Bedah Karya
Cerita yang Belum Usai (Part 6, Cuplikan Terakhir)
Kelanjutan cerita dari: Cerita yang Belum Usai (Part 5)
Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembacaUntuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.
ATURAN MAIN :
· Wajib baca sampai habis cuplikan novel ini.
· Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.
·
PENULIS
UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB
PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.
·
Cerpen/novel
tayang selama 24 Jam
·
Kirim
cerpen/novel kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di
email)
SELAMAT
MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !
Hentikan
“Percuma kau tatap foto
itu, Fa. Tak ada yang bisa merubah sejarah,” pria berjubah biru datang,
membuyarkan lamunan panjangnya.
“Percuma kau menagih
jawaban dengan bakmu. Dia sudah lama meninggal. Mungkin saatnya kau menjawabnya
sendiri atau berhenti mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan itu,” pria berjubah
biru berujar prihatin.
Pria gagah berwajah
murung yang bernama Alfa itu melotot, tak senang dengan perkataan pria berjubah
biru itu. Berjalan gontai meninggalkan pria yang sengaja mengunjunginya
beberapa kali terakhir. Datang, mengucapkan kalimat yang sama.
Alfa makin merasa
terusik. Padahal niat pria berbaju biru itu sungguh baik. Tapi siapa yang mampu
menaklukan Alfa. Tak ada satupun. Alfa yang keras kepala itu kini duduk di
kursi taman. Mengenggam erat foto bersejarah itu. Orang-orang sok suci itu
dengan teganya menghakiminya. Membuat dendam tiada ampun.
“Bisakah kau tidak
menghabiskan umurmu untuk hal yang tidak penting itu. Bisakah kau mencoba
memaafkan!” pria berjubah biru itu menyusul dan menyergap Alfa.
“Dendam lama itu kian
menggumpal, membunuhmu secara perlahan, habis umurmu. Mati membawa dendam!”
pria itu menghardik lagi. Cara halus tak akan dapat melunakkan Alfa. Alfa
mengacungkan kepalan tangannya. Meninju pria itu tanpa ampun. Pria itu diam
tanpa melawan. Membiarkan Alfa mengeluarkan emosinya. Heboh semua orang. Gadis
belia datang. Menyuntikkan cairan penenang pada Alfa. Alfa mulai lunak. Pria
berjubah biru yang babak belur itu berjanji tak akan pernah berhenti
menyadarkan Alfa. Hidungnya berdarah, pipinya lebam.
“Aku akan membuktikan
bahwa dendammu itu tak akan berujung, Fa,” pria berjubah itu melengos pergi.
Alfa menatap kosong
langit-langit kamarnya. Kini dia dipasung karena berpotensi bahaya bagi orang
lain. Emosinya tidak stabil, diam-diam meghanyutkan. Hal itulah yang membawanya
melayang ke rumah sakit jiwa ini. Semua orang sudah menganggapnya gila. Diam
seribu bahasa bertahun-tahun. Memukul jika merasa terganggu.
Rumah sakit jiwa itu
kini hening lagi.
Pria ceking berkaus
kuning yang semalam menganggunya kini mengintip pria terpasung itu lewat
jendela. Tertawa cekikikan. Dialah yang paling jahil manganggu Alfa. Membuat
Alfa selalu geram jika diganggu. Cukup sering tinjuan dilayangkannya ke pria
ceking itu.
Gadis berkuncir dua
kemudian masuk ke kamar Alfa. Wajahnya carut marut oleh bedak. Seenaknya
membuka pintu. Tertawa cekikan. Mendekati Alfa. Mencium pipi Alfa dengan bibir
penuh lipstick merahnya. Alfa meringis jijik. Tangan dan kakinya yang terpasung
tak dapat menghindar.
Untung saja dia seorang
wanita. Kalau pria, pasti sudah sering ditinjunya setiap kali berusaha mendekat
dan ingin mencium pipinya. Mungkin dia naksir pria gagah empat puluh tiga tahun
itu. Alfa hanya diam. Tentu tidak akan berteriak karena gadis ini. Dia sudah
memilih bisu lima tahun yang lalu. Harus ditepati.
Gadis belia berbaju
putih itu kini masuk ke kamar Alfa, mengusir perempuan berkuncir dua tadi.
Mengancam nanti Alfa akan marah dan memutuskan hubungan dengannya. Maklum, dia
sampai disini karena patah hati.
Sejak Alfa dimasukkan
kesini, dia menganggap Alfalah pacarnya. Jadi tak heran kalau dia selalu
menganggu pria murung itu. Pernah ingin dirobeknya foto kesayangan Alfa, hampir
saja Alfa akan meninjunya, tapi tentu tak tega. Untunglah ada gadis belia
berbaju putih tadi.
Kini kamarnya hening.
Pikiran Alfa kosong, hatinya hampa, tak tahu maunya apa hati dan otaknya ini,
ingin mati saja.
BELUM TAMAT
Penulis akan di hadirkan
disesi terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur ceritanya, pertanyaan kamu
akan di jawab sekaligus disesi terakhir.
Kirim cerpen/novel kamu
ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)



Comments
Post a Comment
Silahkan tulis komentar disini