Fatma
Langit
sore yang menyejukkan mata. Siluet merah temaram yang sangat menawan,
lengkap sudah kini, dengan burung-burung yang berbondong-bondong kembali
ke sarang. Angin bertiup lembut. Menyibak helai kerudung putih yang
mulai berwarna cokelat kusam. Kerudung lusuh yang selalu setia terpakai
guna menutup aurat gadis kecil bermata coklat muda. Senja itu, sang
gadis sedang bergeming di atas besar di tepi pantai.
“Fatma!”
Terdengar suara lantang milik laki-laki bergelar Bapak. Fatma yang
mendengar namanya dipanggil, langsung beranjak sambil menenteng buku
besar yang ia temukan di tumpukan barang-barang rongsokan yang telah
dikumpulkan oleh bapaknya. Bahkan kemanapun gadis ini pergi, buku itu
selalu ada di genggamannya.
“Ada apa, Pak?” tanya Fatma dengan senyum menawan miliknya.
“Tolong
bantu Bapak memilah rongsok!” titah Sang Bapak. Tanpa berfikir lama
Fatma mengangguk mengiyakan. Begitu jelas terlihat dari mata Fatma, dia
adalah gadis yang selalu tulus mengerjakan apapun. Sehingga dia tetap
bersyukur walau dia hanya tinggal di rumah kecil yang terbuat dari
bambu, bersama bapaknya saja. Karena ibunya telah meninggal saat
melahirkannya. Memang terkadang ada siluet sedih di matanya. Saat
melihat gadis lain tertawa lepas bersama ibu mereka. Terlebih saat
melihat anak-anak yang seumuran dengannya sedang menenteng tas memakai
seragam sekolah mereka, hati Fatma sedikit merasakan kesedihan. Tekadnya
untuk sukses sangatlah kuat. Hingga dia memutuskan, untuk belajar
bersama alam yang selalu memeluknya. Setiap hari, dia berjalan
mengelilingi pantai. Menulis dari apa yang dia lihat dengan bahasa
sederhana yang ia tahu.
Ia
belajar memahami alam sekaligus bersyair. Sederhana saja, karena dia
sangat mengagumi penyair atau pujangga bernama Kahlil Gibran.
*
“Buku
milik siapa ini?” Suara perempuan dari kejauhan yang sampai ke telinga
Fatma. Hingga Fatma baru menyadari, kalau bukunya tidak ada di
genggamannya. Seketika dia berlari ke sumber suara.
“Itu buku saya,” ucap Fatma sambil menunjuk bukunya yang masih berada di genggaman perempuan asing.
“Kamu bernama ... Fatma?” perempuan itu membaca nama Fatma yang tertera di lembar pertama buku itu.
“Ya, saya Fatma.”
“Perkenalkan,
saya Fauziyah.” Fauziyah tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk
bersalaman dengan Fatma, “Saya boleh membaca isinya, ‘kan?” tanya
Fauziyah sambil menatap lekat wajah Fatma yang sedang tersenyum.
“Tentu.”
Fauziyah mengajak Fatma untuk duduk. Mereka berbincang-bincang.
Termasuk menanyakan tentang pendidikan . sampai saat Fauziyah menanyakan
tentang Pendidikan tingkat apa yang kini sedang dijalani oleh Fatma.
Membuat gadis bernanama Fatma itu tersenyum dengan mata yang berbinar.
“Terakhir,
Fatma sekolah saat Fatma duduk di bangku kelas tiga SD, setelah itu
Fatma tidak bisa melanjutkan sekolah karena Bapak tidak bisa membiayai.
Fatma sedih, tapi Fatma yakin. Fatma bisa belajar, belajar dari apa yang
telah Allah ciptakan. Sampai kini Fatma benar-benar telah sadar, setiap
ciptaan-Nya itu memiliki arti dan alasan yang bisa kita pelajari,”
jelas Fatma lalu menatap Fauziyah yang merasa haru. Fauziyah yang
mendengar penjelasan
Fatma
merasakan getaran di hatinya. Karena dirinya sendiri yang kini sudah
bergelar sarjana. Terkadang belum bisa belajar dari apa yang telah Allah
ciptakan.
Fauziyah
yang kini menjadi sarjana sastra. Menawari Fatma untuk menjadikan
tulisannya menjadi sebuah buku antologi. Di mana hasil penjualannya bisa
dia gunakan untuk kebutuhannya.
Fatma
yang mendengar kebaikan hati Fauziyah langsung berkaca-kaca dan
seketika memeluk Fauziyah dengan erat. Ada air mata kebahagiaan di wajah
Fatma juga Fauziyah.
“Tentu
... Fatma mau. Terima kasih Kak Fauziyah, Kakak begitu baik,” ucap
Fatma masih memeluk erat tubuh Fauziyah. Waktu terus berjalan, semenjak
senja waktu itu. Buku Fatma dijual di beberapa toko buku yang tersebar
di kota itu. Hingga lambat laun, kini Fatma memiliki beberapa buku
antologi. Bahkan kini dia mengajar sastra di rumah sastra miliknya
sendiri. Baginya, ilmunya yang hanya sedikit itu, setidaknya bisa
membantu mereka yang memiliki tekad ingin menggapai mimpi mereka. Fatma,
kini dikenal sebagai gadis yang memiliki karya hebat. Dia bisa sukses
seperti ini karena apa? karena tekadnya untuk sukses sangatlah kuat.
Dia
serius menggapai mimpinya, walau dia hanya bergurukan ciptaan-Nya.
Buktinya dia saja bisa sukses, apalagi yang belajar bersama guru dan
ciptaan-Nya. Pasti, bisa lebih sukses dari Fatma. Kuncinya, Ikhtiar
(berusaha), Tawakal (menyerahkan semuanya pada-Nya), dan Berdo’a.
- End -
Penulis
akan di hadirkan disesi terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur
ceritanya, pertanyaan kamu akan di jawab sekaligus disesi terakhir.
Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com
Silahkan klik disini => BEKAR untuk gabung
