Skip to main content

BEKAR | Bedah Karya #17 Gerandong

Bedah KaryaGerandong



Tujuan BEKAR :Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembacaUntuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.

      ATURAN MAIN :
·         Wajib baca sampai habis cerpen ini.
·         Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, boleh menduga alur cerita dengan saling kunjungi komentar teman, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.

·   PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.

·         Cerpen tayang selama 24 Jam
·    Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)

SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !

Gerandong


Ediaaaannnnn.....

Sumpah benar-benar ediaaannnn.....???!!!! Makhluk jenis apakah yang telah menggigit domba-dombaku ??? Masak sudah tujuh domba mati dengan cara mengenaskan. Lehernya ada bekas gigitan binatang buas. Kemarin mati empat. Sekarang mati tiga. Domba sepuluh tinggal tiga ekor. Kalau tiga dombaku yang tersisa ini digigitnya juga, alamat aku sudah tidak punya apa-apa lagi yang bisa aku jual sebagai penyambung hidup.

Satu-satunya harta kekayaanku adalah domba-domba itu. Sebagai orang yang miskin ilmu dan pengalaman, aku sama sekali tidak mempunyai keahlian yang aku andalkan untuk menafkahi keluarga, kecuali menggembalakan domba. Aku tidak menyesali nasibku. Memang apa gunanya menyesali nasib. Kata penyair : “ Menyesal tua tiada berguna, hanya menambah luka sukma.”

***

Kalau dipikir-pikir, nasibku yang hanya sebagai penggembala domba ini, adalah buah pakerti yang aku tanam sendiri. Sejak usia muda aku malas menunut ilmu, malas mencari pengalaman kerja. Ketika teman-temanku sibuk dengan urusan sekolah, eh...aku malah nongkrong-nongkrong diperempatan jalan. Aku menganggap bahwa sekolah itu tiada guna. Bekerja itu tiada guna. Toh, akhirnya mati juga. Dan aku menganggap bahwa akherat itu hanya omong kosong belaka, maka aku pun mengabaikan semuah nasehat orang tua untuk mengaji dan menimba ilmu. Pergaulan yang salah, menjadikanku semakin liar dan brutal. Tiada hari tanpa minum-minuman keras. Tindak kriminal adalah sesuatu yang biasa bagiku. Penjara sudah seperti rumah sendiri. Hingga akhirnya aku mendapat hidayah.

Ngatinah, istri yang mendampingiku kini, istri yang telah melahirkan empat orang anak dari darah dagingku, adalah wanita yang telah membuat aku sadar akan arti kehidupan yang sebenarnya. Dialah wanita yang telah menyelamatkan aku dari amuk massa yang sudah kalap.

Kejadian puluhan tahun silam itu, masih membekas kuat dalam sanubariku. Mungkin tidak akan pernah aku lupakan selama hidupku. Entahlah, jika saja Ngatinah tidak memelukku yang sudah diguyur bensin oleh warga yang marah, mungkin saat ini aku sudah berupa abu.

Sebenarnya, kejadian yang hampir saja merenggut nyawaku itu bukan salahku. Sekalipun aku ini seorang preman yang sering melakukan tindak kriminal, sisi kemanusiaanku tetaplah ada. Pada suatu hari, aku melihat seorang wanita meraung-raung minta tolong di pinggir jalan. Seorang jambret membuatnya terpental diaspal beserta sepeda motor yang dikendarainya. Kebetulan jambret tersebut lari ke arah yang tidak jauh dariku. Entah ada bisikan apa, tiba-tiba aku reflek memburu jambret tersebut. Tas berhasil kurebut dan jambret berhasil lolos. Aku bermaksud mengembalikan tas kepada wanita yang berteriak minta tolong tadi. Massa yang marah mengira aku adalah jambretnya. Tanpa berpikir panjang, mereka menghakimiku beramai-ramai. Aku dipukuli seperti anjing liar.

“Bunuh saja...bunuh saja...!!! “ teriak beberapa orang diantara mereka. Klarifikasiku bahwa aku bukanlah penjambret , sama sekali tiada guna. Teriakan ampun, juga tiada artinya. Massa semakin kesetanan menghajarku. Tiba-tiba tubuhku basah kuyub dengan bensin. Aku sudah pasrah, bahwa sebentar lagi tubuhku akan gosong. Wajah Emak dan Bapakku yang sudah meninggal dunia karena ngenes memikirkan aku, sudah terbayang di pelupuk mata. Bahwa tak lama lagi, aku akan segera pergi menyusul mereka. Tapi takdir berkehendak lain. Seorang wanita tiba-tiba mendekap tubuhku yang sudah tidak berdaya.

“ Hentikaaaaannnnn.....!!!! Bukan dia penjambretnya ....???!!!” teriak wanita itu dengan sangat keras. Massa yang sudah beringas hampir saja tidak mengindahkan teriakan wanita itu. Untunglah polisi segera datang. Aku diamankan, dibawa ke kantor polisi. Wanita penyelamatku itu , yang tak lain adalah Si Ngatinah-wanita korban penjambretan, dihadirkan sebagai saksi. Kamera CCTV yang kebetulan menyorot kejadian tersebut, telah membantuku untuk segera lepas dari segala tuduhan penjambretan.

Polisi membawaku ke rumah sakit, untuk mengobati luka-lukaku. Ngatinah adalah wanita yang sangat baik. Dia bukan apa-apaku, tapi begitu setia ikut mengantarku ke rumah sakit, dan menunggui aku di sana. Tubuhku yang terbaring lunglai di ranjang rumah sakit, di saat itu lah hidayah itu datang. Ngatinah bercerita tentang kematian sembari menyuapiku dengan bubur ransum. Kata Ngatinah, bahwa hidup mati seseorang sudah ditakdirkan oleh Allah. Jika Allah belum berkehendak mencabut nyawa seseorang, maka orang itu tetap saja akan selamat, sekalipun banyak orang berusaha menghabisi nyawanya. Sebaliknya, jika Allah sudah berkehendak mencabut nyawa seseorang, maka tidak ada satupun yang bisa menghalanginya. Jika seseorang itu telah diselamatkan dari sebuah musibah, ini sebuah pertanda bahwa orang tersebut disayang oleh Allah. Allah memberinya kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri.

Sungguh wejangan Ngatinah pada sore itu sangat menyejukkan hatiku. Diriku yang bertahun-tahun bergulat dengan kekerasan menjadi sadar diri. Bahwa apa yang selama ini aku lakukan adalah suatu perbuatan dosa . Tidak terasa, pipiku basah dengana air mata. Bertahun-rahun, aku tidak pernah meneteskan air mata. Bahkan ketika kabar ayah dan ibuku meninggal dalam waktu yang hampir bersamaan, juga tidak membuatku menangis. Tapi saat itu, saat Ngatinah sedikit bercerita tentang kasih sayang Allah, hatikuku yang beku tiba-tiba mencair. Terlebih begitu mengingat emak dan bapak meninggal karena ulahku, air mataku semakin deras mengalir.

Sejak saat itulah, aku semakin akrab dengan Ngatinah. Dia adalah seorang janda tanpa anak. Tanpa terasa, kami saling menyukai satu sama lain. Dengan bimbingan sorang penghulu, kami akhirnya resmi sebagai suami istri.

Setelah menikah, aku tinggal di rumah yang dibuatkan oleh orang tua Ngatinah di desa. Di desa itulah, aku sebagai kepala rumah tangga menafkahi keluargaku dengan beternak wedus kibas, yang aku menyebutnya domba. Aku tidak punya keahlian apa-apa, selain ngarit dan angon wedus . Itupun, diajari oleh orang tua Ngatinah. Meskipun bukan sebagai peternak besar, tapi lumayan lah bisa digunakan sebagai penyambung hidup dan membiayai sekolah anak-anakku.

***

Tujuh domba sebagai harta kekayaanku telah dibunuh oleh makhluk misterius. Aku menyebutnya sebagai maskhluk misterius, karena aku tidak tahu makhluk jenis apakah yang membunuh domba-dombaku, juga domba –domba milik warga yang lain. Aku masih belum yakin kalau yang membunuh domba-domba tersebut adalah jenis binatang seperti srigala. Sebab kalau pembunuhnya sejenis srigala, pastilah mereka akan memangsa domba-domba yang dibunuhnya, setidaknya daging domba – domba itu akan terkoyak, tapi ini tidak. Domba-domba itu hanya digigit dibagian leher saja, dan dibiarkan bangkainya tergeletak begitu saja, tanpa ada bagian tubuh yang terkoyak. Lebih aneh lagi, yang dibantai oleh makhluk itu adalah wedus kibas, sementara wedus kacang atau kambing Jawa, tidak diganggu sama sekali.

Beberapa tahun lalu, kejadian semacam ini juga pernah terjadi di daerah Malang sini. Sekarang terulang kembali. Setelah menyerang domba-domba milik warga Tunggul Wulung dan Lowokwaru, sekarang menyerang domba-domba di desaku.

“Ini ulah Gerandong, Kang Jo ?!” ujar Mukidi sembari ikut memeriksa bekas gigitan pada leher dombaku yang sudah membujur kaku.

“ Ah, kamu ini ngaco Di ?! Gerandong itu tidak ada di dunia nyata. Dia hanya ada di layar TV,” jawabku. Tapi kalu dipikir-pikir, yang disampaikan oleh Si Mukidi ini ada benarnya juga. Bukankah Si Gerandong, saat kelaparan atau kehausan, dia akan mencari binatang ternak untuk dihisap darahnya. Tapi masak iya sih, makhluk sejenis gerandong benar-benar ada di dunia nyata ? Ah, entahlah, semoga makhluk tersebut segera bisa tertangkap, sehingga aku dan warga yang lain tidak menerka-nerka. Dan yang lebih penting lagi, domba-dombaku yang masih hidup tetap selamat, dan bisa beranak –pinak kembali.

***

TAMAT-

Penulis akan di hadirkan disesi terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur ceritanya, pertanyaan kamu akan di jawab sekaligus disesi terakhir.


Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email) 





Penulis : Nur Wakhid

Comments

Popular posts from this blog

HeksaGraf - Sastra Enam Paragraf diciptakan oleh Jisa Afta

HeksaGraf atau Sastra Enam Paragraf, merupakan seni sastra berbentuk cerpen enam paragraf yang diciptakan oleh seorang penulis bernama Jisa Afta. Kata HeksaGraf merupakan kata baru yang disusun oleh Jisa Afta. Kata HeksaGraf dibentuk dengan menggabungkan dua kata yaitu diambil dari kata "Hexa" (Yunani: enam)  dan "graf" (tulisan/paragraf). Ciri dan Struktur HeksaGraf Cerpen enam paragraf atau sastra pendek enam paragraf memiliki ciri dan struktur sebagai berikut: Ciri HeksaGraf - Struktur enam paragraf - Maksimal 555 kata - Tiap paragraf maksimal 1 dialog atau tanpa dialog Struktur HeksaGraf 1. Paragraf Pertama - Pembukaan (Opening) 2. Paragraf Kedua - Konflik (Problem) 3. Paragraf Ketiga - Penyelesaian / Penutup (Resolution or Ending) 4. Paragraf Keempat - Kondisi Tokoh Saat pasca Ending  5. Paragraf Kelima - Plot Twist (menghasilkan penyangkalan Resolution di paragraf 3) 6. Paragraf Keenam -- Klimaks - Konklusi final atau Ending yang Menggantung (tanpa resolusi). ...

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI | Oleh : Tea Terina

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI Membaca judulnya memang menimbulkan penafsiran yaitu bangga memiliki buku puisi karya sendiri atau bangga memiliki buku puisi karena membeli. Perasaan terakhirlah yang dialami  Mila Putri , siswa SMPN 2 Pagak yang masih kelas 7. Penyuka puisi sejak SD tetapi merasa belum bisa menulis puisi dengan baik ini, merasa bangga dan senang setelah menerima kiriman buku Nazam Tak Berdahak karya  Jisa Afta . Sebagai guru saya ingin mengetahui kesannya setelah memb aca buku tersebut. Saya beri waktu kurang lebih 3 hari. Apa komentarnya? Indah, bahasanya banyak yang imajinatif dan penuh makna tetapi ada bagian yang belum dipahaminya. Saya paham jawabannya karena ia masih perlu belajar untuk mengenali puisi khas Kitab Semilir karya Jisa Afta.  Saya berharap setelah membaca seluruh isi buku itu, ia bisa belajar menulis puisi tanpa menunggu sampai di kelas 8 karena di kls 8 ada materi pembelajaran Teks Puisi. Dan ia punya pilihan menulis puis...

Perbedaan Terkenal dan Hebat

Orang terkenal, belum tentu hebat. Orang yang disukai banyak orang, belum tentu hebat. Orang yang populer belum tentu hebat. Sebab bisa jadi seseorang terkenal karena perilaku uniknya yang tidak mendidik Atau bisa jadi seseorang disukai banyak orang karena ia berwajah tampan atau cantik saja Dan bisa saja seseorang populer karena melakukan penistaan agama, misalnya. Sebelum anda menjadi penulis, apa tujuan anda? Menjadi orang terkenal atau orang hebat? Buku ini akan menjadikan anda hebat, bukan terkenal. Hebat dalam pengertian buku ini adalah Anda menjadi penulis untuk di kagumi pembaca. Bukan untuk menjadi populer. Lalu anda bertanya dalam hati, “untuk apa hebat kalau tidak populer?” Jawabannya nanti di pertengahan buku ini. Sudah siapkah anda menjadi penulis hebat? Mari kita mulai,