Skip to main content

BEKAR | Bedah Karya #8 Cerita yang Belum Usai (Part 2)

 Bedah Karya Cerita yang Belum Usai (Part 2)



Kelanjutannya cerita dari Cerita yang Belum Usai (Part 1)

Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembaca
Untuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.

ATURAN MAIN :
·         Wajib baca sampai habis cuplikan novel ini.
·         Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.

·         PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.

·         Cerpen/novel tayang selama 24 Jam

·         Kirim cerpen/novel kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)

SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !

Wanita Renta Berpikiran Kusut


3.842,9 kilometer dari pria itu, duduklah seorang wanita yang sedang kelelahan. Menatap bintang gemintang. Di sekelilingnya ramai, hiruk pikuk kendaraan lalu lalang. Juga hilir mudik orang dengan kepentingan masing-masing. Entah itu menanti pesta kembang api yang akan diadakan beberapa jam lagi, atau bersenda gurau dengan orang-orang yang mereka sayangi. Entahlah, bukan urusan wanita renta itu.

Keringat menetes dengan lamban di atas kulit berkerutnya. Dengan agak membungkuk, dia membagikan selebaran yang telah lama dicetaknya. Entah hari keberapa dia melakukan aktivitas ini. Tak kunjung memberi dampak yang berarti bagi kemajuan hidupnya. Begini-begini saja hidupnya beberapa tahun terakhir.

Tak banyak yang memperdulikan selebaran itu. Orang tentunya lebih sibuk dengan pesta kembang api pada acara tahun baru ini. Berkumpul di Benteng Kuto Besak, tempat bersejarah di Palembang. Gaduh suara musik menggema di atas panggung. Membuat jantung berdetak kencang. Bukan waktu yang tepat memang. Tapi, tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Berbagai cara sudah ditempuh, tanpa hasil.

Ratusan petasan serempak diletuskan di langit Palembang. Riuh gaduh suara orang-orang menyambut tahun baru. Bertepuk tangan, berteriak, tertawa. Langit Palembang kian bercahaya, indah sekali. Namun, seiring dengan letupan cahaya yang indah itu, bintang-bintang pudar, cahayanya, tak terlihat. Bintang-bintang memang kadang malu menampakkan kemilaunya di tengah keramaian. Seolah-olah lebih menyukai kesunyian dan dipandangi oleh orang-orang kesepian dan merindu.

Tubuh renta itu memang tidak semuda usianya yang baru lima puluh tahun. Pikiran yang terlalu kusut membuat badan dan pikirannya menua lebih cepat. Ia kini hanya tersenyum tipis melihat gemerlap cahaya kembang api. Masih berkutat dengan selebaran di tangannya. Gamis hijaunya gemulai mengkuti gerak tubuh langsing ringkih itu.

Perhatiannya kini tertuju pada Jembatan Ampera yang berdiri megah membelah Sungai Musi. Menyatukan seberang ulu dan seberang ilir. Bagian tengah jembatan itu dulunya bisa diangkat ke atas dengan dua bandul pemberat di dua menaranya. Hal itu agar tiang kapal yang ada di bawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bila bagian tengah diangkat, Kapal dengan tinggi maksimum 44,5 meter bisa mengarungi Sungai Musi. Namun sayang, itu dulu, dia pun tak pernah melihatnya secara langsung. Hanya dari buku sejarah dan cerita.

Seorang gadis kecil kepang dua tersenyum manis, menggapai tangan keriputnya yang sedang ditangkupkan di dagu. Memberi selembar tisu untuk wanita renta itu. Berkata nenek jangan menangis. Wanita itu tersenyum. Mencubit lembut kedua pipi gembul gadis kecil itu. Lalu mengusap airmata di pelupuk mata tuanya.

Gadis itu berlari kecil ke arah orangtuanya yang sedang mengamati adegan putrinya dengan wanita renta itu. Berjalan meninggalkan wanita itu yang duduk termangu di sudut keraimaian orang-orang.

Ah, indah sekali melihat mereka bertiga. Terkenang olehnya masa-masa bersama suami dan putri kecil mereka. Sayang, kebahagian itu hanya sekejap dikecapnya. Semuanya kini sudah terbang jauh meninggalkannya.

Ditatapnya selebaran di tangan kirinya. Rindu dan penyesalan menyelimuti tubuh langsing ringkih itu. Diusapnya airmata yang terjatuh lagi dengan tisu pemberian gadis kecil tadi. Seandainya kejadian itu tak pernah terjadi. Seandainya dia bisa merubah keadaan.

Terkadang ia masih bingung mengenai definisi sebuah takdir. Mengapa nasib malang selalu menimpanya. Padahal ia selalu berusaha keras. Mengerjakan kebaikan sesuai perintah dan tuntunan agama. Mengapa rasanya Tuhan benar-benar tidak adil terhadap dirinya.

Sungguh dosa besar apa yang telah dilakukannya. Hingga rasanya ujian bertubi-tubi datang dalam hidup. Seolah berlomba-lomba menggerogoti tubuh dan pikirannya.

Ditatapnya kembali langit yang kini gelap lagi. Kilauan cahaya kembang api itu sudah hilang. Tapi bintang tak banyak muncul. Hanya satu dua. Ia menatap kecewa. Kebahagiaan sederhananya tadi menghilang. Bintang-bintang yang indah tadi menghilang.

Ia berjalan pulang. Yang lain juga sudah beranjak pergi dari keramaian pesta kembang api di Benteng Kuto Besak. Rumahnya di dekat sini. Cukup berjalan kaki. Selebaran yang dibawanya tadi habis. Dibagi-bagikan ke orang yang datang. Meski setelahnya hanya dibuang, menjadi sampah berserakan.

Sepanjang berjalan, pikirannya kusut. Berharap banyak pada selebaran yang dibagikannya tadi. Meskipun sangat kecil kemungkinan kalau selebaran itu dapat membantu, tapi tetap saja dia berharap. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Dia percaya bahwa Tuhan Maha Kuasa. Bisa mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Yang lupa menjadi ingat. Yang keras menjadi lunak.


Dia percaya bahwa Tuhan Maha Pembolak-balik Hati. Percaya dan berharap, hanya itu yang tersisa.





Kelanjutan cerita di : Cerita yang Belum Usai (Part 3)

Comments

Popular posts from this blog

HeksaGraf - Sastra Enam Paragraf diciptakan oleh Jisa Afta

HeksaGraf atau Sastra Enam Paragraf, merupakan seni sastra berbentuk cerpen enam paragraf yang diciptakan oleh seorang penulis bernama Jisa Afta. Kata HeksaGraf merupakan kata baru yang disusun oleh Jisa Afta. Kata HeksaGraf dibentuk dengan menggabungkan dua kata yaitu diambil dari kata "Hexa" (Yunani: enam)  dan "graf" (tulisan/paragraf). Ciri dan Struktur HeksaGraf Cerpen enam paragraf atau sastra pendek enam paragraf memiliki ciri dan struktur sebagai berikut: Ciri HeksaGraf - Struktur enam paragraf - Maksimal 555 kata - Tiap paragraf maksimal 1 dialog atau tanpa dialog Struktur HeksaGraf 1. Paragraf Pertama - Pembukaan (Opening) 2. Paragraf Kedua - Konflik (Problem) 3. Paragraf Ketiga - Penyelesaian / Penutup (Resolution or Ending) 4. Paragraf Keempat - Kondisi Tokoh Saat pasca Ending  5. Paragraf Kelima - Plot Twist (menghasilkan penyangkalan Resolution di paragraf 3) 6. Paragraf Keenam -- Klimaks - Konklusi final atau Ending yang Menggantung (tanpa resolusi). ...

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI | Oleh : Tea Terina

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI Membaca judulnya memang menimbulkan penafsiran yaitu bangga memiliki buku puisi karya sendiri atau bangga memiliki buku puisi karena membeli. Perasaan terakhirlah yang dialami  Mila Putri , siswa SMPN 2 Pagak yang masih kelas 7. Penyuka puisi sejak SD tetapi merasa belum bisa menulis puisi dengan baik ini, merasa bangga dan senang setelah menerima kiriman buku Nazam Tak Berdahak karya  Jisa Afta . Sebagai guru saya ingin mengetahui kesannya setelah memb aca buku tersebut. Saya beri waktu kurang lebih 3 hari. Apa komentarnya? Indah, bahasanya banyak yang imajinatif dan penuh makna tetapi ada bagian yang belum dipahaminya. Saya paham jawabannya karena ia masih perlu belajar untuk mengenali puisi khas Kitab Semilir karya Jisa Afta.  Saya berharap setelah membaca seluruh isi buku itu, ia bisa belajar menulis puisi tanpa menunggu sampai di kelas 8 karena di kls 8 ada materi pembelajaran Teks Puisi. Dan ia punya pilihan menulis puis...

Perbedaan Terkenal dan Hebat

Orang terkenal, belum tentu hebat. Orang yang disukai banyak orang, belum tentu hebat. Orang yang populer belum tentu hebat. Sebab bisa jadi seseorang terkenal karena perilaku uniknya yang tidak mendidik Atau bisa jadi seseorang disukai banyak orang karena ia berwajah tampan atau cantik saja Dan bisa saja seseorang populer karena melakukan penistaan agama, misalnya. Sebelum anda menjadi penulis, apa tujuan anda? Menjadi orang terkenal atau orang hebat? Buku ini akan menjadikan anda hebat, bukan terkenal. Hebat dalam pengertian buku ini adalah Anda menjadi penulis untuk di kagumi pembaca. Bukan untuk menjadi populer. Lalu anda bertanya dalam hati, “untuk apa hebat kalau tidak populer?” Jawabannya nanti di pertengahan buku ini. Sudah siapkah anda menjadi penulis hebat? Mari kita mulai,