HeksaGraf - Sastra Enam Paragraf diciptakan oleh Jisa Afta

HeksaGraf dibentuk dengan menggabungkan dua kata yaitu diambil dari kata "Hexa" (Yunani: enam) dan "graf" (tulisan/paragraf)..

Kekeliruan Kategori Puisi di Sekolah dan Kampus

Di sekolah dan kampus, pelajaran Bahasa Indonesia mengajarkan pada kita semua bahwa Puisi tergolong dalam kategori teks fiksi atau karya fiksi. .

Apa itu DREB?

Dreb diciptakan oleh Jisa Afta, DREB adalah esensi dari sebuah cerita seperti menonton hanya scene paling intens dari sebuah film.

Proses dI balik DREB: PROYEK VANTA-VOID

Gambaran besar Proyek 'Vanta-Void' di dalam pikiran dan imajinasi liar:.

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI | Oleh : Tea Terina

Membaca judulnya memang menimbulkan penafsiran yaitu bangga memiliki buku puisi karya sendiri.

Bangkitlah !!!







Wahaii jiwaku
apakah kau tak mendengar
teriakan allahu akbar yang membuat negara ini merdeka !!!!
Mereka berani
mereka tidak bersembunyi di lobang-lobang batu
mereka tidak mundur selangkah pun
mereka mati
meneteskan darah
mereka tak pernah mengejar gelar pahlawan
Mereka adalah pahlawan indonesia
Wahai aku
apakah kau tak mendengar ???
Perut mereka yang lapar sambil memikul bambu-bambu runcing untuk menusuk ketakutannya
Apakah kau tak mendengar ???
Tangis istri
dan anak-anak yang melepas kematian tanpa melihat kuburan ayahnya
Mereka adalah pahlawan indonesia
Demi merah putih mereka tertembak
demi sang saka mereka dibunuh
Mereka adalah pahlawan indonesia
Mereka diasingkan
Tubuh mereka terkapar ditangan penjajah tapi jiwanya membuat kita merdeka
Demi indonesia
mereka memilih bersatu
demi indonesia
mereka mati muda
Demi air dan tanah yang menghidupi kita
demi indonesia !!!!!!!
Mereka menancapkan tiang-tiang bendera
dihutan, lembah dan puncak-puncak gunung
Mereka kobarkan api perlawanan pada musuh
demi senyum dan tawa kebebasan kita detik ini
Wahai jiwaku
apakah engkau masih tertidur dan tuli??


.....
Merdeka !!!:
Jisa Afta


Silahkan share dan silahkan di bacakan dimana saja gak usah izin, moga bermanfaat 

Nyanyian Ku

















Tertuang haru gemetarlah ragaku
menatap syair-syairmu wahai kekasih
kulangkahkan kedua kakiku
membelah malam diantara teriakan burung-burung kum
aku ingin kembali ke dalam kelas-kelas puisi
Ingin memutar waktu
dan memberanikan diri
mengungkapkan isi hati
membiarkan engkau membaca catatan bodohku
Kini sang kegelisahan jadi stupa
menyeringai ditelingaku
desahan harpa tak lagi indah
Ku duduk di depan perapian
apa yang tak sempat di bisikkan kebodohanku
adalah penyesalan yang melukai batinku
Engkau wahai Putri Zain
telah mengajari makna nyanyian di atas titian telaga nazam
kebenaran telah menggubah tirani jadi keindahan
Kudatangi para petapa
duduk disisinya
ku dekati para pemahat
duduk disisinya
Ku tanyakan makna khayalannya
kutanyakan makna titah lamunannya
Duduk disisinya
lalu ku tuliskan dalam kitab semilir ku
setiap goresan ketidaktahuanku
mengikatnya jadi satu
membiarkan kelupaanku pada bisu
Aku ingin mencari batas keyakinan ku pada ilmu
aku ingin menjadi pelupa agar aku dapat melupakan cintaku pada keajaiban keanggunan mu


~ * ~
Jisa Afta

Catatan Bodoh ( Sinopsis )




























Pemesanan:

081241518638 WhatsApp


Novel : Catatan Bodoh

Perjalanan seorang bernama San Sirah menemukan sebuah Negeri Kahlah, Kitab Semilir dan Putri Zain dimulai dari catatan bodoh sang peziarah di bukit Lanta.

Didusun Tanzar, Kisah ini bermula dari mimpi seorang anak lelaki remaja yang baru saja memasuki dunia remajanya, malam itu adalah malam pertama kalinya dia bermimpi dan merasakan ada kenikmatan yang merasuki mimpinya. Ya, mimpi seorang yang baru pertama kali merasakan keindahan dalam tidurnya. Yang lebih luar biasanya lagi, San Sirah merasa ada yang aneh, sebab ketika ia bangun dari tidur, ada sesuatu yang mengalir deras dari balik pakaian tidurnya.

Bukankah mimpi hanya mimpi? lalu kenapa mimpi ini menjadi nyata? bukankah mimpi hanya bunga tidur? lalu mengapa keindahan yang kualami dalam tidur itu bisa menjadikanku terkulai lemas di atas tempat tidur lusuh gubukku? ungkapnya dalam hati.

San Sirah melihat ada hubungan nyata antara tidur, mimpi dan kenyataan melalui apa yang dialaminya. Ia mencari Putri yang hadir dalam tidurnya, yang membuatnya gelisah. Ia pun mengikuti petunjuk dalam mimpi tempat dimana dirinya bertemu putri dengan senyum terindah. Bukit Lanta adalah bukit tanpa nama, tapi didalam mimpinya sang putri menyebutnya sebagai Bukit Lanta.

Perjalanan mencari Putri Zain tidaklah mudah, sebab ia harus melewati satu batas keyakinan, yakni benarkah putri zain itu ada? jika ada, dimanakah ia tinggal? mungkinkah San Sirah menemui Putri Zain?

Tunggu kehadiran Novel Catatan Bodoh dan anda akan melihat sebuah karya sederhana yang akan membawa anda kedunia cermin diri yang tanpa batas...




~ * ~
Jisa Afta

Novel CATATAN BODOH ( Cuplikan 2 )

Taman terlarang sesungguhnya taman paling indah. Tapi taman ini hanya boleh di masuki Putri Zain. Di taman terlarang inilah sang putri selalu menangis untuk menemukan kebebasan. Ia rapuh dan lemah di dalam taman itu tapi di luar taman ia sangat angkuh. Putri Zain tidak pernah menunjukkan raut wajah sedih. Alasan kesedihan paling dalam adalah bahwa kenyataan ia tak bisa melangkah ke luar gerbang negeri Kahlah. Ia hanya bisa bermain di luar Istana ketika Pagelaran Zirah atau hari Zirah. Hari Zirah adalah hari berpuisi. Tak boleh berucap bila tak mengeluarkan lafal puisi. Hari Zirah adalah hari luar biasa. Semua alumni sekolah kerajaan datang dan hadir dengan kewajiban yang sama yaitu tidak boleh berbicara tanpa berpuisi.
Di saat itulah Putri Zain bebas berjalan-jalan ke Telaga Nazam, ia mencari sosok pemuda misterius yang mengganggu ruang dan segala kiblat hatinya.
Kemana saja ia menghadap, bayangan pemuda tampan itu selalu hadir.
"Mengapa engkau menyiksaku wahai kekasih hatiku
tak ada puisi yang sanggup melafalkan indahnya tarian aksara mu
Aku ingin mencari luhurnya diam mu di dalam taman terlarang ku
tapi wahyu bukan lah hal bijak di sekolah ku yang menjenuhkan
Aku ingin berhenti belajar di kelas-kelas puisi kosong itu
ingin bertanya
apa makna dibalik nyanyian nazam mu
Wahai kebisuan di batin rapuhku
aku tak bersungguh memahami catatan ini
sebab bukan aku pemilik lembaran sembilu ini
Aku jatuh cinta pada goresan luka nya
tapi aku takut terjatuh dalam titian sepi ini
....
Cuplikan Novel CATATAN BODOH
Share Yah teman-teman ..
~ * ~
Jisa Afta

Novel CATATAN BODOH ( Cuplikan 1 )

Cuplikan Novel Catatan Bodoh :
"Apakah kau melihat siapa pemuda yang baru saja melintas tadi?"
Stinza, tukang sisir Putri Zain hanya terlihat memaksa senyum nya sembari mencermati pemuda yang baru saja melintas di antara pepohonan tadi.
"Apa yang di cari pemuda tadi,
Hei, itu dia,,, lihat, Stinza,,,, ia berjalan diantara pohon-pohon karbala itu, kita ikuti dia sekarang"
Di dalam kebun belakang Istana Kahlah itu, San Sirah terus menjauhi kamar yang di kawal dua prajurit.
Putri Zain menarik tangan Stinza, tukang sisirnya, turun melalui dua ratus lima belas anak tangga. Taman belakang yang sungguh megah itu memang termahsyur dengan keindahan bata-bata merah yang menghubungkan tiap ruangan belakang Istana Kahlah.
Dua prajurit yang melihat kejadian itu, langsung mengejar Putri Zain dan Stinza "Cepat, Stinza !! kita terlihat oleh prajurit itu, bantu aku kejar pemuda itu, kau berlarilah lebih kencang, sungguh,,, gaun ini begitu menyesakkan tubuhku untuk berlari.
Putri Zain mengikuti San Sirah yang sudah hampir menghilang diantara para pemetik apel yang berlalu lalang di kebun penuh buah-buahan itu.
San Sirah mengambil bakul seorang petani dan mencoba berbaur sambil terus berjalan lebih cepat dari sebelumnya.
Putri Zain dan Stinza mengejar San Sirah, Prajurit pengawal Putri, mengejar Putri Zain.
Pengejaran pun akhirnya sia-sia, sebab pemuda yang sangat misterius di mata Putri Zain itu, kini telah menghilang diantara sibuknya pesuruh dan petani kebun.
Malam adalah lamunan panjang bagi rasa penasaran sang pemuja catatan itu.
"Siapa pemuda tadi, lihat tulisan ini sungguh indah. Dia menyebut kata-kata Kitab Semilir yang sangat membingungkan aku, Stinza."
"Kesinilah" Putri Zain menyuruh tukang sisir yang pendiam itu untuk duduk disisinya di atas badiz, tempat melepaskan lelahnya sewaktu-waktu.
"lihat, apakah kau bisa membaca?"
"aku belum bisa membaca, Putri Agung, bukankah Putri Agung selalu menjanjikan untuk mengajari aku?" sahut Stinza.
"Tentang membaca, aku pasti akan ajari kau, tapi malam ini kau harus mendengar ini." seolah-olah memaksa agar Stinza mendengarkan apa yang ingin dibacakannya.
"aku bodoh, Putri Agung, apakah mungkin bisa memahami isi tulisan itu?" sahut Stinza, lagi.
"baik, aku akan bacakan tulisan pemuda misterius ini, setelah itu aku akan coba jelaskan. Jika aku tidak berhasil menterjemahkan arti tulisan ini, maka aku berjanji akan mencari pemuda ini sampai usia ku tua nanti. Aku takkan pernah berhenti mencari pemuda pemilik catatan ini." jawab Putri Zain.
Eitttsss tunggu, kau duduklah di badiz itu, biar aku membacakan ini sambil tegak seolah-olah di kelas drama" sambil melemparkan senyum nya yang sangat jarang terlihat oleh siapapun di istana.
dengar yah, stinza :
Perjalanan ku dari Tanzar
menggenapkan hati ku yang ganjil
setibanya aku
seolah-olah aku melihat segalanya
di dalam catatan sang peziarah
Ini nyata wahai waktu
ada seorang gadis bergaun indah
mata nya meneduhkan jiwaku
jiwa yang lelah menterjemahkan mimpi pertama
Aku ingin membenahi kuntum berserak
jadi bunga sinur
kuberikan pada jejak kaki nya yang anggun
menaruh air suci pada cawan di atas badiz
Ingin ku pulang
menjauhi mereka yang angkuh
tapi disini ada buku-buku tebal tanpa debu
barisan puisinya menafkahi kehausan ku akan ilmu
Aku ingin mati di bukit lanta
tapi aku ingin hidup di Negeri Kahlah
sampai kitab semilir tak lagi bersua
bersama sesaknya bait khalbuku
.....
Putri Zain tak kuasa meneruskan bacaanya...
"Sungguh....
Stinza, apakah kau mendengar semua yang ku baca ini?
ini tak pernah di ajarkan di kelas puisi paling tersohor di negeri ini.....
.....
Teman-teman, share yah cuplikan CATATAN BODOH ini, inilah Karya Semilir yang akan membuat Sastra Indonesia menjadi kebanggaan kita semua.
Sampai jumpa di cuplikan selanjutnya.
~ * ~
Jisa Afta