Skip to main content

BEKAR | Bedah Karya #8 Cerita yang Belum Usai (Part 5)

Bedah Karya

Cerita yang Belum Usai (Part 5)




Kelanjutan cerita dari Cerita yang Belum Usai (Part 4)

Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembacaUntuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.

      ATURAN MAIN :

·         Wajib baca sampai habis cuplikan novel ini.
·         Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.


·         PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.

·         Cerpen/novel tayang selama 24 Jam

·         Kirim cerpen/novel kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)

SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI ! 


Cerdas Tanpa Harus Belajar


Jika yang lain masuk sekolah enam hari seminggu, libur satu hari. Maka Alfa bolos enam hari, sekolah satu hari dalam satu minggu. Guru-guru juga sudah kehabisan cara. Ingin memberhentikan karena tingkahnya di luar batas, tapi nilai-hilai ujiannya begitu mengherankan. Rasanya tidak masuk akal untuk orang yang tidak pernah belajar semacam Alfa selalu mengantongi nilai di atas 75. Benar-benar mustahil untuk dilogikakan. Jangankan belajar atas kesadaran sendiri seperti Cak Min, dipaksa pun dia enggan. Itulah mitos tentang kehebatan Alfa yang masih diyakini.

Dia benar-benar cerdas, tanpa harus sekolah, tanpa harus belajar. Pernah suatu hari dalam suatu minggu, dia yang pagi tadi sudah diguyur Cak Min dengan air sumur terpaksa menurut untuk ke sekolah. Setibanya di kelas yang hanya dimasukinya satu minggu sekali itu, langsung meletakkan kepala tidingnya di atas meja. Tidurlah dia sepanjang Pak Mamat menjelaskan.

Dibangunkan Midun, teman sebangkunya, tak kunjung bangun. Bagai tersumbat telinganya.
“Alfa, cubo bangun dulu. Men kau pacak jawab soal ini. Boleh kau tedok lagi” Alfa, bangun sebentar. Kalau kamu bisa menjawab soal ini. Kamu boleh tidur lagi. Pak Mamat menepuk bahunya dengan mistar panjang.

Pendidikan kala itu memang lumrah dengan hukuman mistar panjang, dibolehkan. Seakan menghukum siswa dengan kekerasan adalah wajib. Alfa kini bangun. Mengelap ingusnya yang meler membasahi meja. Menjijikkan.

Bocah kelas satu SD itu beranjak dari „tempat tidur‟, setengah sadar mencoret-coret papan tulis hitam dengan kapur. Aneh, jawabannya benar. Entah darimana semua ilmu itu. Alfa pun membenarkan kecerdasannya. Sama sekali tak perlu belajar seperti yang lain.

Namun sebenarnya bukan inilah kodrat manusia. Yang bisa langsung pintar tanpa harus berusaha. Namun Alfa adalah satu dari beberapa orang yang beruntung.

Kecerdasannya hampir menyamai Einstein. Sayangnya, tak banyak yang peduli dengan itu. Kenakalannya menyelimuti kepintarannya. Sehingga, tertutup rapat, tak dikembangkan dengan baik.

“Boleh tedok lagi, kan, Pak?” Alfa menagih janji Pak Mamat. Yang ditanya hanya mengangguk, terperangah. Geleng-geleng setelahnya. Maka dari itu, tak ada alasan bagi pihak sekolah untuk memberhentikannya. Alfa kini tertidur di mejanya. Kali ini diperbolehkan. 

Kesalahannya yang sering bolos, nakal, dan menconteki teman ditolerir secara hormat dengan nilai bagusnya. Itulah yang selalu membuat Cak Min yang selalu menurut dan rajin belajar menjadi cemburu tak berujung. Sengit sekali Cak Min melihatnya.

*

“Oy, mentang-mentang anak toke kawe, boleh betindak cak rajo di sekolah!” Alfa dicegat tiga teman sekelasnya, Bersungut merasa terganggu.

“Apo hubungannyo dengan bak aku. Jangan bawak-bawak bak yeh, sini men berani” apa hubungannya dengan bakku. Jangan bawa-bawa bak. sini kalau berani. Dan bertarunglah mereka, tiga lawan satu.

Alfa babak belur, kalah telak. Meringis dengan muka bonyok. Pulang dengan menangis, mengadu kepada baknya. Maka dilihatnyalah oleh bak yang baru pulang dari Palembang. Mulut bonyok itu tak berkata banyak. Bercerita seadanya, tanpa melebih-lebihkan.

Maka panaslah bak melihat anaknya. Dan segera menuju ke sekolah. Melaporkan pada Pak Mamat, walikelas Alfa. Kasus itu segera diusut. Mengegerkan warga. Bingung siapa yang harusnya disalahkan. Bisa jadi Pak Mamat yang terlihat menganakemaskan Alfa. Tapi, apa yang harus ditegur kalau ternyata Alfa mampu menjawab semua soal yang diberikan. Tidak logis untuk menghukumnya.

Mulai hari itu, atas hasil dari rapat desa mengenai kasus in diputuskan. Semua murid boleh tidur di kelas, tapi kalau seandainya disuruh menjawab soal, maka harus mampu menjawab dengan benar. Kalau tidak, maka hukuman mistar panjang siap dilaksanakan. Maka selesailah perdebatan itu. Tentu saja tak ada yang berani tidur.

Hanya Alfa. Lima ratus kali dia tidur di kelas, satu kali pun mistar panjang tak pernah mendarat lagi di telapak tangannya. Soal yang disuruh kerjakan selalu benar. Ajaib bin nyata. Bak sebenarnya tak mempersalahkan jika seandainya Alfa harus dihukum karena kenakalannya. Tapi Bak siapa pula yang emosinya tidak meledak setelah mengetahui bahwa anaknya dikeroyok. Muka bonyok yang membuat hati terenyuh.



Orangtua mana pula yang setega itu mendiamkan. Alfa kian terkenal karena hasil rapat desa itu. Bukan berdampak baik, malah memperburuk keadaan bagi murid lainnya. Tak ada lagi yang bisa curi-curi untuk tidur di kelas. Lebih baik mereka melek dulu daripada harus terkena hukuman mistar panjang.





Baca Kelanjutan cerita di Cerita yang Belum Usai (Part 6, cuplikan terakhir)

Comments

Popular posts from this blog

HeksaGraf - Sastra Enam Paragraf diciptakan oleh Jisa Afta

HeksaGraf atau Sastra Enam Paragraf, merupakan seni sastra berbentuk cerpen enam paragraf yang diciptakan oleh seorang penulis bernama Jisa Afta. Kata HeksaGraf merupakan kata baru yang disusun oleh Jisa Afta. Kata HeksaGraf dibentuk dengan menggabungkan dua kata yaitu diambil dari kata "Hexa" (Yunani: enam)  dan "graf" (tulisan/paragraf). Ciri dan Struktur HeksaGraf Cerpen enam paragraf atau sastra pendek enam paragraf memiliki ciri dan struktur sebagai berikut: Ciri HeksaGraf - Struktur enam paragraf - Maksimal 555 kata - Tiap paragraf maksimal 1 dialog atau tanpa dialog Struktur HeksaGraf 1. Paragraf Pertama - Pembukaan (Opening) 2. Paragraf Kedua - Konflik (Problem) 3. Paragraf Ketiga - Penyelesaian / Penutup (Resolution or Ending) 4. Paragraf Keempat - Kondisi Tokoh Saat pasca Ending  5. Paragraf Kelima - Plot Twist (menghasilkan penyangkalan Resolution di paragraf 3) 6. Paragraf Keenam -- Klimaks - Konklusi final atau Ending yang Menggantung (tanpa resolusi). ...

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI | Oleh : Tea Terina

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI Membaca judulnya memang menimbulkan penafsiran yaitu bangga memiliki buku puisi karya sendiri atau bangga memiliki buku puisi karena membeli. Perasaan terakhirlah yang dialami  Mila Putri , siswa SMPN 2 Pagak yang masih kelas 7. Penyuka puisi sejak SD tetapi merasa belum bisa menulis puisi dengan baik ini, merasa bangga dan senang setelah menerima kiriman buku Nazam Tak Berdahak karya  Jisa Afta . Sebagai guru saya ingin mengetahui kesannya setelah memb aca buku tersebut. Saya beri waktu kurang lebih 3 hari. Apa komentarnya? Indah, bahasanya banyak yang imajinatif dan penuh makna tetapi ada bagian yang belum dipahaminya. Saya paham jawabannya karena ia masih perlu belajar untuk mengenali puisi khas Kitab Semilir karya Jisa Afta.  Saya berharap setelah membaca seluruh isi buku itu, ia bisa belajar menulis puisi tanpa menunggu sampai di kelas 8 karena di kls 8 ada materi pembelajaran Teks Puisi. Dan ia punya pilihan menulis puis...

Perbedaan Terkenal dan Hebat

Orang terkenal, belum tentu hebat. Orang yang disukai banyak orang, belum tentu hebat. Orang yang populer belum tentu hebat. Sebab bisa jadi seseorang terkenal karena perilaku uniknya yang tidak mendidik Atau bisa jadi seseorang disukai banyak orang karena ia berwajah tampan atau cantik saja Dan bisa saja seseorang populer karena melakukan penistaan agama, misalnya. Sebelum anda menjadi penulis, apa tujuan anda? Menjadi orang terkenal atau orang hebat? Buku ini akan menjadikan anda hebat, bukan terkenal. Hebat dalam pengertian buku ini adalah Anda menjadi penulis untuk di kagumi pembaca. Bukan untuk menjadi populer. Lalu anda bertanya dalam hati, “untuk apa hebat kalau tidak populer?” Jawabannya nanti di pertengahan buku ini. Sudah siapkah anda menjadi penulis hebat? Mari kita mulai,