Friday, 27 October 2017

BEKAR | Bedah Karya #13 Serpihan Kaca

Bedah Karya Serpihan Kaca



Tujuan BEKAR :Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembacaUntuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.

     ATURAN MAIN :
·         Wajib baca sampai habis cerpen ini.
·         Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, boleh menduga alur cerita dengan saling kunjungi komentar teman, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.

·   PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.

·         Cerpen tayang selama 24 Jam

·    Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)

SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !

SERPIHAN KACA


Hujan deras sore ini. Senja yang melengkung seakan menangis. Seperti itu suasana di ruang tengah. Ketika aku pulang sekolah. Ayah dan ibu tidak tahu aku datang. Yang kutahu ayah membanting gelas lalu meninggalkan ibu yang sedang menangis. Sepedanya distater dengan kasar ayah gas sepedanya dan melaju bersama beceknya jalan tanpa menoleh. Ibu menangis sambil membanting gelas. Kubiarkan ibu mengekspresikan kesedihannya meski aku belum tahu apa sebab kesedihan ibu. Selama ini kulihat ibu orang yang lembut. Belum pernah ibu semarah ini, apalagi sampai membanting gelas. Meski tangisnya lirih aku seperti ikut irama isaknya. Aku belum berani mendekat. Kubiarkan sebentar. Aku ambilkan air putih hangat.
Aku pura pura tidak tahu kalau ibu dan ayah bertengkar.

“Ibu sakit?” tanyaku

“ Ya.” Jawabnya lirih. Aku pura pura percaya saja.

“Apa ibu perlu saya belikan obat?”

“Tidak nak, aku sudah mulai enakan.”

“Tidurlah bu biar saya sapu serpihan gelasanya.” 

Ibu menurut atau meyakinkan aku biar kelihatan benar-benar kurang sehat aku yakin ibu berfikir biar aku mengira ibu sakit, disusurinya lorong menuju kamarnya.

Kusapu serpihan kaca, suara serpihan kaca bercerita padaku betapa sakitnya hati ibu. Serasa pecah berkeping keping seperti serpihan gelas kaca ini. Bersama mengalirnya beningnya embun di pipiku, kudengar suara bruk. Kulihat ibu jatuh. Badannya mengenai lemari kecil tempat menaruh mainan dan bonekaku. Aku kaget segera aku berlari menghampiri ibu. Ibu pingsan. Kedua kaki ibu kuciumi.

“Ibu bangun ibu, Ibuuuu. Setelah itu aku baru sadar bahwa ibu segera butuh pertolongan, kaki ibu masih hangat, kucek denyut nadi ditangannya masih kurasa. Seluruh kakinya kulumuri minyak kayu putih. Kupijati. Kucium kurasakan sengal nafasnya dalam pingsan. Kugenggam tangannya kurasakan kehangatan menyusup dalam relung relung jiwa. Ibu bangunlah ibu harus kuat. Ibu jangan sakit. Aku sayang ibu. Ibu siuman ada sungging senyum getir kurasa.

-TAMAT -
Penulis akan di hadirkan disesi terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur ceritanya, pertanyaan kamu akan di jawab sekaligus disesi terakhir.


Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email) 



Penulis: Ria Mi