Bedah Karya
Fatma
Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembacaUntuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.
ATURAN MAIN :
- Wajib baca sampai habis cerpen ini
- Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.
PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.
·
Cerpen tayang selama 24 Jam
· Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun
Fb kamu di email)
SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !
Fatma
Langit sore yang
menyejukkan mata. Siluet merah temaram yang sangat menawan, lengkap sudah kini,
dengan burung-burung yang berbondong-bondong kembali ke sarang. Angin bertiup
lembut. Menyibak helai kerudung putih yang mulai berwarna cokelat kusam.
Kerudung lusuh yang selalu setia terpakai guna menutup aurat gadis kecil bermata
coklat muda. Senja itu, sang gadis sedang bergeming di atas besar di tepi
pantai.
“Fatma!” Terdengar suara
lantang milik laki-laki bergelar Bapak. Fatma yang mendengar namanya dipanggil,
langsung beranjak sambil menenteng buku besar yang ia temukan di tumpukan
barang-barang rongsokan yang telah dikumpulkan oleh bapaknya. Bahkan kemanapun
gadis ini pergi, buku itu selalu ada di genggamannya.
“Ada apa, Pak?” tanya
Fatma dengan senyum menawan miliknya.
“Tolong bantu Bapak
memilah rongsok!” titah Sang Bapak. Tanpa berfikir lama Fatma mengangguk
mengiyakan. Begitu jelas terlihat dari mata Fatma, dia adalah gadis yang selalu
tulus mengerjakan apapun. Sehingga dia tetap bersyukur walau dia hanya tinggal
di rumah kecil yang terbuat dari bambu, bersama bapaknya saja.
Karena ibunya telah meninggal
saat melahirkannya. Memang terkadang ada siluet sedih di matanya. Saat melihat
gadis lain tertawa lepas bersama ibu mereka. Terlebih saat melihat anak-anak
yang seumuran dengannya sedang menenteng tas memakai seragam sekolah mereka,
hati Fatma sedikit merasakan kesedihan.
Tekadnya untuk sukses sangatlah kuat.
Hingga dia memutuskan, untuk belajar bersama alam yang selalu memeluknya.
Setiap hari, dia berjalan mengelilingi pantai. Menulis dari apa yang dia lihat
dengan bahasa sederhana yang ia tahu.
Ia belajar memahami alam
sekaligus bersyair. Sederhana saja, karena dia sangat mengagumi penyair atau
pujangga bernama Kahlil Gibran.
*
“Buku milik siapa ini?”
Suara perempuan dari kejauhan yang sampai ke telinga Fatma. Hingga Fatma baru
menyadari, kalau bukunya tidak ada di genggamannya. Seketika dia berlari ke
sumber suara.
“Itu buku saya,” ucap
Fatma sambil menunjuk bukunya yang masih berada di genggaman perempuan asing.
“Kamu bernama ... Fatma?”
perempuan itu membaca nama Fatma yang tertera di lembar pertama buku itu.
“Ya, saya Fatma.”
“Perkenalkan, saya
Fauziyah.” Fauziyah tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman
dengan Fatma, “Saya boleh membaca isinya, ‘kan?” tanya Fauziyah sambil menatap
lekat wajah Fatma yang sedang tersenyum.
“Tentu.” Fauziyah
mengajak Fatma untuk duduk. Mereka berbincang-bincang. Termasuk menanyakan
tentang pendidikan . sampai saat Fauziyah menanyakan tentang Pendidikan tingkat
apa yang kini sedang dijalani oleh Fatma. Membuat gadis bernanama Fatma itu
tersenyum dengan mata yang berbinar.
“Terakhir, Fatma sekolah
saat Fatma duduk di bangku kelas tiga SD, setelah itu Fatma tidak bisa
melanjutkan sekolah karena Bapak tidak bisa membiayai. Fatma sedih, tapi Fatma
yakin. Fatma bisa belajar, belajar dari apa yang telah Allah ciptakan. Sampai
kini Fatma benar-benar telah sadar, setiap ciptaan-Nya itu memiliki arti dan
alasan yang bisa kita pelajari,” jelas Fatma lalu menatap Fauziyah yang merasa
haru. Fauziyah yang mendengar penjelasan.
Fatma merasakan getaran
di hatinya. Karena dirinya sendiri yang kini sudah bergelar sarjana. Terkadang
belum bisa belajar dari apa yang telah Allah ciptakan.
Fauziyah yang kini
menjadi sarjana sastra. Menawari Fatma untuk menjadikan tulisannya menjadi
sebuah buku antologi. Di mana hasil penjualannya bisa dia gunakan untuk
kebutuhannya.
Fatma yang mendengar
kebaikan hati Fauziyah langsung berkaca-kaca dan seketika memeluk Fauziyah
dengan erat. Ada air mata kebahagiaan di wajah Fatma juga Fauziyah.
“Tentu ... Fatma mau.
Terima kasih Kak Fauziyah, Kakak begitu baik,” ucap Fatma masih memeluk erat
tubuh Fauziyah. Waktu terus berjalan, semenjak senja waktu itu. Buku Fatma
dijual di beberapa toko buku yang tersebar di kota itu.
Hingga lambat laun,
kini Fatma memiliki beberapa buku antologi. Bahkan kini dia mengajar sastra di
rumah sastra miliknya sendiri. Baginya, ilmunya yang hanya sedikit itu,
setidaknya bisa membantu mereka yang memiliki tekad ingin menggapai mimpi
mereka. Fatma, kini dikenal sebagai gadis yang memiliki karya hebat. Dia bisa
sukses seperti ini karena apa? karena tekadnya untuk sukses sangatlah kuat.
Dia serius menggapai
mimpinya, walau dia hanya bergurukan ciptaan-Nya. Buktinya dia saja bisa
sukses, apalagi yang belajar bersama guru dan ciptaan-Nya. Pasti, bisa lebih
sukses dari Fatma. Kuncinya, Ikhtiar (berusaha), Tawakal (menyerahkan semuanya
pada-Nya), dan Berdo’a.
- End -
Penulis akan di hadirkan
disesi terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur ceritanya, pertanyaan kamu
akan di jawab sekaligus disesi terakhir.



Puisinye keyen
ReplyDelete