HeksaGraf - Sastra Enam Paragraf diciptakan oleh Jisa Afta

HeksaGraf dibentuk dengan menggabungkan dua kata yaitu diambil dari kata "Hexa" (Yunani: enam) dan "graf" (tulisan/paragraf)..

Kekeliruan Kategori Puisi di Sekolah dan Kampus

Di sekolah dan kampus, pelajaran Bahasa Indonesia mengajarkan pada kita semua bahwa Puisi tergolong dalam kategori teks fiksi atau karya fiksi. .

Apa itu DREB?

Dreb diciptakan oleh Jisa Afta, DREB adalah esensi dari sebuah cerita seperti menonton hanya scene paling intens dari sebuah film.

Proses dI balik DREB: PROYEK VANTA-VOID

Gambaran besar Proyek 'Vanta-Void' di dalam pikiran dan imajinasi liar:.

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI | Oleh : Tea Terina

Membaca judulnya memang menimbulkan penafsiran yaitu bangga memiliki buku puisi karya sendiri.

BEKAR | Bedah Karya #23 Two Worlds

Bedah Karya

Two Worlds


Penulis : Adalah Anggota GRUP FB Jisa Afta
Berkomentar lah dan berikan masukan atau pujian sesuai konteks.
Selamat Membedah Karya Luar Biasa Ini :




Two Worlds 

“Jangan berhenti!”

Sekali lagi Glowi berteriak saat melihat langkah kaki Misha mulai goyah.

“Aku sudah tidak kuat, aku sangat mengantuk.”

“Baiklah, kau boleh tertidur. Tapi tidak di Emerdon ini!”

Misha terus berusaha menjauh dari tanah lapang penuh duka itu. Meninggalkan Glowi yang berusaha menahan Ematte agar tidak mengejarnya. Jika Ematte menangkap Misha di Emerdon, maka gadis itu tidak akan pernah bisa kembali ke alam nyatanya.

“Kau sunggu bodoh! Jika aku menangkapnya dan mengambil jantung gadis itu. Maka kalian akan hidup bahagia selamanya di dunia ini.”

“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!”

“Apa kau tidak ingin hidup bahagia dengan gadis yang kau cintai?”

“Tidak, jika itu harus merenggut nyawanya!”

“Bodoh!”

Ematte mencengkram kerah baju Glowi, mengangkat pemuda bertubuh kekar itu ke udara sebelum menghempaskannya ke tanah.

“Austin, kejar gadis itu! Jangan biarkan ia sampai di Flowa!” perintah Ematte pada burung gagak besar yang sedari tadi memperhatikan pertempurannya dengan Glowi.
Austin mengejar Misha yang berlari semakin cepat menuju Flowa. Ternyata gadis berusia 22 tahun itu telah terbebas dari mantra kantuk yang ada di Emerdon.

“Aku harus segera sampai ke Flowa… Ah, Austin? Aku harus bersembunyi, aku tidak boleh tertangkap olehnya.”

Mista berlari memasuki hutan, bersembunyi di antara rimbunnya pepohonan. Menunggu hingga burung gagak berukuran besar itu menghilang.

……

Cukup lama Austin berputar-putar di atas langit hutan untuk mencari keberadaan Misha, sehingga ia menyerah dan kembali ke Emerdon untuk memberi kabar bahwa Misha telah berhasil lolos dari kejarannya.

“Bodoh!!!”

Ematte murka mendengar kabar itu, wanita itu mencambuk Austin hingga sayapnya patah.

“Buat apa aku memelihara kau selama ini, jika menangkap seorang gadis saja kau tidak bisa? Lebih baik kau mati!”

Glowi menangkap cambuk yang hampir mengenai tubuh Austin, “Cukup, ibunda!” ucapnya, “hentikan semua ini! Sudahi dendammu pada manusia.”

“Apa maksud ucapanmu itu, Glowi? Apa kau tidak sadar bahwa manusialah yang menghancurkan keluarga kita?”

“Apa ibunda tidak ingat bahwa aku juga manusia? Jika ibunda membenci manusia, itu artinya ibunda juga membenciku.”

“Bagaimana mungkin aku membencimu? Kau adalah darah dagingku sendiri, Glowi.”
“Tapi aku juga manusia, ibunda. Berarti ibunda juga membenciku.”

Ematte mengerang, amarah dan kesedihan bercampur dalam hatinya. Ia melempar alat cambuk itu ke tanah. Lalu membiarkan Austin meringsut menjauhinya. Gagak itu sudah tidak kuat lagi untuk terbang, kedua sayapnya telah patah akibat dicambuk oleh Ematte.

“Ibunda, jika ayah tidak mengingatmu. Itu bukanlah kesalahannya, ibunda. Bukankah kau tahu hakekat kita? Kita hanyalah mimpi bagi manusia. Saat mereka terbangun, maka ingatan mereka tentang kita akan menghilang.”

Ematte menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya dengan berlahan. Dadanya terasa sesak, apa yang dikatakan Glowi memang benar. Hakekat mereka hanyalah sebatas mimpi.

“Ibunda, aku mohon jangan membenci manusia lagi. Karena itu sama artinya ibunda membenci diriku.”

Raut wajah Ematte yang tegang dan penuh emosi, sekarang berubah menjadi sendu. Ucapan Glowi begitu mirip dengan ucapan pemuda yang ia cintai.

“Ibunda, ku mohon padamu. Jangan kau teruskan lagi dendammu.”

“Tapi manusialah yang telah terlebih dahulu menghancurkan kehidupanku.”

“Bukan, ibunda. Ibundahlah yang telah menghancurkan kehidupan ibunda sendiri dengan mencintai manusia tanpa menyadari hakekat ibunda.”

“Hakekat? Apa itu? Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang aku tahu, aku telah jatuh cinta pada manusia dan ia telah meninggalkanku seorang diri,” suara Ematte bergetar menahan tangis.

Melihat mata Ematte yang mulai berkaca-kaca, Glowi memeluk tubuh wanita itu dengan erat, “Ibunda, kau tidak salah mencintai manusia… tapi kau salah mengharapkan cinta dengan cara memaksakannya, sehingga kau terluka saat melihat orang yang ibunda cintai memilih gadis lain,” katanya.

“Aku mencintainya, Glowi.”

“Jika ibunda mencintai ayah, maka ibunda tidak akan terluka melihat ayah bahagia dengan wanita lain… ah, mungkin luka itu ada, tapi tidak sampai menimbulkan dendam. Itu yang namanya cinta, ibunda.”

“Ya. Mungkin kau benar, Glowi… maafkan aku, nak. Aku hampir membunuh kekasihmu, cinta tulusmu padanya telah menyadarkan aku dari dendam ini.”

“Aku senang ibunda telah menyadari kesalahan ibunda.”

“Ayo, nak. Kita antarkan kekasihmu kembali ke alamnya, ibunda juga ingin meminta maaf padanya.”
“Iya, ibunda.”

……

Misha merasa keadaan di luar hutan telah aman, ia berlari menuju Flowa. Betapa terkejutnya ia melihat Ematte dan Glowi telah lebih dulu berada di pintu dunia lain ini.

“Berhenti, Misha! Jangan lari lagi, aku datang menemuimu bukan untuk membunuhmu. Namun aku ingin meminta maaf padamu,” kata Ematte saat melihat Misha berbalik dan hendak menghindarinya.

Dengan kebingungan di benaknya, Misha berbalik menatap Ematte dan Glowi, “meminta maaf?” tanyanya.

“Ya, maafkan aku telah hampir membunuhmu.”

“Tapi kenapa kau ingin membunuhku? Apa salahku padamu?”

“Aku yang akan menjawab semua kebingunganmu,” kata Glowi.

“Baiklah, aku akan memaafkanmu Ematte. Kau juga tidak sempat melukaiku, hanya saja kau membuatku hampir jantungan.”

“Maafkan aku.”

“Iya.”
……
“Ematte adalah ibundaku, ia tidak sengaja menemukan mantra pemanggil arwah manusia ke alam mimpi ini saat berlatih sihir 22 tahun lalu. Ia mencoba mempraktekkannya, sehingga ia bertemu dengan ayahku. Sejak saat itu, ibunda jatuh cinta pada ayahku. Namun ia kecewa ketika mengetahui bahwa ayah akan melupakannya saat bangun dari tidur.”

“Jadi, Ematte itu adalah ibundamu? Lalu kenapa kau larang aku untuk tertidur di Emerdon?”

“Aku melarang kau untuk tidak tertidur di Emerdon karena aku tidak ingin kau mati. Semua orang yang arwahnya tertidur di Emerdon, mereka akan mati.”

“Mati?”

“Ibunda membuat Emerdon awalnya untuk menjebak ayah, ia ingin ayah tidak melupakannya dengan cara ibunda harus mengandung anak dari manusia. Tapi, itu sama sekali tidak berpengaruh. Ayah tetap saja melupakannya saat ia terbangun dari tidur, bahkan ayah menikah dengan gadis lain.”

“Jadi, kau setengah manusia?”

“Iya. Aku bisa berada di alam manusia dan alam mimpi, karena itu adalah anugrah yang aku miliki dari lahir.”

“Lalu apa sangkut pautnya Emerdon dan Flowa? Mengapa kau menyuruhku untuk berlari ke sini?”

“Emerdon adalah jebakan untuk arwah manusia. Jika kau tertidur di Emerdon, maka kau akan sulit bangun lagi. Ibundaku akan gampang untuk membunuhmu dengan merobek tubuhmu dan menghancurkan jantungmu. Dengan begitu kau akan mati di alam nyata, namun kau akan hidup di alam ini. Sedangkan Flowa adalah pintu yang telah berhasil aku buat sebagai penguasa dua dunia. Dengan kekuatan yang aku miliki, aku berhasil membuat pintu penembus ke dunia manusia. Dan hanya melalui Flowa kau akan bisa kembali ke alam nyatamu.”

“Begitu rupanya. Aku baru mengerti sekarang.”

“Baiklah, sekarang sudah mulai pagi di dunia nyata. Sebaiknya kau kembali.”

“Tapi, apa kita bisa ketemu lagi?”

“Tentu saja, kapanpun kau merindukanku. Maka pejamkanlah matamu dan berusahalah mengingatku. Saat itu perasaan rindumu akan tersampaikan padaku, sehingga aku akan membuka pintu Flowa ini khusus untukmu.”

“Akan selalu aku ingat dirimu dan tempat ini, sehingga kita dapat bertemu kembali. Aku pulang dulu.”

“Pulanglah!”

Misha berjalan menuju pintu di ujung Flowa, membukanya dan kembali masuk dalam tubuhnya.

“Selamat bangun Misha dan jangan lupakan aku. Seperti aku yang tidak akan pernah melupakanmu.”


~End~




Penulis:  Yulia Roza

BEKAR | Bedah Karya #26 Aisyah

Bedah Karya

 Aisyah



Penulis : Adalah Anggota GRUP FB Jisa Afta

Berkomentar lah dan berikan masukan atau pujian sesuai konteks.

Selamat Membedah Karya Luar Biasa Ini :



Aisyah


Mengapa engkau membenciku ibu?

Aku terlahir memang tidak sempura.warna kulitku berbeda dengan kedua orang tuaku,ayahku tampan,kulitnya putih bersih begitu pula dengan ibuku,ia sangat menawan dan memiliki kulit yang putih bercahaya sehingga tak jarang banyak kaum adam mengaguminya....tapi aku,aku terlahir dengan kulit hitam,rupa ku pun bisa dikatakan tidak cantik,tapi aku punya hati dan aku percaya hatiku putih bersih seperti kapas....

Sejak kecil ibu memperlakukan aku secara berbeda,kasih sayangnya selalu ia curahkan untuk adikku Auora yang terlahir nyaris sempurna,parasnya cantik,kulitnya seperti ibuku bersih,putih dan bercahaya sehingga sejak Aurora lahir banyak orang menyukainya...

Hari demi hari berlalu,aku dan adikku pun tumbuh dewasa.walau ibu tidak begitu mempedulikan keberadaanku tapi aku cukup bahagia karena ayah dan adikku Aurora menyayangiku...

Hari kebahagiaan itu tiba...yaaa adikku Aurora akan menikah.seorang pria mapan dari negeri seberang akan menikahinya...pria itu seperti pangeran,sangat cocok bersanding dengan adikku,,cantik dan tampan..sungguh pasangan yang serasi.

Beberapa hari menjelang pernikahan adikku,aku sibuk membantu mempersiapkan semuanya walaupun sebenarnya ibu selalu protes akan hasil kerjaku,terkadang ibu mengejek aku didepan teman-temannya saat aku berusaha menyajikan makanan untuk mereka,namun semua itu sudah biasa aku rasakan,aku hanya bisa terdiam dan sesekali menahan air mataku yang tak kuasa jatuh membasahi pipiku.

Aku hanya bisa menjerit dalam hati"ibu,kenapa engkau begitu membenciku?apa salahku?apa karena aku tidak cantik?bukan inginku aku terlahir seperti ini bu?tapi inilah takdir Tuhan..."

"Aisyah....cepat kemari,antarkan makanan ini kepada calon suami adikmu,juga pada ayah dan ibunya,mereka menginap di hotel dekat rumah,cepat jangan pakai lama!!!".ucap ibu membuatku terbangun saat aku tertidur di sofa ruang tengah.

Yaa..keluarga calon pengantin adikku memang sengaja menginap di hotel dekat rumah sebelum hari pernikahan tiba karena mereka datang cukup jauh dari negeri seberang..

Aku pun bergegas mencuci mukaku tapi tiba-tiba ibu berkata lagi"sudah,kamu tidak perlu cuci muka,tidak akan ada orang yang tahu kalau kamu bangun tidur,kulitmu kan hitam pekat seperti aspal,mana ada orang mau melirikmu"

Kejam,sungguh kejam ucapanmu bu,tapi aku berusaha menerima itu,kau adalah ibuku yang telah melahirkanku,aku sepatutnya selalu menghormatimu.

Aku pun pergi mengantarkan makanan favorit pesanan calon suami adikku....dengan berjalan kaki aku menuju kesana.

Pintu kamar hotel itu pun aku ketuk.cukup lama aku menunggu,mungkin mereka sedang beristirahat.aku pun menunggu dimulut pintu,selang 10menit kemudian akhirnya ada seseorang membuka pintu.

"Assalamualaikum,Ahmed...ibuku memintaku untuk mengantarkan makanan ini untukmu dan untuk keluargamu,semoga kalian menyukainya"ucapku dengan pandangan tertunduk.

"Waalaikumsalam,terimakasih Kak Aisyah,mari masuk dulu untuk ikut bersantap bersama kami"Jawab Ahmed,calon adik iparku yang berasal dari negeri Arab.

Aku pun menolak ajakan mereka secara halus,tak lama aku pamit pulang karena masih banyak yang harus aku kerjakan dirumah untuk membantu mempersiapkan pernikahan adik cantikku Aurora...

Dan...hari kebahagiaan itu pun tiba,,,,tampak dari kamar rias wajah adikku Aurora semakin cantik dengan balutan baju pengantin serba putih,parasnya yang elok semakin terlihat tatkala goresan make up terlihat di wajahnya.ia pun tersenyum bahagia,berkali-kali ia memelukku,sambil mencium pipi dan keningku....

"Kak Aish...terimakasih ya kak,selama ini kakak sudah sangat membantu mempersiapkan pernikahan aku,terimakasih pula kakak bersedia berbohong demi aku,kakak rela menyembunyikan bakat kakak memasak demi aku,kakak rela berbohong bahwa masakan yang selama ini Ahmed sukai adalah masakan buatan aku,padahal itu semua hasil karya tangan kakak yang indah ini...."ucap Aurora panjang lebar.

Yaa..ada suatu kebohongan yang kami lakukan disini,tapi tak apalah aku ikhlas,semua ini aku lakukan demi kebahagiaan Aurora.toh nanti kalau sudah menjadi suami isteri Ahmed tak akan marah mungkin jika mengetahui bahwa Aurora sebenarnya belum pandai memasak.

Dan,,tibalah saat dimana ijab qabul akan dilaksanakan.

Aku lihat semua mata tertuju pada Aurora..ya semua orang pasti akan terpesona melihat kecantikan nya,namun aku sedikit heran,sejak tadi aku memperhatikan kalau Ahmed selalu melihat ke arahku...ah mungkin itu semua hanya perasaanku saja.mana mungkin ia mau melihat ke arah si itik buruk rupa ini,ucapku.....aku pun segera melenyapkan pikiran aneh itu.

Saat ijab qabul hendak dilaksanakan,tiba-tiba Ahmed mengatakan sesuatu...’

"Aurora..maafkan aku,aku tidak bisa menikahimu"

Sontak ratusan orang yang hadir termasuk aku kaget sekali mendengar ucapan Ahmed

"Apa? Ahmed stop ya aku tahu kamu senang bercanda tapi kumohon jangan disaat moment penting seperti ini,ini semua tidak lucu"Ucap Auora dengan wajah memerah
"Aku tidak bercanda wahai Aurora,aku tahu kamu sangat cantik dan karena kecantikan wajahmu aku jatuh cinta,tapi ketahuilah Aurora,aku lebih jatuh cinta kepada orang yang selama ini menutupi kebohonganmu,orang yang selama ini selalu membuatkan aku makanan kesukaanku,orang yang selama ini selalu dianggap rendah oleh ibunya sendiri,Aisyah...ya Aisyah...aku jatuh cinta padanya,aku telah mendengar percakapan kalian tadi di kamar rias,maafkan aku Aurora,,wajahmu memang cantik tapi hati kakakmu terlampau cantik dibanding kamu..maafkan aku,aku tidak bisa menikahimu,tanpa aku sadari aku telah jatuh hati pada kakakmu..."

Ucapan Ahmed membuat semua orang yang hadir termasuk aku sangat kaget dan tidak percaya.

Ibu,ya ibu,,,ibu adalah orang yang sangat marah saat mendengar ucapan ini.ibu meyakinkan bahwa Ahmed sedang bergurau.

Sementara Aurora,ia hanya bisa terdiam,sesekali air matanya menetes. Tiba-tiba ia berdiri,menarik tanganku,lalu mengajak aku duduk menggantikan dirinya...

"Kak Aish,kau memang pantas mendapatkan semua ini,aku tahu mungkin wajahmu tidak seindah wajahku tapi hati dan ketulusanmu jauh lebih baik dariku,aku ikhlas Kak jika Ahmed ingin menikahimu"...

Sontak semua menangis haru tidak kecuali ibu,ibu marah dan memaki aku semakin menjadi,lalu memarahi Auora pula.bahkan ibu nyaris melukaiku,ia berusaha menarik bajuku,menarik kerudungku yang nyaris robek terkena tarikan tangan ibu yang kuat,lalu seketika itu Ahmed memohon,,memohon restu pada ibuku,memohon untuk berhenti membenciku dengan alasan sangat konyol karena warna kulitku yang berbeda dengannya..

Dengan lembut Ahmed berusaha membujuk dan meyakinkan ibu.....

Aku pun berkata aku tidak bisa menerima pinanganmu Ahmed hingga ibuku merestui aku...

Aku pun pergi berlari menuju kamarku,tanpa menghiraukan Ahmed maupun semua tamu yang datang disana.

Hati ibu pun belum juga luluh hingga akhirnya Aurora mengancam ibu.Aurora mengancam akan mengakhiri hidupnya jika ibu tak kunjung menyayangi aku serta memberikan restu kepadaku...dan akhirnya hati ibu luluh.

Auora lah yang menyadarkan ibuku.akhirnya ibuku menyadari kekeliruannya.beribu kali ia memohon maaf padaku,sungguh ia menyesali perbuatannya yang selalu membenci dan mencaci aku...

Akhirnya tanpa aku duga aku menikah...mendapat restu ibu,ayah juga keridhoan Aurora....

Aku tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa si itik buruk rupa ini akan mendapatkan seorang pangeran tampan yang soleh.

Terimakasih Yaa Rabb untuk semua ini...kini aku hidup bahagia bersama orang yang tulus mencintaiku apa adanya dengan segala kurang dan lebihku.....terimakasih pula karena sekarang ibu menyayangiku seperti ia menyayangi Aurora.....

Tamat -


Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email) 






Penulis : Emma Kania

BEKAR | Bedah Karya #25 Sandya Kala

Bedah Karya 

Sandya Kala

Penulis : Adalah Anggota GRUP FB Jisa Afta

Berkomentar lah dan berikan masukan atau pujian sesuai konteks.

Selamat Membedah Karya Luar Biasa Ini :




Penulis : Adalah Anggota GRUP FB Jisa Afta

Berkomentar lah dan berikan masukan atau pujian sesuai konteks.

Selamat Membedah Karya Luar Biasa Ini :

SANDYA KALA

Terlalu asyik membaca membuatku lupa waktu. Sore telah merayap menuju senja, aku hanya sadar untuk menyalakan lampu kamar saja. Tak peduli pada semua ruangan di rumah yang sangat besar dan sepi ini.

"Brak!".. suara benda jatuh di ruang tengah mengagetkanku.

"Gleg..gleg.," suara air dari galon di sebelah meja makan, sealayaknya ada yang sedang mengambil air minum.

Karena tak tahan mendengar suara-suara itu aku bergegas keluar kamar dengan maksud ingin menghidupkan lampu di semua ruangan. Baru tiga langkah, lampu kamar malah mati, begitu juga dengan ruang lain, tak ada lampu yang bisa dihidupkan. Aku teruskan saja langkah kaki sampai ruangan paling belakang, justru di kebun belakang kemuning cahaya senja menyebar dengan terangnya.

"Kenanga, aku bisa meminta jahe untuk melengkapi sesajiku?" suara ini sangat aku kenali. Saat aku menoleh, benar adanya nenek Cempaka. Sambil berkata begitu nenek sibuk menata sesaji pada talamnya.

"Baik nek, tunggu sebentar aku carikan jahenya di dapur" aku bergegas tanpa berpikir panjang dengan apa yang terjadi.

Saat keluar dari dapur aku bermaksud mencari nenek, tapi yang kudapati justru kesibukan sebuah pesta. Kebun belakang rumahku telah menjadi pelataran sakral. Sepasang penjor menghiasi sisi kiri dan kanan pintu masuk sebuah rumah tua. Para perempuan bersanggul rapi, berbaju kemben tanpa mengenakan alas kaki terlihat sibuk dan tak menghiraukan kehadiranku. Leleki tua bersarung putih tanpa baju, dengan ikat kepala batik duduk bersila di bawah pohon besar. Aroma dupa yang masih menyala menyengat hidung. Komat-kamit dari mulutnya membawa daya magis.

"Kakak jangan diam saja di sini, ayo masuk ke dalam rumah" sapa gadis kecil yang juga berbaju kemben sambil menggandeng tanganku. aku merasa aneh dengan penampilanku sendiri. Karena aku masih dengan baju baby dol dan sandal japit.

Gadis kecil ini seperti menghipnotisku menjadi penurut, membawaku masuk ke rumah berdinding bambu. Di bilik berkelambu kain blacu warna natural yang mengusam ia membawaku.

"Ini kamar siapa dik?" tanyaku. Tapi dia hanya menatapku tak mau menjawab sepatah kata pun. Telunjuknya diarahkan ke pintu berkelambu, seakan memberikan perintah kepadaku untuk segera memasuki ruangan itu. Antara ragu dan pensaran aku mendekati pintu, kusibak kelambu, pendar cahaya perak penuh kilauan, membuat mataku nanar. Aku tak kuasa dengan cahaya yang menyilaukan. Akhirnya kupejamkan mata saja.

"Kakak Kenanga bangun!" seru Seroja sambil menggoyang-goyangkan badanku.
"Iya..loh di mana aku ini?" aku baru sadar masih berada di kamar dengan buku yang halamannya masih terbuka dan tertelungkup di dada.

"Nenek..nenek baru datang Dik!" seruku

"Kakak ada-ada saja, nenek siapa lagi. Dari kecil kita sudah tidak punya nenek kan?"
"Tapi saat kakak masih kecil, pernah diasuh sama nenek Cempaka, bahkan kakak sangat mengenali suaranya sampai sekarang pun masih mengingatnya" selaku.

"Sudah-sudah cepat bangun itu ada martabak yang baru kami beli cepat dimakan keburu dingin nanti, ayah sama ibu tadi pergi lagi ke kondangan di kampung sebelah" Seroja menjelaskan.

Percuma saja memberikan penjelasan padanya, toh Seroja tidak pernah mengenali nenek Cempaka. Pengasuhku sedari kecil, yang kadang masih menyapaku di saat tak ada siapa pun di rumah ini.

END


Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email) 





Penulis Aries Faindah

BEKAR | Bedah Karya #24 Dilema

Bedah KaryaDilema


Penulis : Adalah Anggota GRUP FB Jisa Afta

Berkomentar lah dan berikan masukan atau pujian sesuai konteks.

Selamat Membedah Karya Luar Biasa Ini :



Dilema


Lembayung memuntahkan cahaya jingga, memberi nuansa pada tanah pekuburan. Onggokan tanah merah di sekitar sebuah kuburan kecil memberi kesan baru saja ditanam sebuah jasad.

Gandari mengusap peluh nya,ada sedikit kekesalan melihat bongkahan – bongkahan tanah merah yang menutupi kuburan tua yang hari ini akan ia ziarahi.

Aku jadi ketua osis, Papa kini aku kelas tiga ,tinggal setahun lagi aku mempertahankan juara kelasku,yang selama dua belas tahun ku pertahankan, bisik nya dilubuk hati yang paling dalam.

Tangan nya mengais – ngais tanah diatas kuburan tua itu sambil Sesekali membuang kerikil kecil yang terserak di sekitar nya .

Ilalang di dekat kuburan ayah nya telah kembali tumbuh tinggi, Gandari menghitung dalam hatinya, berapa bulan ia tak menziarahi peristirahatan terakhir orang yang menggelarkan nya ke dunia ini.

Pesanan kue yang mengalir ke rumah ibu nya,membuat ia hampir tak punya waktu untuk mengunjungi ll kuburan tua itu.

Bagaimana pun sebagai anak tunggal ia merasa bertanggung jawab pada ibunya,dengan siapa lagi ibunya akan saling membantu bila tidak dengan nya.

“Maaf nona” sebuah teguran halus terdengar,Gandari tengadah ia melihat sesosok tubuh pria di hadapan nya lelaki muda itu lama memandang nya,seakan ingin menanyakan sesuatu.

“ Ada apa ?” tanya Gandari.

“Nona menziarahi kuburan ibu saya apakah mempunyai pertalian dengan beliau ?”

Serentak ia berdiri, tubuhnya yang tengah lemah marah seakan disengat kalajengking, gurauan apa yang dibawa lelaki muda ini ,sampai selancang itu padanya ?

“Ini makam ayah saya “ jawab nya, lelaki muda itu menatap tajam.

Pandangan nya beralih dari wajah Gandari ke pekuburan tua itu ,ia segera berjongkok diusapnya nisan tembok yang nyaris tak berwarna karena tua nya itu.

Mula – mula ia menggosok nya dengan telapak tangan nya,kemudian ia menggosoknya lagi dengan kantong plastik yang tercecer di sekitar sana,rupanya lumut hijau mulai menebal di nisan itu.

“ Ini jelas kuburan ibu saya lama kami tidak berkunjung ke sini,karena ayah membawa kami pindah ke Bali, kami menandai nya dengan sebatang pohon ,ini dia sekarang pohon ini sudah tumbuh tinggi”katanya.

Gandari hampir terpekik mendengar celotehan lelaki muda itu ,manusia macam apa dia, pikir nya begitu tenang nya mengakui kuburan ayah nya sebagai kuburan ibu nya.

Gurauan yang mendekati kesintingan pikir Gandari ,ia mencoba meneliti lelaki itu tak ada tanda kesintingan,kepandiran,ataupun kegilaan macam apapun ia normal bahkan tampan, pakaian nya apik ,potongan rambutnya yang rapih cukup memberi kesan bahwa dia pemuda baik- baik.

Tetapi mengapa ia bisa berbuat seperti itu ?

“ saya sudah sejak sepuluh tahun menziarahinya,mana mungkin tiba – tiba menjadi makam ibu anda ?” kata Gandari.

“Kami punya peta yang menunjukan letak kuburan ibu kami,baru lima tahun kami tinggalkan tempat ini,mana mungkin kubur ibu kami berubah isi.“

Gandari kebingungan lelaki itu tampak makin serius,kelihatan nya ia mengenal betul kuburan itu.

Gandari menatap lelaki muda itu yang kini mulai mengerok lumut yang menempel pada nisan,ia seakan tak acuh dengan Gandari yang semakin kebingungan menyaksikan semua ini.

“Pekuburan ini milik almarhum Aki saya,disebelah sana Kubur Nini dan Emang,kakak sulung saya yang meninggal karena sakit juga dikubur kan di sini.

Sengaja Nini membeli tempat ini nampaknya beliau ingin terus berdampingan kendati sudah berupa jasad tak berharga,disini tak ada orang lain , kami baru saja merencana akan mempercantik nya kakak ibu saya merencanakan akan membuat sebuah gapura di sana seluruh pekuburan ini akan diberi pagar tinggi kubur – kubur dan nisan nya akan diperbaharui kami baru saja bertemu,menentu kan berapa dana yang dibutuhkan untuk ini Semuanya”Gandari semakin terpojok.

“Kami merencanakan semua kubur ini akan diberi marmar hitam,kecuali makam Aki dan Nini beliau akan dibuatkan marmar putih,saya merasa berdosa lama tak kemari ibu sudah lama tiada namun bagi saya ia tetap hidup.”

Lelaki muda itu terpekur ingin rasanya Gandari bertanya, sungguh-sungguh kah ia berkata, atau hanya gurauan seorang frustasi yang kehilangan kubur ibunya karena lama tak menziarahi nya.

Bagaimana mungkin ia bisa berbuat seperti itu ? Sementara selama delapan tahun ia terus menerus menziarahi kubur ini.

Sebuah kuburan yang terbengkalai ilalang tumbuh subur disini,kata ibunya sengaja ayahnya dikubur disini ,agar Gandari tidak terlalu jauh untuk menziarahi nya.

Setiap hari Lebaran sejak usia 10 tahun ia dibawa ibunya ke sini,sebungkus rampai dan sebotol air dibawanya serta,dengan mengucap beberapa do'a untuk arwah,ia bersimpuh disana,itu dilakukan mereka setelah Gandari mulai bertanya – tanya kemana kah ayah nya ?

Pada mulanya gadis belia ini tidak pernah puas mendapat jawaban,ia masih ingat bagaimana keruh nya wajah ibunya setiap ditanya kemana ayah nya ? wajah keruh itu akan semakin keruh,dan biasanya akhir dari segalanya bulir – bulir bening membasahi pipinya,namun suatu hari Gandari mendesak nya ada jawaban yang sangat memukul jiwanya ayah mu sudah tiada,kata ibunya.

“Ibu punya fotonya?” tanya Gandari saat itu.

Ibunya kembali terdiam ,hanya sanggup memberikan foto pengantin mereka 12tahun silam ,dua wajah nampak berjauhan umurnya,mereka menikah karena dipaksa orang tua,wajah ayah nya cukup tampan memakai takwa dan udeng,konon usia mereka terpaut lima tahun tetapi ibunya tampak tidak terlalu muda.

“Mengapa nona menziarahi kubur ibu saya ?”suara lelaki muda itu membuat Gandari terkejut,ia melihat lumut yang dikerokinya mulai habis,ada warna putih yang nampak setelah lumut itu dikikis nya,lalu Gandari melihat huruf walau masih samar ,namun dari ujung huruf itu tampak nama pimilik kubur tua itu terpahat disana.

“Mengapa nona menziarahi kubur ibu saya ?”ia mengulang pertanyaan yang tadi

“Ini kubur ayah saya”

“siapa mengatakan itu psdamu?”

“ibu saya”

“apakah nona melihat nya sendiri waktu jasad ayah nona ditanam di sini ?” ia menatap berhenti sejenak dari pekerjaan nya mengikis lumut yang tumbuh di batu nisan.

Gandari terdiam bagaimana ia harus menjawab pertanyaan lelaki muda itu?

Bukankah kubur ini di tunjukan ibunya sejak ia berusia 10 tahun,ibunya mengatakan padanya bahwa ayah nya meninggal saat ia masih dalam kandungan.

Tapi mana mungkin ibunya mengada – ada,Gandari melihat bagaimana khusyuk nya ibunya ,setiap mereka menziarahi kuburan tua itu,sebulan sekali ibunya menyuruh anak kampung di sana membersih kan kuburan ini dan memberikan persenan.

“Kami membersihkannya setiap bulan” Kata Gandari.

“Bagaimana mungkin ibumu keliru pada kuburan suaminya sendiri,disekitar sini tidak ada kuburan orang lain,ini kuburan keluarga, kau lihat kuburan yang masih merah ini? Ini kuburan cucunya emang yang terkena kanker otak”

Gandari kembali termenung ia mulai percaya pada omongan lelaki muda itu,matanya terus menatap lelaki itu yang semakin. Sigap mengerok lumut,setelah huruf timbul pada batu nisan itu semakin nampak.

Bila ya apa maksud ibu mengatakan hal itu padanya ?mungkinkah ibu salah menunjukan kubur ayahnya karena lama tak menziarahi nya

“tadinya ibu ingin melupakan kepedihan ini ,biar lah kepergian ayahmu merupakan luka lama yang tak perlu kambuh kembali, tapi jika kau bersikeras ingin mengetahui marilah ibu tunjukan dimana makam papamu “ kata – kata itu masih terngiang di telinga Gandari, saat itu tak berfikir apa – apa selain gembira.

Ejekan teman – teman nya yang mengatakan ia anak ta punya ayah akan terkikis, andai Gandari sudah bisa menunjukan kubur ayah nya.

Ia mengatakan itu dan teman – teman nya penuh simpsyik meminta maaf atas kealpaan mereka semua,kuburan itu begitu berarti baginya paling tidak sebagai tumpuan kepedihan pelampiasan rindu akan jasad yang kini telah terkubur.

“Lihat.....huruf ibuku kini bisa dibaca !” lelaki muda itu terloncak,tergopoh – gopoh ia mengeluarkan spidol besar dari tas nya,Gandari hanya ternganga ketika lelaki muda itu mempertebal lekukan nama yang terukir di sana dengan spidol bertinta hitam.

Perlahan nama itu mulai terbaca,Raden Suntimah yaa Tuhan.... jelas sekali kemudian tanggal kematian nya pun terlihat setelah dipertebal dengan warna spidol,Gandari lemas.

“Masih yakin kah nona bahwa ini kubur ayah nona ?” pertanyaan itu seakan menghujam dadanya, bila tadi ia mengira lelaki muda itu membuat gurauan yang tidak lucu,bila sejak tadi menilai lelaki muda itu mengigau,kini Gandari berbalik menyangka ibu nya membuat gurauan yang sangat menyakit kan.

“Maaf kan saya nona,saya ingin tahu mungkin anda masih ada pertalian darah dengan saya ,kuburan ini milik keluarga,jadi paling tidak ayah anda adalah saudara kami,bolehkah saya tahu nama anda nona ?”

“Gandari” jawabnya perlahan,ia merasakan tangan lelaki itu kasar,lumut hijau yang nyaris menghitam menempel di sebagian tangan nya,kendati ia mencoba membersihkan nya dengan mengusapkan nya ke kaki celana nya,tetapi tak urung terasa kasar.

“Bima nama saya “ katanya tanpa ditanya.

Gandari tak berselera untuk bercakap lagi, ia juga hanya menurut ketika Bima memimpin nya ke sebuah bangku kecil yang agak rapuh dibawah pohon rindang.

Lembayung sudah pudar warna cahayanya, sebentar lagi awan hitam akan menelan nya dan kelam malam akan mendekap dunia ini.

Gandari merasa enggan pulang ,ia ingin memecah kan dadanya setelah tahu kubur siapa yang selama sekian tahun ia ziarahi .

Begitu naif kah ibuku,sampai harus membohongi anak satu – satunya dengan menunjukan kubur orang lain.

“Saya yakin ,ibu anda keliru ,nona Gandari “ kata lelaki muda itu seraya mengajak duduk.”

“Panggil saya Ari” jawab Gandari ia secara halus menolak ajakan Bima.

Dikelokan mereka berpisah,Gandari menolak ajakan Bima untuk berbincang,ia tak menghararap lelaki muda itu membuat nya lebih malu lagi nama dan tanggal yang terukir di nisan itu jelas menunjukan kesalahan nya.

Lalu gurauan apa pula yang dibuat ibu ku pikir nya, benarkah kata tetangga selama ini yang mengatakan ia anak tak punya ayah?lalu foto pengantin ibunya ? apakah itu hanya gurauan atau alibi? Ya Tuhan ,wanita yang paling disayangi dan dihormati nya bisa setega itu membohonginya apa yang harus dilakukan nya sekarang ?

Harus marah kah....?
Harus protes kah....?

Ah bagaimana kedua hal itu bisa dilakukan nya ,bila selama ini ia hanya tahu ibu,satu – satunya g yang hirau dan kasih kepada nya.

Diambil nya sepeda motornya yang sejak tadi diparkir di gerbang makam dipacu nya dengan kencang.

~End~


Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)