Bedah Karya
Loneliness
Selamat
Datang Peserta BEKAR | Bedah Karya. Ini adalah seminar bedah karya pertama di
GRUP Jisa Afta yang tidak sombong dan baik hati ini dan
terus berbenah dengan ide baru.
Tujuan
BEKAR : Kamu membedah isi Cerita Pendek ini.
ATURAN
MAIN :
- Dilarang komentar jika anda tidak selesai membaca sampai habis cerpen ini.
- Komentar anda jangan terpaku pada aturan penulisan. Kami sarankan untuK fokus pada jalan cerita.
·
PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN
DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU SETELAH KOMENTAR KALIAN TERMASUK
BERKUALITAS MINIMAL 15 KOMENTAR.
· Cerpen ini akan ditayangkan selama 24 Jam, dan akan digantikan
oleh cerpen lain pada hari berikutnya. Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com
atau inbox di Jisa
Afta
SELAMAT
MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !
“Bukankah
dia, Haruka?”
“Ya, dia satu–satunya dari klan Sato yang selamat.”
Haruka
berjalan santai menerobos hiruk pikuk pasar ketika ia mendengar beberapa orang
sedang membicarakan dirinya. Ia berhenti sejenak dan memejamkan mata, mencoba
untuk mengabaikan bisik–bisik warga desa mengenai dirinya.
Setelah beberapa
saat, ia kembali membuka matanya dengan perlahan dan melanjutkan langkahnya. Ia
berjalan santai tanpa memperdulikan tatapan kasihan dari seluruh warga desa
kepadanya.
“Haruka!” Sekali lagi Haruka menghentikan langkahnya, ia menoleh ke
arah kirinya dan menatap seorang wanita tua pemilik toko yang menjual makanan.
Yang tersenyum dan melambaikan tangan kearahnya.
“Kemarilah sebentar!” Ucapnya.
Haruka menghela napas berat, lalu berjalan menghampiri wanita itu.
“Ada apa
nenek memanggilku?” Tanyanya ketika berhenti tepat di depan wanita tua
tersebut. Wanita itu menyodorkan sebuah kantung pelastik hitam kepada Haruka.
Gadis cantik bermata kecokelatan itu menatap kantung yang disodorkan kepadanya
dengan tatapan heran. Dengan sedikit ragu ia menerima pemberian dari pemilik
toko makanan itu, lalu bertanya. “Apa ini nek?”
“Hanya beberapa makanan dan
kue. Aku sengaja membuatnya untukmu.” Jawabnya.
Ketika ia melihat Haruka
membuka mulutnya, hendak menanggapi jawabannya. Cepat–cepat ia menambahkan.
“Aku tidak mengasihanimu… Jika itu yang kau takutkan… Hanya saja membiarkan
seorang gadis remaja sepertimu kesepian dan kelaparan, itu bukanlah diriku.
Lagipula aku dan keluargamu sangat dekat dulu dan kau juga sudah aku anggap
sebagai cucuku sendiri. Sekarang kau dan aku bernasib sama… Sama–sama tidak
memiliki keluarga. Jadi kau bisa menganggapku sebagai keluargamu mulai hari
ini, jangan sungkan–sungkan untuk menemuiku jika perlu bantuan.”
Haruka
memaksakan seulas senyuman dibibirnya, lalu berkata. “Terimakasih, nek. Aku
akan mengingatnya.” “Sekarang sudah malam, sebaiknya kau cepat pulang. Tidak baik
anak gadis berjalan seorang diri di malam hari.”
Dengan senyuman yang masih
tersungging dibibirnya, Haruka mengangkat kantung pemperian wanita itu kedepan
wajahnya dan berkata. “Sekali lagi terimakasih untuk makanannya. Aku akan
menikmatinya dirumah. Selamat malam, nenek Akane.”
Akane membalas senyuman
Haruka dengan senyuman tulus dan lembut. “Sama–sama.” . . . “Aku pulang!” Ucap
Haruka sambil menutup pintu rumahnya dan menguncinya.
Ia melepas sepatu
sandalnya dan mengenakan sandal bulu berbentuk kelinci berwarna abu–abu. Haruka
meraba–raba dinding untuk mencari stop kontak lampu, menekanya dan seketika
ruangan yang gelap itu berubah menjadi terang. Matanya menatap setiap sudut
rumah dengan nanar.
“Kemana saja kau seharian? Apa kau tidak berpikir diluar sana
terlalu berbahaya untuk seorang gadis pulang larut malam seperti ini?”
Itulah
yang akan dikatakan ibunya dulu ketika ia melihat Haruka baru pulang kerumah
pada pukul sebelas malam. Sambil memegang sebuah sendok sup dan bertolak
pinggang, wanita itu memarahi dirinya.
“Kau tidak lupa bukan, Haruka? Ibumu
tidak akan tenang melihat anak–anaknya pulang larut malam.”
Ayahnya yang sedang
duduk di atas sofa sambil melipat koran menatapnya dengan tatapan jahil. Suara
langkah kaki dari arah dapur mengalihkan pandangan Haruka, seorang laki–laki
tampan berambut pirang jabrik menatapnya dengan bosan.
Kakaknya itu menghampiri
Haruka dengan sepotong roti di mulutnya dan segelas jus jeruk di tangan
kirinya.
“Bahkan ibu tidak akan bisa tidur jika aku saja belum pulang selarut
ini. Kita akan menjadi orang tua yang baik nantinya.” Timpalnya.
Suara ketukan
pintu dari luar membuyarkan lamunan Haruka. Beberapa menit kemudian ia
mendengar suara seorang gadis memanggil dirinya. Haruka berjalan menuju pintu
dan membukanya dengan sekali tarikan.
Ia menatap seorang gadis berambut hitam
berjalan memasuki rumahnya dengan tatapan bosan. “Bolehkan aku menginap disini
untuk malam ini?”
Setelah menutup dan mengunci pintu, Haruka mengikuti Izumi
ke ruang tamu. Ia melihat gadis cantik itu menghempaskan tubuhnya keatas sofa
dan menatap langit–langit ruangan. Izumi menghela napas dalam dan
menghembuskanya dengan pelan.
“Aku sangat kesal kepada ibuku. Dia selalu ikut
campur dalam setiap urusan pribadiku, dia juga suka melarangku keluyuran pada malam
hari. Bukan hanya itu saja, dia juga senang mengatur–ngatur hidupku. Tadinya
ayah selalu membantuku, tapi pada akhirnya ia selalu mengalah dan menuruti
semua perintah ibu. Aku berharap, aku dapat hidup seorang diri.”
Haruka menaruh
kantung pemberian nenek Akane di atas meja, lalu duduk di sebelah Izumi.
“Ibumu
sangat menyayangimu,” ucapnya sambil bersandar di sandaran sofa dan menutup
mata.
Ia sangat mengerti perasaan orang tua Izumi yang terlalu mengkhawatirkan
anak mereka. Dan seharusnya Izumi juga dapat mengerti mengapa kedua orang
tuanya bersikap berlebihan seperti itu.
Izumi tersentak dan menoleh menatap
Haruka dengan tatapan jengkel. “Sepertinya aku datang ke tempat yang salah.
Jika Setsu berada di posisimu untuk mendengarkanku, dia akan mengerti diriku.”
“Kalau begitu kenapa kau tidak menghampirinya saja?” tanya Haruka dengan nada
mengejek.
“Hidup seorang diri dan kesepian, jauh lebih buruk dari pada dimarahi
orang tua.” Kali ini nada Suaranya berubah menjadi dingin.
“Dan kau…” Haruka
membuka matanya dan menoleh menatap Izumi dengan dingin.
“Kau… Gadis payah yang
hanya menatap orang lain dari keburukanya dan selalu menganggap dirimu jauh
lebih baik dari pada siapapun. Dasar bodoh!” Haruka sama sekali tidak berharap
Izumi dapat mengerti maksud perkataanya.
Ia bangkit dari sofa dan melangkah
memasuki kamar tidurnya. Haruka menghempaskan tubuh di atas tempat tidur dan
menatap kosong kelangit–langit kamar.
Bayangan tentang kenangan–kenangan
bersama keluarganya kembali muncul dalam benak Haruka. Sehingga ia kembali
merasakan kehadiran ibu, ayah dan kakaknya di dalam rumah ini. . . .
Pagi itu
Haruka hanya duduk diam di bangkunya dan menatap kosong keluar jendela. Ia
tidak memperdulikan kebisingan yang terjadi di ruangan itu ketika sosok Setsu
memasuki kelas.
Pemuda tampan itu berjalan santai menuju bangkunya yang
terletak di belakang bangku Haruka. Gadis itu mengalihkan pandangan ke arah
belakang ketika mendengar suara decitan bangku, satu hal yang ia sadari ketika
menatap sosok Setsu dengan jelas.
Pemuda itu memiliki wajah tampan dengan mata
setajam elang. Sekarang mata itu menatapnya dengan lembut, dan… kasihan?
“Mengapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Setsu dengan nada dingin. Haruka
tersenyum sinis, lalu berkata.
“Itu pertanyaanku.” Haruka melihat Setsu membuka
mulutnya untuk menanggapi perkataannya, dengan malas dan cepat ia mengalihkan
pandangan ke depan.
Menatap seorang pria berstelan rapi sudah berdiri di depan
kelas. Pria itu bukanlah guru mereka, karena tidak ada guru dimanapun yang
menyelipkan sebuah pistol di gespernya. Dan pria itu sedang menatap kearahnya
dengan tatapan dingin.
Pria itu ragu sejenak, lalu membuka mulutnya. “Sato
Haruka!” Haruka tidak menjawab panggilan dari pria itu, ia hanya menatapnya
dengan tajam. Menunggu kelanjutan dari kata–kata pria itu dengan sabar.
“Ikut
aku keruangan BK. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.” Tanpa menunggu
sampai seluruh bisikan dan tatapan bingung dari teman–teman sekelasnya semakin
jelas. Haruka bangkit dari bangkunya dan berjalan santai keluar kelas.
“Perkenalkan. Namaku adalah Yamada Itsuki.” Haruka baru saja duduk di salah
satu bangku kosong di ruangan itu ketika Itsuki memperkenalkan dirinya. Ia masih
diam menunggu kelanjutan kata–kata dari pria itu.
“Saya adalah anak buah dari
ayahmu sewaktu beliau masih menjabat sebagai kapten tim khusus di FBI. Saya
kesini untuk memberikan kabar gembira kepadamu.” Itsuki diam sejenak, ia
menghembuskan napas berat.
“Atau mungkin saja tidak berarti buatmu. Tapi kamu
harus tetap mengetahuinya. Kelompok misterius yang menyerang dan membunuh
keluargamu pada malam itu telah di tangkap. Mereka merupakan anak buah dari
geng Gayuza yang ketuanya telah di tembak mati oleh ayahmu sewaktu melakukan
penangkapan. Mereka ingin membalas dendam karena kematian ketua geng mereka.
Dan…”
“Dan melenyapkan nyawa keluargaku? Ayah yang hanya menjalankan tugasnya
sebagai anggota FBI? Ibu dan kakakku yang tidak tahu apa–apa? Dan aku… Aku
menjadi seorang diri… dan… Kesepian…” Kata Haruka dengan dingin setelah menyela
perkataan dari Itsuki.
Ituski dapat melihat dengan jelas air mata yang
mengenang di kelopak mata Haruka. Gadis itu masih terpukul dengan kejadian
pembantaian seminggu yang lalu di kediamannya. Sehingga sampai saat inipun
Haruka masih belum bisa memaafkan kejadian pada hari itu.
Ia masih menyimpan
dendam kepada mereka yang tega merenggut nyawa seluruh anggota keluarganya.
Haruka menjadi lebih keras kepada dirinya sendiri. Ia mengatakan kepada dirinya
untuk tidak lagi mempercayai siapapun.
Ia harus mampu mengandalkan dirinya
sendiri. Itulah alasanya mengapa setiap malam ia terus berlatih ilmu bela diri
di tengah hutan.
“Aku juga banyak mendengar tentang dirimu dari ayahmu.”
Perkataan Itsuki membuat Haruka tersentak dari lamunanya. Ia
mengerjap–ngerjapkan mata dan kembali menatap Itsuki dengan dingin.
“Ayahmu
pernah mengatakan kepadaku bahwa anak gadisnya telah menguasai empat jenis ilmu
bela diri dengan baik melebihi Ryuki, kakakmu.”
“Ya. Aku telah menyukai ilmu
bela diri sejak usia tiga tahun. Sedangkan Ryuki-niichan lebih menyukai ilmu
menembak dan panahan. Dia sangat ahli dalam bidang itu.”
“Bagaimana kalau malam
ini aku dan beberapa anggota tim asuhan ayahmu dulu melihatmu berlatih?” Haruka
membuka mulutnya untuk menjawab, namun ditutupnya kembali.
Setelah ragu sejenak,
akhirnya ia mengatakan. “Baiklah. Kalian bisa datang ketengah hutan dekat air
terjun dan melihat aku berlatih disana.” Alis Itsuki berkerut samar.
“Mengapa
harus di tengah hutan?” “Aku hanya suka suasana tenang disana.” “Kalau begitu
kami akan datang pukul delapan malam.”
Di bawah terangnya cahaya bulan
purnama dan dinginya angin malam. Haruka berlatih seorang diri di dekat air
terjun. Ia sama sekali tidak perduli apakah Itsuki dan anggota lain asuhan
ayahnya dulu akan datang seperti apa yang pria itu katakan tadi pagi di
sekolahnya.
Dengan gesit Haruka memanjat sebuah pohon dan duduk bersila di atas
dahannya yang kokoh. Dari atas pohon setinggi dua puluh meter itu ia dapat
melihat keindahan langit malam dari lebih dekat.
Baru saja menikmati keindahan
malam, Haruka di kagetkan dengan suara langkah kaki. Bukan hanya satu orang,
melainkan suara langkah kaki beberapa orang yang mendekati pohonnya.
Haruka
mempertajam indra pendengaranya untuk mendengarkan percakapan beberapa orang
yang berhenti tepat di bawah pohonnya.
“Dimana Haruka? Bukankah kau mengatakan
kita akan menemuinya disini?” tanya seorang gadis dengan suara lembut tapi
tegas.
“Aku yakin ini tempatnya. Tapi mengapa dia tidak kelihatan?” Haruka
dapat menebak bahwa yang berbicara barusan adalah Itsuki.
“Tapi dimana dia
sekarang?” terdengar suara berat seorang pria yang ikut angkat bicara.
“Apa
jangan–jangan kita datangnya kecepatan?” Haruka menoleh dan menatap kebawah,
memandang keempat orang yang sedang menunggunya di bawah sana.
Haruka merogoh tas
kecil yang terlesip di ikat pinggangnya dan mengeluarkan sebuah kunai, lalu
melemparkanya ke tengah–tengah keempat orang itu. Sehingga membuat mereka
tersentak dan melompat kaget.
“Mencari keberadaanku?” Haruka melompat dan
mendarat dengan anggun di tanah. Ia mencabut kunai yang dilemparkanya tadi
dengan tenang, lalu kembali memasukkanya kedalam tas. Sebelah alis Haruka
terangkat setelah menangkap sosok Setsu di tengah–tengah Itsuki dan seorang
wanita cantik.
“Mengapa ada dia?” Itsuki menggaruk belakang kepalanya yang
tidak gatal dengan canggung.
“Sebenarnya sekarang kita adalah keluarga.” Mata
Haruka menyipit.
“Keluarga?”
“Sebelum aku menjelaskannya, ada baiknya kalau kau
berkenalan dengan kedua orang ini.
” Itsuki menatap seorang wanita cantik
berambut lurus sebahu dan seorang pria tampan bermata biru dengan bergantian.
“Mereka berdua adalah…”
“Hai! Perkenalkan namaku Mei dan ini Ken. Kami juga
anak asuhan dari mendiang ayahmu dulu,” kata Mei setelah menyela perkataan
Itsuki.
Haruka dapat melihat Itsuki menunduk dan menggerutu kesal. “Aku, Sato
Haruka,” ucapnya sambil mengalihkan pandangan ke arah Mei dan Ken.
“Lalu
mengapa anak itu ada disini?” Setsu mendecah kesal setelah mendapati Haruka
menatapnya dengan dingin.
“Namaku Uchida Setsu, bukan anak itu.” Haruka
mengangguk–ngangguk dan menatapnya dengan bosan.
“Begini penjelasannya…” Itsuki
menghentikan perkataanya setelah mendapati dirinya di tatap oleh keempat orang
di hadapanya dengan dingin. Sesaat ia mengidik ngeri, namun ia berhasil
menguasai perasaanya dengan baik. Itsuki berdeham pelam sebelum melanjutkan
ucapannya.
“Jadi begini… sebenarnya ayah Setsu adalah kakaku, sedangkan ayah
Haruka adalah kapten tim kami dulu… sebelum mereka berdua tiada… mereka
menitipkan anak-anaknya kepada kami…” Haruka dan Setsu saling melempar
pandangan beberapa saat, lalu kembali menatap Itsuki dengan tatapan penuh
tuntutan penjelasan.
“Baiklah-baiklah! Aku akan jelaskan lebih rinci… jadi
begini… Aku adalah adik dari ayahnya Setsu, jadi dia adalah keponakanku…
sedangkan ayah kau, Haruka. Adalah kapten timku dahulu…”
“Langsung saja… gak
usah muter-muter,” celetuk Haruka setelah memotong perkataan dari Itsuki.
Itsuki mendesah panjang.
“Baiklaaah..! Aku akan menjelaskan tentang kenapa kami
menjadi walimu mulai hari ini... Pekerjaan kami sebagai seorang FBI akan
menuntut kami untuk memikirkan hal terburuk yang akan terjadi di medan perang.
Sebelum hal terburuk itu terjadi, kami akan menyusun rencana untuk kelangsungan
kehidupan keluarga yang ditinggalkan… siapa walinya nanti, biaya sekolah dan
kuliah, dan sebagainya… Ayahmu sudah memikirkan hal itu secara matang-matang.
Dan ayahmu ternyata telah mempercayakanmu kepada kami. Apa kau mengerti? Apa
kau setuju kalau kami menjadi walimu?”
“Terserahlah,” ucap Haruka acuh tak
acuh, lalu berjalan menuju sungai. Setelah berdiri di tengah–tengah sungai yang
dangkal itu, Haruka menyiapkan kuda–kudanya dan memulai gerakan kecil dengan
tendangan ke depan lalu disusul gerakan pukulan.
Gerakan–gerakan itu semakin
lama, semakin cepat. Sehingga membuat ombak kecil di aliran sungai. Mata Mei
menyipit memperhatikan sorot mata Haruka yang tajam menyala.
“Ia masih dikuasai
oleh dendam,” gumamnya.
Ken yang berdiri persis di sebelah Mei dapat mendengar
dengan jelas perkataan dari wanita itu, walaupun terbilang suaranya cukup
kecil. Karena jarak mereka yang dekat, membuat Ken dapat mendengar perkataanya.
“Itu wajar, tidak ada manusia yang rela melihat keluarganya tewas secara
mengenaskan. Apalagi ia sama sekali tidak berada disana untuk melindungi
keluarganya. Tapi percayalah kepada Haruka, suatu saat nanti ia pasti dapat
melupakan masa–masa menyakitkan itu,” kommentarnya.
Sebulan sudah Haruka
dan Setsu berlatih bersama setiap malam di tengah hutan ini. Tidak jarang
mereka hanya berlatih berdua seperti saat ini. Pekerjaan Itsuki, Mei dan Ken
sebagai anggota satuan khusus FBI, mengharuskan mereka melakukan perjalanan
keluar kota selama berhari–hari untuk melakukan penyelidikan dan menangkapan
target incaran mereka.
Itsuki percaya bahwa tanpa mereka, Haruka dan Setsu
dapat berlatih bersama dengan baik. Apa lagi Setsu terbilang anak yang tenang,
dewasa dan dapat diandalkan. Itsuki yakin bahwa Setsu dapat dengan mudah
beradap tasi dengan Haruka yang dingin dan pendiam.
Haruka
duduk bersandar di bawah pohon sambil menenggak sebotol air mineral. Keringat
berkucuran dari pelipisnya dan napasnya juga sudah tidak beraturan. Sejak
berlatih dengan Setsu dua jam lalu, Haruka belum sempat beristirahat dan itu
membuatnya sangat kelelahan.
“Bagi!” Haruka menoleh dan menatap Setsu yang
telah duduk di sebelahnya dengan tatapan bosan. Masih sibuk menenggak habis air
mineralnya, Haruka melemparkan sebotol air kepada Setsu.
“Bukan yang ini.”
Setsu merampas botol air milik Haruka, lalu meminumnya tepat di bekas bibir
gadis itu. Haruka menggelengkan kepala melihat tingkah aneh Setsu.
“Aku tidak
mengira kau suka berbagi sebotol air dengan orang lain.” Setsu mendesah lega
setelah menenggak habis sisa air dalam botol berukuran 1.8 lt itu.
“Tidak. Aku
tidak pernah berbagi apapun dengan orang lain.” Serunya sambil mengelap bibir
dengan ujung kausnya. Haruka hendak bangkit dari tanah ketika Setsu menarik
lengannya sehingga ia harus kembali duduk.
“Aku tidak berniat untuk mendengar
kelanjutan cerita dihidupmu,” katanya sambil menyentakkan tangan Setsu dari
pergelangan tangannya.
“Aku tidak akan bercerita. Aku hanya ingin kau istirahat
sejenak. Kita sudah berlatih lebih dari dua jam. Dan aku sangat lelah.” Haruka
tidak berkomentar apapun, ia kembali berdiri dan berlajan beberapa langkah untuk
mendekati sebatang pohon besar dan memanjatnya dengan gesit.
Tidak sampai lima
menit, gadis bertubuh mungil itu telah sampai di dahan yang tertinggi. Haruka
menghela napas panjang dan merebahkan tubuhnya di atas dahan besar itu. Ia
menatap langit yang sepi tanpa taburan bintang untuk menemani bulan di atas
sana.
“Kau dan aku sama… Sama–sama kesepian,” gumamnya.
“Bisa geser sedikit?”
Haruka tersentak dan duduk dengan kaget.
“Astaga, Setsu!” ucapnya.
“Kau buat
aku kaget.” Setsu mengangkat bahu sebelum merebahkan diri di samping Haruka.
“Aku juga tidak mau mati sia–sia di makan binatang pemburu jika tertidur di
bawah sana.” Sekali lagi Haruka menghela napas panjang dan merebahkan dirinya
di atas dahan pohon. Mereka hanya diam dan menatap lekat langit malam. Suata
jangkrik, burung hantu dan beberapa binatang malam lainnya menjadi pemecah
keheningan di antara mereka.
“Kenapa kau tidak pulang? Aku yakin ibumu sedang
cemas mencarimu sekarang.” Kata Haruka pada akhirnya.
“Percuma saja aku pulang.
Tidak ada siapa–siapa dirumah. Bukan hanya ayahku saja yang meninggal dalam
kecelakaan yang terjadi 3 tahun lalu, tapi juga ibu dan kakaku.” Sorot mata
Haruka berubah menjadi nanar, lalu ia mendesah pelan.
“Maafkan aku,” gumamnya.
“Tak masalah, lagi pula kau tidak tahu akan hal itu.”
“Aku tidak berfikir bahwa
ada orang yang bernasib sama denganku. Dan aku berharap tidak ada orang di luar
sana yang akan mengalaminya. Karena kehilangan seluruh anggota keluarga secara
bersamaan itu sangat menyakitkan.”
“Jika kau berjalan keluar desa dan memasuki
desa-desa yang terpencil. Maka kau akan menemukan banyak anak yang bernasib sama dengan kita. Bahkan ada yang lebih parah lagi, selain kehilangan seluruh
anggota keluarga, mereka juga harus kehilangan rumah dan hidup terlunta–lunta di
jalanan.” Haruka menghela napas berat dan memejamkan matanya.
“Aku tidak dapat
membayangkan betapa beratnya beban kehidupan mereka.”
“Ya! Dan aku rasa… mereka
jauh lebih hebat dan tangguh,dibandingkan kau dan aku.”
“Ya, kau benar.” Tumbuh
seorang diri dan kesepian bukanlah sebuah takdir, tetapi sebuah jalan hidup.
Kau tidak akan pernah kesepian jika membuka diri untuk dunia luar dan menyambut
uluran tangan seorang teman dalam hidupmu. Tidak ada manusia yang kesepian
selama mereka memiliki teman dan sahabat.
Hubungan seperti itu yang saat ini
tengah terjalin diantara Haruka dan Setsu tanpa mereka sadari. Setelah berlatih
setiap hari, hubungan diantara mereka semakin terjalin erat.
“Aku berfikir kau,
pemuda yang baik,” kata Haruka kepada Setsu.
“Ada satu hal yang ingin aku
tanyakan kepadamu. Kenapa kau selalu menatapku dengan lembut?” “Karena kau
adalah temanku…” jawab Setsu dengan suara lembut tapi mengisyaratkan ketegasan.
“Kau satu – satunya orang yang dapat menarik minatku untuk memeperhatikan
orang lain. Dan setelah aku memperhatikanmu, aku merasakan sesuatu yang aneh
dalam diriku… Saat melihatmu terluka, aku juga… Terluka.” Haruka menoleh dan
menatap Setsu.
“Kenapa?”
“Karena kau temanku…”
“Teman?”
“Ya!” Setsu mendesah
pelan.
“Setelah sebulan berlatih bersamamu. Aku dapat merasakan ikatan diantara
kita semakin terjalin dengan erat, dan aku mulai melihatmu sebagai keluargaku.
Aku tahu rasa sakit di hatimu tidak dapat disembuhkan dengan mudah… Tapi aku
yakin, kita dapat menyembuhkanya bersama…”
Haruka tertawa singkat, lalu kembali
menatap langit.
“Kau tahu… Kau adalah pemuda yang bodoh. Tidak ada seorangpun
yang mau berteman dengan gadis aneh seperti diriku… Aku… Aku tidak bisa
bersikap lembut kepada siapapun… Aku… gadis pendiam dan dingin yang tidak disukai
oleh para laki–laki diluar sana. Lalu mengapa kau malah menganggapku sebagai
teman?”
Setsu menoleh menatap Haruka dan tersenyum tipis. “Dasar Bodoh!”
Gumamnya.
“Kau adalah gadis yang menarik dan manis. Jangan pernah lagi pikirkan
perkataan orang lain dan percayalah dengan kemampuanmu sendiri.” Sekali lagi
Haruka menoleh menatap Setsu.
“Setsu,” gumamnya.
Setsu melebarkan senyumannya,
lalu berkata, “Mulai hari ini kau tidak lagi sendirian. Kau dan aku akan
menjalani hidup bersama–sama… Sehingga aku maupun kau, tidak akan merasa
kesepian lagi.” Setetes air mata jatuh dari sudut mata Haruka ketika ia
tersenyum. Setsu menjulurkan tangan dan menghapus air mata itu dengan ibu
jarinya.
“Duri yang ada di dalam hati, akan tercabut oleh uluran tangan seorang
sahabat,” tambahnya.
“Kau tidak akan kesepian lagi, aku janji padamu,” Setsu
mengangguk dan mengelus pipi Haruka dengan ibu jarinya.
“Dan aku dapat
menemukan jalan kerumah dengan jelas. Tidak harus takut lagi kesepian dirumah
yang besar.”
“Aku tidak harus makan ramen instan setiap hari karena takut
memasak dan makanannya terbuang sia–sia.
”Sesaat mereka merawang jauh ke masa
depan dan tertawa geli. Angin berhembus semakin kencang, Setsu menarik tubuh
Haruka kedalam pelukannya. Membiarkan kehangatan menjalari tubuh mereka yang
mulai membeku. Sehingga akhirnya mereka tertidur pulas di atas dahan pohon
sampai pagi menjelang dan kehidupan baru mereka akan segera di mulai.
-End-
Di
Tulis Oleh : ???
Penulis akan di hadirkan setelah anda berkomentar secara berkualitas.
Penulis : Yulia Roza



Comments
Post a Comment
Silahkan tulis komentar disini