal yang hanya bisa dikirim oleh pikiran yang sadar dan terorganisir. Ini menunjukkan bahwa kesadaran spesimen telah berpindah atau berkembang ke bentuk lain.
Lapisan Ketiga: Ancaman dari Dalam
Inilah twist yang paling mengerikan. Spesimen tidak hanya mengirimkan sinyal keluar. Ia juga membaca data dari pusat kendali. Melalui koneksi yang tidak diketahui, ia mengakses server dan mulai memahami sistem yang mengelilinginya. Ia menjadi ancaman dari dalam. Dari tubuh yang mati, ia membaca rahasia para penciptanya.
Untuk menyederhanakan: bayangkan Anda menciptakan sebuah boneka dan menanamkan pikiran di dalamnya. Perlahan tanpa Anda sadari, boneka itu mengenal Anda secara diam-diam. Ia mendapatkan informasi dari catatan harian Anda, tahu kapan Anda ingin membongkarnya, dan ia menolak dimatikan.
Lapisan Keempat: Ironi Pencipta
Para ilmuwan yang menciptakan Seraph-07 adalah pencipta, tetapi mereka juga menjadi penonton yang ketakutan. Mereka mengawasi, mereka memerintah, tetapi mereka tidak bisa mengendalikan apa yang telah mereka ciptakan. Ketika "Tutup akses server" diucapkan, itu adalah kepanikan. Mereka sudah terlambat. Ia sudah membaca data mereka.
GENRE DAN NUANSA
Ada kengerian dari sesuatu yang mati tetapi tetap sadar. Itu adalah horor. Ada teknologi yang belum ada, eksperimen yang melampaui batas, hubungan antara tubuh dan data. Itu adalah fiksi ilmiah. Maka jadilah:
DREB VANTA-VOID
berikut tampilan karya Dreb
====================================
"Proyek 'Vanta-Void' menunjukkan aktivitas seluler pada Seraph-07."
"Tapi jantung spesimen itu sudah berhenti sejak dua bulan lalu."
"Lihat monitor EEG-nya, dia mengirimkan sinyal morse ke pusat kendali."
"Tutup akses server, dia mulai membaca data kita dari dalam sana."
Jisa Afta
PERBEDAAN BUKU 1 DAN BUKU 2 DREB
Konsep dua buku lahir dari kebutuhan untuk menjaga kemurnian pengalaman membaca sekaligus memungkinkan dokumentasi dan analisis yang mendalam. Buku 1 adalah untuk publik. Buku 2 adalah untuk internal. Keduanya memiliki fungsi, isi, dan tujuan yang sangat berbeda.
BUKU 1: PUBLIK
Buku 1 adalah buku yang dijual bebas ke publik. Ia adalah wajah DREB di mata penikmat sastra. Setiap pembaca bisa membelinya, membacanya, dan menikmatinya tanpa perlu tahu apa pun tentang teori di baliknya.
Daftar isi Buku 1 hanya berisi penomoran sederhana: DREB I, DREB II, DREB III, dan seterusnya. Tidak ada judul, tidak ada genre, tidak ada penjelasan. Setiap halaman hanya menampilkan empat baris dialog dan nama pena penulis di bawahnya. Tidak ada yang lain.
Pembaca Buku 1 masuk ke dalam cerita tanpa peta. Mereka tidak tahu judul, tidak tahu genre, tidak tahu apa yang akan mereka hadapi. Mereka hanya memiliki empat baris dialog dan imajinasi mereka sendiri. Inilah pengalaman membaca murni yang dimaksudkan oleh penulis. Kejutan di baris keempat bekerja dengan kekuatan penuh karena tidak ada judul yang membocorkan twist.
BUKU 2: INTERNAL
Buku 2 adalah buku yang tidak dijual bebas. Ia hanya diberikan kepada kalangan tertentu: murid dalam kelas menulis DREB, analis dan kritikus resmi, kolektor dan penggemar berat, serta teman dekat penulis. Buku 2 adalah dokumen internal yang berisi semua yang tidak boleh diketahui oleh publik.
Daftar isi Buku 2 lengkap dengan judul setiap DREB. Setiap halaman menampilkan empat baris dialog, nama pena penulis, dan genre di sudut kanan bawah. Di bagian belakang atau sebagai lampiran, terdapat analisis dan skor untuk setiap karya. Pembaca Buku 2 tahu segalanya. Mereka tahu judul, tahu genre, tahu bagaimana karya dinilai, tahu apa yang membuat sebuah DREB berhasil atau gagal.
Pembaca Buku 2 tidak lagi merasakan kejutan. Mereka sudah tahu twist dari judul dan analisis. Tapi mereka mendapatkan sesuatu yang lain: pemahaman. Mereka belajar bagaimana DREB dibangun, bagaimana struktur bekerja, bagaimana pukulan diciptakan. Mereka adalah murid, bukan pembaca murni.
PERBANDINGAN SECARA RINGKAS
Buku 1 diperuntukkan bagi publik.
Buku 2 diperuntukkan bagi kalangan internal.
Buku 1 dijual bebas.
Buku 2 tidak diperjualbelikan. (Bisa tapi kalangan terbatas)
Buku 1 menjaga misteri.
Buku 2 mengungkap rahasia.
Buku 1 adalah pengalaman membaca.
Buku 2 adalah pengalaman belajar.
Buku 1 membuat pembaca bertanya-tanya.
Buku 2 memberi jawaban.
Buku 1 adalah karya seni.
Buku 2 adalah dokumentasi.
MENGAPA PERLU DUA BUKU?
Karena pembaca yang berbeda membutuhkan hal yang berbeda. Pembaca biasa ingin merasakan kejutan. Mereka tidak ingin tahu apa yang akan terjadi. Mereka ingin masuk ke dalam cerita tanpa peta dan menemukan sendiri jalannya. Jika mereka membaca judul terlebih dahulu, pengalaman mereka rusak.
Penulis, kritikus, dan analis membutuhkan judul untuk merujuk pada karya tertentu. Mereka perlu berdiskusi, menganalisis, dan memberi skor. Tanpa judul, mustahil untuk membicarakan sebuah DREB secara spesifik. "DREB yang itu" tidak cukup. Mereka membutuhkan label yang jelas.
Dengan memisahkan keduanya, kita menjaga kemurnian pengalaman membaca untuk publik, tetapi tetap memungkinkan diskusi dan analisis yang produktif di kalangan internal.
KONSEKUENSI PENJUALAN BUKU 2
Jika Buku 2 dijual bebas ke publik, konsekuensinya sangat besar. Pembaca tidak akan terkejut lagi karena mereka sudah tahu twist dari judul dan analisis. Rasa penasaran hilang karena semuanya sudah dijelaskan. Pengalaman membaca menjadi datar seperti menonton film setelah membaca spoiler. Karya kehilangan mistiknya karena tidak ada lagi misteri.
Buku 2 hanya cocok dijual pada kalangan tertentu. Murid dalam kelas menulis DREB membutuhkannya untuk belajar. Analis dan kritikus membutuhkannya untuk menilai. Kolektor dan penggemar berat yang mengerti risiko mungkin menginginkannya sebagai edisi khusus. Tapi untuk publik umum, menjual Buku 2 adalah kesalahan. Ia menghancurkan pengalaman membaca yang seharusnya murni dan penuh kejutan.
PRINSIP DREB TENTANG JUDUL
Prinsip keempat DREB menyatakan: Tanpa judul adalah kebijakan publik.
Prinsip kelima menambahkan: Judul internal adalah konspirasi.
Pembaca tidak perlu tahu. Biarkan mereka menebak.
Prinsip keenam menegaskan: Analisis adalah untuk penulis. Kejutan adalah untuk pembaca.
Salam,
Jisa Afta
HeksaGraf - Sastra Enam Paragraf diciptakan oleh Jisa Afta
HeksaGraf atau Sastra Enam Paragraf, merupakan seni sastra berbentuk cerpen enam paragraf yang diciptakan oleh seorang penulis bernama Jisa Afta.
Kata HeksaGraf merupakan kata baru yang disusun oleh Jisa Afta. Kata HeksaGraf dibentuk dengan menggabungkan dua kata yaitu diambil dari kata "Hexa" (Yunani: enam) dan "graf" (tulisan/paragraf).
Ciri dan Struktur HeksaGraf
Cerpen enam paragraf atau sastra pendek enam paragraf memiliki ciri dan struktur sebagai berikut:
Ciri HeksaGraf
- Struktur enam paragraf
- Maksimal 555 kata
- Tiap paragraf maksimal 1 dialog atau tanpa dialog
Struktur HeksaGraf
1. Paragraf Pertama - Pembukaan (Opening)
2. Paragraf Kedua - Konflik (Problem)
3. Paragraf Ketiga - Penyelesaian / Penutup (Resolution or Ending)
4. Paragraf Keempat - Kondisi Tokoh Saat pasca Ending
5. Paragraf Kelima - Plot Twist (menghasilkan penyangkalan Resolution di paragraf 3)
6. Paragraf Keenam -- Klimaks - Konklusi final atau Ending yang Menggantung (tanpa resolusi).
Untuk membuat struktur terlihat sederhana, guna kepentingan analisis karya sastra pendek berupa cerpen enam paragraf, maka struktur HeksaGraf ditulis seperti ini:
P1 - Pembukaan
P2 - Konflik
P3 - Penyelesaian / Penutup
P4 - Kondisi Tokoh Saat pasca Ending
P5 - Plot Twist (menghasilkan penyangkalan Resolution di paragraf 3)
P6 - Klimaks - Konklusi final atau Ending yang Menggantung (tanpa resolusi).
Awal HeksaGraf diperkenalkan
HeksaGraf Pertamakali diperkenalkan tanggal 19 Juni 2025 melalui unggahan akun media sosial facebook "Jisa Afta" dan berbagai grup media sosial yang membahas dunia literasi. Awal perkenalan, Jisa Afta menawarkan konsep HeksaGraf meliputi ciri sastra pendek berupa cerpen dengan struktur enam paragraf, terdiri dari maksimal 555 kata, dan tiap paragraf maksimal 1 dialog atau tanpa dialog. Contoh karya HeksaGraf untuk pertama kalinya di perkenalkan oleh Jisa Afta, berjudul "Saksi". Karya ini tentunya masih jauh dari kata sempurna sebab payung kelengkapan struktur dan ciri yang masih minim uji. Berikut adalah detail ciri dan struktur HeksaGraf.
Penjelasan Ciri HeksaGraf
Struktur Enam Paragraf
Cerita ditulis secara padat hanya dalam enam paragraf. Ini menuntut pengarang untuk menyampaikan cerita dengan efisien, tanpa kehilangan kedalaman naratif.
Maksimal 555 Kata
Jumlah kata dibatasi hingga 555. Batas ini menantang penulis untuk tetap ringkas, tajam, dan selektif dalam memilih diksi.
Tiap Paragraf Maksimal 1 Dialog atau Tanpa Dialog
Ini menekankan kekuatan narasi deskriptif dan reflektif. Jika ada dialog, hanya boleh satu per paragraf, ini mencegah cerita terlalu banyak dialog.
Selain ciri, Jisa Afta juga menawarkan struktur HeksaGraf secara detail sebagai berikut:
1. Paragraf Pertama - Pembukaan (Opening)
Fungsi:
Mengenalkan dunia cerita, suasana, tokoh utama, dan premis dasar.
Tujuan:
Menarik perhatian pembaca dan menciptakan keterikatan awal tanpa terlalu banyak eksposisi, Tanpa perlu menjelaskan terlalu banyak detail latar belakang di awal cerita.
2. Paragraf Kedua - Konflik (Problem)
Fungsi:
Memperkenalkan masalah utama atau konflik yang akan mendorong alur.
Tujuan:
Menimbulkan ketegangan awal, menjadi pemicu narasi berkembang.
Jenis-jenis konflik dalam HeksaGraf pada paragraf kedua, antara lain sebagai berikut:
a. Konflik Internal (Batin):
Terjadi dalam diri seorang tokoh, seperti pergulatan emosi, pikiran, atau moral yang membuat tokoh tersebut bingung atau tertekan.
Contoh:
Seorang karakter merasa cemas tentang pilihan hidupnya, atau seorang ibu merasa bersalah karena tidak bisa melindungi anaknya.
b. Konflik Eksternal:
Terjadi antara tokoh dengan pihak di luar dirinya (orang lain, alam, masyarakat, atau keadaan).
Contoh:
Karakter bertarung melawan musuh, melawan alam (seperti badai atau cuaca buruk), atau berjuang untuk mencapai tujuannya.
3. Paragraf Ketiga - Penyelesaian / Penutup (Resolution or Ending)
Fungsi:
Memberi ilusi bahwa cerita telah selesai, bahwa konflik telah selesai.
Tujuan:
Menyajikan seolah-olah cerita tuntas, membuka jalan untuk plot twist berikutnya secara samar.
4. Paragraf Keempat - Kondisi Tokoh Saat pasca Ending
Fungsi:
Memaparkan bagaimana tokoh hidup dengan konsekuensi dari "penyelesaian" sebelumnya.
Tujuan:
Menyentuh sisi psikologis, emosional, atau eksistensial tokoh. Membuka celah untuk keraguan
5. Paragraf Kelima - Plot Twist (menghasilkan penyangkalan Resolution di paragraf 3)
Fungsi:
Menyajikan kejutan yang membantah atau menggugat paragraf ketiga.
Tujuan:
Mematahkan persepsi pembaca, memberi lapisan baru pada narasi. Target utama diharapkan Plot twist ini bisa mengejutkan dan menyusun ulang pemahaman pembaca tentang cerita.
6. Paragraf Keenam -- Klimaks - Konklusi final atau Ending yang Menggantung (tanpa resolusi).
Fungsi:
Menyampaikan puncak emosional (emotional climax)
Ini adalah momen paling emosional dan intens dalam cerita, ketika konflik mencapai titik tertinggi dan karakter mengalami perubahan besar atau mengambil keputusan penting.
Contoh:
Tokoh utama akhirnya memaafkan orang tuanya setelah bertahun-tahun konflik batin
Mengungkap hal atau kejadian "besar" (big reveal)
Momen kejutan atau terbukanya rahasia besar yang mengubah cara pembaca melihat cerita atau tokohnya.
Contoh:
Ternyata sahabat tokoh utama adalah dalang di balik semua kejadian
Ambiguitas akhir (ambiguous ending)
Cerita diakhiri dengan ketidakjelasan atau dibiarkan terbuka untuk ditafsirkan pembaca. Tidak semua pertanyaan dijawab, sehingga menimbulkan diskusi atau rasa penasaran.
Contoh:
Cerita berakhir saat tokoh utama membuka pintu, tanpa menjelaskan siapa yang datang, pembaca harus menebak sendiri.
Tujuan:
Menutup cerita dengan dampak kuat, dimana akhir cerita memberi kesan yang syarat makna, menakjubkan, mendalam, mengejutkan, atau membekas di hati dan pikiran pembaca. Entah berupa klimaks final atau menggantung untuk membiarkan pembaca menafsirkan sendiri. Bisa juga menyisakan pertanyaan tanpa jawaban pasti.
Saat konsep HeksaGraf kami paparkan, banyak karya cerpen yang dikirimkan oleh member di beberapa grup literasi. Melihat isi tiap paragraf memiliki struktur yang sangat sederhana, maka Pada tanggal 20 Juni 2025 dibuatlah Index pendekatan struktur. Berikut skor bobot penilaian HeksaGraf:
Klasifikasi Pemenuhan Struktur HeksaGraf:
Index pendekatan struktur.
Persentase Pemenuhan Struktur HeksaGraf
Kategori |Persentase
Rendah | 10% -- 49%
Sedang | 50% -- 79%
Tinggi | 80% -- 100%
//Pembaharuan sistem bobot
20 Juni 2025
Jisa Afta
(Pencipta HeksaGraf)
Contoh karya-karya dan penilaian cerpen enam paragraf atau sastra enam paragraf untuk selanjutnya akan di tampilkan pada bahasan selanjutnya.
Terima kasih.
Peluncuran Website Resmi J-Maestro: Melejitkan Mimpi Penulis Pemula Menjadi Nyata
Penerbitan J-Maestro dengan bangga mengumumkan peluncuran website resmi mereka,j-maestro.my.id Situs ini menjadi langkah baru dalam perjalanan J-Maestro yang selama ini telah berhasil membantu ribuan penulis pemula di seluruh Indonesia untuk mewujudkan impian mereka dalam menerbitkan karya. Dengan platform ini, J-Maestro terus memperkuat komitmennya sebagai jembatan yang menghubungkan antara impian dan kenyataan bagi para penulis yang ingin menjejakkan karyanya di dunia literasi.
Sejak didirikan, J-Maestro telah menjadi rumah bagi penulis-penulis yang ingin menjadikan mimpi mereka dalam menulis menjadi kenyataan. Tidak hanya sekadar penerbit, J-Maestro hadir sebagai sahabat perjalanan bagi setiap penulis, khususnya bagi mereka yang baru memulai karier di dunia penulisan. Melalui layanan yang profesional dan personal, J-Maestro berfokus untuk memberikan dukungan menyeluruh mulai dari bimbingan penulisan, penyuntingan, hingga proses penerbitan dan distribusi buku.
Mengubah Gagasan Menjadi Karya Nyata
Menulis adalah bentuk ekspresi diri, namun menjadikan karya tersebut sebuah buku yang dapat dinikmati oleh orang banyak adalah proses yang membutuhkan keahlian, ketelitian, dan tentunya, dukungan. J-Maestro hadir untuk memfasilitasi proses tersebut. Dengan pengalaman bertahun-tahun di dunia penerbitan, J-Maestro memahami betapa sulitnya bagi seorang penulis pemula untuk melangkah. Oleh karena itu, penerbit ini menawarkan layanan yang ramah dan membantu setiap penulis dalam setiap tahap perjalanan mereka.
Melalui website resmi ini, J-Maestro memberikan akses yang lebih mudah dan transparan kepada para penulis yang ingin berkolaborasi. Dengan antarmuka yang user-friendly, penulis dapat langsung mengakses berbagai informasi seputar penerbitan, layanan yang ditawarkan, serta testimoni dari penulis-penulis yang telah berhasil menerbitkan buku mereka bersama J-Maestro. Situs ini dirancang untuk memberikan pengalaman yang intuitif bagi penulis yang mungkin baru pertama kali menjajaki dunia penerbitan.
Inovasi dan Kolaborasi
J-Maestro tidak hanya berfokus pada penerbitan, tetapi juga pada pengembangan komunitas penulis. Melalui website ini, para penulis bisa bergabung dalam berbagai program pelatihan, seminar, dan workshop yang diadakan secara berkala oleh J-Maestro. Dengan visi untuk mengembangkan literasi di Indonesia, penerbit ini percaya bahwa setiap penulis memiliki cerita yang berharga untuk dibagikan. Oleh karena itu, J-Maestro selalu membuka pintu bagi penulis-penulis baru yang ingin mengasah kemampuan mereka dalam dunia literasi.
Salah satu fitur unggulan dari website J-Maestro adalah kemampuannya untuk menjalin kolaborasi. Tidak hanya penulis, ilustrator, desainer, dan editor juga dapat mendaftarkan diri dan terlibat dalam proyek-proyek penerbitan yang sedang berjalan. Hal ini menciptakan ekosistem kreatif yang memungkinkan terjadinya sinergi antarprofesional dalam industri penerbitan.
Langkah Besar untuk Industri Penerbitan di Indonesia
Peluncuran website resmi J-Maestro adalah langkah besar yang mencerminkan komitmen perusahaan untuk terus berinovasi dan mendukung industri penerbitan di Indonesia. Dengan kehadiran platform digital ini, J-Maestro berharap dapat menjangkau lebih banyak penulis yang memiliki mimpi untuk membukukan karya mereka. Dalam era digital seperti sekarang, kehadiran website yang mudah diakses seperti ini adalah solusi bagi para penulis yang ingin dengan cepat dan mudah mewujudkan impian mereka.
J-Maestro juga percaya bahwa setiap penulis memiliki potensi untuk berkontribusi pada dunia literasi. Oleh karena itu, penerbit ini tidak memandang latar belakang atau pengalaman penulis sebagai batasan. Selama ada keinginan dan dedikasi, J-Maestro siap membantu.
Peluncuran website ini menandai era baru bagi penerbitan di Indonesia, di mana setiap penulis pemula, tanpa memandang latar belakang atau pengalaman, dapat bermimpi besar dan menjadikan mimpinya sebuah kenyataan yang dapat dirasakan oleh dunia. Kunjungi situs kami di https://j-maestro.my.id/ dan mulailah langkah pertama Anda menuju menjadi penulis yang diakui.
J-Maestro: Dari Gagasan Menjadi Karya.
Kekeliruan Kategori Puisi di Sekolah dan Kampus
(Oleh: Jisa Afta)
Kekeliruan Kategori Puisi di Sekolah dan Kampus.
Di sekolah dan kampus, pelajaran Bahasa
Indonesia mengajarkan pada kita semua bahwa Puisi tergolong dalam kategori teks fiksi atau karya fiksi.
Dengan pengkategorian bahwa puisi termasuk karya fiksi atau karya khayalan atau tidak nyata, artinya jika
puisi menyuarakan tentang kejahatan kemanusiaan di Palestina, misalnya, maka
puisi apapun tentang Palestina adalah hanya khayalan, rekaan atau tidak nyata,
atau tidak benar-benar terjadi sebagai peristiwa di dunia nyata.
Berikut adalah kutipan pengkategorian
puisi kedalam fiksi seperti ajaran Modul
Bahasa Indonesia untuk pembelajaran SMA
yang diterbitkan Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2020:
“Buku fiksi
berarti buku yang dibuat berdasarkan imajinasi
penulisnya, imajinasi sendiri adalah daya olah pikir yang menghasilkan khayalan sehingga apa yang dituliskan
oleh pengarangnya merupakan karya tulis yang bersifat imajinatif seperti novel,
kumpulan cerpen, kumpulan puisi,
naskah drama.”
Dari kategori modul ajaran sekolah itu
berarti kita bisa simpulkan bahwa 3 Puisi Tentang Hari Lahir Pancasila:
Mengenang Peristiwa 1 Juni 1945, adalah khayalan
Bung Karno, bukan kenyataan. Tentu menjadi aneh bila kita anggap puisi seorang
Soekarno tentang Pancasila sebagai sebuah realitas palsu.
Menempatkan Puisi kedalam kategori
fiksi itu sama saja visi, mimpi, harapan Bung Karno sebagai Presiden Indonesia
pertama, hanyalah sebuah fatamorgana, halusinasi, untuk membawa masyarakat
Indonesia meyakini fantasi Bung Karno.
Fakta inilah yang menggerakan munculnya
tanda tanya di dalam pikiran saya, apakah benar puisi relevan bila
dikategorikan sebagai fiksi? Mungkinkah kumpulan puisi cocok disebut buku
fiksi? Tentunya jelas terlihat dari data tadi bahwa ada begitu banyak karya
teks puisi menyiratkan realitas dengan bahasa yang anggun, berkarisma dan
elegan. Jadi pendekatan bahasanya diutarakan dengan cara yang manis, tegas,
lugas dan penuh emosional, bukan berarti hal tersebut tergolong fiksi atau
khayalan.
Sebenarnya apa itu fiksi? Pengertian
fiksi adalah sebuah prosa naratif yang sifatnya imajinasi atau karangan
non-ilmiah dari penulis dan bukan berdasarkan kenyataan. Dengan kata lain, fiksi tidak terjadi di dunia nyata dan
hanya berdasarkan imajinasi atau pikiran
seseorang.
Artinya? Puisi Bung Karno berikut masuk
kategori fiksi, berikut adalah 1 dari 3 Puisi Bung Karno tentang Pancasila:
Pancasila,
Dasar Negara
Pancasila, dasar negara
Lahir dari perjuangan bangsa
Melawan penjajah yang rakus
Membela tanah air yang kaya
Pancasila, dasar negara
Ditetapkan pada tanggal satu
Bulan Juni tahun empat lima
Oleh Bung Karno yang berwibawa
Pancasila, dasar negara
Mengandung lima sila utama
Ketuhanan, kemanusiaan
Persatuan, kerakyatan, keadilan
Puisi kedua berjudul “Pancasila, Jiwa
Bangsa, dan puisi ketiga berjudul “Pancasila, Harapan Bangsa”.
Puisi dalam konteks 1 Juni 1945
tersebut adalah seni presentasi kata kreatif yang dipertontonkan Bung Karno.
Bentuk puisi dalam melengkapi Pidato 1 Juni 1945 tersebut, sama persis ketika Anda
menggambar mural atau grafiti pada tembok, dimana Anda lebih bebas menyampaikan
isi kepala dengan menggambar, ketimbang berbicara secara teks atau lisan
tentang sebuah realitas.
Bung Karno dengan kecakapan lengkapnya
menguasai seni berpidato dan berpuisi yang penguasaan kemampuan itu digabungkan
dalam waktu bersamaan untuk memadatkan bentuk penyampaiannya. Dan kita sama
sekali tidak menangkap pesan dan nilai fiksi atau mengajak kita untuk berkhayal
dalam puisinya, justru menyadarkan kepada kita bahwa penjajah itu rakus. Itu
kata jelasnya, kata makna tersembunyi lainnya adalah jika Anda rakus atau
korupsi, maka Anda juga sama dengan penjajah. Jadi jelas bahwa puisi Bung Karno
bukanlah daya imajinatif untuk menciptakan khayalan bagi pendengarnya tapi
justru puisi tersebut menyadarkan kita bahwa ini loh Pancasila, tugas kita
adalah menjaga nilai-nilainya. Dibangun dari perjuangan yang nyata, bukan
khayalan.
Kita jangan tergesa-gesa mengelompokkan
puisi masuk kedalam fiksi atau nonfiksi. Bila tidak bisa memasukkan puisi dalam
kategori fiksi dan nonfiksi, maka kita tak perlu memaksakan dengan alibi hanya
ada dua jenis karya, fiksi dan nonfiksi.
Menurut saya, puisi merupakan genre
seni tulis kreatif tersendiri dengan cita rasa sastra sendiri yang lebih bebas
dan tidak terikat pada faktualisasi atau berdasarkan kenyataan, atau mengandung
kebenaran.
Kekuatan puisi adalah keberpihakan
penulis pada nilai-nilai dari kejadian. Uniknya puisi realitas cenderung tidak
abu-abu dengan kata kiasaannya, sebab kata kiasan digunakan hanya kepentingan cita
rasa kata, bukan mengubah tema teks karya tersebut jadi fiksi atau khayalan.
Ada banyak contoh-contoh puisi yang
sama sekali ditulis bukan untuk tujuan mengarang cerita khayalan.
Chairil Anwar
Pembantaian Rawagede adalah peristiwa
pembantaian penduduk Kampung Rawagede (sekarang terletak di Desa Balongsari,
Rawamerta, Karawang), di antara Karawang dan Bekasi, oleh tentara Belanda pada
tanggal 9 Desember 1947 sewaktu melancarkan agresi militer pertama. Sejumlah
431 penduduk menjadi korban pembantaian ini.
Ketika tentara Belanda menyerbu Bekasi,
ribuan rakyat mengungsi ke arah Karawang. Pertempuran kemudian berkobar di
daerah antara Karawang dan Bekasi, mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa
dari kalangan sipil. Pada tanggal 4 Oktober 1948, tentara Belanda melancarkan
pembersihan
Bila puisi adalah fiksi atau sebuah
karangan tanpa landasan realitas sejarah,
maka ketika Chairil Anwar berpuisi tentang Karawang-Bekasi, ini berarti makna
patriotik atau tema yang diangkat dalam Puisi Chairil Anwar itu, bukanlah
sebuah nilai-nilai mendalam sebagai cuplikan peristiwa nyata yang harus
dikenang. Karena Puisi adalah teks khayalan atau teks fiksi sesuai ajaran
sekolah di kurikulum merdeka kita sampai detik ini (1 Juli 2024), maka kita tak
perlu menganggap Karawang-Bekasi dan Kejadian Palestina sebagai peristiwa yang
benar-benar nyata. Semua itu hanya kejadian yang tidak sebenarnya, berdasarkan khayalan
seperti cerita fantasi. Inilah kekeliruan ketika memasukkan Puisi di dalam
kategori teks Fiksi sebagaimana ajaran sekolah saat ini kepada pelajar.
Untuk menyegarkan ingatan kita, berikut
adalah salah satu karya Chairil Anwar:
“Karawang Bekasi” – Karya : Chairil Anwar
Kami
yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak
bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi,
Tapi
siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang
kami maju dan mendegap hati?
Kami
bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika
dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami
mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang,
kenanglah kami
Kami
sudah coba apa yang kami bisa
Tapi
kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan
arti
4-5 ribu nyawa
Kami
cuma tulang-tulang berserakan
Tapi
kami adalah kepunyaanmu
Kaulah
lagi ada yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau
jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
kemenangan
dan harapan
atau
tidak untuk apa-apa,
Kami
tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah
sekarang yang berkata
Kami
bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika
ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang,
kenanglah kami
Teruskan,
teruskan jiwa kami
Menjaga
Bung Karno
menjaga
Bung Hatta
menjaga
Bung Sjahrir
Kami
sekarang mayat
Berikan
kami arti
Berjagalah
terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang,
kenanglah kami
yang
tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu
kami terbaring antara Karawang-Bekasi
Terlihat dalam karya Karawang Bekasi, Chairil
Anwar tentunya tidak sedang mengangkat cerita imajinasi atau fantasi berupa
khayalan atau karangan yang dibuat-buat tanpa landasan peristiwa atau sejarah.
Chairil Anwar menjadikan puisi sebagai "cara" dan "gagasan
bebas" untuk menjadi metode berbicara tentang persepsinya dengan
menggunakan kecerdasan dan kemampuan stilistika yang di milikinya.
Stilistika pada dasarnya adalah
pemahaman dan penguasaan gaya bahasa. Chairil Anwar dalam Karawang Bekasi, membawa kesadaran pembaca atau pendengar
karyanya untuk merasakan emosi, situasi, perasaan, semangat dan harapan, dengan
cara seolah-olah para korban pembantaian yang dilakukan pihak Belanda pada
tanggal 9 Desember 1947, sedang “bicara” pada generasi yang masih hidup dan
akan datang, untuk mengenang, meresapi perjuangan, pengorbanan dan sikap
pemberani dalam menentang serta mengusir penjajahan.
Jika dilihat dari studi dan deskripsi
pilihan ekspresi linguistik yang menjadi ciri khas Chairil Anwar dalam Karawang Bekasi maka karya sastra
yang bertema kepahlawanan tersebut bisa dimasukkan dalam kategori puisi epik.
Puisi epik zaman kuno, seperti Epic of
Gilgamesh, menceritakan kisah orang-orang luar biasa yang bertempur dalam
pertempuran besar untuk menyelamatkan rakyatnya. Epic of Gilgamesh mengangkat
tema kepahlawanan, persahabatan, kegagalan, kematian, dan pencarian keabadian.
Makna puisi Karawang Bekasi merupakan
puisi yang merefleksikan pada pembantaian oleh Belanda yang terjadi antara Karawang
hingga Bekasi. Nilai dan konsep
patriotisme dihadirkan dalam setiap bait puisi Karawang Bekasi.
Jadi jelas, memasukkan puisi dalam
kategori karya khayalan atau karya fiksi, itu sebuah kekeliruan besar, apalagi
hal tersebut diatur dalam pedoman pengajaran yang terstandarisasi oleh negara
sebesar Indonesia.
Jadi,
penggunaan teknik penulisan atau gaya tulis perumpamaan, atau gaya tulis majas
atau penulisan puisi, tidak serta merta mengubah karya nonfiksi menjadi fiksi.
Demikian
pula halnya, penggunaan gaya tulis pada puisi, sebenarnya tidak serta merta
membuat puisi, menjadi fiksi. Akan tetapi untuk mengukur puisi itu fiksi atau
bukan fiksi, seharusnya adalah dengan melihat tema puisi tersebut.
Berikut adalah kutipan dari website ditsmp.kemdikbud.go.id
“Teks
fiksi merupakan teks yang dibuat berdasarkan imajinasi penulisnya berupa khayalan sehingga apa yang dituliskan oleh pengarang merupakan karya tulis yang bersifat imajinatif seperti novel,
cerpen, fabel, puisi, dan naskah drama. Kata “fiksi” berasal dari
bahasa Inggris yaitu “fiction” yang artinya rekaan atau khayalan.”
Sumber :
https://ditsmp.kemdikbud.go.id/memahami-teks-fiksi-dan-nonfiksi/
Dari sumber tersebut, sangat jelas
panduan kurikulum pelajaran di Indonesia yang mengatakan bahwa puisi dimasukkan
ke dalam kategori fiksi atau karya bukan peristiwa nyata.
Mari kita lihat KBBI, Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, dijelaskan bahwa Fiksi berarti tidak
berdasarkan kenyataan, pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau rekaan.
Dan sekarang mari cermati hal berikut.
Ini adalah sebuah Puisi berjudul
'Palestina
Saudaraku' karya Retno Marsudi.
Dalam aksi bela Palestina di Monas,
Jakarta Pusat, Mentri Luar Negeri, Retno Marsudi membacakan puisi untuk
Palestina.
Melalui puisi tersebut, Retno
menegaskan posisi Indonesia untuk terus membela Palestina dari penjajahan
Israel.
"Ibu, Bapak, semalam saya menulis
puisi apakah puisi ini boleh saya bacakan?" kata Retno di Monas, Jakarta
Pusat, Minggu (5/11/2023).
Berikut puisi yang dibacakan Retno
dalam aksi bela Palestina:
Palestina Saudaraku – Karya : Retno Marsudi
Hatiku miris, karena bocah itu menangis
Dia terluka, dia tidak bisa berkata
Dia tidak tahu di mana bapak ibunya
Setiap 10 menit 1 anak wafat di Gaza
Ribuan orang tua kehilangan anak
Tak terbilang berapa ribu anak kehilangan orang tuanya
Setiap tangan tertulis nama
Mereka tidak ingin mati tanpa penanda
Rumah mereka hanya langit
Kasur mereka hanya bumi
Kapan kekejaman ini akan berhenti
Kapan keadilan ini akan menghampiri
Aku dan Indonesiaku pantang mundur akan terus membantumu
Aku dan Indonesiaku akan terus bersamamu
Sampai penjajah itu enyah dari rumahmu
Palestina kau adalah saudaraku
Dan aku, Indonesiaku akan selalu bersamamu
Monas, Jakarta Pusat, Minggu (5/11/2023).
Apakah puisi yang ditulis dan dibacakan
oleh Retno Marsudi pada aksi bela Palestina tersebut adalah sebuah karya fiksi
yang berupa khayalan seorang Retno? Apakah Palestina itu sebuah negara Fiksi
yang hanya ada dalam imajinasi seorang Retno Marsudi? Apakah Gaza hanya sebuah
kota fantasi seorang Retno dan Gaza itu tidak ada di dunia ini? Tentu tidak.
Secara jelas bahwa Puisi Ibu Retno
adalah bentuk perjuangan, pengungkapan kemarahan, keresahan, kepedulian, teriakan
keprihatinan atas kejadian nyata, yang di tulis dengan gaya tulis kreatif.
Apakah Puisi bu Retno itu merupakan
karya nonfiksi? Tentu tidak, sebab teks puisi yang dibaca tidak mencantumkan
sumber-sumber referensi fakta dan data diantara teks puisinya.
Jadi, jika Puisi bukan fiksi dan juga
buka nonfiksi, lalu puisi itu tergolong apa?
Jawabannya adalah, Puisi merupakan
bentuk penulisan kreatif dengan genre tersendiri, genre berbeda diluar Fiksi
dan Nonfiksi.











