Skip to main content

BEKAR | Bedah Karya #16 Bayangan Dirinya

Bedah Karya

Bayangan Dirinya


Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembacaUntuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.

     ATURAN MAIN :
·         Wajib baca sampai habis cerpen ini.
·         Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, boleh menduga alur cerita dengan saling kunjungi komentar teman, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.
·   
   PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.

·         Cerpen tayang selama 24 Jam

·   Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)

SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !

Bayangan Dirinya


“DHESARA...”

Langkahku terhenti. Aku menoleh kebelakang. Jantungku berdebar tak menentu saat aku melihat dia yang berusaha mengejarku. Lelaki berbadan tegap yang telah membuat otakku belakangan ini penuh dengan warna. Aku berusaha menenangkan hatiku yang semakin tak karuan saat dia sudah berada disampingku.

“Mau ke kampus ya?” dia mulai bertanya.

“Tidak kak Randy. Aku mau ikut latihan karate di fakultas teknik. Ikut paguyuban Bandung” jawabku sambil terus menatap ke depan.

Aku tak berani menoleh kearahnya. Aku tak mau kalau pendar cinta dimataku terlihat olehnya. Diam jika dia tidak bertanya adalah pilihan terbaik saat ini.

“Aku tunggu kamu latihan ya!” pintanya kepadaku saat kami sampai di fakultas teknik.

“Nggak usah kak. Terimakasih. Aku latihannya satu jam. Kakak nanti bisa bosan menungguku.”

Dia berusaha menyakinkanku untuk menunggu di perpustakaan fakultas teknik. Aku hanya bisa diam. Melangkah menuju teman-temanku yang sudah mulai melakukan pemanasan. Aku sungguh tidak bisa fokus untuk latihan kali ini. Selama latihan aku sering kena tegur oleh kang Iyan, pelatihku. Satu jam terasa berlalu begitu lama. Saat sudah selesai, aku bergegas mengambil tasku. Berjalan menuju perpustakaan umum. Aku ingin menghindar dari kak Randy yang telah membuat aku seperti orang bodoh.
Saat aku berjalan tegesa-gesa, namaku dipanggil seseorang. Aku yakin itu kak Randy yang berusaha mengejarku.

“Kenapa? Mau menghindar ya?” Protes kak Randy.

“Tidak, Kak. Aku memang berencana mau menyelesaikan tugas di perpustakaan sebelum pulang. Lagipula Aku tidak mau merepotkan kakak.” Jawabku.

Bagaimanapun aku meyakinkan kak Randy, dia tetap ingin menemaniku menyelesaikan tugas kuliah. Akhirnya aku pun luluh saat menatap dirinya. Disaat aku terbentur dengan tugasku, dia mampu membantu menyelesaikannya. Aku semakin kagum padanya.

“Kalau sudah selesai, kita mampir makan ke kantin dulu, ya. Kamu pasti lapar habis latihan. Tolong jangan tolak aku lagi, ya. Karena aku sudah lama menunggu kesempatan ini,” katanya sedikit memaksaku.

Lagi-lagi aku tidak bisa menolaknya. Makan bersama orang yang wajahnya selalu memenuhi pikiranku, membuatku menjadi kikuk dan salah tingkah. Tidak berani menoleh. Susah sekali menghabiskan makanan kesukaanku kali ini.

Randy menghabiskan jus yang dipesannya. Menatap aku yang semakin salah tingkah.

Kok nggak dihabisin? Nggak enak ya?

Nggak. Aku sudah kenyang, Kak“ jawabku cepat.

“Oh ya, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu”, katanya lagi.

“Lanjut aja”, ujarku.

“Sebenarnya aku sudah lama ingin menyampaikan ini. Tentang...perasaanku padamu. Aku ingin...kau jadi cahaya bening yang akan melenyapkan mendungku.”

“Tapi Kak... Bukannya terlalu tergesa-gesa untuk semua itu. Kakak belum mengenal aku sepenuhnya,” jawabku berusaha menutupi perasaanku yang sebenarnya bahagia mendengar pernyataan itu.

“Aku rasa tidak. Hari ini atau esok sama saja. Perasaaanku terhadapmu tidak akan berubah.”

“Tapi kenapa kakak begitu yakin aku bisa menjadi cahaya bening untuk melenyapkan mendung kakak?”

“Aku ingin berkata jujur kepadamu. Awalnya aku kaget ketika pertama kali berpapasan denganmu. Kau begitu mirip dengan dia yang telah membawa kenanganku bersamanya di keabadian. Tapi lama kelamaan, aku merasa ada sesuatu yang berbeda setiap kali aku melihatmu. Dan aku rasa...itu adalah cinta.”

Aku kaget, terdiam dalam keheningan.

“Aku juga ingin jujur, Kak. Setiap kali berada dekatmu, hatiku juga berdebar tak menentu. Tapi... Maafkan aku yang tidak bisa menjadi bayangan dirinya.”

TAMAT

Penulis akan di hadirkan disesi terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur ceritanya, pertanyaan kamu akan di jawab sekaligus disesi terakhir.


Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email) 




Penulis: Ernawati Msrn

Comments