Skip to main content

HeksaGraf - Sastra Enam Paragraf diciptakan oleh Jisa Afta

HeksaGraf atau Sastra Enam Paragraf, merupakan seni sastra berbentuk cerpen enam paragraf yang diciptakan oleh seorang penulis bernama Jisa Afta.


Kata HeksaGraf merupakan kata baru yang disusun oleh Jisa Afta. Kata HeksaGraf dibentuk dengan menggabungkan dua kata yaitu diambil dari kata "Hexa" (Yunani: enam)  dan "graf" (tulisan/paragraf).


Ciri dan Struktur HeksaGraf



Cerpen enam paragraf atau sastra pendek enam paragraf memiliki ciri dan struktur sebagai berikut:


Ciri HeksaGraf


- Struktur enam paragraf


- Maksimal 555 kata


- Tiap paragraf maksimal 1 dialog atau tanpa dialog


Struktur HeksaGraf


1. Paragraf Pertama - Pembukaan (Opening)


2. Paragraf Kedua - Konflik (Problem)


3. Paragraf Ketiga - Penyelesaian / Penutup (Resolution or Ending)


4. Paragraf Keempat - Kondisi Tokoh Saat pasca Ending 


5. Paragraf Kelima - Plot Twist (menghasilkan penyangkalan Resolution di paragraf 3)


6. Paragraf Keenam -- Klimaks - Konklusi final atau Ending yang Menggantung (tanpa resolusi).


Untuk membuat struktur terlihat sederhana, guna kepentingan analisis karya sastra pendek berupa cerpen enam paragraf, maka struktur HeksaGraf ditulis seperti ini:


P1 - Pembukaan

P2 - Konflik

P3 - Penyelesaian / Penutup

P4 - Kondisi Tokoh Saat pasca Ending

P5 - Plot Twist (menghasilkan penyangkalan Resolution di paragraf 3)

P6 - Klimaks - Konklusi final atau Ending yang Menggantung (tanpa resolusi).


Awal HeksaGraf diperkenalkan


HeksaGraf Pertamakali diperkenalkan tanggal 19 Juni 2025 melalui unggahan akun media sosial facebook "Jisa Afta" dan berbagai grup media sosial yang membahas dunia literasi.  Awal perkenalan, Jisa Afta menawarkan konsep HeksaGraf meliputi ciri sastra pendek berupa cerpen dengan struktur enam paragraf, terdiri dari maksimal 555 kata, dan tiap paragraf maksimal 1 dialog atau tanpa dialog. Contoh karya HeksaGraf untuk pertama kalinya di perkenalkan oleh Jisa Afta, berjudul "Saksi". Karya ini tentunya masih jauh dari kata sempurna sebab payung kelengkapan struktur dan ciri yang masih minim uji. Berikut adalah detail ciri dan struktur HeksaGraf.


Penjelasan Ciri HeksaGraf 


Struktur Enam Paragraf

Cerita ditulis secara padat hanya dalam enam paragraf. Ini menuntut pengarang untuk menyampaikan cerita dengan efisien, tanpa kehilangan kedalaman naratif.

Maksimal 555 Kata

Jumlah kata dibatasi hingga 555. Batas ini menantang penulis untuk tetap ringkas, tajam, dan selektif dalam memilih diksi. 

Tiap Paragraf Maksimal 1 Dialog atau Tanpa Dialog

Ini menekankan kekuatan narasi deskriptif dan reflektif. Jika ada dialog, hanya boleh satu per paragraf, ini mencegah cerita terlalu banyak dialog.


Selain ciri, Jisa Afta juga menawarkan struktur HeksaGraf secara detail sebagai berikut:


 1. Paragraf Pertama - Pembukaan (Opening)


Fungsi: 


Mengenalkan dunia cerita, suasana, tokoh utama, dan premis dasar.



Tujuan: 


Menarik perhatian pembaca dan menciptakan keterikatan awal tanpa terlalu banyak eksposisi, Tanpa perlu menjelaskan terlalu banyak detail latar belakang di awal cerita.


2. Paragraf Kedua - Konflik (Problem)


Fungsi: 


Memperkenalkan masalah utama atau konflik yang akan mendorong alur.




Tujuan: 


Menimbulkan ketegangan awal, menjadi pemicu narasi berkembang.


 


Jenis-jenis konflik dalam HeksaGraf pada paragraf kedua, antara lain sebagai berikut:


a. Konflik Internal (Batin):


Terjadi dalam diri seorang tokoh, seperti pergulatan emosi, pikiran, atau moral yang membuat tokoh tersebut bingung atau tertekan.


Contoh: 


Seorang karakter merasa cemas tentang pilihan hidupnya, atau seorang ibu merasa bersalah karena tidak bisa melindungi anaknya.




b. Konflik Eksternal:


Terjadi antara tokoh dengan pihak di luar dirinya (orang lain, alam, masyarakat, atau keadaan).


Contoh: 


Karakter bertarung melawan musuh, melawan alam (seperti badai atau cuaca buruk), atau berjuang untuk mencapai tujuannya.


3. Paragraf Ketiga - Penyelesaian / Penutup (Resolution or Ending)


Fungsi: 


Memberi ilusi bahwa cerita telah selesai, bahwa konflik telah selesai.




Tujuan: 


Menyajikan seolah-olah cerita tuntas, membuka jalan untuk plot twist berikutnya secara samar.


4. Paragraf Keempat - Kondisi Tokoh Saat pasca Ending 


Fungsi: 


Memaparkan bagaimana tokoh hidup dengan konsekuensi dari "penyelesaian" sebelumnya.

 


Tujuan: 


Menyentuh sisi psikologis, emosional, atau eksistensial tokoh. Membuka celah untuk keraguan 


5. Paragraf Kelima - Plot Twist (menghasilkan penyangkalan Resolution di paragraf 3)


Fungsi: 


Menyajikan kejutan yang membantah atau menggugat paragraf ketiga.

 


Tujuan: 


Mematahkan persepsi pembaca, memberi lapisan baru pada narasi. Target utama diharapkan Plot twist ini bisa mengejutkan dan menyusun ulang pemahaman pembaca tentang cerita.


6. Paragraf Keenam -- Klimaks - Konklusi final atau Ending yang Menggantung (tanpa resolusi).


Fungsi: 


Menyampaikan puncak emosional (emotional climax) 


Ini adalah momen paling emosional dan intens dalam cerita, ketika konflik mencapai titik tertinggi dan karakter mengalami perubahan besar atau mengambil keputusan penting.


Contoh:

Tokoh utama akhirnya memaafkan orang tuanya setelah bertahun-tahun konflik batin




Mengungkap hal atau kejadian "besar" (big reveal) 


Momen kejutan atau terbukanya rahasia besar yang mengubah cara pembaca melihat cerita atau tokohnya.




Contoh:

Ternyata sahabat tokoh utama adalah dalang di balik semua kejadian




Ambiguitas akhir (ambiguous ending) 


Cerita diakhiri dengan ketidakjelasan atau dibiarkan terbuka untuk ditafsirkan pembaca. Tidak semua pertanyaan dijawab, sehingga menimbulkan diskusi atau rasa penasaran.




Contoh:

Cerita berakhir saat tokoh utama membuka pintu, tanpa menjelaskan siapa yang datang, pembaca harus menebak sendiri.






Tujuan: 


Menutup cerita dengan dampak kuat, dimana akhir cerita memberi kesan yang syarat makna, menakjubkan, mendalam, mengejutkan, atau membekas di hati dan pikiran pembaca. Entah berupa klimaks final atau menggantung untuk membiarkan pembaca menafsirkan sendiri. Bisa juga menyisakan pertanyaan tanpa jawaban pasti.




Saat konsep HeksaGraf kami paparkan, banyak karya cerpen yang dikirimkan oleh member di beberapa grup literasi. Melihat isi tiap paragraf memiliki struktur yang sangat sederhana, maka Pada tanggal 20 Juni 2025 dibuatlah Index pendekatan struktur. Berikut skor bobot  penilaian HeksaGraf:




Klasifikasi Pemenuhan Struktur HeksaGraf:


Index pendekatan struktur.

Persentase Pemenuhan Struktur HeksaGraf


Kategori |Persentase


Rendah | 10% -- 49%

Sedang | 50% -- 79%

Tinggi | 80% -- 100%


//Pembaharuan  sistem bobot

20 Juni 2025


Jisa Afta

(Pencipta HeksaGraf)




Contoh karya-karya dan penilaian cerpen enam paragraf atau sastra enam paragraf untuk selanjutnya akan di tampilkan pada  bahasan selanjutnya.




Terima kasih.



Comments

Popular posts from this blog

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI | Oleh : Tea Terina

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI Membaca judulnya memang menimbulkan penafsiran yaitu bangga memiliki buku puisi karya sendiri atau bangga memiliki buku puisi karena membeli. Perasaan terakhirlah yang dialami  Mila Putri , siswa SMPN 2 Pagak yang masih kelas 7. Penyuka puisi sejak SD tetapi merasa belum bisa menulis puisi dengan baik ini, merasa bangga dan senang setelah menerima kiriman buku Nazam Tak Berdahak karya  Jisa Afta . Sebagai guru saya ingin mengetahui kesannya setelah memb aca buku tersebut. Saya beri waktu kurang lebih 3 hari. Apa komentarnya? Indah, bahasanya banyak yang imajinatif dan penuh makna tetapi ada bagian yang belum dipahaminya. Saya paham jawabannya karena ia masih perlu belajar untuk mengenali puisi khas Kitab Semilir karya Jisa Afta.  Saya berharap setelah membaca seluruh isi buku itu, ia bisa belajar menulis puisi tanpa menunggu sampai di kelas 8 karena di kls 8 ada materi pembelajaran Teks Puisi. Dan ia punya pilihan menulis puis...

Perbedaan Terkenal dan Hebat

Orang terkenal, belum tentu hebat. Orang yang disukai banyak orang, belum tentu hebat. Orang yang populer belum tentu hebat. Sebab bisa jadi seseorang terkenal karena perilaku uniknya yang tidak mendidik Atau bisa jadi seseorang disukai banyak orang karena ia berwajah tampan atau cantik saja Dan bisa saja seseorang populer karena melakukan penistaan agama, misalnya. Sebelum anda menjadi penulis, apa tujuan anda? Menjadi orang terkenal atau orang hebat? Buku ini akan menjadikan anda hebat, bukan terkenal. Hebat dalam pengertian buku ini adalah Anda menjadi penulis untuk di kagumi pembaca. Bukan untuk menjadi populer. Lalu anda bertanya dalam hati, “untuk apa hebat kalau tidak populer?” Jawabannya nanti di pertengahan buku ini. Sudah siapkah anda menjadi penulis hebat? Mari kita mulai,