Skip to main content

Implementasi Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Menulis Puisi dengan Teknik Jisa Afta | Oleh Riami





Implementasi Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Menulis Puisi dengan Teknik Jisa Afta

(Penjabaran sederhana untuk Penilaian oleh Riami)

Ketika kita menggunakan sebuah teknik untuk pembelajaran hal yang paling penting adalah kita mampu mengevaluasinya di akhir pembelajaran.

Mari kita lihat pengertian Penilaian autentik sebelum kita mengimplementasikan dalam teknik jisa Afta. Penilaian autentik merupakan bentuk penilaian yang menekankan pada kemampuan peserta didik untuk mendemonstrasikan pengetahuan yang dimilikinya secara nyata dan makna(Mahsun: 2013, 159)
Bagaimana kemampuan menulis puisi ini bisa dinilai secara nyata dan makna mari kita perhatikan penjelasan berikut.

Ketika Jisa Afta menulis kalimat seperti ini;

........adalah genggaman sang waktu ketika duri-duri bebungaan sinur kita semat pada magligai takdir. 

(5 Detik,Jisa Afta: 10) 

Titik-titik itu di suruh menulis satu kata yang indah. Maka ketika anda atau murid anda menulis satu kata di situ anda telah tentukan tema. Sederhana memang karena dari awal saya juga setuju berawal dari pemikiran yang sederhana. Lalu kalimat indah itu juga tertera dalam contoh kalimat yang ditulis di atas merupakan contoh bahwa dalam menulis puisi mengajak interaksi dan menuliskan benda itu bisa berlaku layaknya manusia. Sehingga anak tidak sulit untuk mempraktikan. 

Misal:
Tas
Indah
Biru

Tas indahku yang berwarna biru bercerita tentang lelahnya membawa buku buku.
Kalau saya amati kalimat rumpang itu sebenarnya ada satu kata indah dalam pemikiran yang membuat puisi dalam titik-titik yang belum terisi itu artinya yang akan ditulis atau dipikirkan. Katakanlah kita taruh kata Cinta maka itulah temanya. 

Nah dalam kalimat berikutnya kita ada kata:

Genggaman

Waktu

Ketika

Duri-duri

Bebungaan

Sinur

Kita

Semat

Pada

Mahligai

Takdir

Di situ sebenarnya ada pembelajaran penilaian penentuan diksi atau pilihan kata. Jumlah kata pendukung di situ merupakan contoh. Sekali lagi ini analisa saya dalam mempermudah penilaian. Maka kita boleh memberikan perintah kepada anak anak untuk menulis satu kata sebagai pokok pikiran. Kalau dia menulis di beri skor 1(satu). Bagaimana itu kriteria kata indah?

Kita simak pendapatnya jisa,

"Jika di dalam kehidupan anda sehari hari, anda tidak suka kata makian, hujatan maka jangan menulis kata kata makian dan hujatan.

Jadi kata inti yang ditulis anak dan kata pendukungnya harus indah. Bagaimana kriteria indah adalah bukan kata kebencian atau hujatan. Maka jika ia telah menulis 1 kata inti dan 5 kata pendukung yang indah skornya 6.

Selanjutnya bagaimana dalam pengembangan kalimat di baris baris puisi. Kalimat yang dipilih dengan kriteria bukan hujatan dan makian kita kembangkan menjadi kalimat indah yang bisa membawa anak bisa menulis benda- benda di sekitarnya menjadi sesuatu yang hidup yang bisa diajak bicara layaknya teman atau orang lain yang dia kenal. Kalau kita perintah menulis 5 kalimat dengan pengembangan dari dari kata indah yang ditulisnya yang syaratnya bukan kalimat kebencian dan bisa mengungkapkan benda / hal selain dirinya atau manusia bisa berlaku seperti manusia ketika dia bisa menulis skor nya 5.

Lalu berikutnya bagaimana ketika melihat unsur batinnya? Ketika menulis sendiri dia akan bisa menjelaskan isi/tema apa, perasaannya bagaima ketika menulis, nilai kehidupan apa yang di inginkan, dan pesan/ amanat apa yang ingin disampaikan kepada pembaca. 

Jika ia menuliskan:
Tema

Isi

Nilai kehidupan

Pesan

Perasaan

Maka skornya 5

Selanjutnya saya cenderung untuk bisa mencipta satu kata baru ini skornya 1 

Maka skor keseluruhan adalah 17 jika dipenuhi semua nilainya 17:17 nilainya 100

Mudah bukan menilai secara autentik dengan teknik Jisa Afta. Maka pedoman ini akan saya gunakan dalam menulis PTK saya agar benar benar memperoleh data yang valid. Jika ada teman-teman yang berkenan boleh kunjungi blog saya di situs berikut. https://riaminuris.blogspot.co.id/

Semoga menambah wawasan pemikiran sederhana ini.






Comments

Popular posts from this blog

HeksaGraf - Sastra Enam Paragraf diciptakan oleh Jisa Afta

HeksaGraf atau Sastra Enam Paragraf, merupakan seni sastra berbentuk cerpen enam paragraf yang diciptakan oleh seorang penulis bernama Jisa Afta. Kata HeksaGraf merupakan kata baru yang disusun oleh Jisa Afta. Kata HeksaGraf dibentuk dengan menggabungkan dua kata yaitu diambil dari kata "Hexa" (Yunani: enam)  dan "graf" (tulisan/paragraf). Ciri dan Struktur HeksaGraf Cerpen enam paragraf atau sastra pendek enam paragraf memiliki ciri dan struktur sebagai berikut: Ciri HeksaGraf - Struktur enam paragraf - Maksimal 555 kata - Tiap paragraf maksimal 1 dialog atau tanpa dialog Struktur HeksaGraf 1. Paragraf Pertama - Pembukaan (Opening) 2. Paragraf Kedua - Konflik (Problem) 3. Paragraf Ketiga - Penyelesaian / Penutup (Resolution or Ending) 4. Paragraf Keempat - Kondisi Tokoh Saat pasca Ending  5. Paragraf Kelima - Plot Twist (menghasilkan penyangkalan Resolution di paragraf 3) 6. Paragraf Keenam -- Klimaks - Konklusi final atau Ending yang Menggantung (tanpa resolusi). ...

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI | Oleh : Tea Terina

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI Membaca judulnya memang menimbulkan penafsiran yaitu bangga memiliki buku puisi karya sendiri atau bangga memiliki buku puisi karena membeli. Perasaan terakhirlah yang dialami  Mila Putri , siswa SMPN 2 Pagak yang masih kelas 7. Penyuka puisi sejak SD tetapi merasa belum bisa menulis puisi dengan baik ini, merasa bangga dan senang setelah menerima kiriman buku Nazam Tak Berdahak karya  Jisa Afta . Sebagai guru saya ingin mengetahui kesannya setelah memb aca buku tersebut. Saya beri waktu kurang lebih 3 hari. Apa komentarnya? Indah, bahasanya banyak yang imajinatif dan penuh makna tetapi ada bagian yang belum dipahaminya. Saya paham jawabannya karena ia masih perlu belajar untuk mengenali puisi khas Kitab Semilir karya Jisa Afta.  Saya berharap setelah membaca seluruh isi buku itu, ia bisa belajar menulis puisi tanpa menunggu sampai di kelas 8 karena di kls 8 ada materi pembelajaran Teks Puisi. Dan ia punya pilihan menulis puis...

Perbedaan Terkenal dan Hebat

Orang terkenal, belum tentu hebat. Orang yang disukai banyak orang, belum tentu hebat. Orang yang populer belum tentu hebat. Sebab bisa jadi seseorang terkenal karena perilaku uniknya yang tidak mendidik Atau bisa jadi seseorang disukai banyak orang karena ia berwajah tampan atau cantik saja Dan bisa saja seseorang populer karena melakukan penistaan agama, misalnya. Sebelum anda menjadi penulis, apa tujuan anda? Menjadi orang terkenal atau orang hebat? Buku ini akan menjadikan anda hebat, bukan terkenal. Hebat dalam pengertian buku ini adalah Anda menjadi penulis untuk di kagumi pembaca. Bukan untuk menjadi populer. Lalu anda bertanya dalam hati, “untuk apa hebat kalau tidak populer?” Jawabannya nanti di pertengahan buku ini. Sudah siapkah anda menjadi penulis hebat? Mari kita mulai,