Skip to main content

BEKAR | Bedah Karya #23 Two Worlds

Bedah Karya

Two Worlds


Penulis : Adalah Anggota GRUP FB Jisa Afta
Berkomentar lah dan berikan masukan atau pujian sesuai konteks.
Selamat Membedah Karya Luar Biasa Ini :




Two Worlds 

“Jangan berhenti!”

Sekali lagi Glowi berteriak saat melihat langkah kaki Misha mulai goyah.

“Aku sudah tidak kuat, aku sangat mengantuk.”

“Baiklah, kau boleh tertidur. Tapi tidak di Emerdon ini!”

Misha terus berusaha menjauh dari tanah lapang penuh duka itu. Meninggalkan Glowi yang berusaha menahan Ematte agar tidak mengejarnya. Jika Ematte menangkap Misha di Emerdon, maka gadis itu tidak akan pernah bisa kembali ke alam nyatanya.

“Kau sunggu bodoh! Jika aku menangkapnya dan mengambil jantung gadis itu. Maka kalian akan hidup bahagia selamanya di dunia ini.”

“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!”

“Apa kau tidak ingin hidup bahagia dengan gadis yang kau cintai?”

“Tidak, jika itu harus merenggut nyawanya!”

“Bodoh!”

Ematte mencengkram kerah baju Glowi, mengangkat pemuda bertubuh kekar itu ke udara sebelum menghempaskannya ke tanah.

“Austin, kejar gadis itu! Jangan biarkan ia sampai di Flowa!” perintah Ematte pada burung gagak besar yang sedari tadi memperhatikan pertempurannya dengan Glowi.
Austin mengejar Misha yang berlari semakin cepat menuju Flowa. Ternyata gadis berusia 22 tahun itu telah terbebas dari mantra kantuk yang ada di Emerdon.

“Aku harus segera sampai ke Flowa… Ah, Austin? Aku harus bersembunyi, aku tidak boleh tertangkap olehnya.”

Mista berlari memasuki hutan, bersembunyi di antara rimbunnya pepohonan. Menunggu hingga burung gagak berukuran besar itu menghilang.

……

Cukup lama Austin berputar-putar di atas langit hutan untuk mencari keberadaan Misha, sehingga ia menyerah dan kembali ke Emerdon untuk memberi kabar bahwa Misha telah berhasil lolos dari kejarannya.

“Bodoh!!!”

Ematte murka mendengar kabar itu, wanita itu mencambuk Austin hingga sayapnya patah.

“Buat apa aku memelihara kau selama ini, jika menangkap seorang gadis saja kau tidak bisa? Lebih baik kau mati!”

Glowi menangkap cambuk yang hampir mengenai tubuh Austin, “Cukup, ibunda!” ucapnya, “hentikan semua ini! Sudahi dendammu pada manusia.”

“Apa maksud ucapanmu itu, Glowi? Apa kau tidak sadar bahwa manusialah yang menghancurkan keluarga kita?”

“Apa ibunda tidak ingat bahwa aku juga manusia? Jika ibunda membenci manusia, itu artinya ibunda juga membenciku.”

“Bagaimana mungkin aku membencimu? Kau adalah darah dagingku sendiri, Glowi.”
“Tapi aku juga manusia, ibunda. Berarti ibunda juga membenciku.”

Ematte mengerang, amarah dan kesedihan bercampur dalam hatinya. Ia melempar alat cambuk itu ke tanah. Lalu membiarkan Austin meringsut menjauhinya. Gagak itu sudah tidak kuat lagi untuk terbang, kedua sayapnya telah patah akibat dicambuk oleh Ematte.

“Ibunda, jika ayah tidak mengingatmu. Itu bukanlah kesalahannya, ibunda. Bukankah kau tahu hakekat kita? Kita hanyalah mimpi bagi manusia. Saat mereka terbangun, maka ingatan mereka tentang kita akan menghilang.”

Ematte menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya dengan berlahan. Dadanya terasa sesak, apa yang dikatakan Glowi memang benar. Hakekat mereka hanyalah sebatas mimpi.

“Ibunda, aku mohon jangan membenci manusia lagi. Karena itu sama artinya ibunda membenci diriku.”

Raut wajah Ematte yang tegang dan penuh emosi, sekarang berubah menjadi sendu. Ucapan Glowi begitu mirip dengan ucapan pemuda yang ia cintai.

“Ibunda, ku mohon padamu. Jangan kau teruskan lagi dendammu.”

“Tapi manusialah yang telah terlebih dahulu menghancurkan kehidupanku.”

“Bukan, ibunda. Ibundahlah yang telah menghancurkan kehidupan ibunda sendiri dengan mencintai manusia tanpa menyadari hakekat ibunda.”

“Hakekat? Apa itu? Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang aku tahu, aku telah jatuh cinta pada manusia dan ia telah meninggalkanku seorang diri,” suara Ematte bergetar menahan tangis.

Melihat mata Ematte yang mulai berkaca-kaca, Glowi memeluk tubuh wanita itu dengan erat, “Ibunda, kau tidak salah mencintai manusia… tapi kau salah mengharapkan cinta dengan cara memaksakannya, sehingga kau terluka saat melihat orang yang ibunda cintai memilih gadis lain,” katanya.

“Aku mencintainya, Glowi.”

“Jika ibunda mencintai ayah, maka ibunda tidak akan terluka melihat ayah bahagia dengan wanita lain… ah, mungkin luka itu ada, tapi tidak sampai menimbulkan dendam. Itu yang namanya cinta, ibunda.”

“Ya. Mungkin kau benar, Glowi… maafkan aku, nak. Aku hampir membunuh kekasihmu, cinta tulusmu padanya telah menyadarkan aku dari dendam ini.”

“Aku senang ibunda telah menyadari kesalahan ibunda.”

“Ayo, nak. Kita antarkan kekasihmu kembali ke alamnya, ibunda juga ingin meminta maaf padanya.”
“Iya, ibunda.”

……

Misha merasa keadaan di luar hutan telah aman, ia berlari menuju Flowa. Betapa terkejutnya ia melihat Ematte dan Glowi telah lebih dulu berada di pintu dunia lain ini.

“Berhenti, Misha! Jangan lari lagi, aku datang menemuimu bukan untuk membunuhmu. Namun aku ingin meminta maaf padamu,” kata Ematte saat melihat Misha berbalik dan hendak menghindarinya.

Dengan kebingungan di benaknya, Misha berbalik menatap Ematte dan Glowi, “meminta maaf?” tanyanya.

“Ya, maafkan aku telah hampir membunuhmu.”

“Tapi kenapa kau ingin membunuhku? Apa salahku padamu?”

“Aku yang akan menjawab semua kebingunganmu,” kata Glowi.

“Baiklah, aku akan memaafkanmu Ematte. Kau juga tidak sempat melukaiku, hanya saja kau membuatku hampir jantungan.”

“Maafkan aku.”

“Iya.”
……
“Ematte adalah ibundaku, ia tidak sengaja menemukan mantra pemanggil arwah manusia ke alam mimpi ini saat berlatih sihir 22 tahun lalu. Ia mencoba mempraktekkannya, sehingga ia bertemu dengan ayahku. Sejak saat itu, ibunda jatuh cinta pada ayahku. Namun ia kecewa ketika mengetahui bahwa ayah akan melupakannya saat bangun dari tidur.”

“Jadi, Ematte itu adalah ibundamu? Lalu kenapa kau larang aku untuk tertidur di Emerdon?”

“Aku melarang kau untuk tidak tertidur di Emerdon karena aku tidak ingin kau mati. Semua orang yang arwahnya tertidur di Emerdon, mereka akan mati.”

“Mati?”

“Ibunda membuat Emerdon awalnya untuk menjebak ayah, ia ingin ayah tidak melupakannya dengan cara ibunda harus mengandung anak dari manusia. Tapi, itu sama sekali tidak berpengaruh. Ayah tetap saja melupakannya saat ia terbangun dari tidur, bahkan ayah menikah dengan gadis lain.”

“Jadi, kau setengah manusia?”

“Iya. Aku bisa berada di alam manusia dan alam mimpi, karena itu adalah anugrah yang aku miliki dari lahir.”

“Lalu apa sangkut pautnya Emerdon dan Flowa? Mengapa kau menyuruhku untuk berlari ke sini?”

“Emerdon adalah jebakan untuk arwah manusia. Jika kau tertidur di Emerdon, maka kau akan sulit bangun lagi. Ibundaku akan gampang untuk membunuhmu dengan merobek tubuhmu dan menghancurkan jantungmu. Dengan begitu kau akan mati di alam nyata, namun kau akan hidup di alam ini. Sedangkan Flowa adalah pintu yang telah berhasil aku buat sebagai penguasa dua dunia. Dengan kekuatan yang aku miliki, aku berhasil membuat pintu penembus ke dunia manusia. Dan hanya melalui Flowa kau akan bisa kembali ke alam nyatamu.”

“Begitu rupanya. Aku baru mengerti sekarang.”

“Baiklah, sekarang sudah mulai pagi di dunia nyata. Sebaiknya kau kembali.”

“Tapi, apa kita bisa ketemu lagi?”

“Tentu saja, kapanpun kau merindukanku. Maka pejamkanlah matamu dan berusahalah mengingatku. Saat itu perasaan rindumu akan tersampaikan padaku, sehingga aku akan membuka pintu Flowa ini khusus untukmu.”

“Akan selalu aku ingat dirimu dan tempat ini, sehingga kita dapat bertemu kembali. Aku pulang dulu.”

“Pulanglah!”

Misha berjalan menuju pintu di ujung Flowa, membukanya dan kembali masuk dalam tubuhnya.

“Selamat bangun Misha dan jangan lupakan aku. Seperti aku yang tidak akan pernah melupakanmu.”


~End~




Penulis:  Yulia Roza

Comments

Popular posts from this blog

HeksaGraf - Sastra Enam Paragraf diciptakan oleh Jisa Afta

HeksaGraf atau Sastra Enam Paragraf, merupakan seni sastra berbentuk cerpen enam paragraf yang diciptakan oleh seorang penulis bernama Jisa Afta. Kata HeksaGraf merupakan kata baru yang disusun oleh Jisa Afta. Kata HeksaGraf dibentuk dengan menggabungkan dua kata yaitu diambil dari kata "Hexa" (Yunani: enam)  dan "graf" (tulisan/paragraf). Ciri dan Struktur HeksaGraf Cerpen enam paragraf atau sastra pendek enam paragraf memiliki ciri dan struktur sebagai berikut: Ciri HeksaGraf - Struktur enam paragraf - Maksimal 555 kata - Tiap paragraf maksimal 1 dialog atau tanpa dialog Struktur HeksaGraf 1. Paragraf Pertama - Pembukaan (Opening) 2. Paragraf Kedua - Konflik (Problem) 3. Paragraf Ketiga - Penyelesaian / Penutup (Resolution or Ending) 4. Paragraf Keempat - Kondisi Tokoh Saat pasca Ending  5. Paragraf Kelima - Plot Twist (menghasilkan penyangkalan Resolution di paragraf 3) 6. Paragraf Keenam -- Klimaks - Konklusi final atau Ending yang Menggantung (tanpa resolusi). ...

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI | Oleh : Tea Terina

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI Membaca judulnya memang menimbulkan penafsiran yaitu bangga memiliki buku puisi karya sendiri atau bangga memiliki buku puisi karena membeli. Perasaan terakhirlah yang dialami  Mila Putri , siswa SMPN 2 Pagak yang masih kelas 7. Penyuka puisi sejak SD tetapi merasa belum bisa menulis puisi dengan baik ini, merasa bangga dan senang setelah menerima kiriman buku Nazam Tak Berdahak karya  Jisa Afta . Sebagai guru saya ingin mengetahui kesannya setelah memb aca buku tersebut. Saya beri waktu kurang lebih 3 hari. Apa komentarnya? Indah, bahasanya banyak yang imajinatif dan penuh makna tetapi ada bagian yang belum dipahaminya. Saya paham jawabannya karena ia masih perlu belajar untuk mengenali puisi khas Kitab Semilir karya Jisa Afta.  Saya berharap setelah membaca seluruh isi buku itu, ia bisa belajar menulis puisi tanpa menunggu sampai di kelas 8 karena di kls 8 ada materi pembelajaran Teks Puisi. Dan ia punya pilihan menulis puis...

Cerpen DI UJUNG TAHUN | Tea Terina

Cerpen DI UJUNG TAHUN Setahun hampir lewat, tapi Anita belum bisa melupakan peristiwa 2 bulan lalu yang membuatnya harus memutuskan tetap bertahan atau berpisah dengan suaminya yang telah menemaninya sejak 10 tahun. "Aku butuh waktu. Bisakah aku berpisah denganmu,Mas? Sementara anak kita masih butuh perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Bisakah aku memaafkan apa yang telah kamu lakukan? Aku telah berusaha menjadi istri terbaik bagimu tapi kamu telah berubah..." Suara hati Anita Ia perlu waktu dengan keputusannya. Memorinya kembali kedua bulan yang lalu. .... Anita mulai diliputi kecemasan setelah membaca isi HP suaminya yang secara tidak sengaja ia temukan di bawah bantal. Semalam ia memang tidak tidur sekamar dengan suaminya karena menemani Aqila, anak semata wayangnya yang masih berusia 7 tahun. Semalam ia minta ditemani mengerjakan PR. " kta ketemuan di restoran seperti biasanya ya,mas." Tulisan dengan huruf kecil semua y...