Skip to main content

BEKAR | Bedah Karya #8 Cerita yang Belum Usai (Part 6, Cuplikan Terakhir)

Bedah Karya

Cerita yang Belum Usai (Part 6, Cuplikan Terakhir)





Kelanjutan cerita dari: Cerita yang Belum Usai (Part 5)

Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembacaUntuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.

         ATURAN MAIN :

·         Wajib baca sampai habis cuplikan novel ini. 
·         Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.

·         PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.

·         Cerpen/novel tayang selama 24 Jam

·         Kirim cerpen/novel kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)

SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !

Hentikan


“Percuma kau tatap foto itu, Fa. Tak ada yang bisa merubah sejarah,” pria berjubah biru datang, membuyarkan lamunan panjangnya.

“Percuma kau menagih jawaban dengan bakmu. Dia sudah lama meninggal. Mungkin saatnya kau menjawabnya sendiri atau berhenti mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan itu,” pria berjubah biru berujar prihatin.

Pria gagah berwajah murung yang bernama Alfa itu melotot, tak senang dengan perkataan pria berjubah biru itu. Berjalan gontai meninggalkan pria yang sengaja mengunjunginya beberapa kali terakhir. Datang, mengucapkan kalimat yang sama.

Alfa makin merasa terusik. Padahal niat pria berbaju biru itu sungguh baik. Tapi siapa yang mampu menaklukan Alfa. Tak ada satupun. Alfa yang keras kepala itu kini duduk di kursi taman. Mengenggam erat foto bersejarah itu. Orang-orang sok suci itu dengan teganya menghakiminya. Membuat dendam tiada ampun.

“Bisakah kau tidak menghabiskan umurmu untuk hal yang tidak penting itu. Bisakah kau mencoba memaafkan!” pria berjubah biru itu menyusul dan menyergap Alfa.

“Dendam lama itu kian menggumpal, membunuhmu secara perlahan, habis umurmu. Mati membawa dendam!” pria itu menghardik lagi. Cara halus tak akan dapat melunakkan Alfa. Alfa mengacungkan kepalan tangannya. Meninju pria itu tanpa ampun. Pria itu diam tanpa melawan. Membiarkan Alfa mengeluarkan emosinya. Heboh semua orang. Gadis belia datang. Menyuntikkan cairan penenang pada Alfa. Alfa mulai lunak. Pria berjubah biru yang babak belur itu berjanji tak akan pernah berhenti menyadarkan Alfa. Hidungnya berdarah, pipinya lebam.

“Aku akan membuktikan bahwa dendammu itu tak akan berujung, Fa,” pria berjubah itu melengos pergi.

Alfa menatap kosong langit-langit kamarnya. Kini dia dipasung karena berpotensi bahaya bagi orang lain. Emosinya tidak stabil, diam-diam meghanyutkan. Hal itulah yang membawanya melayang ke rumah sakit jiwa ini. Semua orang sudah menganggapnya gila. Diam seribu bahasa bertahun-tahun. Memukul jika merasa terganggu.

Rumah sakit jiwa itu kini hening lagi.

Pria ceking berkaus kuning yang semalam menganggunya kini mengintip pria terpasung itu lewat jendela. Tertawa cekikikan. Dialah yang paling jahil manganggu Alfa. Membuat Alfa selalu geram jika diganggu. Cukup sering tinjuan dilayangkannya ke pria ceking itu.

Gadis berkuncir dua kemudian masuk ke kamar Alfa. Wajahnya carut marut oleh bedak. Seenaknya membuka pintu. Tertawa cekikan. Mendekati Alfa. Mencium pipi Alfa dengan bibir penuh lipstick merahnya. Alfa meringis jijik. Tangan dan kakinya yang terpasung tak dapat menghindar.

Untung saja dia seorang wanita. Kalau pria, pasti sudah sering ditinjunya setiap kali berusaha mendekat dan ingin mencium pipinya. Mungkin dia naksir pria gagah empat puluh tiga tahun itu. Alfa hanya diam. Tentu tidak akan berteriak karena gadis ini. Dia sudah memilih bisu lima tahun yang lalu. Harus ditepati.

Gadis belia berbaju putih itu kini masuk ke kamar Alfa, mengusir perempuan berkuncir dua tadi. Mengancam nanti Alfa akan marah dan memutuskan hubungan dengannya. Maklum, dia sampai disini karena patah hati.

Sejak Alfa dimasukkan kesini, dia menganggap Alfalah pacarnya. Jadi tak heran kalau dia selalu menganggu pria murung itu. Pernah ingin dirobeknya foto kesayangan Alfa, hampir saja Alfa akan meninjunya, tapi tentu tak tega. Untunglah ada gadis belia berbaju putih tadi.
Kini kamarnya hening. Pikiran Alfa kosong, hatinya hampa, tak tahu maunya apa hati dan otaknya ini, ingin mati saja.


BELUM TAMAT

Penulis akan di hadirkan disesi terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur ceritanya, pertanyaan kamu akan di jawab sekaligus disesi terakhir.

Kirim cerpen/novel kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email) 


Comments

Popular posts from this blog

HeksaGraf - Sastra Enam Paragraf diciptakan oleh Jisa Afta

HeksaGraf atau Sastra Enam Paragraf, merupakan seni sastra berbentuk cerpen enam paragraf yang diciptakan oleh seorang penulis bernama Jisa Afta. Kata HeksaGraf merupakan kata baru yang disusun oleh Jisa Afta. Kata HeksaGraf dibentuk dengan menggabungkan dua kata yaitu diambil dari kata "Hexa" (Yunani: enam)  dan "graf" (tulisan/paragraf). Ciri dan Struktur HeksaGraf Cerpen enam paragraf atau sastra pendek enam paragraf memiliki ciri dan struktur sebagai berikut: Ciri HeksaGraf - Struktur enam paragraf - Maksimal 555 kata - Tiap paragraf maksimal 1 dialog atau tanpa dialog Struktur HeksaGraf 1. Paragraf Pertama - Pembukaan (Opening) 2. Paragraf Kedua - Konflik (Problem) 3. Paragraf Ketiga - Penyelesaian / Penutup (Resolution or Ending) 4. Paragraf Keempat - Kondisi Tokoh Saat pasca Ending  5. Paragraf Kelima - Plot Twist (menghasilkan penyangkalan Resolution di paragraf 3) 6. Paragraf Keenam -- Klimaks - Konklusi final atau Ending yang Menggantung (tanpa resolusi). ...

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI | Oleh : Tea Terina

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI Membaca judulnya memang menimbulkan penafsiran yaitu bangga memiliki buku puisi karya sendiri atau bangga memiliki buku puisi karena membeli. Perasaan terakhirlah yang dialami  Mila Putri , siswa SMPN 2 Pagak yang masih kelas 7. Penyuka puisi sejak SD tetapi merasa belum bisa menulis puisi dengan baik ini, merasa bangga dan senang setelah menerima kiriman buku Nazam Tak Berdahak karya  Jisa Afta . Sebagai guru saya ingin mengetahui kesannya setelah memb aca buku tersebut. Saya beri waktu kurang lebih 3 hari. Apa komentarnya? Indah, bahasanya banyak yang imajinatif dan penuh makna tetapi ada bagian yang belum dipahaminya. Saya paham jawabannya karena ia masih perlu belajar untuk mengenali puisi khas Kitab Semilir karya Jisa Afta.  Saya berharap setelah membaca seluruh isi buku itu, ia bisa belajar menulis puisi tanpa menunggu sampai di kelas 8 karena di kls 8 ada materi pembelajaran Teks Puisi. Dan ia punya pilihan menulis puis...

Perbedaan Terkenal dan Hebat

Orang terkenal, belum tentu hebat. Orang yang disukai banyak orang, belum tentu hebat. Orang yang populer belum tentu hebat. Sebab bisa jadi seseorang terkenal karena perilaku uniknya yang tidak mendidik Atau bisa jadi seseorang disukai banyak orang karena ia berwajah tampan atau cantik saja Dan bisa saja seseorang populer karena melakukan penistaan agama, misalnya. Sebelum anda menjadi penulis, apa tujuan anda? Menjadi orang terkenal atau orang hebat? Buku ini akan menjadikan anda hebat, bukan terkenal. Hebat dalam pengertian buku ini adalah Anda menjadi penulis untuk di kagumi pembaca. Bukan untuk menjadi populer. Lalu anda bertanya dalam hati, “untuk apa hebat kalau tidak populer?” Jawabannya nanti di pertengahan buku ini. Sudah siapkah anda menjadi penulis hebat? Mari kita mulai,