Skip to main content

BEKAR | Bedah Karya #14 Cinta dalam Selebaran Ilmu

Bedah Karya
Cinta dalam Selebaran Ilmu


Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembacaUntuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.

     ATURAN MAIN :
·         Wajib baca sampai habis cerpen ini.
·         Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, boleh menduga alur cerita dengan saling kunjungi komentar teman, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.
·   
   PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.

·         Cerpen tayang selama 24 Jam
·   Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)
SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !

Cinta dalam Selembaran Ilmu


Mencintai itu bukan perihal kesempurnaan dan kemewahan semata. Semua itu butuh kasih sayang dan kenyamanan.
***
"Ma, Rani berangkat sekolah dulu yah?" kataku seusai sarapan pagi sambil mencium tangan mama.

"Dek, bareng kakak aja. Dah kesiangan juga kamu toh?" ajak Kak Reno, kakak kandungku.

Aku mengangguk dengan cepat.

"Ya udah. Hati-hati ya. Renoo, jangan kencang-kencang lhoo yang bawa motor." kata mama sambil menyisihkan uang dua puluh ribu ke saku Kak Reno.
Lirikanku rupanya diketahui oleh mama.

Lalu, aku mengindahkan pandangan dan mulai keluar rumah dengan diikuti kakakku.

***

"Kenapa diem dek?" tanyanya padaku ketika kami sedang di perjalanan.

Rupanya aku masih saja mempermasalahkan tentang perihal uang saku tadi.

"Kak, Rani iri sama kakak." jawabku dengan muka cemberut.

Kak Reno langsung kaget dan memberhentikan motornya. Langsung berbalik arah menatapku.

"Iri?? Dalam perihal apa? Bukankah mama selalu bersikap adil dengan kita?" jawabnya bingung.

Aku hanya menundukkan kepala dan terdiam seribu bahasa. Aku takut jika perihal ini akan jadi bahan ocehannya. Kak Reno seakan menunggu jawabanku selanjutnya. Tapi sikapku masih saja terdiam.

"Ya udah. Kalo gak mau cerita. Gak papa. Kita lanjut berangkat aja. Nanti telat lagii.." katanya serya siap-siap hendak mengegas motornya.

Motor melaju begitu kencang dan sampailah kita di sekolahku. Aku turun dan menyerahkan helmku. Lalu, Kak Reno pergi tanpa sepatah kata apapun.

***

"Hei... Tumben manyunn?? Kenapa? Baru putus sama Kak Reyhan ya?" tanya Renita, sahabatku ketika melihat muka murungku terlihat begitu jelas sewaktu memasuki ruang kelas.

"Hussstt.. Ngawur aja kamu.. Enggak lah. Kita baik-baik aja koh." jawabku dengan simple.

"Truss.. What happenedd?? Cerita dongg ma aku.." sarannya dengan muka penasaran.

"Auk akh. Aku capek. Bentar lagi apel juga kan??" kataku mengindahkan pembicaraan.

"Okehh.. Gak papa." katanya santai.

***

Teng.. Teng... Tengg..

Jam istirahat telah menyambar rupanya. Para murid dengan sigap keluar ruangan dan mencari kesibukan masing-masing. Sedang aku terlihat begitu murung. Entahlah, mengenai perihal tadi atau karena apa.

Thingg.

Ponselku berbunyi juga rupanya. Ku lihat dengan sigap. Di situ nampak ada satu pesan dari Kak Reyhan.

"Hai sayangg??

Nanti pulang sekolah aku jemput ya??

Sekalian ke toko buku.." tersenyum juga akunya. Dan ku balas chat itu dengan sigapnya.

"Hai juga sayangg???

Okehh.. Iyah sayang. Aku tunggu saja." jawabku dengan tambahan emotikan senyum cantik.

Jangan ditanya soal kenapa aku bawa ponsel ke sekolahh?? Maklumlah, di sekolahku memang ada larangan akan itu. Tapiii, namanya murid. Kalo udah nakal ya gituu.. Sukanya ngelanggar peraturann.. Hhaa..

***

Yeyyy..

Tanda pulang sekolah telah berbunyi. Saatnya keluar ruang kelas dan menunggu my prince di pintu gerbang.

Ternyata, dia sudah lebih dulu berada di depan gerbang. Senyumnya membuatku ingin terus mendekat.

"Hayy.." sapanya dengan menyerahkan helm padaku.

"Lohh. Koh tumben pulangnya cepet?" tanyaku penasaran.

Dia hanya tersenyum dan langsung mengegas motornya.

"Iyah Ran. Hari ini cuma bersihin kelas doang.." jawabnya jujur. Aku hanya termangu-mangu mendengar jawabannya.

Tiba-tiba ponselku berbunyi lagi. Dengan sigap ku raih ponsel di sakuku. Rupanya ada panggilan masuk dari Kak Reno. Bukannnya cepat-cepat mengangkatnya, malah aku terdiam seribu basa. Hingga panggilan itu terhenti dengan sendirinya. Lalu, ku taruh kembali ke sakuku.

Lima belas menit di perjalanan membuatku lelah. Hingga akhirnya sampai di toko buku. Mulai memarkir kendaraan dan masuk ke toko.

***
"Koh bengong aja? Kenapa sih Ran?" tanya Kak Reyhan penasaran.

"Ee.. Enggak koh kak."

Ia hanya menyerngitkan alis dan mulai membaca.

"Oh ya. Kamu tahu stratifikasi sosial?" tanyanya padaku.

Aku mencoba mengingat pelajaran-pelajaran yang dulu pernah guru berikan. Agak lama juga aku memikirkannya. Hingga akhirnya Kak Reyhan sendiri yang menjawabnya.

"Belum sampai bab itu yah? Coba liat deh Ran." katanya sambil menunjuk ke buku Ilmu Pengetahuan Sosial tentang Bab Interaksi Sosial.

Aku hanya termangu-mangu gak jelas. Maklumlah, aku ini termasuk anak yang gak rajin belajar. Jadi, lumayan susah kalo memahami ilmu.

"Sudah paham apa maksudnya?" tanyanya yang melihat tingkahku seolah paham tentang maknanya.

Aku hanya tersenyum malu dan menggeleng-nggelengkan kepala. Sedang Kak Reyhan malah menertawakankku. Huh, rupanya dia gemar mengejekku. Aku hanya cemberut.

Sebel.

"Ya udah aku jelasin deh.. Jadii, interaksi sosial itu dibagi menjadi dua....." katanya dengan tegas dan mulai menjelaskan.

Dan tetap saja dengan sikapku yang tadi. Termangu-mangu seperti orang sudah paham.

"Ya udah. Kalo udah paham. Coba disebutin. Apa saja contoh stratifikasi sosial itu?" tanya Kak Reyhan padaku.

Mata melotot dan terkaget tandanya lupa sama penjelasan tadi. Tapi aku mencoba berpikir.

"Hah.. Aku tahu. Kan tadi katanya Kak Reyhan itu kalo stratifikasi sosial itu berhubungan dengan jenjang, tingkatan. Nahhh, berarti kalo ada orang tua yang memberi uang saku pada anak-anaknya dengan jumlah nominal yang tidak senilai itu namanya juga stratifikasi. Iyahkann? Pilih kasih!" kataku dengan nada ketus.

Dan no! Kak Reyhan malah terpingkal-pingkal mendengar jawaban konyolku itu.
"Kalo itu mahhh. Namanya iri. Bukan stratifikasi sosial." katanya sambil melirik ke arahku.

Aku hanya cemberut melihat tingkahnya. Terus aja ngejek aku.

"Dek, dengerin kakak ya. Kenapa kakak sebut dengan iri??? Karena di situ masalahnya ada pada masing-masung anak tadi. Toh orang tua memberi uang saku itu memang sengaja tidak senilai. Kamu tahu karena apa?? Nahh.. Karena stratifikasi sosial. Maksudnyaaaaa.. Karena jenjang sekolah mereka yang berbeda. Seumpama nih. Rani sama Reno. Ya mesti uang sakunya gak senilailah. Kan aktivitas sama kebutuhan kalian itu berbeda. Iyahkan?" katanya menjaskan.

"Ya tapi gak gitu juga kalik. Di depanku pas mama ngasih uang saku dua kali lipat pada Kak Reno. Coba bayangkan. Siapa yang gak iri?" kataku keceplosan curhat. "Eh, keceplosan deh."

Semakin terpingkal-pingkal tawa Kak Reyhan rupanya.

"Jadiii.. Dari tadi mukanya cemberut gitu karna iri sama Reno?" tanyanya jelas tertuju padaku.

Agak malu juga sii. Untuk mengiyakan. Tapi memang iya.

"Ya udah. Gak papa. Sekarang dah tau toh. Kenapa mama memberi uang saku dengan beda nominal sama kalian?"

Aku hanya mengiyakannya dengan senyum pahitku.

"Yang jelas yang ingin kakak sampein ke Ranii.. Yaaa.. Tentang cinta kita. Coba kamu liat dulu deh. Dari umur, kita terpaut berbeda. Kamu masih duduk di bangku kelas dua smp. Sedang kakak ada di bangku smk. Dan kita saling merasakan bagaimana kenikmatan cinta. Yang setiap tiga kali dalam seminggu, kakak selalu mengajakmu ke toko buku. Bukan maksud kakak gak so swett karena gak sama dengan cara pacaran masa kini. Tapi kakak pengin kalo cinta kita itu bisa seperti stratifikasi sosial. Walau beda jenjang ia mampu bersatu. Kakak juga pengin. Karena stratifikasi itulah setiap perbedaan bisa kita tunjukkan lewat ilmu. Kita bisa berbagi ilmu dengan bedanya jenjang sekolah kita." jawabnya menjelaskan.

Woww.. Keren kata-katanya. Ternyata cinta itu bisa dipublikasikan juga lewat ilmu ya? Pacaran itu gak harus kayak anak masa kini. Banyak neko-nekonya. Mending kita gunain aja untuk sharing ilmu. Kan lebih manjur?? Cintaku memang seperti selembaran ilmu. Selalu mengisi ruang kekosongan dalam bagian berpikirku. Teruma dalam perihal ketidaktahuanku dalam ilmu.


-TAMAT -
Penulis akan di hadirkan disesi terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur ceritanya, pertanyaan kamu akan di jawab sekaligus disesi terakhir.


Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email) 





Penulis : Roro Pororo

Comments

Popular posts from this blog

HeksaGraf - Sastra Enam Paragraf diciptakan oleh Jisa Afta

HeksaGraf atau Sastra Enam Paragraf, merupakan seni sastra berbentuk cerpen enam paragraf yang diciptakan oleh seorang penulis bernama Jisa Afta. Kata HeksaGraf merupakan kata baru yang disusun oleh Jisa Afta. Kata HeksaGraf dibentuk dengan menggabungkan dua kata yaitu diambil dari kata "Hexa" (Yunani: enam)  dan "graf" (tulisan/paragraf). Ciri dan Struktur HeksaGraf Cerpen enam paragraf atau sastra pendek enam paragraf memiliki ciri dan struktur sebagai berikut: Ciri HeksaGraf - Struktur enam paragraf - Maksimal 555 kata - Tiap paragraf maksimal 1 dialog atau tanpa dialog Struktur HeksaGraf 1. Paragraf Pertama - Pembukaan (Opening) 2. Paragraf Kedua - Konflik (Problem) 3. Paragraf Ketiga - Penyelesaian / Penutup (Resolution or Ending) 4. Paragraf Keempat - Kondisi Tokoh Saat pasca Ending  5. Paragraf Kelima - Plot Twist (menghasilkan penyangkalan Resolution di paragraf 3) 6. Paragraf Keenam -- Klimaks - Konklusi final atau Ending yang Menggantung (tanpa resolusi). ...

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI | Oleh : Tea Terina

BANGGANYA PUNYA BUKU PUISI Membaca judulnya memang menimbulkan penafsiran yaitu bangga memiliki buku puisi karya sendiri atau bangga memiliki buku puisi karena membeli. Perasaan terakhirlah yang dialami  Mila Putri , siswa SMPN 2 Pagak yang masih kelas 7. Penyuka puisi sejak SD tetapi merasa belum bisa menulis puisi dengan baik ini, merasa bangga dan senang setelah menerima kiriman buku Nazam Tak Berdahak karya  Jisa Afta . Sebagai guru saya ingin mengetahui kesannya setelah memb aca buku tersebut. Saya beri waktu kurang lebih 3 hari. Apa komentarnya? Indah, bahasanya banyak yang imajinatif dan penuh makna tetapi ada bagian yang belum dipahaminya. Saya paham jawabannya karena ia masih perlu belajar untuk mengenali puisi khas Kitab Semilir karya Jisa Afta.  Saya berharap setelah membaca seluruh isi buku itu, ia bisa belajar menulis puisi tanpa menunggu sampai di kelas 8 karena di kls 8 ada materi pembelajaran Teks Puisi. Dan ia punya pilihan menulis puis...

Perbedaan Terkenal dan Hebat

Orang terkenal, belum tentu hebat. Orang yang disukai banyak orang, belum tentu hebat. Orang yang populer belum tentu hebat. Sebab bisa jadi seseorang terkenal karena perilaku uniknya yang tidak mendidik Atau bisa jadi seseorang disukai banyak orang karena ia berwajah tampan atau cantik saja Dan bisa saja seseorang populer karena melakukan penistaan agama, misalnya. Sebelum anda menjadi penulis, apa tujuan anda? Menjadi orang terkenal atau orang hebat? Buku ini akan menjadikan anda hebat, bukan terkenal. Hebat dalam pengertian buku ini adalah Anda menjadi penulis untuk di kagumi pembaca. Bukan untuk menjadi populer. Lalu anda bertanya dalam hati, “untuk apa hebat kalau tidak populer?” Jawabannya nanti di pertengahan buku ini. Sudah siapkah anda menjadi penulis hebat? Mari kita mulai,