Bedah Karya
Hatiku Terbawa Kereta
Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembacaUntuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.
ATURAN MAIN :
Wajib baca sampai habis cerpen ini.Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.
PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI
RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI
TERAKHIR.
Cerpen tayang selama 24 Jam
Kirim cerpen kamu ke Email:
jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)
SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !
Hatiku Terbawa Kereta
Seorang wanita mengenakan baju
merah jambu dan rok putih motif bunga mawar tengah mengangguk-anggukkan
kepalanya menahan kantuk. Sesekali ia mengerlingkan matanya yang beriris coklat
seraya menguap. Kakinya yang terbalut sepatu yang senada dengan baju dimainkan
pada alas kereta yang sedang melaju.
"Jika mengantuk tidur saja,
Nona." Saran pria disampingnya yang sejak tadi memperhatikan dan ikut
menguap.
Wanita itu menggeleng lalu
tersenyum.
"Makanlah ini, rasanya sangat
pedas. Mungkin rasa mengantukmu sedikit terobati." Pria itu menunjukkan
singkong goreng dengan sambal balado yang baru saja dikeluarkan. Wanita itu
tetap menggeleng menimbulkan rasa aneh menjalar dalam hati pria yang
menawarinya.
Sesaat keduanya bungkam menyisakan
sura bising laju kereta dan pembicaraan penumpang yang lain. Wanita itu menatap
keluar jendela menyaksikan hamparan sawah yang begitu rimbum dengan tanaman
padi. Melewati jembatan yang airnya mengalir sangat jernih dengan lambaian
anak-anak desa yang sedang mandi dari kejauhan. Wanita itu membalas lambaian
mereka dengan menarik kedua sudut bibirnya.
"Anda suka melihat pemandangan
dari dalam gerbong kereta, Nona?" Tanya pria yang diabaikannya.
Wanita itu mengangguk. Kali ini
seraya menatap kuat pada pria itu.
"Nama saya Andre." Pria
itu menjulurkan tangannya.
Wanita itu membalas jabatan tangan
Andre tanpa sepatah katapun. Alis Andre bertautan saat telunjuk wanita itu
menuliskan sesuatu pada telapak tangannya. Tangan Andre dilepas saat huruf
kelima.
"Anisa?" Tanya Andre
menebak apa yang wanita itu tulis dengan telunjuknya. Ia mengangguk.
Anisa?
Andre begitu senang saat mengetahui
nama gadis tersebut. Tak disangka ia mengenal wanita yang terlihat cukup
berbeda diantara penumpang yang lain.
"Mengapa sejak tadi kamu diam
saja?" Tanya Andre pada Anisa yang menatap pepohonan yang berjejer
menenggelamkan kereta dalam kerimbunan.
Anisa kembali melenggokkan
telunjuknya diatas telapak tangan Andre. Mata Andre seperti ingin meloncat saat
membacanya.
"Tu... Tuna wicara?"
Tanya Andre memastikan berharap tebakannya salah. Namun Anisa dengan mantapnya
menganngguk.
Hati Andre mencelos.
Kini justru dirinya yang
memalingkan wajah menatap luar jendela. Sedangkan Anisa tanpa sadar selalu
menulisakan sesuatu ditelapak tangannya. Bukan hanya kata, bahkan beberapa
kalimat Anisa tulis seperti berbicara panjang lebar padanya. Andre kini tahu,
wanita disampingnya ini baru pertama kali naik kereta. Sejak kecil orangtuanya
melarang untuk kemanapun mengingat bahasa tubuhnya sulit untuk dimengerti. Sepi
menuntun hari-hari Anisa.
Kelak ia berkeinginan pergi keujung
dunia menggunakan kereta. Menyaksikan alam yang menari seakan-akan mengikuti
lajunya. Dan disaat usia yang menginjak kepala dua, Anisa diperbolehkan untuk
melaju dengan hatinya. Seperti apa yang diimpikan, kini dirinya duduk didalam
salah satu gerbong kereta yang membawa kemanapun ia tuju.
Kereta masih menggetarkan rel
dibawahnya. Melintasi jalanan kota yang sepertinya sebentar lagi akan tiba pada
pemberhentian. Hanya kereta saja yang berhenti. Andre tidak ingin pertemuannya
dengan Anisa juga berhenti. Ia takut hatinya mengikuti laju wanita itu
selamnya.
"Terima kasih telah menemani
perjalananku, Anisa." Tutur Andre pada Anisa yang sedang memakan singkong
goreng miliknya.
Anisa mengangguk dengan senyum yang
tersungging.
Para penumpang beranjak keluar
berdesakan saat kereta berhenti. Andre berniat mengajak Anisa untuk keluar
bersama, tetapi wanita itu sudah menghilang. Ia menerobos secepat mungkin
mengedarkan pandangannya mencari wanita yang mengenakan baju merah jambu. Rasa
panik dan takut kehilangan merajai hatinya. Sekalipun wanita itu akan melaju
dengan kereta berikutnya, ia masih ingin menapaki hari-hari Anisa. Perasaan
macam apa ini?
Andre mengacak-acak rambutnya saat
tersadar sudah dua jam masih berada dalam stasiun. Singkong gorengnya mungkin
sudah dibawa Anisa. Namun, hatinya juga ikut terbawa.
---
"Jika kamu melihat ada wanita
yang hanya terdiam menatap luar jendela kereta, ajaklah ia bicara. Jika dia
Anisa, tolong katakan, hatiku ikut terbawa!" Seru Andre padaku yang sedang
menyesap kopi.
End -
Probolinggo, 30 Juli 2017
(22.08 WIB)
Penulis akan di hadirkan disesi
terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur ceritanya, pertanyaan kamu akan di
jawab sekaligus disesi terakhir.



Comments
Post a Comment
Silahkan tulis komentar disini