Bedah Karya
Kelanjutan cerita dari : Cerita yang Belum Usai (Part 2)
Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembacaUntuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.
ATURAN MAIN :
- Wajib baca sampai habis cuplikan novel ini.
- Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.
·
PENULIS
UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB
PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.
·
Cerpen/novel
tayang selama 24 Jam
·
Kirim
cerpen/novel kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di
email)
SELAMAT
MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !
Dia Berjanji Tak Akan Menangis Seumur Hidupnya
Gadis belia berbaju
putih dengan wajah bersih tanpa noda mendekati pria berwajah muram itu.
Mengajaknya untuk duduk di kursi taman di seberang sana. Lihatlah, kembang api
mengembang indah di angkasa. Sangat menakjubkan untuk dilihat dibandingkan foto
usang itu.
Tapi seribu kali diajak untuk dihibur, maka seribu kali pula pria
berwajah muram itu menggeleng. Anehnya, gadis itu tak pernah bosan memberinya
semangat. Ia sendiri bingung dengan foto yang selalu digenggam pria itu.
Sedikitpun tak mengetahui asal muasalnya. Pria itu selalu muram ketika melihat
foto itu.
Pria itu pun sudah lima
tahun memilih berhenti bicara. Sepatah katapun. Apalagi menangis, pantang
baginya sejak baknya pergi. Apapun keadaan yang menimpa dirinya, dia tak pernah
menangis. Foto yang seharusnya menimbulkan deraian airmata bagi siapa saja, tak
pernah berhasil membuatnya melupakan janji pada bak untuk tidak menangis.
Lagipula, siapa pula yang tahu tentang foto ini. Bahkan orang disinipun tidak
mengenalnya dengan baik. Hanya pria muram, tak pernah bicara.
Pria ini begitu
tegar memendam perasaan-perasaan pelik di hatinya. Menyimpan rapat-rapat
kegelisahannya. Meskipun tidak bisa benar-benar rapat. Wajah muram yang
benar-benar tak biasa membuatnya tampak berbeda dari orang kebanyakan.
Seharusnya, alangkah lebih baiknya jika kesedihan diluapkan dengan tangis.
Sungguh sesak di dadanya karena semua itu tak pernah terluap. Bertahun-tahun
menghigapi hati. Membuat hati makin rusak yang menggiring badan juga ikut
rusak.
Namun tidak dengan pria
itu, badannya tetap gagah meskipun hatinya sudah rusak. Hanya saja, itu membuat
mata, telinga, serta mulutnya juga seakan rusak. Tak ada rasa, warna, aroma
yang menghiasi hidupnya. Matanya tak mampu memandang apa yang indah dan
menyeramkan. Telinganya tak mampu lagi mendengar ajakan atau celotehan orang
lain. Juga mulutnya, lidahnya kelu, tak dapat berkata satu patah katapun. Bukan
tak mampu, tapi dia enggan.
Suara petasan mulai meledak-ledak di angkasa. Sama
seperti langit Palembang, bintang-bintang disini juga terbirit-birit menghilang
karena kilauan cahaya merah di angkasa. Seolah merasa terganggu. Pria gagah itu
masih kukuh dengan kursi putihnya.
Gadis belia yang mengajaknya
tadi mungkin sedang menikmati indahnya pesta kembang api. Foto itu kian lusuh
karena terus diremuknya. Gambarnya mulai pudar. Namun untunglah kedua wajah
anak kecil di foto itu masih jelas terlihat. Masih bisa dipandang oleh pria
itu.
Pemuda ceking berkaus kuning kini mendekati kursi putihnya. Mengusik.
Berusaha merebut foto usang milik pria gagah itu. Pria itu marah, bersiap
meninju. Tapi pemuda ceking itu sudah lari terbirit-birit. Menganggu saja. Kali
ini gadis berkuncir dua mendekatinya. Mencubit pipi si wajah murung itu. Pria
itu menghalau tangan gadis itu, Merasa terganggu, melotot marah. Gadis itu
seakan tak takut. Pria gagah kini beranjak dari kursi putihnya. Berjalan menuju
kamarnya, meninggalkan gadis yang tampak sedih itu. Kini dia melamun lagi,
teringat pesan terakhir baknya.
“Kau jangan jadi anak
cengeng. Jangan pernah menangis, apapun keadaannya!”
Sungguh dia sudah mematuhi
pesan baknya hingga sekarang. Tapi dia masih bingung dengan kelanjutan dongeng
yang diceritakan baknya sebelum pergi.
Pertanyaan itu tak
kunjung terjawab. Entah kapan dan bagaimana. Ia juga tak mengerti. Pria gagah
itu berbaring di ranjangnya. Hujan kini turun. Pasti pesta kembang api disana
jadi kacau. Pria itu menarik selimut garis-garis miliknya. Memutuskan untuk tidur
daripada diganggu gadis berkuncir dua dan pemuda ceking berkaus kuning tadi.
Kelanjutan ceritanya di : Cerita yang Belum Usai (Part 4)



Comments
Post a Comment
Silahkan tulis komentar disini