Skip to main content

Hatiku Terbawa Kereta Part 3 | Karya: Livia Ervita






Part 3

Aku menepuk lengan gadis itu. Saat menoleh, ia membuka earphonenya.
"Bolehkah saya bertanya?" Gadis itu mengangkat alisnya, "Apa nona bernama Anisa?"
"Darimana Anda tahu?" Ia membalas tanyaku.
Aku tersenyum telah menemukan gadis pembawa hati. Namun seketika senyumku memudar karena menyadari sesuatu.



"Nona bisa bicara?" tanyaku mencoba mencari penjelasan.
Anisa gelagapan dan mengalihkan pandangannya sembari mengaitkan earphonenya kembali.

Ini keanehan bisa juga sebuah kebohongan yang mendalam. Aku menepuk kembali lengannya dan bertanya tujuannya menaiki kereta, tapi tak ada jawaban. Musik yang berdentum keras menyumbat pendengarannya. Aku khawatir gadis ini juga berpura-pura tuna rungu. Tak habis akal, aku mengambil sebungkus singkong balado seperti yang pernah diceritakan oleh Andre.
"Makanlah, aku tahu Nona menyukainya." pintaku menyodorkan camilan berbungkus transparan.
Namun Anisa hanya menggeleng dan memejamkan mata. Dia mengacuhkanku dan akhirnya tertidur. Entah benar-benar tidur atau hanya sebuah pengalihan, aku tidak tahu.

Aku mengaktifkan ponsel yang sejak tadi nonaktif karena berusaha membuat Andre kebingungan. Senyumku mengembang saat ternyata Andre mengirim beberapa pesan.

[Andre:
Kamu kemana? Jam kuliah sebentar lagi akan dimulai.
07.55]
[Andre:
Kamu bolos? Dosennya sudah datang.
08.00]
[Andre:
Tiara, kamu kemana sih? Udah ga masuk, ga balas pesan pula.
10.17]

Aku mulai memainkan jemariku di atas layar ponsel.
[Aku menemukan hatimu yang terbawa. Akan kuusahakam mengembalikannya padamu.]

Setelah terkirim, seperti ada sebuah anak panah menancap di pelipisku. Aku menoleh. Rupanya sejak tadi Anisa melihat semuanya.
"Nona, bisakah Anda mengembalikan hati Andre?"
Lagi, Anisa tak menjawab dan seolah-olah tidak ada suara apapun kecuali musik yang menggema di gendang telinganya.
Aku mengela napas berat. Tidak mungkin gadis yang sudah terciduk berdusta akan membalas pertanyaanku. Lebih baik aku memejamkan mata saja sambil menikmati kebisingan laju kereta yang hampir separuh perjalanan. Aku ingin segera menemui Paman dan berharap kondisinya cepat pulih. Hanya Paman Anto satu-satunya saudara Almarhum Ayah yang tersisa. Beliau sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri. Di saat hari libur paman akan mengunjungiku dan Bunda. Akan tetapi semenjak menderita sakit jantung koroner, Paman jarang berpergian. Ia takut merepotkan orang di sekitar saat kambuh, katanya.


Riuh suara penumpang membuatku membuka mata. Ternyata aku tertidur cukup lama hingga kereta sudah berhenti. Segera kuberanjak dan membetulkan kerudung. Kumenoleh pada bangku samping, sudah kosong. Anisa sudah pergi. Kesadaranku mulai merangkai dan memaksaku untuk mencari keberadaan gadis itu. Aku ingin menghadiahkannya pada Andre. Meskipun dia tidak akan mengikutiku, setidaknya aku akan meminta nomor ponselnya.

Namun nihil sekalipun aku menyapu pandangan ke seluruh isi stasiun.
[Aku gagal membawa hatimu]
Kukirim pesan singkat pada Andre dan memilih melangkah menuju rumah paman.
Rumah paman hanya berjarak satu kilometer dari stasiun. Aku memilih berjalan kaki saja untuk membersihkan rasa pening pada kepala setelah tadi terburu-buru menyadarkan diri. Melihat ada tempat duduk yang biasa digunakan oleh pedagang kaki lima, aku memutuskan untuk melepaskan rasa penat. Meneguk separuh botol air mineral cukup memperbaiki keadaan.

"Kamu haus?"
"Astaghfirullah aku terkejut."
Sebuah suara hampir membuat minuman dalam mulutku menyembur. Pria itu mengejutkanku. Aku hanya mengerjapkan mata saat menatapnya.
"Vino, kamu ngapain ke sini?" tanyaku tidak menyangka bertemu dengannya.
"Aku ada tugas penelitian. Jangan mengira aku mengikutimu." jawabnya membuatku jengah.
"Sudah sana kerjakan tugasmu. Aku mau lanjutkan perjalanan dulu." pintaku memunggunginya dan melangkah lurus.
"Jangan sampai dibohongi oleh gadis itu lagi!" teriakan Vino seketika membuat langkahku terasa berat.

Gadis itu?
Apa mungkin..


"Maksudmu Anisa?" Aku berbalik tanpa menghampirinya.
Vino mengangguk dan melangkah ke arah yang bertolak belakang denganku.

Mendengarnya mengetahui apa yang telah aku alami, aku hanya merespon dengan menaikkan bahu. Aku tidak ingin berpikir yang macam-macam. Lagipula aku tidak akan bertemu lagi dengan gadis itu. Jangan sampai Andre menyerahkan hati tanpa mengambilnya kembali pada gadis seperti Anisa. Jika di saat pertemuan pertama saja sudah menorehkan kebohongan, akan timbul kebohongan-kebohongan lain yang menanti di depan sana. Jalanan aspal seperti mendidih karena terbakar terik matahari yang sedang musim panas. Di ujung sana tampak sebuah fatamorgana. Aku tersenyum getir. Fatamorgana seperti aku dapat membawa hati Andre seperti gadis itu. Teringat tentang Andre aku belum mendapat balasan darinya. Mungkin ia sedang sibuk.

Rumah bercat hijau dengan pagar berwarna senada membuat langkahku terhenti. Tidak ada yang berubah semenjak terakhir mengunjunginya. Bunga-bunga masih tertata rapi dalam pot di sepanjang pagar. Ayunan yang terbuat dari ban mobil dengan penyangga bambu masih tegak berdiri di samping rumah. Segera aku mendorong pagar rumah Paman. Rupanya tidak dikunci. Aku khawatir terjadi sesuatu.

"Asslamualaikum, Paman." ucapku sambil melenggang masuk.
Tidak ada jawaban, "paman, mengapa pagarnya tidak dikunci. Jika terjadi sesu.."
Perkataanku terpotong dan mataku membulat saat berpapasan dengan seseorang yang tak pernah berkunjung ke rumah Paman sebelumnya. Orang itu duduk di samping Paman. Dia adalah...

---

(Bersambung)



Comments

Popular posts from this blog

HeksaGraf - Sastra Enam Paragraf diciptakan oleh Jisa Afta

HeksaGraf atau Sastra Enam Paragraf, merupakan seni sastra berbentuk cerpen enam paragraf yang diciptakan oleh seorang penulis bernama Jisa Afta. Kata HeksaGraf merupakan kata baru yang disusun oleh Jisa Afta. Kata HeksaGraf dibentuk dengan menggabungkan dua kata yaitu diambil dari kata "Hexa" (Yunani: enam)  dan "graf" (tulisan/paragraf). Ciri dan Struktur HeksaGraf Cerpen enam paragraf atau sastra pendek enam paragraf memiliki ciri dan struktur sebagai berikut: Ciri HeksaGraf - Struktur enam paragraf - Maksimal 555 kata - Tiap paragraf maksimal 1 dialog atau tanpa dialog Struktur HeksaGraf 1. Paragraf Pertama - Pembukaan (Opening) 2. Paragraf Kedua - Konflik (Problem) 3. Paragraf Ketiga - Penyelesaian / Penutup (Resolution or Ending) 4. Paragraf Keempat - Kondisi Tokoh Saat pasca Ending  5. Paragraf Kelima - Plot Twist (menghasilkan penyangkalan Resolution di paragraf 3) 6. Paragraf Keenam -- Klimaks - Konklusi final atau Ending yang Menggantung (tanpa resolusi). ...

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI | Oleh : Tea Terina

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI Membaca judulnya memang menimbulkan penafsiran yaitu bangga memiliki buku puisi karya sendiri atau bangga memiliki buku puisi karena membeli. Perasaan terakhirlah yang dialami  Mila Putri , siswa SMPN 2 Pagak yang masih kelas 7. Penyuka puisi sejak SD tetapi merasa belum bisa menulis puisi dengan baik ini, merasa bangga dan senang setelah menerima kiriman buku Nazam Tak Berdahak karya  Jisa Afta . Sebagai guru saya ingin mengetahui kesannya setelah memb aca buku tersebut. Saya beri waktu kurang lebih 3 hari. Apa komentarnya? Indah, bahasanya banyak yang imajinatif dan penuh makna tetapi ada bagian yang belum dipahaminya. Saya paham jawabannya karena ia masih perlu belajar untuk mengenali puisi khas Kitab Semilir karya Jisa Afta.  Saya berharap setelah membaca seluruh isi buku itu, ia bisa belajar menulis puisi tanpa menunggu sampai di kelas 8 karena di kls 8 ada materi pembelajaran Teks Puisi. Dan ia punya pilihan menulis puis...

Cerpen DI UJUNG TAHUN | Tea Terina

Cerpen DI UJUNG TAHUN Setahun hampir lewat, tapi Anita belum bisa melupakan peristiwa 2 bulan lalu yang membuatnya harus memutuskan tetap bertahan atau berpisah dengan suaminya yang telah menemaninya sejak 10 tahun. "Aku butuh waktu. Bisakah aku berpisah denganmu,Mas? Sementara anak kita masih butuh perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Bisakah aku memaafkan apa yang telah kamu lakukan? Aku telah berusaha menjadi istri terbaik bagimu tapi kamu telah berubah..." Suara hati Anita Ia perlu waktu dengan keputusannya. Memorinya kembali kedua bulan yang lalu. .... Anita mulai diliputi kecemasan setelah membaca isi HP suaminya yang secara tidak sengaja ia temukan di bawah bantal. Semalam ia memang tidak tidur sekamar dengan suaminya karena menemani Aqila, anak semata wayangnya yang masih berusia 7 tahun. Semalam ia minta ditemani mengerjakan PR. " kta ketemuan di restoran seperti biasanya ya,mas." Tulisan dengan huruf kecil semua y...