Monday, 9 October 2017

Kopi dan Pena | Liar, Lincah dan Bebas - PARODI SKETSA | JISA AFTA



Kopi dan Pena | Liar, Lincah dan Bebas

PARODI SKETSA | JISA AFTA 

aHAIdee...
lagi, aku teguk seteguk... menikmati dingin dan pesona senyummu adalah dua hal yang tak bisa kunisbatkan dengan tinta.

Aku bukan pemujamu tapi aku pengoleksi senyum, siapa suruh kau memulai memajang foto senyum diberanda facebookmu, maka jadilah kau salah satu koleksi senyum para wanita yang lewat di beranda facebook ku 

Aku pengumpul mata indah, siapa suruh kau meng unggah foto matamu yang terpasang dengan rapi oleh Tuhan di antara lesung pipi dan dahi mu yang bening.

Kau baru saja membuatku jadi bajak laut di antara padang foto.

"jisa, kau mulai deh... hehhe " kata si liar dalam jiwaku

"nggak ko, biasa aja tuh,,," kataku pada si liar

"tapi kau begitu kasar pada para wanita yang ikhlas memberikan rahmat wajahnya di facebook, kau kasar jisa" kata si liar lagi.

"hmmm, iya juga, maaf kan aku liar, mungkin kaulah yang membuat ku begini."

Kopi dan Kebebasan

lidahku mengecap, cairan hitam bercampur gula pasir, ada kafein, kata ahli itu racun yang bisa membunuh, sebagian ahli bilang itu bagus untuk membunuh kuman di mulut,

lidahku mengulum cairan kental hitam itu, glukosa di dalam tenggorokanku bercampur dengan rasa bosan ditambah sepotong angan yang baru saja kujual di pasar ikan.

"ahhh jisa, percuma, kau selalu begitu, lihatlah dirimu tak berarti sama sekali, wajahmu memang tak tampan tapi kau sungguh macho untuk ukuran lelaki"

si liar terus menggoda imanku yang selalu ingin berjalan ke arah lurus

"terus, apakah akau harus bilang wowww gitu " gumamku 

hei,,,,
aduhai,,,
kita telah tiba
ada gadis lincah yang berhenti dipersimpangan lamun
tertegun batin
ingin mengalun dalam ranum
percuma engkau bingung
sebab hari ini tak ada
esok pun tak ada
yang ada itu tiada

"jisa, kau mulai gila aku kenal dirimu sebaik aku membunuhmu dengan ruh ku yang hebat"

aku dan si liar setiap malam bermain bersama
diantara dalamnya makna kopi dan pena.

@JA

Labels: , ,

Cinta Pertama | Manja, Gila dan Penuh Tangis - PARODI SKETSA | JISA AFTA




Cinta Pertama | Manja, Gila dan Penuh Tangis

PARODI SKETSA | JISA AFTA

Aku cemburu pada cara kawan lelakimu yang bercanda dan membuat mu tertawa. Diam diam aku mengikutimu dari belakang, samping dan dari sisi paling gelap dan sepi jiwaku. 

Aku membayangkan, apa yang akan aku lakukan bila secara kebetulan bertemu tak sengaja denganmu ditempat yang telah di takdirkan Tuhan untuk kita, entahlah bisa jadi bukan untuk kita, tapi hanya untuk tempat yang memang sengaja dibebaskan oleh Dia sebagai tempat bertemunya semua orang yang mempunyai kebebasan untuk terhempas ditempat yang sama secara kosmos atau kosmologi.

"ahaiiii,,, jisa, kamu sedang jatuh cinta atau sedang kuliah sih?" bisik si perasa pada telingaku yang mulai tak mendengar.

Aku cemburu pada jepit merah yang selalu melekat dan bersembunyi diantara hitam dan menjuntai nya rambut indahmu. Aku cemburu pada suaramu yang selalu lalu lalang dari proses diafragma menuju bibirmu yang selalu berucap...

"lihatlah aku dengan keyakinan, bukan dengan tanya dan bertanya dalam diam mu, jisa"

Aku selalu ingin tahu apa yang kau pikirkan ketika malaikat bertandang disekitar kamar dan jendela tidurmu, ingin aku temani malaikat itu melihatmu marah atau tersenyum di siang dan malam hari.

Aku selalu ingin membunuh rasaku agar aku tak lagi berusaha menjadi orang lain dan kusebut diri ku "berharap" pada bayangmu dibelantara ketidakpastian rasa ini.

Aku tak tahu harus berbuat apa bila matamu sedang melihatku, apakah yang harus kugerakkan lebih dulu, jari-jariku kah, kakiku, atau memalingkan rasa malu ku dengan cara mengatakan

"kamu lebih cantik dari yang pernah kubayangkan"

Lalu apakah ini yang disebut cinta

"hmmm jangan pernah percaya dengan pandangan pertama mu , jisa, sebab kau lupa satu hal, bahwa kau hanya sedang kagum pada kebodohan mu yang baru pertama kali melihat wanita cantik" ungkap si perasa sembari menarik lengan bajuku, seolah ia hendak mendorongku ke jurang.

aku membela diri, aku ambil pisau, aku tikam si perasa dengan segenap amarah ku

"mati kau!!! kau tak pernah bisa membuatku percaya pada diriku sendiri, enyah kau dari sini!!!" sambil kucongkel matanya sampai ia buta.

Kini aku bebas, tak mudah jatuh cinta lagi.
Pandangan pertama telah kulupakan, cinta didalamnya telah ku kubur hidup-hidup dalam cawan penuh darah penantian.

Aku dan kebebasan terkadang sering minum kopi bersama, kukatakan padanya...

"kawan, apakah jalanku sudah benar?" kataku

si kebebasan hanya tersenyum sambil nungging dihadapanku

aku sapa dia

"hei, kau sedang apa, bebas??" tanya ku lagi.

dia hanya terus nungging dan skarang dia kelihatan bersujud, tiba tiba dari mulutnya keluar darah merah kehitaman kental bagai daging busuk.

"kenapa kau, bebas? tanyaku

dan si bebas akhir nya berbisik padaku sebelum menarik nafas terakhirnya...

"jisa, aku pergi darimu, bila aku bersama mu, aku bisa gila"

"hahahhahah  " aku ketawa semati-matinya dihadapan kebebasan, seolah aku ingin tumpahkan kopi ini ke wajah lugunya yang tak lucu tapi lucu.

"jangan ktawa kawan, aku serius"

kulihat si bebas kali ini benar-benar serius, tak biasanya dia seperti ini.

Aku ambil lukisan wajah kekasih yang diam-diam kucintai dan telah di jemput malaikat ke surga.

"apakah kau mengenali wajah ini, kawan?" tanyaku

"aku tak perlu mengenali wajah kekasihmu yang tak sempat kau datangi dengan cinta, sebab aku yang membawanya ke surga bersama seribu kisah diperjalanan diatas titian indah itu.
dia bercerita tentang mu, jisa, bahwa dia sangat menunggumu di surga dengan cinta mu atau tanpa cinta pertama dihati mu yang pendiam itu."

@JA

Labels: , ,

Tuesday, 3 October 2017

Dibalik BEKAR dan Secangkir Kopi
















PARODI SKETSA | JISA AFTA

Dibalik BEKAR dan Secangkir Kopi 
Selepas Sholat Subuh aku menjemput kemalasanku yang masih bersembunyi dibalik fajar. Kubangunkan ia dengan penuh suka dan duka. 
“hei” gumamku
“apa?” kata sang malas dalam hatiku
“ini sudah pagi, tak baik berbaring lagi selepas Sholat” kataku lagi padanya.
“tunggulah sebentar, Jisa” kata si malas tadi dengan wajah tampan dan macho nya seolah-olah ingin aku tampar dan injak dari persembunyiannya.
Aku tarik tangannya, aku gendong tubuhnya tapi tak seperti menggendong tubuh kekasihku yang telah jadi mantan, aku gendong sambil menarik kupingnya, aku juga menarik kedua kakinya “kau pemalas”.
“mengapa kau begitu kasar padaku Jisa?” tanya nya lagi
“aku sangat lembut padamu” kataku
“lembutnya saja seperti ini, bagaimana kasarnya? aku bisa mati kau bunuh” dengan bibirnya yang tak punya rasa takut seolah-olah menganggap remeh ajakanku.

Lari Pagi
Tak jauh dari bukit, ada godaan menghanyutkan dari teriakan burung-burung yang kutaktahu apa namanya, maklum, aku tak melihat tubuh dan bentuk mereka, burung-burung itu terlalu kecil, hanya suara, dan bisa saja kalau pun dekat aku juga tak paham nama mereka. Aku sudah tak pernah menonton tv selama setahun, kalau saja nonton, ya,, saat makan di warung yang memutar tv. Mataku memandang ke arah tv tapi hati dan segenap jiwa ragaku fokus ke lezatnya makanan yang sedang kusantap. Hmmmm, aku lebih suka makan disaat sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Bila aku kekenyangan maka maka aku bisa berjalan sambil tertidur.
Andai aku nonton tv tentang hewan, pasti aku tahu nama burung itu, soalnya pelajaran biologi disekolah dulu tidak bersarang lagi dalam otakku.

Aku mulai berlari pagi, tak butuh musik ditelinga sebab suara panggilan sayang dan cinta dari kata-kata dan lidah kawanan bersayap itu membuat langkah kecilku terpacu untuk berlari.
Ku hirup udara segar yang berhembus dari surga kecil bernama bumi ini, Oksigen masuk melalui hidungku, di olah dalam sistem pernafasan tubuhku, hasil pengolahan itu menyuplai ke jantungku, atau jantungku tak bisa bekerja tanpa oksigen, yang mana lebih dulu? oksigen masuk dan memberi asupan ke jantung atau jantung tak bisa bekerja tanpa oksigen, ahhh jisa, kamu sedang lari pagi atau kuliah hahhaha..... begitulah bisik si malas dalam pelarian ku di pagi ini.
Aku tidak merokok.
“aku tak tanya, Jisa” ungkap si malas,
“hmmm, aku tidak bicara padamu, malas” ungkapku pada si malas yang selalu menggangguku dalam acara lari pagi tanpa sponsor ini :)
Tibalah aku di puncak bukit, aku melihat kebesaran Nya dan melihat kerdilnya diriku dan semua kebanggaanku.
Dia adalah Tuhan, menciptakan lembah indah ini penuh kesempurnaan.
Kulihat si malas membelai rambutnya disisiku, dan aku pun mulai merasakan lelah karena sejak tadi di pundakku, si malas hanya bertengger. Aku hanya sendiri tapi seolah-olah berdua, bebanku jadi dua, antara aku dan rasa malasku.

Lautan lepas yang terkurung oleh barisan pegunungan, aku berjalan kearah utara tapi pandanganku kearah timur melihat matahari yang mulai perlahan menampakkan jasadnya.
“sungguh indah” kataku
“apa yang indah, biasa aja, tuh” kata si malas dengan wajahnya yang ingin ku lempar dan kucabut dari lehernya.
Lelah dan indah kurasakan dalam waktu yang sama, sungguh aneh kehidupan ini, harus bersusah - susah ke puncak bukit untuk menikmati keindahannya, harus berlari, kalau tidak, tak akan melihat mentari indah itu. Kalau tidak berlari, maka aku akan kehabisan waktu. Apa nama kejadian ini yah? adakah di kamus bentuk kehidupan yang mencoba mendefinisikan ini semua dalam satu kata? aku rasa belum ada profesor yang berfikir tentang ini. Hmmm tunggu, malas, aku pikir..... baiklah,,,
“namanya adalah..... sstttttt,,, apa perlu kubisikkan saja ? agar burung-burung tak mendengar ini semua?” ungkapku.
“ahhh , kau mulai , Jisa. Sumpah, aku bosan mendengar ocehanmu” kata si malas padaku lagi.
“baiklah kita pulang, malas” aku gendong si malas di pundakku, tapi anehnya tak ada satu pun orang-orang yang melihat dia dipundakku, hmmmm.
 
Tentang Kopi
Tiba di rumah, aku langsung ke dapur, kuraih gelas kosong, kutatap dalam - dalam maknanya lebih dalam ketimbang dasar cangkirnya yang tampak kotor. Ku ambil sendok, sudah dua bulan tak pernah ku cuci, sebab aku lebih suka membersihkan hatiku ketimbang benda-benda tak berguna ini.
Bila aku seperti ini, maka si malas menjadi raja dan aku menjadi hamba. Tapi bila aku rajin, maka si malas menangis melihatku, apalagi kalo aku tak pernah menonton sinetron yang hanya disukai kawanan si malas itu. 
Si malas hanya bisa berkata...
“Jisa, kamu aneh”
masa bodoh, kataku.
Ku ambil setumpuk gula dalam bungkusnya yang belum ku tuang kedalam wadah sesungguhnya.
“alhamdulillah, semut-semut ini memaksaku untuk ikhlas lagi hari ini”. Semua butiran gula pasir ini telah menjadi milik mereka seutuhnya. Aku tak mungkin lagi mengklaim yang telah jadi hak prerogatif mereka.

Aku ambil kopi, beberapa ahli membuktikan bahwa kopi hangat bisa membunuh bakteri dan kuman dalam mulut,
“hmmmm, pantas saja aku tak pernah sakit gigi sejak kenal kopi. Dan minum teh membuatku sakit gigi sejak aku belum mengenal kopi”
Jika bakteri mati dalam mulut karena kopi, berarti kopi ini baik dan sehat.
Tapi apakah sedemikian tragisnya minum kopi tanpa gula di pagi ini? mungkin ini jalan menuju dunia baru, KOPI DALAM FILOSOFI TANPA GULA.


 Tentang Google
Saatnya buka email, aku baca email dari penulis BEKAR, namanya adalah Mis Mie, aku baca dan aku baca tulisannya, ada yang unik dari tulisan ini.
LAKI-LAKI BERMAHKOTA, itulah judulnya, isinya sangat singkat tapi membuat aku penasaran.
“ Masih ditempat yang sama, Tempat yang tak semua orang bisa duduk diposisi itu, Membahas sesuatu tentang masa depan orang banyak “
itulah kalimat awal tulisan Mis Mie,
entah kenapa tulisannya membuat aku ingin menulis PARODI SKETSA , dan jadilah parodi sketsa ini karena terinspirasi dari Mis Mie.
Lalu aku menulis dengan lancar tanpa terhalang seperti ini dan tiba di baris ini, ini semua karena imajinasi ku yang keluar setelah membaca karya tulis Mis Mie yang hebat.
Sudah lama aku tidak membaca tulisan yang bisa membuatku terpacu.
Aku pun mulai mencari gambar yang pas di GOOGLE, seorang paman yang selalu tahu makna pencarianku


Tentang Hardisk dan Ram
Laptop jadulku tak bisa berkata banyak, ia hanya pasrah dan selalu berkata
“Jisa, jari-jarimu terlalu lincah, aku lelah tak bisa mengimbangimu lagi, gantilah aku dengan yang baru” bisik Ram padaku.
“hei, jisa, apakah kau mendengarnya?” ungkap si malas lagi entah dia sedang bersembunyi dimana sejak tadi.
“gudangku tak bisa lagi menampung gambar-gambar yang kau cari di google, jisa” kata Hardisk kepadaku.
“Jisa, kau mendengarnya?” kata si malas
“ya” kataku
Tapi bagaimana lagi, hari ini aku harus melakukan yang tidak dilakukan orang lain. Ada begitu banyak teman-temanku di facebook yang perlu tahu tentang potensi mereka. Yah,,, hidup harus dibangkitkan dari kesadaran.
“So’ Bijak kamu” kata si malas dengan bibirnya yang ingin ku tarik.

Tentang Photoshop jadul

Menarik gambar yang ada, aku lihat ada gambar yang pas di depan penglihatanku, bekerja dengan seni atau bekerja dengan ikhtiar ahhh, sama aja, dua-duanya butuh diam dan kopi.

Aku menemukan orangnya dalam sudut pandang berbeda. Menariknya dalam ilmu tak pasti, tidak pernah diajarkan ini disekolah, antara rangkaian alur berfikir terbalik, pengetahuan terpisah dan intuisi yang membuat kebanyakan orang jadi sombong itu


Mengubahnya dalam color balance photoshop, agak hijau tapi tak kelabu, biarkan warnanya menetes seperti hujan senja yang tidak senja tapi hijau yang bukan hijau. dan akhirnnya terciptalah BEKAR di sore ini.


Kadang, sulit membedakan keinginan untuk maju atau keinginan yang menggebu-gebu tanpa ilmu.
Pelajari, apakah keyakinan kita benar-benar teruji dan punya kapasitas.
“ahhh,, ngomong apa kamu Jisa, ga jelas ahhh” kata si malas lagi
Jisa Afta

Labels: , ,

Tuesday, 29 August 2017

Parodi Sketsa

Parodi Sketsa
( Seni Tulis Parodi Pertama Di Dunia )

Welcome to Par-Sketsa
Pernahkah anda bosan berpuisi atau menulis prosa? bosan menulis artikel? itu artinya anda butuh sesuatu yang baru dan berbeda.
ini adalah tulisan parodi pertama di dunia.
Seni Tulis PARODI SKETSA
Sebuah seni tulis penggabungan seni dan filsafat realitas.
Esensi Par-Sketsa adalah kenyataan yang di kisahkan secara parodi atau tak beraturan. Sehingga pembaca memacu otaknya untuk mencermati dan menganalisa.
Tulisan ini seringkali ada didalam buku-buku tapi penulisnya tidak sengaja menuliskan sebab sang penulis tidak paham bahwa tulisan itu berjenis apa. Akhirnya jenis tulisan ini hilang.
Saya mengumpulkan tulisan ini, untuk memberi kebebasan berkata dan memberi warna literasi bagi kekayaan bahasa dan budaya tulis Indonesia.
Welcome to PARODI SKETSA

~ * ~
Jisa Afta


Labels: , ,