Friday, 27 October 2017

BEKAR | Bedah Karya #8 Cerita yang Belum Usai (Part 4 )

Bedah Karya Cerita yang Belum Usai  (Part 4)




Kelanjutan cerita dari Cerita yang Belum Usai (Part 3)


Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembacaUntuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.
ATURAN MAIN :
·         Wajib baca sampai habis cuplikan novel ini.
·         Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.
·         PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.

·         Cerpen/novel tayang selama 24 Jam

·         Kirim cerpen/novel kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)

SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !


Bocah Ingusan yang Nakal


“Aku nak mandi sungai. Terserahlah kalo cak nak melarang. Aku dak galak peduli,” bocah ingusan yang ingin mandi sungai itu bagai tak berkuping. Tak peduli dengan larangan Cak Min, kakak sulungnya.

“Men bak marah baru tau raso!”, gadis tiga belas tahun itu mengancam, kalau saja baknya pulang, pasti beliau akan memarahi. “Masih lamo pulo bak tuh balek. Paling duo minggu lagi.” Bak kan pulang dua minggu lagi, ujar bocah ingus meler itu. Ia berlari tak peduli meski dikejar kakaknya.

“Men anyut. Siapo yang nak nolong kau, hah!” Cak Min takut jika adiknya hanyut dan tak ada yang menolong. Kedua beradik itu berkejaran. Bocah ingusan hendak melempari kakanya batu.

Cak Min memegangi kepalanya, takut terkena. Bocah itu membuang batunya. Berlari lagi. Kakaknya tak pernah lelah mengingatkan. Lima ratus kali adiknya bertingkah nakal. Maka lima ratus kali pula dia mencegah.

Perterngkaran yang tak berujung. Membuat umak selalu kewalahan menengahi. Bagaimana tidak, dua beradik ini bagai musuh bebuyutan. Lahir dengan watak yang sangat bertolak belakang. Yang satu penurut, yang satu nakal. Yang satu suka keheningan. Yang satu suka kebisingan. Yang satu rajin, yang satu pemalas. Yang satu sok sempurna, yang satu tak mau peduli. Yang satu gesit, yang satu lunglai. Hanya membuat warga desa menggeleng-geleng ketika menyaksikan atraksi pertengkaran mereka. Seakan hal yang sangat lumrah di seluruh penjuru desa.

Siapa pula yang tak kenal Alfa. Putra satu-satunya toke kawe, toke kopi terkaya di Keban Agung. Bukan karena bapakya yang kaya lagi berbudi luhur. Tapi, kelahiran Alfa menjadi kisah yang amat menarik di penjuru desa. Konon, ketika dia lahir, wajahnya bersinar terang.
Persis bagai bintang paling terang di tengah malam, menyilaukan semua orang yang hadir saat kelahirannya. Sangat berbeda dengan perempuan yang satunya. 

Karena putra satu-satunya, ketika kecil ia diperlakukan bagai raja. Tak hanya keluarga, tapi juga seluruh warga desa sangat memanjakannya. Mereka percaya kalau suatu saat dia akan menjadi orang hebat karena kelahiran yang tak biasa itu. Hingga nampaknya, dugaaan mereka salah besar. Dia bertingkah nakal, diluar batas, hingga seolah-olah tak ada satupun kebaikan yang dibuatnya.

Tampaknya bocah ingusan itu tak berguna sedikitpun. Jangankan membantu umak, tidak mengacau urusan umak saja sudah syukur. Tapi umak lebih banyak mendiamkan tingkah nakalnya. Cak Minlah yang selalu meladeni bocah itu. Berniat mengingatkan namun berakhir dengan pertengkaran. Sedangkan bak, satu-satunya orang yang Alfa takuti. Sayang, bak hanya pulang sebulan sekali karna bisnis ikan lelenya yang kian pesat di Palembang. 

Pertengkaran itu akhirnya berhenti sejenak. Cak Min baru ingat kalau dia belum mengerjakan PR. Hingga ditinggalkannya adik laki-lakinya itu yang ngotot ingin mandi sungai. Lagipula, mandi sungai adalah hal yang wajar di desa. Sungai bagai jantung kehidupan bagi warga. 

Disanalah mereka mandi, mencuci, dan juga kakus. Tentu saja dengan area-area yang sudah disepakati. Di ujung untuk kakus, di tengah untuk mencuci, dan di pangkal untuk mandi. Tempat perempuan dan laki-laki juga tentu saja berbeda.

Perempuan biasanya membalutkan tubuhnya dengan kain panjang. Membawa pakaian kotor untuk mencuci. Kemudian, berendamlah mereka di areal pemandian. Segar sekali rasanya dibandingkan harus menderek air dari sumur. Sungai adalah bukti nyata betapa indahnya nikmat Tuhan yang menyediakannya secara gratis. Tapi mandi sungguh tak biasa bagi Alfa.

 Mana pernah dia menginjakkan kaki ke sungai sebelumnya. Bukan karena sok kaya dan tak sekasta dengan warga lainnya. Itu karena, mana pernah dia berniat mandi atas kesadaran sendiri. Selalu digeret Cak Min ke sumur. 

Diderekkan air dari sumur. Kemudian, diguyurlah badannya yang masih mengantuk dengan air dingin itu. Hingga menggigillah seluruh badannya. Kalau tidak seperti itu, tak akan ke sekolah dia. Tapi, hal ini pengecualian kalau sedang ada ayah. Dia bisa berubah jadi baik seratus delapan puluh derajat. Nurut bagai kambing dicongek hidungnya.

“Lagi ado Mang Ujang yo, Fa?” tanya Kak Ali. Semua orang tahu persis tentang kasus betapa malasnya Alfa mandi. Sehingga mereka terheran-heran melihat Alfa datang ke sungai dan berniat mandi. Mungkin baknya sudah pulang. 

“Katek, Kak. Masih lamo bak balek,” tidak ada, Kak. Masih lama bak pulang. 

“Bisnis lelenyo makin lancar yo, Fa?” tanya Wak Ijul yang sedang merendam badannya di sungai. 

“Dak tau, Wak” Alfa menggelengkan kepalanya sesopan mungkin. Meski nakal, ia masih punya sopan santun yang cukup. 

“Ati-ati, Fa. Gek anyut men dak biaso mandi sungai. Di sekitar sinilah. Jangan jauh-jauh,” Nek Jau mengingatkan (disini, kakek disebut nek anang. Sedangkan nenek disebut nek ino).

Alfa hanya mengangguk dan menceburkan badannya yang bertelanjang dada ke sungai. Sungai ini cukup luas. Sehingga kasus hanyut di sungai merupakan sesuatu yang cukup sering. Karena derasnya arus sungai. Memang sangat mengkhawatirkan bagi yang tak biasa mandi di sungai.

“Mano Alfa, Cak? Betingkah apo lagi dio?” umak menanyakan keberadaan Alfa pada Cak Min. 

“Mandi sungai, Mak. Lah kularang. Madaki aku nak masuk ke tempat mandi lanang. Maluke be.” Tidak mungkin Cak Min harus masuk ke tempat pemandian pria, memalukan, Cak Min menjelaskan.

“Ya Allah, bahayo itu, Cak. Jadilah kasus Firli, tetanggo kito mati karno anyut. Susul lah dulu, Cak!” umak langsung gemetar, membayangkan yang tidak-tidak.

“Tapi dak mungkin aku masuk ke sano, Mak. Dak sopan,” Cak Min membela diri, tak mungkin menyusul..

“Peh kito susul!” umak.mengajak Cak Min menyusul Alfa. Maka bergegaslah kedua perempuan itu. Itu hanya salah satu tingkah nakal Alfa. Masih banyak lagi, bahkan ratusan. Pil saja hanya diminum tiga kali sehari. Maka, tingkah laku Alfa sudah overdosis. Kalau dihitnung dari bagun hingga tidur lagi, mungkin lebih dari dua puluh. Kalikan saja dengan satu tahun terakhir. Tujuh ribuan lebih. Maka tujuh ribuan itu pula Cak Min harus mengomelinya.

“Jul, jingok Alfa dak di sungai?” umak menanyakan kepada Wak Ijul. Siapa tahu dia melihat Alfa di sungai.

“Iyo, Ros. Mandi dio tadi,”

“Tolong gari dulu, Jul. Cemas aku. Belum pernah dio tuh mandi di sungai” umak meminta Wak Ijul menyusulnya. Takut terjadi apa-apa.

Wak Ijul yang tengah menenteng ember berisi sabunnya langsung bergegas menuju pemandian pria. Harap-harap cemas Cak Min dan umak menunggu kabar di persimpangan yang membagi tempat mandi perempuan dan pria. Wak Ijul kembali lagi. Terbirit-birit ke arah dua beranak itu.

“Dak tejingok, Ros. Pas aku balek tadi masih mandi di sano. Memang lagi deras arus sungai sekarang ini. Tadi lah kusuruh wong-wong disano nyari Alfa. Tunggulah di rumah be, gek ku kabari” tadi sudah kusuruh orang-orang di sungai untuk mencarinya. Tunggu saja di rumah. Warga sudah maklum dan kadang prihatin dengan keluarga ini. Keluarga berada namun punya anak yang nakal di luar batas. Maka kenakalan Alfa ini menjadi kehebohan tersendiri bagi warga kampung. Semua orang jadi sibuk dan kena imbas kenakalannya.

“Nak jadi apo laju kau nih, Nak. Segalo uwong saro gara-gara kau nih. Berentilah pulo!” mau jadi apa kamu, Nak. Semua orang kau buat susah. Berhentilah. Umak kali ini tak tinggal diam dengan tingkah Alfa yang mengegerkan semua warga kampung.

Semua orang sibuk mencari sepanjang sungai hingga petang. Yang dicari malah berlalang buana ke hutan dekat sungai. Berburu burung. Alfa hanya diam. Meski nakal, dia tak pernah berkata kasar dengan umak. Tapi tidak berkata kasar bukan berarti menurut. Hanya bak yang bisa membius kenakalannya. Lunak bak daging yang dicincang.




Baca kelanjutan ceritanya di Cerita yang Belum Usai (Part 5 )