Bedah Karya Cerita yang Belum Usai (Part 2)
Kelanjutannya cerita dari Cerita yang Belum Usai (Part 1)
Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa
menjelaskan isi tulisan kamu ke pembaca
Untuk Pembaca : Bisa
terinspirasi untuk segera membuat karya.
ATURAN MAIN :
·
Wajib
baca sampai habis cuplikan novel ini.
·
Fokuslah
pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan
langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24
jam.
·
PENULIS
UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB
PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.
·
Cerpen/novel
tayang selama 24 Jam
·
Kirim
cerpen/novel kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di
email)
Wanita Renta Berpikiran Kusut
3.842,9 kilometer dari
pria itu, duduklah seorang wanita yang sedang kelelahan. Menatap bintang
gemintang. Di sekelilingnya ramai, hiruk pikuk kendaraan lalu lalang. Juga
hilir mudik orang dengan kepentingan masing-masing. Entah itu menanti pesta
kembang api yang akan diadakan beberapa jam lagi, atau bersenda gurau dengan
orang-orang yang mereka sayangi. Entahlah, bukan urusan wanita renta itu.
Keringat menetes dengan
lamban di atas kulit berkerutnya. Dengan agak membungkuk, dia membagikan
selebaran yang telah lama dicetaknya. Entah hari keberapa dia melakukan
aktivitas ini. Tak kunjung memberi dampak yang berarti bagi kemajuan hidupnya.
Begini-begini saja hidupnya beberapa tahun terakhir.
Tak banyak yang
memperdulikan selebaran itu. Orang tentunya lebih sibuk dengan pesta kembang
api pada acara tahun baru ini. Berkumpul di Benteng Kuto Besak, tempat
bersejarah di Palembang. Gaduh suara musik menggema di atas panggung. Membuat
jantung berdetak kencang. Bukan waktu yang tepat memang. Tapi, tak ada lagi
yang bisa dilakukannya. Berbagai cara sudah ditempuh, tanpa hasil.
Ratusan petasan serempak
diletuskan di langit Palembang. Riuh gaduh suara orang-orang menyambut tahun
baru. Bertepuk tangan, berteriak, tertawa. Langit Palembang kian bercahaya,
indah sekali. Namun, seiring dengan letupan cahaya yang indah itu,
bintang-bintang pudar, cahayanya, tak terlihat. Bintang-bintang memang kadang
malu menampakkan kemilaunya di tengah keramaian. Seolah-olah lebih menyukai
kesunyian dan dipandangi oleh orang-orang kesepian dan merindu.
Tubuh renta itu memang
tidak semuda usianya yang baru lima puluh tahun. Pikiran yang terlalu kusut
membuat badan dan pikirannya menua lebih cepat. Ia kini hanya tersenyum tipis
melihat gemerlap cahaya kembang api. Masih berkutat dengan selebaran di
tangannya. Gamis hijaunya gemulai mengkuti gerak tubuh langsing ringkih itu.
Perhatiannya kini
tertuju pada Jembatan Ampera yang berdiri megah membelah Sungai Musi.
Menyatukan seberang ulu dan seberang ilir. Bagian tengah jembatan itu dulunya
bisa diangkat ke atas dengan dua bandul pemberat di dua menaranya. Hal itu agar
tiang kapal yang ada di bawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bila bagian
tengah diangkat, Kapal dengan tinggi maksimum 44,5 meter bisa mengarungi Sungai
Musi. Namun sayang, itu dulu, dia pun tak pernah melihatnya secara langsung.
Hanya dari buku sejarah dan cerita.
Seorang gadis kecil
kepang dua tersenyum manis, menggapai tangan keriputnya yang sedang
ditangkupkan di dagu. Memberi selembar tisu untuk wanita renta itu. Berkata
nenek jangan menangis. Wanita itu tersenyum. Mencubit lembut kedua pipi gembul
gadis kecil itu. Lalu mengusap airmata di pelupuk mata tuanya.
Gadis itu berlari kecil
ke arah orangtuanya yang sedang mengamati adegan putrinya dengan wanita renta
itu. Berjalan meninggalkan wanita itu yang duduk termangu di sudut keraimaian
orang-orang.
Ah, indah sekali melihat
mereka bertiga. Terkenang olehnya masa-masa bersama suami dan putri kecil
mereka. Sayang, kebahagian itu hanya sekejap dikecapnya. Semuanya kini sudah
terbang jauh meninggalkannya.
Ditatapnya selebaran di
tangan kirinya. Rindu dan penyesalan menyelimuti tubuh langsing ringkih itu.
Diusapnya airmata yang terjatuh lagi dengan tisu pemberian gadis kecil tadi.
Seandainya kejadian itu tak pernah terjadi. Seandainya dia bisa merubah
keadaan.
Terkadang ia masih
bingung mengenai definisi sebuah takdir. Mengapa nasib malang selalu menimpanya.
Padahal ia selalu berusaha keras. Mengerjakan kebaikan sesuai perintah dan
tuntunan agama. Mengapa rasanya Tuhan benar-benar tidak adil terhadap dirinya.
Sungguh dosa besar apa
yang telah dilakukannya. Hingga rasanya ujian bertubi-tubi datang dalam hidup.
Seolah berlomba-lomba menggerogoti tubuh dan pikirannya.
Ditatapnya kembali
langit yang kini gelap lagi. Kilauan cahaya kembang api itu sudah hilang. Tapi
bintang tak banyak muncul. Hanya satu dua. Ia menatap kecewa. Kebahagiaan
sederhananya tadi menghilang. Bintang-bintang yang indah tadi menghilang.
Ia berjalan pulang. Yang
lain juga sudah beranjak pergi dari keramaian pesta kembang api di Benteng Kuto
Besak. Rumahnya di dekat sini. Cukup berjalan kaki. Selebaran yang dibawanya
tadi habis. Dibagi-bagikan ke orang yang datang. Meski setelahnya hanya
dibuang, menjadi sampah berserakan.
Sepanjang berjalan,
pikirannya kusut. Berharap banyak pada selebaran yang dibagikannya tadi.
Meskipun sangat kecil kemungkinan kalau selebaran itu dapat membantu, tapi
tetap saja dia berharap. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Dia percaya bahwa
Tuhan Maha Kuasa. Bisa mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Yang lupa
menjadi ingat. Yang keras menjadi lunak.
Kelanjutan cerita di : Cerita yang Belum Usai (Part 3)



Comments
Post a Comment
Silahkan tulis komentar disini