Friday, 27 October 2017

BEKAR | Bedah Karya #8 Cerita yang Belum Usai (Part 1)

Bedah Karya
Certa yang Belum Usai (Part 1)



Hai teman2 ada yg spesial kali ini, kalian akan membedah sebuah novel, berikut adalah isi novelnya :

Dia Gila - Percayalah - Wanita Renta Berpikiran Kusut - Dia Berjanji Tak Akan Menangis - Seumur Hidupnya - Dia Berjanji Tak Akan Menangis Seumur Hidupnya - Bocah Ingusan yang Nakal - Cerdas Tanpa Harus Belajar - Melawan Hanya Jika Diganggu - Rotasi Kehidupan - Kota Baru - Kalangan - Anak-anak Bak - Hentikan - Kutu Busuk yang Berterbangan di Kelas - Masjid Agung - Kereta Api, Aku Jatuh Hati - Hidup Baru - Masa Paling Indah, Katanya - Tak Pernah Kembali - Bunaken - Gayung Bersambut - Dia Gila - Jawaban dari Bak - Siapa Kamu - Kembali

Bukan Sinopsis ( Hanya Asumsi Saya ) :
Gambaran dua orang kakak beradik. Si adik hidupnya mewah, miliarder, padahal dia selalu berbohong dan pemalas. Si kakak yang sangat rajin malah tidak berhasil menggapai impiannya. Si kakak dan adik yang biasanya didongengkan dan diberi nasihat oleh baknya setiap malam ini mempertanyakan apakah perkataan baknya benar, apa Tuhan benar2 adil.

Kisah ini belum usai...S
Maksud cerita yang blum usai itu, bapaknya janji untuk melanjutkan cerita/dongeng kepada alfa, tapi bapaknya ternyata meninggal sebelum melanjutkan dongeng itu. Jadi seumur hidup, alfa bertanya kelanjutan cerita bapaknya itu.

Kami akan menampilkan beberapa cuplikan dari isi novel tersebut .

Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembacaUntuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.

     ATURAN MAIN :
·         Wajib baca sampai habis cuplikan novel ini.
·         Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.


·   PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.

·         Cerpen/novel tayang selama 24 Jam

·         Kirim cerpen/novel kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)

SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !

Cerita Yang Belum Usai


Pria Gagah Berwajah Muram

Sudah berjam-jam dia duduk di kursi putih, tempat favoritnya beberapa tahun terakhir. Digenggamnya erat selembar foto usang. Menatap itu saja pekerjaannya berhari-hari. Pria gagah itu suntuk seharian. Bukan hanya karna foto itu, hatinya kosong, tak tentu arah. Tak ada semangat sedikitpun. Kerinduan pada bak* yang selalu memberi petuah bijak setiap pulang ke rumah membawa pikirannya terbang pada masa berpuluh tahun yang lalu.

Di ruang tengah rumah papan sebuah desa, bak mengumpulkan anak-anaknya. Setelah selesai shalat maghrib dan mengaji, bak akan selalu menghadiahkan mereka sebuah cerita. Anak-anaknya duduk bersila di hadapan baknya. Mendengarkan dengan seksama. Lalu, mulailah bak bercerita.

Ratusan tahun yang lalu, di daerah uluan sana, berdiri sebuah kerajaan kecil. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang poyang, gabungan dari kata Empu dan Hyang. Di zaman Kesultanan Palembang itu, poyang dianggap sebagai raja kecil dan diberi pangkat Rangga/Temenggung.

Suatu hari, poyang ingin mencari pemuda jujur yang akan dititipkan harta benda serta keluarganya sehari dua hari. Dia harus pergi jauh untuk menghadiri pemilihan pasirah di kerajaan seberang. Pasirah itu kelak akan menjadi pemimpin marga, persatuan para poyang-poyang.

Maka disarankan oleh pengawalnya dua orang pemuda terpandang yang diyakini sesuai keinginan poyang. Pemuda itu bernama Adi dan Pati, saudara kandung. Konon, kedua watak mereka jauh berbeda. Tapi poyang tentu tidak tahu mana yang berwatak jujur.

Pemuda itu masing-masing diberi kotak dari kayu. Diatasnya ditutup kain tipis berwarna hitam.

“Kotak ini harus kalian jaga. Jika utusanku datang menjemput kalian besok, maka ikutlah dengannya menuju istana. Jangan sekalipun kalian buka sebelum pagi menjelang. Sesungguhnya aku akan tahu siapa yang membukanya sebelum itu,” poyang menjelaskan dengan tegas.

Adi ditempatkan di sebelah barat kerajaan. Sedangkan Pati ditempatkan di sebelah timur. Setelah itu, poyang meninggalkan mereka menuju istana untuk beristirahat. Besok, ia akan menemui kedua pemuda itu, memilih salah satu dari mereka. Menitipkan harta dan keluarganya, kemudian memenuhi undangan ke kerajaan seberang.

Di sebelah barat kerajaan sana, Adi duduk bersila dengan kotak kayu di hadapannya. Menahan kantuk demi menjaga kotak itu. Tidak pula disentuhnya kotak itu sama sekali, sesuai perintah poyang.

Di sebalah timur sana, Pati tengah tertelungkup, tertidur di dekat kotak kayu miliknya. Tadi sudah dibukanya kotak itu setelah poyang pergi. Hanya anak ayam kampung biasa. Mudah saja menggantinya jika hilang atau mati ketika dia tidur. Mana tahan dia tidak tidur semalam suntuk.

Ayam pun berkokok bersahutan, pertanda pagi sudah datang. Dibukalah kain tipis itu, sesuai perintah Poyang. Pati sungguh terkejut, ayam yang ditinggalnya tidur kini mati. Ah, mudah saja mencari ayam kampung di sekitar hutan ini. Ayam mati itu dibuangnya jauh-jauh, dan digantinya dengan yang lain, persis sama.

Masing-masing utusan poyang pun datang menjemput, kemudian dibawalah mereka ke istana. Menyerahkan kotak masing-masing kepadanya.

“Maafkan saya, Poyang. Ayam ini mati. Padahal saya jaga semalaman,” Adi memohon ampun pada poyang.

Pati tersenyum licik. Berpikir bahwa dialah pemenangnya.

“Bagaimana dengan kau, Pati?” Tanya poyang.

“Ayamnya masih hidup, Poyang. Sehat,” jawab Pati.

“Adi, sungguh kau pemuda yang jujur. Kaulah yang akan menjadi orang kepercayaanku sekarang. Aku titipkan ketiga anak dan istriku, juga harta bendaku,” poyang berujar.

“Bagaimana bisa, Poyang? Ini tidak adil,” Pati protes.

“Sudah jelas, Pati. Ayam dalam kotak itu memang sudah sakit. Maka semalam dia pasti akan mati. Sudah kubilang, sesungguhnya aku akan tahu pemuda mana yang jujur,” poyang menjelaskan.

Bak mengakhiri ceritanya, mulai bernasehat.

“Kejujuran akan mendatangkan kepercayaan. Jika kepercayaan itu hancur, akan menjadi seperti kain yang digunting. Selalu terlihat jahitannya jika disatukan kembali.”

“Anak-anakku, kelak kalian akan menyadari bahwa tidak ada kejujuran yang merugikan. Sepahit apapun itu, tegakkanlah.”

“Kan cuma menjaga keluarga dan harta poyang, Bak. Apa untungnya bagi Adi?” Pria gagah versi kecil itu bertanya. “Kadang kita terlalu menyepelekan hal kecil. Kau tahu, poyang sudah punya firasat buruk. Ia ditembak musuh di perjalanan menuju kerajaan seberang. Kearifannya yang digemari setiap orang tentu akan membuatnya terpilih sebagai pasirah. Musuh tak ingin itu terjadi. Adilah yang mewarisi harta dan keluarga poyang itu. Istri yang cantik nan sempurna dengan tiga anak perempuan yang tak kalah cantik itu diberikan poyang kepada Adi,” jelas Bak.

“Kita tidak boleh menyepelekan kejujuran ataupun kebohongan kecil. Mengira itu semua tak ada guna. Semua akan terlihat pada masanya,” Bak menambahkan.

Seketika, bayangan itu lenyap dari pikiran pemuda gagah itu. Itu satu-satunya nasehat bak yang sangat jarang dipatuhinya. Hanya sekali dua kali. Menyesal di kemudian.

Penulis akan di hadirkan disesi terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur ceritanya, pertanyaan kamu akan di jawab sekaligus disesi terakhir.



Kirim cerpen/novel kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email) 



Baca Kelanjutan ceritanya di : Cerita yang Belum Usai (Part 2)