Bedah Karya
Valentine Bukan untuk Kita
Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa
menjelaskan isi tulisan kamu ke pembaca
Untuk Pembaca : Bisa
terinspirasi untuk segera membuat karya.
ATURAN MAIN :
- Wajib baca sampai habis cerpen ini.
- Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.
· PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN
DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.
·
Cerpen tayang selama 24 Jam
·
Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com atau inbox di Jisa Afta
SELAMAT MENIKMATI KARYA
LUAR BIASA INI !
Valentine Bukan untuk Kita
Pagi-pagi aku telah tiba
di sekolah. Kelas-kelas sepi, tak tampak seorang pun kutemui di sepanjang
koridor. Setelah aman, aku berbalik menuju ruang guru. Kulihat Bu Susiah, guru
agama Islam turun dari Avansa. Beliau menuju kantor, jantungku berdebar
kencang. Usai mengucap salam, kuberanikan diri mengutarakan maksud hati.
Alhamdulillah, aku girang bukan kepalang, ternyata Bu Susiah menyambut baik
usulku.
Aku segera ke kelas, lega
perasaanku. Kuharap semua berjalan sesuai keinginan. Aku tak mau teman-teman
terjerumus oleh Valentine. Sejak kemarin, tak kulihat Faisal di kelas. Mungkin
ia sibuk mempersiapkan lomba karya ilmiah untuk mewakili sekolah ke tingkat
provinsi.
“Hebat...!Hebat...!”
tepuk tangan Zahra, merusak konsentrasiku membaca buku. Kulihat Zahra, Debora,
dan Zanet berjalan mendekat. Mereka tersenyum getir.
“Lihat,
teman-teman!Ternyata gadis sok suci ini, telah melaporkan rencana Valentine
kita kepada Bu Susiah!” tuding Zahra kasar, nyaris mengenai hidung.
Serentak aku berdiri dan
membuang tangannya. “Sungguh kau tak sopan, Zahra!”
“Dasar tukang adu!” Zanet
menimpali, “kalau kau tak suka dengan rencana kami, kau tak usahlah ikut!Bukan
malah mengadukan kami ke Bu Susiah!” Kata-kata Zanet menusuk hati,
membangkitkan amarahku yang membuncah.
“Maaf, Zanet!Aku sungguh
tak mengadukan rencana kalian,” belaku.
“Pintar sekali kau
berkilah, Imah!Kau kira, kami tak tahu!Tadi pagi kau menemui Bu Susiah di
kantor, kan?!” Debora ikut bicara.
“Dengarkan dulu, akan
kujelaskan. Aku....”
“Kami tak perlu lagi
penjelasanmu!Sudah sangat jelas semuanya!” Zahra memotong ucapanku, “aku
sungguh kecewa padamu!”
“Tapi, ini kulakukan demi
kebaikan kita, Zahra!” belaku.
“Kebaikan macam apa,
maksudmu, hah?!” Teriak Zahra melotot.
“Valentine itu, bukan
untuk kita, Zahra!”Teriakku.
Plakk!Tamparan keras dari
Zahra, mendarat di pipiku. “Dasar sok suci!”
Sungguh tak kusangka,
Zahra tega berbuat seperti itu. Perlahan air mata pun jatuh berlinang. Sesak
dada menerima perlakuannya. Marah dan tak terima, berkecamuk menguasaiku. Tapi,
takkan kubalas tamparannya. Hingga kemudian, Fiona datang dan melerai kami.
“Apa-apaan kalian
ini?!Sungguh memalukan!Kita ini teman sekelas, mengapa harus ada keributan?!”
Fiona berada di tengah-tengah aku dan Zanet.
“Dia yang memulai
duluan!” Zahra kembali menudingkan jarinya.
“Sudah-sudah!Kalian harus
damai dan saling memaafkan. Imah...!” Sebelum Fiona melanjutkan kata-katanya,
aku segera mengambil tas dan berlari meninggalkan kelas. Linangan air mata
terus saja bercucuran sepanjang perjalanan pulang. Fiona berlari mengejar
seraya berteriak-teriak memanggil. Namun, aku terus berlari dan
meninggalkannya.
*****
Malam semakin larut,
kucoba memejamkan mata rapat-rapat. Besok adalah hari Valentine, rencanaku
mungkin gagal gara-gara persoalan tadi siang.
“Dasar tukang adu”
kata-kata Zanet benar-benar memecah konsentrasi tidurku.
Masih tergambar jelas
dalam benakku, betapa bersemangatnya teman-temanku merayakan Valentine dengan
berbagai usulan acara. Debat kusir di kampus kemarin siang, kembali terbayang.
Waktu itu, suara gaduh di kelas XII Bahasa, tak membuatku mengalihkan pandangan
dan konsentrasi untuk terus membaca buku.
“Kita ke pantai Serang
saja, teman-teman,” usul Debora.
“Bagaimana guys, setuju?”
Zahra, menawarkan pendapat Debora.
“Saya tidak
setuju!Musimnya tidak mendukung. Hampir setiap hari hujan!” tolak Zanet.
“Betul tuh, kata Zanet!”
seru beberapa siswa. Suasana kelas pun gaduh.
“Ahaaa...!Ke Kampung
Coklat!” seru Dina girang,” kita bisa menikmati aneka kue dan minuman coklat di
sana, pasti lebih romantis,” lanjutnya.
“Bagaimana
teman-teman?Setuju ke Kampung Coklat?” teriak Zahra.
“Hai, Fatimah!Dari tadi
kamu cuek saja.Usul gitu, kek!” Zahra berjalan mendekat.
“Aku ingin ke
perpustakaan atau mengerjakan tugas saja,” jawabku datar.
“Apa?!Gila bener ide loe.
Ini perayaan Valentine Imah, bukan gerakan membaca!” kata Zahra ketus.
“Tapi kita sebagai umat
Islam, tak boleh ikut merayakan, Zahra!” aku mengingatkan.
“Huuuuuu...!” Serempak
seisi kelas mencibir. Aku tak peduli mereka memihak Zahra.
“Kita ini masyarakat
plural Imah. Terpenting kita tidak berbaur dengan mereka yang melebih-lebihkan
Valentinei.. Kita cukup bermain dan makan bersama. Habis gitu, tukar hadiah.
Simple, kan?!” jelas Zanet.
Tetap saja. Bagiku tak
boleh ada perayaan Valentine. Meskipun itu ditujukan kepada ibu sendiri.
Sebagai pemimpin diskusi, Zahra memutuskan bahwa Valentine akan dirayakan di
Kampung Coklat, usai asar hingga malam. Semua wajib hadir bersama pasangan.
Bagi yang tidak mempunyai pasangan, bisa mengajak teman atau saudara.
*****
Tamparan keras Zahra,
tatapan kebenciannya benar-benar membuatku sedih. Jika ingat hal itu, derai air
mata pun deras mengalir. Salahkah apa yang telah kuperbuat?Padahal, aku hanya
ingin membantu mereka terbebas dari tradisi Valentine. Detak jarum jam, kian
keras bersuara.
“Dasar tukang adu!”
“Aku sungguh kecewa
padamu!”
Kata-kata itu terngiang
terus di telinga, meski kututup rapat-rapat, tapi suaranya malah semakin keras.
“Kau tampak sedih. Ada
apa Fatimah?” suara tak asing, menyapaku.
Aku menoleh. Terlihat
Faisal berdiri tersenyum.
“Kulihat dari tadi, kamu
murung terus. Apa ada masalah di sekolah?” tanya Faisal.
Aku diam. Terlihat
rembulan mulai bersinar. Awan hitam yang menutupi, kini perlahan bergerak
menjauh. Bintang pun bertebaran menghias malam. Rasanya aku sangat bahagia
berada di dekat Faisal.
“Kamu kok, malah melamun
lagi?” Faisal melangkah mendekat. Dan lebih dekat.
Debar jantungku kian
kencang. Panas dingin di tubuh, seakan menjalar dari kaki hingga ujung rambut.
Gemetar rasanya tubuhku ini berada di dekatnya.Apalagi melihat sinar teduh
matanya. Bulan mengintip, mencibir iri melihat kedekatanku.
“Kkaa...kaaa--kaa..kamu
mau ngapain, Faisal?” tanyaku gagap.
Aku tersentak. Sentuhan
halus meraba kening. Kubuka mataku perlahan.
“Badanmu panas. Kau sakit,
Fatimah?” kulihat wajah kekhawatiran ibu.
“Sakit?!” gumamku heran.
Aku tak merasa pusing
sama sekali. Hanya dingin sedikit kurasa. Mungkin panas badanku disebabkan
kurang tidur dan pikiran kalut yang sangat mengganggu semalam. Yang penting
jangan sampai ibu tahu, kalau aku baru saja memimpikan Faisal. Atau
jangan-jangan, aku rindu Faisal ya…
“Lho ada apa, kok malah
senyum-senyum sendiri begitu, Imah?” tanya ibu menyelidik.
“Ehmmm...ehmmm… tidak
apa-apa, Bu,” jawabku tersipu.
“Sebaiknya kau salat subuh
dulu. Ibu siapkan sarapan, dan segeralah minum obat. Kalau sakit, jangan
dipaksakan masuk. Nanti ibu buatkan surat ijin.”
“Iya, Bu, terimakasih”
jawabku bergegas mengambil wudu. Kubuka jendela kamar. Rembulan masih setia
bersinar hingga tiba fajar.
“Ternyata hanya
mimpi...,” gumamku lirih lalu bergegas salat.
*****
Siang ini sungguh
membosankan. Udara di luar panas menyengat. Tapi untunglah, panas badanku
menurun. Usai melaksanakan salat zuhur dan makan siang, aku mencari-cari buku
yang belum tuntas kubaca. Beberapa tempat kugeledahi, tapi tak jua ditemukan.
Kulirik jam telah menunjukkan pukul dua.
“Assalamu’alaikum...!”
“Wa’alaikumsalam...!”
jawabku keluar kamar dan membukakan pintu.
Bagai kemarau panjang
disiram hujan semalam. Faisal datang mengejutkan. Dua hari aku tak bertemu
dengannya.
“Aku tak mau kalau hanya
bepergian berdua. Ini bukan karena merayakan Valentine, kan?!” tanyaku.
Faisal tersenyum. “Fiona
dan Dina sudah menunggu di mobil. Memangnya mengapa sih, kamu suka khawatir
kalau jalan sama aku?”
“Tidak apa-apa, aku hanya
tak ingin ada….”
“Iya, aku mengerti dengan
maksudmu, Imah,” Faisal menghentikan ucapanku.
“Tapi..., kamu harus ijin
dulu kepada ibuku.”
“Siappp, Nona Imah!”
ekspresi Faisal membuatku tertawa geli.
Ibu tadinya keberatan
mengijinkanku pergi. Tapi setelah melihat aku sudah sehat, beliau pun merestui.
Sesampai di lokasi,
Faisal segera memarkirkan mobilnya di samping perpustakaan Bung Karno. Hari
itu, pengunjung tampak ramai.
“Ayo, kita segera masuk!”
ajak Fiona.
“Assalamu’alaikum, Imah,”
serentak Zahra, Debora, dan Zanet segera menyambutku di ruang baca. Seluruh
siswa kelas XII Bahasa telah hadir juga di sana.
“Wa’alaikumsalam...lho,
kalian tidak jadi ke Kampung Coklat?” tanyaku heran.
Mereka diam dan tampak
saling memandang sebelum akhirnya mendekat.
“Imah, aku minta maaf
telah menghina kamu waktu itu,” sesal Zanet.
“Aku sungguh berdosa,
Imah. Aku tak sengaja menamparmu. Aku tak pantas menjadi temanmu lagi. Maafkan
aku, Imah. Maafkan aku. Aku malu padamu. Malu dengan diriku sendiri,” isak
Zahra seraya memelukku.
“Aku telah memaafkan
kalian,” jawabku tersedu mengingat peristiwa itu. “Kalian adalah temanku, aku
sayang kalian.” Air mataku bercucuran basahi pipi. Ya, air mata bahagia di hari
Valentine.
“Ini bukumu, jatuh
tertinggal di kelas,” Zahra menyodorkan buku kecil.
“Maaf, tanpa seijinmu,
aku telah membaca buku ‘Enam Kerusakan di Hari Valentine bagi Umat Islam.’
Karena bukumu inilah, kini aku sadar akan larangan Valentine bagi kita. Aku
minta maaf, Imah, tak sepantasnya aku kasar padamu. Kau gadis yang baik, aku
telah menyakitimu,” tangis Zahra menjadi. Kuhapus air matanya, kami berpelukan
sangat erat. Teman-teman ikut terharu hingga menitikkan air mata.
“Assalamu’alaikum....”
kehadiran Bu Susiah melepas pelukan kami.
“Wa’alaikumsalam…” jawab
kami serempak.
“Alhamdulillah, kalian
sudah baikan. Maaf ibu datang terlambat. Mari, kita mulai kegiatan sore ini
dengan bacaan basmalah. Temukan buku bertema ‘Valentine’, baca dan
pahami!Selanjutnya, buat cerpen bertema Valentin No, Writing Yes! Ibu akan
memilih 50 cerpen terbaik untuk dibukukan dan juara 1-3 berhak mendapat hadiah
spesial dari Ibu,” perintah Bu Susiah.
“Horeeee.”
Aku sangat bahagia.
Teman-teman terhindar dari perayaaan Valentine yang jelas-jelas bukan milik
Islam. Ternyata, ideku berhasil. Gerakan membaca yang kuusulkan ke Bu Susiah
pagi itu, dikembangkan Zahra dikolaborasi gerakan menulis.
“Hari ini aku sungguh
bahagia, semuanya telah kembali. Terimakasih, Faisal. Kamu, tidak mampir dulu?”
Kubuka pintu mobil.
“Fatimah, tunggu
sebentar.” Kuurungkan langkah. Jantungku berdebar, lama kami duduk terdiam. Aku
mulai kikuk dengan keadaan. Malu dan gelisah berpadu.
“Fatimah, hari ini aku
juga sangat bahagia bisa bersamamu.” Gemetar suara Faisal jelas terdengar.
“Ketika siang, kumelihatmu di kelas. Pada malam hari, kulihat kau dalam mimpi.
Aku tak tahu, rasa ini sekedar suka ataukah cinta. Jujur, sudah lama kupendam
rasa ini. Aku merasa bahagia di sampingmu, rasanya tak ingin jauh darimu. Dua
hari tak bertemu, rasa rindu menyiksaku. Mungkin, aku telah jatuh cinta padamu.
Bolehkah aku menjadi kekasihmu, Imah?” tanya Faisal berharap.
Aku tertunduk. Hatiku
seolah menari di atas awan. Butir-butir kebahagiaan bertebar di relung. Kelu
bibirku, bahagia dan haru bercampur aduk.
“Faisal, aku...aku...”
jawabku terbata, “aku tak menyangka jika hatiku telah menawanmu. Tapi, aku tak
mau, Valentine ini menjadi sejarah kita ke depannya. Karena Valentine, bukan
milik kita. Maafkan aku belum bisa memberimu jawaban hari ini.”
“Aku mengerti, Imah.
Maafkan aku. Aku akan sabar menunggu. Dan kau tak usah khawatir Imah, aku akan
menjemputmu di waktu yang tepat nanti. Doaku, semoga kita dapat berjodoh untuk
selamanya. Amiin. Mari, kuantar kau pulang sekalian pamit pada ibu.”
TAMAT
Di Tulis Oleh : ???
Penulis akan di hadirkan
disesi terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur ceritanya, pertanyaan kamu
akan di jawab sekaligus disesi terakhir.
Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com atau inbox di Jisa Afta
Penulis : Akbar Yayuk Amirotin



Comments
Post a Comment
Silahkan tulis komentar disini