Friday, 27 October 2017

BEKAR | Bedah Karya #8 Cerita yang Belum Usai (Part 3)

Bedah Karya
Cerita yang Belum Usai (Part 3)





Kelanjutan cerita dari : Cerita yang Belum Usai (Part 2)
Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembacaUntuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.


    ATURAN MAIN :
  •    Wajib baca sampai habis cuplikan novel ini.
  •   Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.


·         PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.

·         Cerpen/novel tayang selama 24 Jam

·         Kirim cerpen/novel kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)



SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI ! 

Dia Berjanji Tak Akan Menangis Seumur Hidupnya

Gadis belia berbaju putih dengan wajah bersih tanpa noda mendekati pria berwajah muram itu. Mengajaknya untuk duduk di kursi taman di seberang sana. Lihatlah, kembang api mengembang indah di angkasa. Sangat menakjubkan untuk dilihat dibandingkan foto usang itu. 

Tapi seribu kali diajak untuk dihibur, maka seribu kali pula pria berwajah muram itu menggeleng. Anehnya, gadis itu tak pernah bosan memberinya semangat. Ia sendiri bingung dengan foto yang selalu digenggam pria itu. Sedikitpun tak mengetahui asal muasalnya. Pria itu selalu muram ketika melihat foto itu.

Pria itu pun sudah lima tahun memilih berhenti bicara. Sepatah katapun. Apalagi menangis, pantang baginya sejak baknya pergi. Apapun keadaan yang menimpa dirinya, dia tak pernah menangis. Foto yang seharusnya menimbulkan deraian airmata bagi siapa saja, tak pernah berhasil membuatnya melupakan janji pada bak untuk tidak menangis. Lagipula, siapa pula yang tahu tentang foto ini. Bahkan orang disinipun tidak mengenalnya dengan baik. Hanya pria muram, tak pernah bicara. 

Pria ini begitu tegar memendam perasaan-perasaan pelik di hatinya. Menyimpan rapat-rapat kegelisahannya. Meskipun tidak bisa benar-benar rapat. Wajah muram yang benar-benar tak biasa membuatnya tampak berbeda dari orang kebanyakan. Seharusnya, alangkah lebih baiknya jika kesedihan diluapkan dengan tangis. Sungguh sesak di dadanya karena semua itu tak pernah terluap. Bertahun-tahun menghigapi hati. Membuat hati makin rusak yang menggiring badan juga ikut rusak.

Namun tidak dengan pria itu, badannya tetap gagah meskipun hatinya sudah rusak. Hanya saja, itu membuat mata, telinga, serta mulutnya juga seakan rusak. Tak ada rasa, warna, aroma yang menghiasi hidupnya. Matanya tak mampu memandang apa yang indah dan menyeramkan. Telinganya tak mampu lagi mendengar ajakan atau celotehan orang lain. Juga mulutnya, lidahnya kelu, tak dapat berkata satu patah katapun. Bukan tak mampu, tapi dia enggan. 

Suara petasan mulai meledak-ledak di angkasa. Sama seperti langit Palembang, bintang-bintang disini juga terbirit-birit menghilang karena kilauan cahaya merah di angkasa. Seolah merasa terganggu. Pria gagah itu masih kukuh dengan kursi putihnya.

Gadis belia yang mengajaknya tadi mungkin sedang menikmati indahnya pesta kembang api. Foto itu kian lusuh karena terus diremuknya. Gambarnya mulai pudar. Namun untunglah kedua wajah anak kecil di foto itu masih jelas terlihat. Masih bisa dipandang oleh pria itu. 

Pemuda ceking berkaus kuning kini mendekati kursi putihnya. Mengusik. Berusaha merebut foto usang milik pria gagah itu. Pria itu marah, bersiap meninju. Tapi pemuda ceking itu sudah lari terbirit-birit. Menganggu saja. Kali ini gadis berkuncir dua mendekatinya. Mencubit pipi si wajah murung itu. Pria itu menghalau tangan gadis itu, Merasa terganggu, melotot marah. Gadis itu seakan tak takut. Pria gagah kini beranjak dari kursi putihnya. Berjalan menuju kamarnya, meninggalkan gadis yang tampak sedih itu. Kini dia melamun lagi, teringat pesan terakhir baknya.

“Kau jangan jadi anak cengeng. Jangan pernah menangis, apapun keadaannya!” 

Sungguh dia sudah mematuhi pesan baknya hingga sekarang. Tapi dia masih bingung dengan kelanjutan dongeng yang diceritakan baknya sebelum pergi.

Pertanyaan itu tak kunjung terjawab. Entah kapan dan bagaimana. Ia juga tak mengerti. Pria gagah itu berbaring di ranjangnya. Hujan kini turun. Pasti pesta kembang api disana jadi kacau. Pria itu menarik selimut garis-garis miliknya. Memutuskan untuk tidur daripada diganggu gadis berkuncir dua dan pemuda ceking berkaus kuning tadi.






Kelanjutan ceritanya di : Cerita yang Belum Usai (Part 4)