Friday, 27 October 2017

BEKAR | Bedah Karya #8 Cerita yang Belum Usai (Part 6, Cuplikan Terakhir)

Bedah Karya

Cerita yang Belum Usai (Part 6, Cuplikan Terakhir)





Kelanjutan cerita dari: Cerita yang Belum Usai (Part 5)

Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembacaUntuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.

         ATURAN MAIN :

·         Wajib baca sampai habis cuplikan novel ini. 
·         Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.

·         PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.

·         Cerpen/novel tayang selama 24 Jam

·         Kirim cerpen/novel kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)

SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !

Hentikan


“Percuma kau tatap foto itu, Fa. Tak ada yang bisa merubah sejarah,” pria berjubah biru datang, membuyarkan lamunan panjangnya.

“Percuma kau menagih jawaban dengan bakmu. Dia sudah lama meninggal. Mungkin saatnya kau menjawabnya sendiri atau berhenti mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan itu,” pria berjubah biru berujar prihatin.

Pria gagah berwajah murung yang bernama Alfa itu melotot, tak senang dengan perkataan pria berjubah biru itu. Berjalan gontai meninggalkan pria yang sengaja mengunjunginya beberapa kali terakhir. Datang, mengucapkan kalimat yang sama.

Alfa makin merasa terusik. Padahal niat pria berbaju biru itu sungguh baik. Tapi siapa yang mampu menaklukan Alfa. Tak ada satupun. Alfa yang keras kepala itu kini duduk di kursi taman. Mengenggam erat foto bersejarah itu. Orang-orang sok suci itu dengan teganya menghakiminya. Membuat dendam tiada ampun.

“Bisakah kau tidak menghabiskan umurmu untuk hal yang tidak penting itu. Bisakah kau mencoba memaafkan!” pria berjubah biru itu menyusul dan menyergap Alfa.

“Dendam lama itu kian menggumpal, membunuhmu secara perlahan, habis umurmu. Mati membawa dendam!” pria itu menghardik lagi. Cara halus tak akan dapat melunakkan Alfa. Alfa mengacungkan kepalan tangannya. Meninju pria itu tanpa ampun. Pria itu diam tanpa melawan. Membiarkan Alfa mengeluarkan emosinya. Heboh semua orang. Gadis belia datang. Menyuntikkan cairan penenang pada Alfa. Alfa mulai lunak. Pria berjubah biru yang babak belur itu berjanji tak akan pernah berhenti menyadarkan Alfa. Hidungnya berdarah, pipinya lebam.

“Aku akan membuktikan bahwa dendammu itu tak akan berujung, Fa,” pria berjubah itu melengos pergi.

Alfa menatap kosong langit-langit kamarnya. Kini dia dipasung karena berpotensi bahaya bagi orang lain. Emosinya tidak stabil, diam-diam meghanyutkan. Hal itulah yang membawanya melayang ke rumah sakit jiwa ini. Semua orang sudah menganggapnya gila. Diam seribu bahasa bertahun-tahun. Memukul jika merasa terganggu.

Rumah sakit jiwa itu kini hening lagi.

Pria ceking berkaus kuning yang semalam menganggunya kini mengintip pria terpasung itu lewat jendela. Tertawa cekikikan. Dialah yang paling jahil manganggu Alfa. Membuat Alfa selalu geram jika diganggu. Cukup sering tinjuan dilayangkannya ke pria ceking itu.

Gadis berkuncir dua kemudian masuk ke kamar Alfa. Wajahnya carut marut oleh bedak. Seenaknya membuka pintu. Tertawa cekikan. Mendekati Alfa. Mencium pipi Alfa dengan bibir penuh lipstick merahnya. Alfa meringis jijik. Tangan dan kakinya yang terpasung tak dapat menghindar.

Untung saja dia seorang wanita. Kalau pria, pasti sudah sering ditinjunya setiap kali berusaha mendekat dan ingin mencium pipinya. Mungkin dia naksir pria gagah empat puluh tiga tahun itu. Alfa hanya diam. Tentu tidak akan berteriak karena gadis ini. Dia sudah memilih bisu lima tahun yang lalu. Harus ditepati.

Gadis belia berbaju putih itu kini masuk ke kamar Alfa, mengusir perempuan berkuncir dua tadi. Mengancam nanti Alfa akan marah dan memutuskan hubungan dengannya. Maklum, dia sampai disini karena patah hati.

Sejak Alfa dimasukkan kesini, dia menganggap Alfalah pacarnya. Jadi tak heran kalau dia selalu menganggu pria murung itu. Pernah ingin dirobeknya foto kesayangan Alfa, hampir saja Alfa akan meninjunya, tapi tentu tak tega. Untunglah ada gadis belia berbaju putih tadi.
Kini kamarnya hening. Pikiran Alfa kosong, hatinya hampa, tak tahu maunya apa hati dan otaknya ini, ingin mati saja.


BELUM TAMAT

Penulis akan di hadirkan disesi terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur ceritanya, pertanyaan kamu akan di jawab sekaligus disesi terakhir.

Kirim cerpen/novel kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)