Bedah Karya
Corvus
Tujuan BEKAR :Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembaca
Untuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.
ATURAN MAIN :
· Wajib baca sampai habis cuplikan novel ini.
· Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.
· PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.
· Cerpen/novel tayang selama 24 Jam
· Kirim cerpen/novel kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)
SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !
Tujuan BEKAR :Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembaca
Untuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.
ATURAN MAIN :
· Wajib baca sampai habis cuplikan novel ini.
· Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.
· PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.
· Cerpen/novel tayang selama 24 Jam
· Kirim cerpen/novel kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)
SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !
Corvus
Tema : Burung (Aves) -
Genre : Fiksi Ilmiah
“Aku akan merawatmu hingga dewasa.
Setelah itu, kamu harus menuruti semua keinginanku.”
Kreet!
“Ibu,” panggilku pelan.
“Makanlah, setelah itu, lakukan
tugasmu seperti biasa,” ucapnya seraya pergi. Aku menatap nampan di hadapanku.
Tidak ada yang spesial, aku memilih untuk keluar.
Pletaaaak!
Tiba-tiba sebuah batu kecil
menghantam tubuh. Tanpa menunggu lama, aku jatuh tersungkur. Sebelum pandangan
gelap, sebuah tangan mendekap, erat.
Aku mengerjapkan mata. Di
seberang, seorang perempuan berhijab sedang membaca sebuah buku dengan irama
mendayu, merdu.
“Kamu sudah sadar?” Tiba-tiba dia
sudah menatapku.
Aku mengangguk pelan.
“Aku Jafra,” ucapnya pelan.
“Alianor,” begitulah ibu
memanggilku.
“Kamu masih lemah, makanlah dulu!”
Aku terkejut, melihat nampan di
hadapanku. Sepotong apel, ikan dan siput.
“Makanlah! Lukamu tidak parah,
tapi tubuhmu butuh istirahat,” ucap Jafra seraya pergi.
‘Tuk … tuk … tuk ….’
Aku memilih mematuk siput yang
mulai menggeliat. Rasanya sungguh gurih.
“Sudah selesai ?” Jafra muncul
lagi. Tangannya membawa bulu, ranting kecil dan beberapa batang rumput yang
mengering. Dengan cekatan, tangan lentiknya menyusun benda-benda itu menjadi
sebuah sarang. Lalu, dengan lembut, dipindahkannya tubuhku ke atasnya. Aku
menghela napas, nyaman sekali.
Kulihat, Jafra kembali membaca
bukunya.
“Sedang baca apa?”
“Al-Qur’an,” jawabnya sambil
tersenyum ke arahku.
“Baguskah? Tentang apa?”
Jafra menatapku lekat-lekat. Aku
sedang membaca Surat Al-Maidah. Aku suka sekali dengan ayat 30-31. Itu
menceritakan tentang seekor Passeriformes dari marga Corvus, seekor gagak,
burung kesukaanku. Aku selalu kagum dengan bulunya yang hitam berkilauan.
“Bukankah, gagak itu hewan bodoh
yang menyeramkan?”
Jafra tersenyum, lalu menggeleng.
“Studi Ilmiah membuktikan, gagak
adalah burung paling cerdas dan cerdik. Gagak memiliki otak lebih besar,
dibanding jenis burung lain.
“Bagaimana kamu bisa yakin?”
“Di sini pun dijelaskan, Allah
telah menganugerahi kecerdasan, perilaku baik, pengetahuan, cinta dan kasih
sayang juga kerja sama,” ucap Jafra menunjukkan Al-Qur’annya.
Aku terdiam, merasakan sesuatu
yang aneh pada diriku sendiri.
“Kamu tahu, gagak adalah hewan
pemberi Ilham. Atas perintah Allah, dia menunjukkan cara mengubur orang mati.
Sejak itulah, pemakaman pertama kali dilakukan,” ucap Jafra.
Aku masih termenung.
“Boleh bertanya sesuatu padamu?”
Aku mengangguk pelan.
“Bagaimana kamu bisa bicara
seperti manusia?”
“Dulu, tempat tinggalku diserang
burung hantu. Kedua orang tuaku mati. Beruntung, aku jatuh ke semak-semak dan
seseorang menemukanku. Sejak saat itu, dia menjadi ibuku. Dia adalah seorang
ilmuwan. Saat aku sekarat, dia menyuntikkan antibodi untuk membuatku bertahan.
Selain itu, dia juga menambahkan gen manusia hingga aku bisa bicara.”
Kulihat, Jafra terdiam.
Braaak!
“Sedang apa kau di sini?”
Tiba-tiba ibu sudah di depan pintu.
“Ibu sudah menunggumu sejak tadi.”
“Maafkan saya, Bu.”
“Cepat, bunuh gadis itu, lalu
berikan hatinya padaku!” Ibu mulai tak sabar.
“Apa maksudnya?” Jafra
memberanikan diri bertanya.
“Kamu tidak tahu? Alianor itu
bukan gagak biasa. Dia monster sepertiku. Aku merawatnya sejak kecil, dan
sekarang dia harus memberiku hati manusia setiap hari sebagai imbalannya.”
“Kau akan membunuhku?” Jafra
menatapku.
Tanpa menunggu lama, aku
mengepakkan sayap yang secara ajaib bisa kuat kembali. Kuarahkan cakarku yang
tajam ke wajah wanita itu. Lalu, dengan gerakan yang terlatih, dalam hitungan menit
sosok itu terkapar, bersimbah darah.
“Semoga, ini terakhir kalinya aku
membunuh,” ucapku menatap ibu yang terdiam, mati.
·
End
Purworejo,
16 Januari 2017
Penulis akan di hadirkan disesi
terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur ceritanya, pertanyaan kamu akan di
jawab sekaligus disesi terakhir.
Kirim cerpen kamu ke Email:
jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)



Comments
Post a Comment
Silahkan tulis komentar disini