Friday, 27 October 2017

BEKAR | Bedah Karya #5 Hatiku Terbawa Kereta

Bedah Karya 

Hatiku Terbawa Kereta



Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembacaUntuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.


ATURAN MAIN :
Wajib baca sampai habis cerpen ini.Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.


PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.

Cerpen tayang selama 24 Jam
Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)

SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !  


Hatiku Terbawa Kereta


Seorang wanita mengenakan baju merah jambu dan rok putih motif bunga mawar tengah mengangguk-anggukkan kepalanya menahan kantuk. Sesekali ia mengerlingkan matanya yang beriris coklat seraya menguap. Kakinya yang terbalut sepatu yang senada dengan baju dimainkan pada alas kereta yang sedang melaju.

"Jika mengantuk tidur saja, Nona." Saran pria disampingnya yang sejak tadi memperhatikan dan ikut menguap.

Wanita itu menggeleng lalu tersenyum.

"Makanlah ini, rasanya sangat pedas. Mungkin rasa mengantukmu sedikit terobati." Pria itu menunjukkan singkong goreng dengan sambal balado yang baru saja dikeluarkan. Wanita itu tetap menggeleng menimbulkan rasa aneh menjalar dalam hati pria yang menawarinya.

Sesaat keduanya bungkam menyisakan sura bising laju kereta dan pembicaraan penumpang yang lain. Wanita itu menatap keluar jendela menyaksikan hamparan sawah yang begitu rimbum dengan tanaman padi. Melewati jembatan yang airnya mengalir sangat jernih dengan lambaian anak-anak desa yang sedang mandi dari kejauhan. Wanita itu membalas lambaian mereka dengan menarik kedua sudut bibirnya.

"Anda suka melihat pemandangan dari dalam gerbong kereta, Nona?" Tanya pria yang diabaikannya.

Wanita itu mengangguk. Kali ini seraya menatap kuat pada pria itu.

"Nama saya Andre." Pria itu menjulurkan tangannya.

Wanita itu membalas jabatan tangan Andre tanpa sepatah katapun. Alis Andre bertautan saat telunjuk wanita itu menuliskan sesuatu pada telapak tangannya. Tangan Andre dilepas saat huruf kelima.

"Anisa?" Tanya Andre menebak apa yang wanita itu tulis dengan telunjuknya. Ia mengangguk.

Anisa?

Andre begitu senang saat mengetahui nama gadis tersebut. Tak disangka ia mengenal wanita yang terlihat cukup berbeda diantara penumpang yang lain.

"Mengapa sejak tadi kamu diam saja?" Tanya Andre pada Anisa yang menatap pepohonan yang berjejer menenggelamkan kereta dalam kerimbunan.

Anisa kembali melenggokkan telunjuknya diatas telapak tangan Andre. Mata Andre seperti ingin meloncat saat membacanya.

"Tu... Tuna wicara?" Tanya Andre memastikan berharap tebakannya salah. Namun Anisa dengan mantapnya menganngguk.

Hati Andre mencelos.

Kini justru dirinya yang memalingkan wajah menatap luar jendela. Sedangkan Anisa tanpa sadar selalu menulisakan sesuatu ditelapak tangannya. Bukan hanya kata, bahkan beberapa kalimat Anisa tulis seperti berbicara panjang lebar padanya. Andre kini tahu, wanita disampingnya ini baru pertama kali naik kereta. Sejak kecil orangtuanya melarang untuk kemanapun mengingat bahasa tubuhnya sulit untuk dimengerti. Sepi menuntun hari-hari Anisa.

Kelak ia berkeinginan pergi keujung dunia menggunakan kereta. Menyaksikan alam yang menari seakan-akan mengikuti lajunya. Dan disaat usia yang menginjak kepala dua, Anisa diperbolehkan untuk melaju dengan hatinya. Seperti apa yang diimpikan, kini dirinya duduk didalam salah satu gerbong kereta yang membawa kemanapun ia tuju.

Kereta masih menggetarkan rel dibawahnya. Melintasi jalanan kota yang sepertinya sebentar lagi akan tiba pada pemberhentian. Hanya kereta saja yang berhenti. Andre tidak ingin pertemuannya dengan Anisa juga berhenti. Ia takut hatinya mengikuti laju wanita itu selamnya.

"Terima kasih telah menemani perjalananku, Anisa." Tutur Andre pada Anisa yang sedang memakan singkong goreng miliknya.

Anisa mengangguk dengan senyum yang tersungging.

Para penumpang beranjak keluar berdesakan saat kereta berhenti. Andre berniat mengajak Anisa untuk keluar bersama, tetapi wanita itu sudah menghilang. Ia menerobos secepat mungkin mengedarkan pandangannya mencari wanita yang mengenakan baju merah jambu. Rasa panik dan takut kehilangan merajai hatinya. Sekalipun wanita itu akan melaju dengan kereta berikutnya, ia masih ingin menapaki hari-hari Anisa. Perasaan macam apa ini?

Andre mengacak-acak rambutnya saat tersadar sudah dua jam masih berada dalam stasiun. Singkong gorengnya mungkin sudah dibawa Anisa. Namun, hatinya juga ikut terbawa.

---

"Jika kamu melihat ada wanita yang hanya terdiam menatap luar jendela kereta, ajaklah ia bicara. Jika dia Anisa, tolong katakan, hatiku ikut terbawa!" Seru Andre padaku yang sedang menyesap kopi.


End -
Probolinggo, 30 Juli 2017
(22.08 WIB)


Penulis akan di hadirkan disesi terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur ceritanya, pertanyaan kamu akan di jawab sekaligus disesi terakhir.



Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)







Penulis: Livia Ervita