Friday, 6 October 2017

Catatan Harian Belajar di Bukit Nuris | Oleh Riami



















Sinopsis :

Buku Catatan Harian Belajar di Bukit Nuris adalah kisah pembelajaran di tempat yang indah melambangkan ketulusan seorang guru untuk memberikan ilmunya.
Kisah ini difantasikan secara unik berbentuk drama fantasi yang membuat muridnya berhasil melahirkan karya-karya indah yang dapat dinikmati sekaligus dalam buku ini. Membaca buku ini benar-benar serasa nano-nano ramai rasanya dalam satu kisah.

Terima kasih kepada Jisa Afta yang telah menyelenggarakan pembelajaran online gratis tentang sastra di face book dan mengizinkan saya untuk mengambil sebagian dialognya untuk penulisan naskah ini. Kisah ini termotivasi sebagai buku pengayaan di sekolah sekaligus sebagai hadiah kecil dari seorang murid kepada guru.
Selamat menikmati keindahan yang sederhana dalam benak dan jiwa saya. Salam damai dan indah.

Labels: , , ,

BELAJAR MENULIS PUISI | Oleh Tea Terina


























BELAJAR MENULIS PUISI

Sebelum menyampaikan materi Teks Puisi, aku melakukan tanya jawab dulu dengan para siswa kelas 8. Saat kutanya, siapa yang pernah menulis puisi.Dari 30 siswa hanya 1 anak yang angkat tangan. Aku berpikir pasti para siswa mengalami kesulitan dalam menulis puisi.

Lalu aku menanyakan kesulitan yang dialami siswa. Ternyata rata- rata siswa menjawab: sulit memilih kata- kata, sulit merangkai kata kata menjadi kalimat ,sulit menulis bait- baitnya.

Hari ini aku mencoba melatih siswa menulis puisi dengan metode Jisa Afta , penulis buku Kitab Semilir yang kupelajari di pembelajaran online facebook Jisa Afta.

Menulis puisi harus didasarkan pada alam berpikir : sederhana, bebas, terbuka, dan imajinatif.

Keempat hal tersëut saya praktikkan dalam proses pembelajaran teks puisi dengan tahapan:

1.memproduksi kata, 2.merangkai kata menjadi baris kalimat yang indah,3.syarat puisi indah 4. latihan menulis puisi 1 bait.

Ah,...sayang sekali hari ini waktu 2x45 menit tidak cukup untuk materi ini.Hari ini hanya sampai memproduksi kata dan merangkai kata menjadi kalimat yang indah.

Tea Terina ~ 61017

Labels: ,

Tuesday, 3 October 2017

Dibalik BEKAR dan Secangkir Kopi
















PARODI SKETSA | JISA AFTA

Dibalik BEKAR dan Secangkir Kopi 
Selepas Sholat Subuh aku menjemput kemalasanku yang masih bersembunyi dibalik fajar. Kubangunkan ia dengan penuh suka dan duka. 
“hei” gumamku
“apa?” kata sang malas dalam hatiku
“ini sudah pagi, tak baik berbaring lagi selepas Sholat” kataku lagi padanya.
“tunggulah sebentar, Jisa” kata si malas tadi dengan wajah tampan dan macho nya seolah-olah ingin aku tampar dan injak dari persembunyiannya.
Aku tarik tangannya, aku gendong tubuhnya tapi tak seperti menggendong tubuh kekasihku yang telah jadi mantan, aku gendong sambil menarik kupingnya, aku juga menarik kedua kakinya “kau pemalas”.
“mengapa kau begitu kasar padaku Jisa?” tanya nya lagi
“aku sangat lembut padamu” kataku
“lembutnya saja seperti ini, bagaimana kasarnya? aku bisa mati kau bunuh” dengan bibirnya yang tak punya rasa takut seolah-olah menganggap remeh ajakanku.

Lari Pagi
Tak jauh dari bukit, ada godaan menghanyutkan dari teriakan burung-burung yang kutaktahu apa namanya, maklum, aku tak melihat tubuh dan bentuk mereka, burung-burung itu terlalu kecil, hanya suara, dan bisa saja kalau pun dekat aku juga tak paham nama mereka. Aku sudah tak pernah menonton tv selama setahun, kalau saja nonton, ya,, saat makan di warung yang memutar tv. Mataku memandang ke arah tv tapi hati dan segenap jiwa ragaku fokus ke lezatnya makanan yang sedang kusantap. Hmmmm, aku lebih suka makan disaat sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Bila aku kekenyangan maka maka aku bisa berjalan sambil tertidur.
Andai aku nonton tv tentang hewan, pasti aku tahu nama burung itu, soalnya pelajaran biologi disekolah dulu tidak bersarang lagi dalam otakku.

Aku mulai berlari pagi, tak butuh musik ditelinga sebab suara panggilan sayang dan cinta dari kata-kata dan lidah kawanan bersayap itu membuat langkah kecilku terpacu untuk berlari.
Ku hirup udara segar yang berhembus dari surga kecil bernama bumi ini, Oksigen masuk melalui hidungku, di olah dalam sistem pernafasan tubuhku, hasil pengolahan itu menyuplai ke jantungku, atau jantungku tak bisa bekerja tanpa oksigen, yang mana lebih dulu? oksigen masuk dan memberi asupan ke jantung atau jantung tak bisa bekerja tanpa oksigen, ahhh jisa, kamu sedang lari pagi atau kuliah hahhaha..... begitulah bisik si malas dalam pelarian ku di pagi ini.
Aku tidak merokok.
“aku tak tanya, Jisa” ungkap si malas,
“hmmm, aku tidak bicara padamu, malas” ungkapku pada si malas yang selalu menggangguku dalam acara lari pagi tanpa sponsor ini :)
Tibalah aku di puncak bukit, aku melihat kebesaran Nya dan melihat kerdilnya diriku dan semua kebanggaanku.
Dia adalah Tuhan, menciptakan lembah indah ini penuh kesempurnaan.
Kulihat si malas membelai rambutnya disisiku, dan aku pun mulai merasakan lelah karena sejak tadi di pundakku, si malas hanya bertengger. Aku hanya sendiri tapi seolah-olah berdua, bebanku jadi dua, antara aku dan rasa malasku.

Lautan lepas yang terkurung oleh barisan pegunungan, aku berjalan kearah utara tapi pandanganku kearah timur melihat matahari yang mulai perlahan menampakkan jasadnya.
“sungguh indah” kataku
“apa yang indah, biasa aja, tuh” kata si malas dengan wajahnya yang ingin ku lempar dan kucabut dari lehernya.
Lelah dan indah kurasakan dalam waktu yang sama, sungguh aneh kehidupan ini, harus bersusah - susah ke puncak bukit untuk menikmati keindahannya, harus berlari, kalau tidak, tak akan melihat mentari indah itu. Kalau tidak berlari, maka aku akan kehabisan waktu. Apa nama kejadian ini yah? adakah di kamus bentuk kehidupan yang mencoba mendefinisikan ini semua dalam satu kata? aku rasa belum ada profesor yang berfikir tentang ini. Hmmm tunggu, malas, aku pikir..... baiklah,,,
“namanya adalah..... sstttttt,,, apa perlu kubisikkan saja ? agar burung-burung tak mendengar ini semua?” ungkapku.
“ahhh , kau mulai , Jisa. Sumpah, aku bosan mendengar ocehanmu” kata si malas padaku lagi.
“baiklah kita pulang, malas” aku gendong si malas di pundakku, tapi anehnya tak ada satu pun orang-orang yang melihat dia dipundakku, hmmmm.
 
Tentang Kopi
Tiba di rumah, aku langsung ke dapur, kuraih gelas kosong, kutatap dalam - dalam maknanya lebih dalam ketimbang dasar cangkirnya yang tampak kotor. Ku ambil sendok, sudah dua bulan tak pernah ku cuci, sebab aku lebih suka membersihkan hatiku ketimbang benda-benda tak berguna ini.
Bila aku seperti ini, maka si malas menjadi raja dan aku menjadi hamba. Tapi bila aku rajin, maka si malas menangis melihatku, apalagi kalo aku tak pernah menonton sinetron yang hanya disukai kawanan si malas itu. 
Si malas hanya bisa berkata...
“Jisa, kamu aneh”
masa bodoh, kataku.
Ku ambil setumpuk gula dalam bungkusnya yang belum ku tuang kedalam wadah sesungguhnya.
“alhamdulillah, semut-semut ini memaksaku untuk ikhlas lagi hari ini”. Semua butiran gula pasir ini telah menjadi milik mereka seutuhnya. Aku tak mungkin lagi mengklaim yang telah jadi hak prerogatif mereka.

Aku ambil kopi, beberapa ahli membuktikan bahwa kopi hangat bisa membunuh bakteri dan kuman dalam mulut,
“hmmmm, pantas saja aku tak pernah sakit gigi sejak kenal kopi. Dan minum teh membuatku sakit gigi sejak aku belum mengenal kopi”
Jika bakteri mati dalam mulut karena kopi, berarti kopi ini baik dan sehat.
Tapi apakah sedemikian tragisnya minum kopi tanpa gula di pagi ini? mungkin ini jalan menuju dunia baru, KOPI DALAM FILOSOFI TANPA GULA.


 Tentang Google
Saatnya buka email, aku baca email dari penulis BEKAR, namanya adalah Mis Mie, aku baca dan aku baca tulisannya, ada yang unik dari tulisan ini.
LAKI-LAKI BERMAHKOTA, itulah judulnya, isinya sangat singkat tapi membuat aku penasaran.
“ Masih ditempat yang sama, Tempat yang tak semua orang bisa duduk diposisi itu, Membahas sesuatu tentang masa depan orang banyak “
itulah kalimat awal tulisan Mis Mie,
entah kenapa tulisannya membuat aku ingin menulis PARODI SKETSA , dan jadilah parodi sketsa ini karena terinspirasi dari Mis Mie.
Lalu aku menulis dengan lancar tanpa terhalang seperti ini dan tiba di baris ini, ini semua karena imajinasi ku yang keluar setelah membaca karya tulis Mis Mie yang hebat.
Sudah lama aku tidak membaca tulisan yang bisa membuatku terpacu.
Aku pun mulai mencari gambar yang pas di GOOGLE, seorang paman yang selalu tahu makna pencarianku


Tentang Hardisk dan Ram
Laptop jadulku tak bisa berkata banyak, ia hanya pasrah dan selalu berkata
“Jisa, jari-jarimu terlalu lincah, aku lelah tak bisa mengimbangimu lagi, gantilah aku dengan yang baru” bisik Ram padaku.
“hei, jisa, apakah kau mendengarnya?” ungkap si malas lagi entah dia sedang bersembunyi dimana sejak tadi.
“gudangku tak bisa lagi menampung gambar-gambar yang kau cari di google, jisa” kata Hardisk kepadaku.
“Jisa, kau mendengarnya?” kata si malas
“ya” kataku
Tapi bagaimana lagi, hari ini aku harus melakukan yang tidak dilakukan orang lain. Ada begitu banyak teman-temanku di facebook yang perlu tahu tentang potensi mereka. Yah,,, hidup harus dibangkitkan dari kesadaran.
“So’ Bijak kamu” kata si malas dengan bibirnya yang ingin ku tarik.

Tentang Photoshop jadul

Menarik gambar yang ada, aku lihat ada gambar yang pas di depan penglihatanku, bekerja dengan seni atau bekerja dengan ikhtiar ahhh, sama aja, dua-duanya butuh diam dan kopi.

Aku menemukan orangnya dalam sudut pandang berbeda. Menariknya dalam ilmu tak pasti, tidak pernah diajarkan ini disekolah, antara rangkaian alur berfikir terbalik, pengetahuan terpisah dan intuisi yang membuat kebanyakan orang jadi sombong itu


Mengubahnya dalam color balance photoshop, agak hijau tapi tak kelabu, biarkan warnanya menetes seperti hujan senja yang tidak senja tapi hijau yang bukan hijau. dan akhirnnya terciptalah BEKAR di sore ini.


Kadang, sulit membedakan keinginan untuk maju atau keinginan yang menggebu-gebu tanpa ilmu.
Pelajari, apakah keyakinan kita benar-benar teruji dan punya kapasitas.
“ahhh,, ngomong apa kamu Jisa, ga jelas ahhh” kata si malas lagi
Jisa Afta

Labels: , ,

Monday, 2 October 2017

Fatma | Di Tulis Oleh : ???

 

BEKAR | Bedah Karya #3
Silahkan klik disini => BEKAR untuk gabung
 
Tujuan BEKAR : 
 
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembaca
Untuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.
 
ATURAN MAIN :
  • Wajib baca sampai habis cerpen ini.
  • Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.
  • PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.
  • Cerpen tayang selama 24 Jam
  • Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com
SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !

Fatma 
 
Langit sore yang menyejukkan mata. Siluet merah temaram yang sangat menawan, lengkap sudah kini, dengan burung-burung yang berbondong-bondong kembali ke sarang. Angin bertiup lembut. Menyibak helai kerudung putih yang mulai berwarna cokelat kusam. Kerudung lusuh yang selalu setia terpakai guna menutup aurat gadis kecil bermata coklat muda. Senja itu, sang gadis sedang bergeming di atas besar di tepi pantai.
 
“Fatma!” Terdengar suara lantang milik laki-laki bergelar Bapak. Fatma yang mendengar namanya dipanggil, langsung beranjak sambil menenteng buku besar yang ia temukan di tumpukan barang-barang rongsokan yang telah dikumpulkan oleh bapaknya. Bahkan kemanapun gadis ini pergi, buku itu selalu ada di genggamannya.
 
“Ada apa, Pak?” tanya Fatma dengan senyum menawan miliknya.
 
“Tolong bantu Bapak memilah rongsok!” titah Sang Bapak. Tanpa berfikir lama Fatma mengangguk mengiyakan. Begitu jelas terlihat dari mata Fatma, dia adalah gadis yang selalu tulus mengerjakan apapun. Sehingga dia tetap bersyukur walau dia hanya tinggal di rumah kecil yang terbuat dari bambu, bersama bapaknya saja. Karena ibunya telah meninggal saat melahirkannya. Memang terkadang ada siluet sedih di matanya. Saat melihat gadis lain tertawa lepas bersama ibu mereka. Terlebih saat melihat anak-anak yang seumuran dengannya sedang menenteng tas memakai seragam sekolah mereka, hati Fatma sedikit merasakan kesedihan. Tekadnya untuk sukses sangatlah kuat. Hingga dia memutuskan, untuk belajar bersama alam yang selalu memeluknya. Setiap hari, dia berjalan mengelilingi pantai. Menulis dari apa yang dia lihat dengan bahasa sederhana yang ia tahu.
 
Ia belajar memahami alam sekaligus bersyair. Sederhana saja, karena dia sangat mengagumi penyair atau pujangga bernama Kahlil Gibran.
 
*
 
“Buku milik siapa ini?” Suara perempuan dari kejauhan yang sampai ke telinga Fatma. Hingga Fatma baru menyadari, kalau bukunya tidak ada di genggamannya. Seketika dia berlari ke sumber suara.
 
“Itu buku saya,” ucap Fatma sambil menunjuk bukunya yang masih berada di genggaman perempuan asing.
 
“Kamu bernama ... Fatma?” perempuan itu membaca nama Fatma yang tertera di lembar pertama buku itu.
 
“Ya, saya Fatma.”
 
“Perkenalkan, saya Fauziyah.” Fauziyah tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Fatma, “Saya boleh membaca isinya, ‘kan?” tanya Fauziyah sambil menatap lekat wajah Fatma yang sedang tersenyum.
 
“Tentu.” Fauziyah mengajak Fatma untuk duduk. Mereka berbincang-bincang. Termasuk menanyakan tentang pendidikan . sampai saat Fauziyah menanyakan tentang Pendidikan tingkat apa yang kini sedang dijalani oleh Fatma. Membuat gadis bernanama Fatma itu tersenyum dengan mata yang berbinar.
 
“Terakhir, Fatma sekolah saat Fatma duduk di bangku kelas tiga SD, setelah itu Fatma tidak bisa melanjutkan sekolah karena Bapak tidak bisa membiayai. Fatma sedih, tapi Fatma yakin. Fatma bisa belajar, belajar dari apa yang telah Allah ciptakan. Sampai kini Fatma benar-benar telah sadar, setiap ciptaan-Nya itu memiliki arti dan alasan yang bisa kita pelajari,” jelas Fatma lalu menatap Fauziyah yang merasa haru. Fauziyah yang mendengar penjelasan
 
Fatma merasakan getaran di hatinya. Karena dirinya sendiri yang kini sudah bergelar sarjana. Terkadang belum bisa belajar dari apa yang telah Allah ciptakan.
 
Fauziyah yang kini menjadi sarjana sastra. Menawari Fatma untuk menjadikan tulisannya menjadi sebuah buku antologi. Di mana hasil penjualannya bisa dia gunakan untuk kebutuhannya.
Fatma yang mendengar kebaikan hati Fauziyah langsung berkaca-kaca dan seketika memeluk Fauziyah dengan erat. Ada air mata kebahagiaan di wajah Fatma juga Fauziyah.
 
“Tentu ... Fatma mau. Terima kasih Kak Fauziyah, Kakak begitu baik,” ucap Fatma masih memeluk erat tubuh Fauziyah. Waktu terus berjalan, semenjak senja waktu itu. Buku Fatma dijual di beberapa toko buku yang tersebar di kota itu. Hingga lambat laun, kini Fatma memiliki beberapa buku antologi. Bahkan kini dia mengajar sastra di rumah sastra miliknya sendiri. Baginya, ilmunya yang hanya sedikit itu, setidaknya bisa membantu mereka yang memiliki tekad ingin menggapai mimpi mereka. Fatma, kini dikenal sebagai gadis yang memiliki karya hebat. Dia bisa sukses seperti ini karena apa? karena tekadnya untuk sukses sangatlah kuat.
 
Dia serius menggapai mimpinya, walau dia hanya bergurukan ciptaan-Nya. Buktinya dia saja bisa sukses, apalagi yang belajar bersama guru dan ciptaan-Nya. Pasti, bisa lebih sukses dari Fatma. Kuncinya, Ikhtiar (berusaha), Tawakal (menyerahkan semuanya pada-Nya), dan Berdo’a.
 
- End -
 
Penulis akan di hadirkan disesi terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur ceritanya, pertanyaan kamu akan di jawab sekaligus disesi terakhir.
 
Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com
Silahkan klik disini => BEKAR untuk gabung

Sunday, 1 October 2017

Valentine Bukan untuk Kita | Oleh Yayuk Amirotin






















Penulis di BEKAR | Bedah Karya. Silahkan klik disini => BEKAR untuk gabung
Valentine Bukan untuk Kita | Oleh Yayuk Amirotin
Pagi-pagi aku telah tiba di sekolah. Kelas-kelas sepi, tak tampak seorang pun kutemui di sepanjang koridor. Setelah  aman, aku berbalik menuju ruang guru. Kulihat Bu Susiah, guru agama Islam turun dari Avansa. Beliau menuju kantor, jantungku berdebar kencang. Usai mengucap salam, kuberanikan diri mengutarakan maksud hati. Alhamdulillah, aku girang bukan kepalang, ternyata Bu Susiah menyambut baik usulku.

Aku segera ke kelas, lega perasaanku. Kuharap semua berjalan sesuai keinginan. Aku tak mau teman-teman terjerumus oleh Valentine. Sejak kemarin, tak kulihat Faisal di kelas. Mungkin ia  sibuk mempersiapkan lomba karya ilmiah untuk mewakili sekolah ke tingkat provinsi.

“Hebat...!Hebat...!” tepuk tangan Zahra, merusak konsentrasiku membaca buku. Kulihat Zahra, Debora, dan Zanet berjalan mendekat. Mereka tersenyum getir.

“Lihat, teman-teman!Ternyata gadis sok suci ini, telah melaporkan rencana Valentine kita kepada Bu Susiah!” tuding Zahra kasar, nyaris mengenai hidung.

Serentak aku berdiri dan membuang tangannya. “Sungguh kau tak sopan, Zahra!”

“Dasar tukang adu!” Zanet menimpali, “kalau kau tak suka dengan rencana kami, kau tak usahlah ikut!Bukan malah mengadukan kami ke Bu Susiah!” Kata-kata Zanet menusuk hati, membangkitkan amarahku yang membuncah.

“Maaf, Zanet!Aku sungguh tak mengadukan rencana kalian,” belaku.

“Pintar sekali kau berkilah, Imah!Kau kira, kami tak tahu!Tadi pagi kau menemui Bu Susiah di kantor, kan?!” Debora ikut bicara.

“Dengarkan dulu, akan kujelaskan. Aku....”

“Kami tak perlu lagi penjelasanmu!Sudah sangat jelas semuanya!” Zahra memotong ucapanku, “aku sungguh kecewa padamu!”

“Tapi, ini kulakukan demi kebaikan kita, Zahra!” belaku.

“Kebaikan macam apa, maksudmu, hah?!” Teriak Zahra melotot.

“Valentine itu, bukan untuk kita, Zahra!”Teriakku.

Plakk!Tamparan keras dari Zahra, mendarat di pipiku. “Dasar sok suci!”

Sungguh tak kusangka, Zahra tega berbuat seperti itu. Perlahan air mata pun jatuh berlinang. Sesak dada menerima perlakuannya. Marah dan tak terima, berkecamuk menguasaiku. Tapi, takkan kubalas tamparannya. Hingga kemudian, Fiona datang dan  melerai kami.

“Apa-apaan kalian ini?!Sungguh memalukan!Kita ini teman sekelas, mengapa harus ada keributan?!” Fiona berada di tengah-tengah aku dan Zanet.

“Dia yang memulai duluan!” Zahra kembali menudingkan jarinya.

“Sudah-sudah!Kalian harus damai dan saling memaafkan. Imah...!” Sebelum Fiona melanjutkan kata-katanya, aku segera mengambil tas dan berlari meninggalkan kelas. Linangan air mata terus saja bercucuran sepanjang perjalanan pulang. Fiona berlari mengejar seraya berteriak-teriak memanggil. Namun, aku terus berlari dan meninggalkannya.

*****

Malam semakin larut, kucoba memejamkan mata rapat-rapat. Besok adalah hari Valentine, rencanaku mungkin gagal gara-gara persoalan tadi siang.

“Dasar tukang adu” kata-kata Zanet benar-benar memecah konsentrasi tidurku.

Masih tergambar jelas dalam benakku, betapa bersemangatnya teman-temanku merayakan Valentine dengan berbagai usulan acara. Debat kusir di kampus kemarin siang, kembali terbayang. Waktu itu, suara gaduh di kelas XII Bahasa, tak membuatku mengalihkan pandangan dan konsentrasi untuk terus membaca buku.

“Kita ke pantai Serang saja, teman-teman,”  usul Debora.

“Bagaimana guys, setuju?” Zahra, menawarkan pendapat Debora.

“Saya tidak setuju!Musimnya tidak mendukung. Hampir setiap hari hujan!” tolak Zanet.

“Betul tuh, kata Zanet!” seru beberapa siswa. Suasana kelas pun gaduh.

“Ahaaa...!Ke Kampung Coklat!” seru Dina girang,” kita bisa menikmati aneka kue dan minuman coklat di sana, pasti lebih romantis,” lanjutnya.

“Bagaimana teman-teman?Setuju ke Kampung Coklat?” teriak Zahra.

“Hai, Fatimah!Dari tadi kamu cuek saja.Usul gitu, kek!” Zahra berjalan mendekat.

“Aku ingin ke perpustakaan atau mengerjakan tugas saja,” jawabku datar.

“Apa?!Gila bener ide loe. Ini perayaan Valentine Imah, bukan gerakan membaca!” kata Zahra ketus.

“Tapi kita sebagai umat Islam, tak boleh ikut merayakan, Zahra!” aku mengingatkan.

“Huuuuuu...!” Serempak seisi kelas mencibir. Aku tak peduli mereka memihak Zahra.

“Kita ini masyarakat plural Imah. Terpenting kita tidak berbaur dengan mereka yang melebih-lebihkan Valentinei.. Kita cukup bermain dan makan bersama. Habis gitu, tukar hadiah. Simple, kan?!” jelas Zanet.

Tetap saja. Bagiku tak boleh ada perayaan Valentine. Meskipun itu ditujukan kepada ibu sendiri. Sebagai pemimpin diskusi, Zahra memutuskan bahwa Valentine akan dirayakan di Kampung Coklat, usai asar hingga malam. Semua wajib hadir bersama pasangan. Bagi yang tidak mempunyai pasangan, bisa mengajak teman atau saudara.

*****

Tamparan keras Zahra, tatapan kebenciannya benar-benar membuatku sedih. Jika ingat hal itu, derai air mata pun deras mengalir. Salahkah apa yang telah kuperbuat?Padahal, aku hanya ingin membantu mereka terbebas dari tradisi Valentine. Detak jarum jam, kian keras bersuara.

“Dasar tukang adu!”

 “Aku sungguh kecewa padamu!”

Kata-kata itu terngiang terus di telinga, meski kututup rapat-rapat, tapi suaranya malah semakin keras.

“Kau tampak sedih. Ada apa Fatimah?” suara tak asing, menyapaku.

Aku  menoleh. Terlihat Faisal berdiri tersenyum.

“Kulihat dari tadi, kamu murung terus. Apa ada masalah di sekolah?” tanya Faisal.

Aku diam. Terlihat rembulan mulai bersinar. Awan hitam yang menutupi, kini perlahan bergerak menjauh. Bintang pun bertebaran menghias malam. Rasanya aku sangat bahagia berada di dekat Faisal.

“Kamu kok, malah melamun lagi?” Faisal melangkah mendekat. Dan lebih dekat.

Debar jantungku kian kencang. Panas dingin di tubuh, seakan menjalar dari kaki hingga ujung rambut. Gemetar rasanya tubuhku ini berada di dekatnya.Apalagi melihat sinar teduh matanya. Bulan mengintip, mencibir iri melihat kedekatanku.

“Kkaa...kaaa--kaa..kamu mau ngapain, Faisal?” tanyaku gagap.

Aku tersentak. Sentuhan  halus meraba kening. Kubuka mataku perlahan.

“Badanmu panas. Kau sakit, Fatimah?” kulihat wajah kekhawatiran ibu.

“Sakit?!” gumamku heran.

Aku tak merasa pusing sama sekali. Hanya dingin sedikit kurasa. Mungkin panas badanku disebabkan kurang tidur dan pikiran kalut yang sangat mengganggu semalam. Yang penting jangan sampai ibu tahu, kalau aku baru saja memimpikan Faisal. Atau jangan-jangan, aku  rindu Faisal ya…

“Lho ada apa, kok malah senyum-senyum sendiri begitu, Imah?” tanya ibu menyelidik.

“Ehmmm...ehmmm… tidak apa-apa, Bu,” jawabku tersipu.

“Sebaiknya kau salat subuh dulu. Ibu siapkan sarapan, dan segeralah minum obat. Kalau sakit, jangan dipaksakan masuk. Nanti ibu buatkan surat ijin.”

“Iya, Bu, terimakasih” jawabku bergegas mengambil wudu. Kubuka jendela kamar. Rembulan masih setia bersinar hingga tiba fajar.

“Ternyata hanya mimpi...,” gumamku lirih lalu bergegas salat.

*****

Siang ini sungguh membosankan. Udara di luar panas menyengat. Tapi untunglah, panas badanku menurun. Usai melaksanakan salat zuhur dan makan siang, aku mencari-cari buku yang belum tuntas kubaca. Beberapa tempat kugeledahi, tapi tak jua ditemukan. Kulirik jam telah menunjukkan pukul dua.

“Assalamu’alaikum...!”

“Wa’alaikumsalam...!” jawabku keluar kamar dan membukakan pintu.

Bagai kemarau panjang disiram hujan semalam. Faisal datang mengejutkan. Dua hari aku tak bertemu dengannya.

“Aku tak mau kalau hanya bepergian berdua. Ini bukan karena merayakan Valentine, kan?!” tanyaku.

Faisal tersenyum. “Fiona dan Dina sudah menunggu di mobil. Memangnya mengapa sih, kamu suka khawatir kalau jalan sama aku?”

“Tidak apa-apa, aku hanya tak ingin ada….”

“Iya, aku mengerti dengan maksudmu, Imah,” Faisal menghentikan ucapanku.

 “Tapi..., kamu harus ijin dulu kepada ibuku.”

“Siappp, Nona Imah!” ekspresi Faisal membuatku tertawa geli.

Ibu tadinya keberatan mengijinkanku pergi. Tapi setelah melihat aku sudah sehat, beliau pun merestui.

Sesampai di lokasi, Faisal segera memarkirkan mobilnya di samping perpustakaan Bung Karno. Hari itu, pengunjung tampak ramai.

“Ayo, kita segera masuk!” ajak Fiona.

“Assalamu’alaikum, Imah,” serentak Zahra, Debora, dan Zanet segera menyambutku di ruang baca. Seluruh siswa kelas XII Bahasa telah hadir juga di sana.

“Wa’alaikumsalam...lho, kalian tidak jadi ke Kampung Coklat?” tanyaku heran.
Mereka diam dan tampak saling memandang sebelum akhirnya mendekat.

“Imah, aku minta maaf telah menghina kamu waktu itu,” sesal Zanet.

“Aku sungguh berdosa, Imah. Aku tak sengaja menamparmu. Aku tak pantas menjadi temanmu lagi. Maafkan aku, Imah. Maafkan aku. Aku malu padamu. Malu dengan diriku sendiri,” isak Zahra seraya memelukku.

“Aku telah memaafkan kalian,” jawabku tersedu mengingat peristiwa itu. “Kalian adalah temanku, aku sayang kalian.” Air mataku bercucuran basahi pipi. Ya, air mata bahagia di hari Valentine.

“Ini bukumu, jatuh tertinggal di kelas,” Zahra menyodorkan buku kecil.

 “Maaf, tanpa seijinmu, aku telah membaca buku ‘Enam Kerusakan di Hari Valentine bagi Umat Islam.’ Karena bukumu inilah, kini aku sadar akan larangan Valentine bagi kita. Aku minta maaf, Imah, tak sepantasnya aku kasar padamu. Kau gadis yang baik, aku telah menyakitimu,” tangis Zahra menjadi.  Kuhapus air matanya, kami berpelukan sangat erat. Teman-teman ikut terharu hingga menitikkan air mata.

“Assalamu’alaikum....” kehadiran Bu Susiah melepas pelukan kami.

“Wa’alaikumsalam…” jawab kami serempak.

“Alhamdulillah, kalian sudah baikan. Maaf ibu datang terlambat. Mari, kita mulai kegiatan sore ini dengan bacaan basmalah. Temukan buku bertema ‘Valentine’, baca dan pahami!Selanjutnya, buat cerpen bertema Valentin No, Writing Yes! Ibu akan memilih 50 cerpen terbaik untuk dibukukan dan juara 1-3 berhak mendapat hadiah spesial dari Ibu,” perintah Bu Susiah.

“Horeeee.”
Aku sangat bahagia. Teman-teman terhindar dari perayaaan Valentine yang jelas-jelas bukan milik Islam. Ternyata, ideku berhasil. Gerakan membaca yang kuusulkan ke Bu Susiah pagi itu, dikembangkan Zahra dikolaborasi gerakan menulis.

“Hari ini aku sungguh bahagia, semuanya telah kembali. Terimakasih, Faisal. Kamu, tidak mampir dulu?” Kubuka pintu mobil.

“Fatimah, tunggu sebentar.” Kuurungkan langkah. Jantungku berdebar, lama kami duduk terdiam. Aku mulai kikuk dengan keadaan. Malu dan gelisah berpadu.

“Fatimah, hari ini aku juga sangat bahagia bisa bersamamu.” Gemetar suara Faisal jelas terdengar. “Ketika siang, kumelihatmu di kelas. Pada malam hari, kulihat kau dalam mimpi. Aku tak tahu, rasa ini sekedar suka ataukah cinta. Jujur, sudah lama kupendam rasa ini. Aku merasa bahagia di sampingmu, rasanya tak ingin jauh darimu. Dua hari tak bertemu, rasa rindu  menyiksaku. Mungkin, aku telah jatuh cinta padamu. Bolehkah aku menjadi kekasihmu, Imah?” tanya Faisal berharap.

Aku tertunduk. Hatiku seolah menari di atas awan. Butir-butir kebahagiaan bertebar di relung. Kelu bibirku, bahagia dan haru bercampur aduk.

“Faisal, aku...aku...” jawabku terbata, “aku tak menyangka jika hatiku telah menawanmu. Tapi, aku tak mau, Valentine ini menjadi sejarah kita ke depannya. Karena Valentine, bukan milik kita. Maafkan aku belum bisa memberimu jawaban hari ini.”

“Aku mengerti, Imah. Maafkan aku. Aku akan sabar menunggu. Dan kau tak usah khawatir Imah, aku akan menjemputmu di waktu yang tepat nanti. Doaku, semoga kita dapat berjodoh untuk selamanya. Amiin. Mari, kuantar kau pulang sekalian pamit pada ibu.”

TAMAT

Ingin karya cerpen kamu di bedah di BEKAR? silahkan bergabung di Grup Jisa Afta dengan cara klik disini => BEKAR

Valentine Bukan untuk Kita | Di Tulis Oleh : ???



BEKAR | Bedah Karya #2
Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembaca
Untuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.
ATURAN MAIN :
  • Wajib baca sampai habis cerpen ini.
  • Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.
  • PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.
  • Cerpen tayang selama 24 Jam
  • Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com atau inbox di Jisa Afta
SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !
Valentine Bukan untuk Kita

Pagi-pagi aku telah tiba di sekolah. Kelas-kelas sepi, tak tampak seorang pun kutemui di sepanjang koridor. Setelah  aman, aku berbalik menuju ruang guru. Kulihat Bu Susiah, guru agama Islam turun dari Avansa. Beliau menuju kantor, jantungku berdebar kencang. Usai mengucap salam, kuberanikan diri mengutarakan maksud hati. Alhamdulillah, aku girang bukan kepalang, ternyata Bu Susiah menyambut baik usulku.

Aku segera ke kelas, lega perasaanku. Kuharap semua berjalan sesuai keinginan. Aku tak mau teman-teman terjerumus oleh Valentine. Sejak kemarin, tak kulihat Faisal di kelas. Mungkin ia  sibuk mempersiapkan lomba karya ilmiah untuk mewakili sekolah ke tingkat provinsi.

“Hebat...!Hebat...!” tepuk tangan Zahra, merusak konsentrasiku membaca buku. Kulihat Zahra, Debora, dan Zanet berjalan mendekat. Mereka tersenyum getir.

“Lihat, teman-teman!Ternyata gadis sok suci ini, telah melaporkan rencana Valentine kita kepada Bu Susiah!” tuding Zahra kasar, nyaris mengenai hidung.

Serentak aku berdiri dan membuang tangannya. “Sungguh kau tak sopan, Zahra!”

“Dasar tukang adu!” Zanet menimpali, “kalau kau tak suka dengan rencana kami, kau tak usahlah ikut!Bukan malah mengadukan kami ke Bu Susiah!” Kata-kata Zanet menusuk hati, membangkitkan amarahku yang membuncah.

“Maaf, Zanet!Aku sungguh tak mengadukan rencana kalian,” belaku.

“Pintar sekali kau berkilah, Imah!Kau kira, kami tak tahu!Tadi pagi kau menemui Bu Susiah di kantor, kan?!” Debora ikut bicara.

“Dengarkan dulu, akan kujelaskan. Aku....”

“Kami tak perlu lagi penjelasanmu!Sudah sangat jelas semuanya!” Zahra memotong ucapanku, “aku sungguh kecewa padamu!”

“Tapi, ini kulakukan demi kebaikan kita, Zahra!” belaku.

“Kebaikan macam apa, maksudmu, hah?!” Teriak Zahra melotot.

“Valentine itu, bukan untuk kita, Zahra!”Teriakku.

Plakk!Tamparan keras dari Zahra, mendarat di pipiku. “Dasar sok suci!”

Sungguh tak kusangka, Zahra tega berbuat seperti itu. Perlahan air mata pun jatuh berlinang. Sesak dada menerima perlakuannya. Marah dan tak terima, berkecamuk menguasaiku. Tapi, takkan kubalas tamparannya. Hingga kemudian, Fiona datang dan  melerai kami.

“Apa-apaan kalian ini?!Sungguh memalukan!Kita ini teman sekelas, mengapa harus ada keributan?!” Fiona berada di tengah-tengah aku dan Zanet.

“Dia yang memulai duluan!” Zahra kembali menudingkan jarinya.

“Sudah-sudah!Kalian harus damai dan saling memaafkan. Imah...!” Sebelum Fiona melanjutkan kata-katanya, aku segera mengambil tas dan berlari meninggalkan kelas. Linangan air mata terus saja bercucuran sepanjang perjalanan pulang. Fiona berlari mengejar seraya berteriak-teriak memanggil. Namun, aku terus berlari dan meninggalkannya.

*****

Malam semakin larut, kucoba memejamkan mata rapat-rapat. Besok adalah hari Valentine, rencanaku mungkin gagal gara-gara persoalan tadi siang.

“Dasar tukang adu” kata-kata Zanet benar-benar memecah konsentrasi tidurku.

Masih tergambar jelas dalam benakku, betapa bersemangatnya teman-temanku merayakan Valentine dengan berbagai usulan acara. Debat kusir di kampus kemarin siang, kembali terbayang. Waktu itu, suara gaduh di kelas XII Bahasa, tak membuatku mengalihkan pandangan dan konsentrasi untuk terus membaca buku.

“Kita ke pantai Serang saja, teman-teman,”  usul Debora.

“Bagaimana guys, setuju?” Zahra, menawarkan pendapat Debora.

“Saya tidak setuju!Musimnya tidak mendukung. Hampir setiap hari hujan!” tolak Zanet.

“Betul tuh, kata Zanet!” seru beberapa siswa. Suasana kelas pun gaduh.

“Ahaaa...!Ke Kampung Coklat!” seru Dina girang,” kita bisa menikmati aneka kue dan minuman coklat di sana, pasti lebih romantis,” lanjutnya.

“Bagaimana teman-teman?Setuju ke Kampung Coklat?” teriak Zahra.

“Hai, Fatimah!Dari tadi kamu cuek saja.Usul gitu, kek!” Zahra berjalan mendekat.

“Aku ingin ke perpustakaan atau mengerjakan tugas saja,” jawabku datar.

“Apa?!Gila bener ide loe. Ini perayaan Valentine Imah, bukan gerakan membaca!” kata Zahra ketus.

“Tapi kita sebagai umat Islam, tak boleh ikut merayakan, Zahra!” aku mengingatkan.

“Huuuuuu...!” Serempak seisi kelas mencibir. Aku tak peduli mereka memihak Zahra.

“Kita ini masyarakat plural Imah. Terpenting kita tidak berbaur dengan mereka yang melebih-lebihkan Valentinei.. Kita cukup bermain dan makan bersama. Habis gitu, tukar hadiah. Simple, kan?!” jelas Zanet.

Tetap saja. Bagiku tak boleh ada perayaan Valentine. Meskipun itu ditujukan kepada ibu sendiri. Sebagai pemimpin diskusi, Zahra memutuskan bahwa Valentine akan dirayakan di Kampung Coklat, usai asar hingga malam. Semua wajib hadir bersama pasangan. Bagi yang tidak mempunyai pasangan, bisa mengajak teman atau saudara.

*****

Tamparan keras Zahra, tatapan kebenciannya benar-benar membuatku sedih. Jika ingat hal itu, derai air mata pun deras mengalir. Salahkah apa yang telah kuperbuat?Padahal, aku hanya ingin membantu mereka terbebas dari tradisi Valentine. Detak jarum jam, kian keras bersuara.

“Dasar tukang adu!”

 “Aku sungguh kecewa padamu!”

Kata-kata itu terngiang terus di telinga, meski kututup rapat-rapat, tapi suaranya malah semakin keras.

“Kau tampak sedih. Ada apa Fatimah?” suara tak asing, menyapaku.

Aku  menoleh. Terlihat Faisal berdiri tersenyum.

“Kulihat dari tadi, kamu murung terus. Apa ada masalah di sekolah?” tanya Faisal.

Aku diam. Terlihat rembulan mulai bersinar. Awan hitam yang menutupi, kini perlahan bergerak menjauh. Bintang pun bertebaran menghias malam. Rasanya aku sangat bahagia berada di dekat Faisal.

“Kamu kok, malah melamun lagi?” Faisal melangkah mendekat. Dan lebih dekat.

Debar jantungku kian kencang. Panas dingin di tubuh, seakan menjalar dari kaki hingga ujung rambut. Gemetar rasanya tubuhku ini berada di dekatnya.Apalagi melihat sinar teduh matanya. Bulan mengintip, mencibir iri melihat kedekatanku.

“Kkaa...kaaa--kaa..kamu mau ngapain, Faisal?” tanyaku gagap.

Aku tersentak. Sentuhan  halus meraba kening. Kubuka mataku perlahan.

“Badanmu panas. Kau sakit, Fatimah?” kulihat wajah kekhawatiran ibu.

“Sakit?!” gumamku heran.

Aku tak merasa pusing sama sekali. Hanya dingin sedikit kurasa. Mungkin panas badanku disebabkan kurang tidur dan pikiran kalut yang sangat mengganggu semalam. Yang penting jangan sampai ibu tahu, kalau aku baru saja memimpikan Faisal. Atau jangan-jangan, aku  rindu Faisal ya…

“Lho ada apa, kok malah senyum-senyum sendiri begitu, Imah?” tanya ibu menyelidik.

“Ehmmm...ehmmm… tidak apa-apa, Bu,” jawabku tersipu.

“Sebaiknya kau salat subuh dulu. Ibu siapkan sarapan, dan segeralah minum obat. Kalau sakit, jangan dipaksakan masuk. Nanti ibu buatkan surat ijin.”

“Iya, Bu, terimakasih” jawabku bergegas mengambil wudu. Kubuka jendela kamar. Rembulan masih setia bersinar hingga tiba fajar.

“Ternyata hanya mimpi...,” gumamku lirih lalu bergegas salat.

*****

Siang ini sungguh membosankan. Udara di luar panas menyengat. Tapi untunglah, panas badanku menurun. Usai melaksanakan salat zuhur dan makan siang, aku mencari-cari buku yang belum tuntas kubaca. Beberapa tempat kugeledahi, tapi tak jua ditemukan. Kulirik jam telah menunjukkan pukul dua.

“Assalamu’alaikum...!”

“Wa’alaikumsalam...!” jawabku keluar kamar dan membukakan pintu.

Bagai kemarau panjang disiram hujan semalam. Faisal datang mengejutkan. Dua hari aku tak bertemu dengannya.

“Aku tak mau kalau hanya bepergian berdua. Ini bukan karena merayakan Valentine, kan?!” tanyaku.

Faisal tersenyum. “Fiona dan Dina sudah menunggu di mobil. Memangnya mengapa sih, kamu suka khawatir kalau jalan sama aku?”

“Tidak apa-apa, aku hanya tak ingin ada….”

“Iya, aku mengerti dengan maksudmu, Imah,” Faisal menghentikan ucapanku.

 “Tapi..., kamu harus ijin dulu kepada ibuku.”

“Siappp, Nona Imah!” ekspresi Faisal membuatku tertawa geli.

Ibu tadinya keberatan mengijinkanku pergi. Tapi setelah melihat aku sudah sehat, beliau pun merestui.

Sesampai di lokasi, Faisal segera memarkirkan mobilnya di samping perpustakaan Bung Karno. Hari itu, pengunjung tampak ramai.

“Ayo, kita segera masuk!” ajak Fiona.

“Assalamu’alaikum, Imah,” serentak Zahra, Debora, dan Zanet segera menyambutku di ruang baca. Seluruh siswa kelas XII Bahasa telah hadir juga di sana.

“Wa’alaikumsalam...lho, kalian tidak jadi ke Kampung Coklat?” tanyaku heran.
Mereka diam dan tampak saling memandang sebelum akhirnya mendekat.

“Imah, aku minta maaf telah menghina kamu waktu itu,” sesal Zanet.

“Aku sungguh berdosa, Imah. Aku tak sengaja menamparmu. Aku tak pantas menjadi temanmu lagi. Maafkan aku, Imah. Maafkan aku. Aku malu padamu. Malu dengan diriku sendiri,” isak Zahra seraya memelukku.

“Aku telah memaafkan kalian,” jawabku tersedu mengingat peristiwa itu. “Kalian adalah temanku, aku sayang kalian.” Air mataku bercucuran basahi pipi. Ya, air mata bahagia di hari Valentine.

“Ini bukumu, jatuh tertinggal di kelas,” Zahra menyodorkan buku kecil.

 “Maaf, tanpa seijinmu, aku telah membaca buku ‘Enam Kerusakan di Hari Valentine bagi Umat Islam.’ Karena bukumu inilah, kini aku sadar akan larangan Valentine bagi kita. Aku minta maaf, Imah, tak sepantasnya aku kasar padamu. Kau gadis yang baik, aku telah menyakitimu,” tangis Zahra menjadi.  Kuhapus air matanya, kami berpelukan sangat erat. Teman-teman ikut terharu hingga menitikkan air mata.

“Assalamu’alaikum....” kehadiran Bu Susiah melepas pelukan kami.

“Wa’alaikumsalam…” jawab kami serempak.

“Alhamdulillah, kalian sudah baikan. Maaf ibu datang terlambat. Mari, kita mulai kegiatan sore ini dengan bacaan basmalah. Temukan buku bertema ‘Valentine’, baca dan pahami!Selanjutnya, buat cerpen bertema Valentin No, Writing Yes! Ibu akan memilih 50 cerpen terbaik untuk dibukukan dan juara 1-3 berhak mendapat hadiah spesial dari Ibu,” perintah Bu Susiah.

“Horeeee.”
Aku sangat bahagia. Teman-teman terhindar dari perayaaan Valentine yang jelas-jelas bukan milik Islam. Ternyata, ideku berhasil. Gerakan membaca yang kuusulkan ke Bu Susiah pagi itu, dikembangkan Zahra dikolaborasi gerakan menulis.

“Hari ini aku sungguh bahagia, semuanya telah kembali. Terimakasih, Faisal. Kamu, tidak mampir dulu?” Kubuka pintu mobil.

“Fatimah, tunggu sebentar.” Kuurungkan langkah. Jantungku berdebar, lama kami duduk terdiam. Aku mulai kikuk dengan keadaan. Malu dan gelisah berpadu.

“Fatimah, hari ini aku juga sangat bahagia bisa bersamamu.” Gemetar suara Faisal jelas terdengar. “Ketika siang, kumelihatmu di kelas. Pada malam hari, kulihat kau dalam mimpi. Aku tak tahu, rasa ini sekedar suka ataukah cinta. Jujur, sudah lama kupendam rasa ini. Aku merasa bahagia di sampingmu, rasanya tak ingin jauh darimu. Dua hari tak bertemu, rasa rindu  menyiksaku. Mungkin, aku telah jatuh cinta padamu. Bolehkah aku menjadi kekasihmu, Imah?” tanya Faisal berharap.

Aku tertunduk. Hatiku seolah menari di atas awan. Butir-butir kebahagiaan bertebar di relung. Kelu bibirku, bahagia dan haru bercampur aduk.

“Faisal, aku...aku...” jawabku terbata, “aku tak menyangka jika hatiku telah menawanmu. Tapi, aku tak mau, Valentine ini menjadi sejarah kita ke depannya. Karena Valentine, bukan milik kita. Maafkan aku belum bisa memberimu jawaban hari ini.”

“Aku mengerti, Imah. Maafkan aku. Aku akan sabar menunggu. Dan kau tak usah khawatir Imah, aku akan menjemputmu di waktu yang tepat nanti. Doaku, semoga kita dapat berjodoh untuk selamanya. Amiin. Mari, kuantar kau pulang sekalian pamit pada ibu.”

TAMAT


Di Tulis Oleh : ???
Penulis akan di hadirkan disesi terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur ceritanya, pertanyaan kamu akan di jawab sekaligus disesi terakhir.
Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com atau inbox di Jisa Afta

Loneliness | Oleh : Yulia Roza

Yulia Roza
Penulis di BEKAR | Bedah Karya. Silahkan klik disini => BEKAR untuk gabung

Loneliness | Oleh : Yulia Roza
“Bukankah dia, Haruka?” “Ya, dia satu–satunya dari klan Sato yang selamat.” Haruka berjalan santai menerobos hiruk pikuk pasar ketika ia mendengar beberapa orang sedang membicarakan dirinya. Ia berhenti sejenak dan memejamkan mata, mencoba untuk mengabaikan bisik–bisik warga desa mengenai dirinya. Setelah beberapa saat, ia kembali membuka matanya dengan berlahan dan melanjutkan langkahnya. Ia berjalan santai tanpa memperdulikan tatapan kasihan dari seluruh warga desa kepadanya. “Haruka!” Sekali lagi Haruka menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah kirinya dan menatap seorang wanita tua pemilik toko yang menjual makanan. Yang tersenyum dan melambaikan tangan kearahnya. “Kemarilah sebentar!” Ucapnya. Haruka menghela napas berat, lalu berjalan menghampiri wanita itu. “Ada apa nenek memanggilku?” Tanyanya ketika berhenti tepat di depan wanita tua tersebut. Wanita itu menyodorkan sebuah kantung pelastik hitam kepada Haruka. Gadis cantik bermata kecokelatan itu menatap kantung yang disodorkan kepadanya dengan tatapan heran. Dengan sedikit ragu ia menerima pemberian dari pemilik toko makanan itu, lalu bertanya. “Apa ini nek?” “Hanya beberapa makanan dan kue. Aku sengaja membuatnya untukmu.” Jawabnya. Ketika ia melihat Haruka membuka mulutnya, hendak menanggapi jawabannya. 

Cepat–cepat ia menambahkan. “Aku tidak mengasihanimu… Jika itu yang kau takutkan… Hanya saja membiarkan seorang gadis remaja sepertimu kesepian dan kelaparan, itu bukanlah diriku. Lagipula aku dan keluargamu sangat dekat dulu dan kau juga sudah aku anggap sebagai cucuku sendiri. Sekarang kau dan aku bernasip sama… Sama–sama tidak memiliki keluarga. Jadi kau bisa menganggapku sebagai keluargamu mulai hari ini, jangan sungkan–sungkan untuk menemuiku jika perlu bantuan.” Haruka memaksakan seulas senyuman dibibirnya, lalu berkata. “Terimakasih, nek. Aku akan mengingatnya.” “Sekarang sudah malam, sebaiknya kau cepat pulang. Tidak baik anak gadis berjalan seorang diri di malam hari.” Dengan senyuman yang masih tersungging dibibirnya, Haruka mengangkat kantung pemperian wanita itu kedepan wajahnya dan berkata. “Sekali lagi terimakasih untuk makanannya. Aku akan menikmatinya dirumah. Selamat malam, nenek Akane.” Akane membalas senyuman Haruka dengan senyuman tulus dan lembut. “Sama–sama.” . . . “Aku pulang!” Ucap Haruka sambil menutup pintu rumahnya dan menguncinya. Ia melepas sepatu sandalnya dan mengenakan sandal bulu berbentuk kelinci berwarna abu–abu. Haruka meraba–raba dinding untuk mencari stop kontak lampu, menekanya dan seketika ruangan yang gelap itu berubah menjadi terang. 

Matanya menatap setiap sudut rumah dengan nanar. “Kemana saja kau seharian? Apa kau tidak berpikir diluar sana terlalu berbahaya untuk seorang gadis pulang larut malam seperti ini?” Itulah yang akan dikatakan ibunya dulu ketika ia melihat Haruka baru pulang kerumah pada pukul sebelas malam. Sambil memegang sebuah sendok sup dan bertolak pinggang, wanita itu memarahi dirinya. “Kau tidak lupa bukan, Haruka? Ibumu tidak akan tenang melihat anak–anaknya pulang larut malam.” Ayahnya yang sedang duduk di atas sofa sambil melipat koran menatapnya dengan tatapan jahil. Suara langkah kaki dari arah dapur mengalihkan pandangan Haruka, seorang laki–laki tampan berambut pirang jabrik menatapnya dengan bosan. Kakaknya itu menghampiri Haruka dengan sepotong roti di mulutnya dan segelas jus jeruk di tangan kirinya. “Bahkan ibu tidak akan bisa tidur jika aku saja belum pulang selarut ini. Kita akan menjadi orang tua yang baik nantinya.” Timpalnya. Suara ketukan pintu dari luar membuyarkan lamunan Haruka. Beberapa menit kemudian ia mendengar suara seorang gadis memanggil dirinya. Haruka berjalan menuju pintu dan membukanya dengan sekali tarikan. Ia menatap seorang gadis berambut hitam berjalan memasuki rumahnya dengan tatapan bosan. “Bolehkan aku menginap disini untuk malam ini?” Setelah menutup dan mengunci pintu, Haruka mengikuti Izumi keruang tamu. Ia melihat gadis cantik itu menghempaskan tubuhnya keatas sofa dan menatap langit–langit ruangan. Izumi menghela napas dalam dan menghembuskanya dengan pelan. “Aku sangat kesal kepada ibuku. Dia selalu ikut campur dalam setiap urusan pribadiku, dia juga suka melarangku keluyuran pada malam hari. Bukan hanya itu saja, dia juga senang mengatur–ngatur hidupku. 

Tadinya ayah selalu membantuku, tapi pada akhirnya ia selalu mengalah dan menuruti semua perintah ibu. Aku berharap, aku dapat hidup seorang diri.” Haruka menaruh kantung pemberian nenek Akane di atas meja, lalu duduk di sebelah Izumi. “Ibumu sangat menyayangimu.” Ucapnya sambil bersandar di sandaran sofa dan menutup mata. Ia sangat mengerti perasaan orang tua Izumi yang terlalu mengkhawatirkan anak mereka. Dan seharusnya Izumi juga dapat mengerti mengapa kedua orang tuanya bersikap berlebihan seperti itu. Izumi tersentak dan menoleh menatap Haruka dengan tatapan jengkel. “Sepertinya aku datang ke tempat yang salah. Jika Setsu berada di posisimu untuk mendengarkanku, dia akan mengerti diriku.” “Kalau begitu kenapa kau tidak menghampirinya saja?” Tanya Haruka dengan nada mengejek. “Hidup seorang diri dan kesepian, jauh lebih buruk dari pada dimarahi orang tua.” Kali ini nada Suaranya berubah menjadi dingin. “Dan kau…” Haruka membuka matanya dan menoleh menatap Izumi dengan dingin. “Kau… Gadis payah yang hanya menatap orang lain dari keburukanya dan selalu menganggap dirimu jauh lebih baik dari pada siapapun. Dasar bodoh!” Haruka sama sekali tidak berharap Izumi dapat mengerti maksud perkataanya. Ia bangkit dari sofa dan melangkah memasuki kamar tidurnya. Haruka menghempaskan tubuh di atas tempat tidur dan menatap kosong kelangit–langit kamar. Bayangan tentang kenangan–kenangan bersama keluarganya kembali muncul dalam benak Haruka. Sehingga ia kembali merasakan kehadiran ibu, ayah dan kakaknya di dalam rumah ini. . . . Pagi itu Haruka hanya duduk diam di bangkunya dan menatap kosong keluar jendela. Ia tidak memperdulikan kebisingan yang terjadi di ruangan itu ketika sosok Setsu memasuki kelas. Pemuda tampan itu berjalan santai menuju bangkunya yang terletak di belakang bangku Haruka.

Gadis itu mengalihkan pandangan ke arah belakang ketika mendengar suara decitan bangku, satu hal yang ia sadari ketika menatap sosok Setsu dengan jelas. Pemuda itu memiliki wajah tampan dengan mata setajam elang. Sekarang mata itu menatapnya dengan lembut, dan… kasihan? “Mengapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Setsu dengan nada dingin. Haruka tersenyum sinis, lalu berkata. “Itu pertanyaanku.” Haruka melihat Setsu membuka mulutnya untuk menanggapi perkataannya, dengan malas dan cepat ia mengalihkan pandangan kedepan. Menatap seorang pria berstelan rapi sudah berdiri di depan kelas. Pria itu bukanlah guru mereka, karena tidak ada guru dimanapun yang menyelipkan sebuah pistol di gespernya. Dan pria itu sedang menatap kearahnya dengan tatapan dingin. Pria itu ragu sejenak, lalu membuka mulutnya. “Sato Haruka!” Haruka tidak menjawab panggilan dari pria itu, ia hanya menatapnya dengan tajam. Menunggu kelanjutan dari kata–kata pria itu dengan sabar. “Ikut aku keruangan BK. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.” Tanpa menunggu sampai seluruh bisikan dan tatapan bingung dari teman–teman sekelasnya semakin jelas. Haruka bangkit dari bangkunya dan berjalan santai keluar kelas. . . . “Perkenalkan. Namaku adalah Yamada Itsuki.” Haruka baru saja duduk di salah satu bangku kosong diruangan itu ketika Itsuki memperkenalkan dirinya. Ia masih diam menunggu kelanjutan kata–kata dari pria itu. “Saya adalah anak buah dari ayahmu sewaktu beliau masih menjabat sebagai kapten tim khusus di FBI. Saya kesini untuk memberikan kabar gembira kepadamu.” Itsuki diam sejenak, ia menghembuskan napas berat. “ Atau mungkin saja tidak berarti buatmu. Tapi kamu harus tetap mengetahuinya. Kelompok misterius yang menyerang dan membunuh keluargamu pada malam itu telah di tangkap. Mereka merupakan anak buah dari geng Gayuza yang ketuanya telah di tembak mati oleh ayahmu sewaktu melakukan penangkapan. Mereka ingin membalas dendam karena kematian ketua geng mereka. Dan…” “Dan melenyapkan nyawa keluargaku? Ayah yang hanya menjalankan tugasnya sebagai anggota FBI? Ibu dan kakakku yang tidak tahu apa–apa? Dan aku… Aku menjadi seorang diri… dan… Kesepian…” Kata Haruka dengan dingin setelah menyela perkataan dari Itsuki. Ituski dapat melihat dengan jelas air mata yang mengenang di kelopak mata Haruka. Gadis itu masih terpukul dengan kejadian pembantaian seminggu yang lalu di kediamannya.

Sehingga sampai saat inipun Haruka masih belum bisa memaafkan kejadian pada hari itu. Ia masih menyimpan dendam kepada mereka yang tega merenggut nyawa seluruh anggota keluarganya. Haruka menjadi lebih keras kepada dirinya sendiri. Ia mengatakan kepada dirinya untuk tidak lagi mempercayai siapapun. Ia harus mampu mengandalkan dirinya sendiri. Itulah alasanya mengapa setiap malam ia terus berlatih ilmu bela diri di tengah hutan. “Aku juga banyak mendengar tentang dirimu dari ayahmu.” Perkataan Itsuki membuat Haruka tersentak dari lamunanya. Ia mengerjap–ngerjapkan mata dan kembali menatap Itsuki dengan dingin. “Ayahmu pernah mengatakan kepadaku bahwa anak gadisnya telah menguasai empat jenis ilmu bela diri dengan baik melebihi Ryuki, kakakmu.” “Ya. Aku telah menyukai ilmu bela diri sejak usia tiga tahun. Sedangkan Ryuki-niichan lebih menyukai ilmu menembak dan panahan. Dia sangat ahli dalam bidang itu.” “Bagaimana kalau malam ini aku dan beberapa anggota tim asuhan ayahmu dulu melihatmu berlatih?” Haruka membuka mulutnya untuk menjawab, namun ditutupnya kembali. Setelah ragu sejenak, akhirnya ia mengatakan. “Baiklah. Kalian bisa datang ketengah hutan dekat air terjun dan melihat aku berlatih disana.” Alis Itsuki berkerut samar. “Mengapa harus di tengah hutan?” “Aku hanya suka suasana tenang disana.” “Kalau begitu kami akan datang pukul delapan malam.” . . . Dibawah terangnya cahaya bulan purnama dan dinginya angin malam. Haruka berlatih seorang diri di dekat air terjun. Ia sama sekali tidak perduli apakah Itsuki dan anggota lain asuhan ayahnya dulu akan datang seperti apa yang pria itu katakan tadi pagi di sekolahnya. Dengan gesit Haruka memanjat sebuah pohon dan duduk bersila di atas dahannya yang kokoh. Dari atas pohon setinggi dua puluh meter itu ia dapat melihat keindahan langit malam dari lebih dekat. Baru saja menikmati keindahan malam, Haruka di kagetkan dengan suara langkah kaki.

Bukan hanya satu orang, melainkan suara langkah kaki beberapa orang yang mendekati pohonnya. Haruka mempertajam indra pendengaranya untuk mendengarkan percakapan beberapa orang yang berhenti tepat di bawah pohonnya. “Dimana Haruka? Bukankah kau mengatakan kita akan menemuinya disini?” Tanya seorang gadis dengan suara lembut tapi tegas. “Aku yakin ini tempatnya. Tapi mengapa dia tidak kelihatan?” Haruka dapat menebak bahwa yang berbicara barusan adalah Itsuki. “Tapi dimana dia sekarang?” Terdengar suara berat seorang pria yang ikut angkat bicara. “Apa jangan–jangan kita datangnya kecepatan?” Haruka menoleh dan menatap kebawah, memandang keempat orang yang sedang menunggunya di bawah sana. Haruka merogoh tas kecil yang terlesip di ikat pinggangnya dan mengeluarkan sebuah kunai, lalu melemparkanya ke tengah–tengah keempat orang itu. Sehingga membuat mereka tersentak dan melompat kaget. “Mencari keberadaanku?” Haruka melompat dan mendarat dengan anggun di tanah. Ia mencabut kunai yang dilemparkanya tadi dengan tenang, lalu kembali memasukkanya kedalam tas. Sebelah alis Haruka terangkat setelah menangkap sosok Setsu di tengah–tengah Itsuki dan seorang wanita cantik. “Mengapa ada dia?” Itsuki menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan canggung. “Sebenarnya sekarang kita adalah keluarga.” Mata Haruka menyipit. “Keluarga?” “Sebelum aku menjelaskannya, ada baiknya kalau kau berkenalan dengan kedua orang ini.” Itsuki menatap seorang wanita cantik berambut lurus sebahu dan seorang pria tampan bermata biru dengan bergantian. “Mereka berdua adalah…” “Hai! Perkenalkan namaku Mei dan ini Ken. Kami juga anak asuhan dari mendiang ayahmu dulu.” Kata Mei setelah menyela perkataan Itsuki. Haruka dapat melihat Itsuki menunduk dan menggerutu kesal. “Aku, Sato Haruka.”
Ucapnya sambil mengalihkan pandangan ke arah Mei dan Ken. “Lalu mengapa anak itu ada disini?” Setsu mendecah kesal setelah mendapati Haruka menatapnya dengan dingin. “Namaku Uchida Setsu, bukan anak itu.” Haruka mengangguk–ngangguk dan menatapnya dengan bosan. “Begini penjelasannya…” Itsuki menghentikan perkataanya setelah mendapati dirinya di tatap oleh keempat orang di hadapanya dengan dingin. Sesaat ia mengidik ngeri, namun ia berhasil menguasai perasaanya dengan baik. Itsuki berdeham pelam sebelum melanjutkan ucapannya. “Jadi begini… sebenarnya ayah Setsu adalah kakaku, sedangkan ayah Haruka adalah kapten tim kami dulu… sebelum mereka berdua tiada… mereka menitipkan anak-anaknya kepada kami…” Haruka dan Setsu saling melempar pandangan beberapa saat, lalu kembali menatap Itsuki dengan tatapan penuh tuntutan penjelasan. “Baiklah-baiklah! Aku akan jelaskan lebih rinci… jadi begini… Aku adalah adik dari ayahnya Setsu, jadi dia adalah keponakanku… sedangkan ayah kau, 

Haruka. Adalah kapten timku dahulu…” “Langsung saja… gak usah muter-muter.” Celetuk Haruka setelah memotong perkataan dari Itsuki. Itsuki mendesah panjang. “Baiklaaah..! Aku akan menjelaskan tentang kenapa kami menjadi walimu mulai hari ini... Pekerjaan kami sebagai seorang FBI akan menuntut kami untuk memikirkan hal terburuk yang akan terjadi di medan perang. Sebelum hal terburuk itu terjadi, kami akan menyusun rencana untuk kelangsungan kehidupan keluarga yang ditinggalkan… siapa walinya nanti, biaya sekolah dan kuliah, dan sebagainya… Ayahmu sudah memikirkan hal itu secara matang-matang. Dan ayahmu ternyata telah mempercayakanmu kepada kami. Apa kau mengerti? Apa kau setuju kalau kami menjadi walimu?” “Terserahlah.” Ucap Haruka acuh tak acuh, lalu berjalan menuju sungai. Setelah berdiri di tengah–tengah sungai yang dangkal itu, Haruka menyiapkan kuda–kudanya dan memulai gerakan kecil dengan tendangan ke depan lalu disusul gerakan pukulan. Gerakan–gerakan itu semakin lama, semakin cepat. Sehingga membuat ombak kecil di aliran sungai. Mata Mei menyipit memperhatikan sorot mata Haruka yang tajam menyala. “Ia masih dikuasai oleh dendam.” Gumamnya. Ken yang berdiri persis di sebelah Mei dapat mendengar dengan jelas perkataan dari wanita itu, walaupun terbilang suaranya cukup kecil. Karena jarak mereka yang dekat, membuat Ken dapat mendengar perkataanya. “Itu wajar, tidak ada manusia yang rela melihat keluarganya tewas secara mengenaskan. Apa lagi ia sama sekali tidak berada disana untuk melindungi keluarganya. Tapi percayalah kepada Haruka, suatu saat nanti ia pasti dapat melupakan masa–masa menyakitkan itu.” Commentarnya. . . . Sebulan sudah Haruka dan Setsu berlatih bersama setiap malam di tengah hutan ini. Tidak jarang mereka hanya berlatih berdua seperti saat ini. Pekerjaan Itsuki, Mei dan Ken sebagai anggota satuan khusus FBI, mengharuskan mereka melakukan perjalanan keluar kota selama berhari–hari untuk melakukan penyelidikan dan menangkapan target incaran mereka. Itsuki percaya bahwa tanpa mereka, Haruka dan Setsu dapat berlatih bersama dengan baik. Apa lagi Setsu terbilang anak yang tenang, dewasa dan dapat diandalkan. Itsuki yakin bahwa Setsu dapat dengan mudah beradap tasi dengan Haruka yang dingin dan pendiam.

Haruka duduk bersandar di bawah pohon sambil menenggak sebotol air mineral. Keringat berkucuran dari pelipisnya dan napasnya juga sudah tidak beraturan. Sejak berlatih dengan Setsu dua jam lalu, Haruka belum sempat beristirahat dan itu membuatnya sangat kelelahan. “Bagi!” Haruka menoleh dan menatap Setsu yang telah duduk di sebelahnya dengan tatapan bosan. Masih sibuk menenggak habis air mineralnya, Haruka melemparkan sebotol air kepada Setsu. “Bukan yang ini.” Setsu merampas botol air milik Haruka, lalu meminumnya tepat di bekas bibir gadis itu. Haruka menggelengkan kepala melihat tingkah aneh Setsu. “Aku tidak mengira kau suka berbagi sebotol air dengan orang lain.” Setsu mendesah lega setelah menenggak habis sisa air dalam botol berukuran 1.8 lt itu. “Tidak. Aku tidak pernah berbagi apapun dengan orang lain.” 

Serunya sambil mengelap bibir dengan ujung kausnya. Haruka hendak bangkit dari tanah ketika Setsu menarik lengannya sehingga ia harus kembali duduk. “Aku tidak berniat untuk mendengar kelanjutan cerita dihidupmu.” Katanya sambil menyentakkan tangan Setsu dari pergelangan tangannya. “Aku tidak akan bercerita. Aku hanya ingin kau istirahat sejenak. Kita sudah berlatih lebih dari dua jam. Dan aku sangat lelah.” Haruka tidak berkomentar apapun, ia kembali berdiri dan berlajan beberapa langkah untuk mendekati sebatang pohon besar dan memanjatnya dengan gesit. Tidak sampai lima menit, gadis bertubuh mungil itu telah sampai di dahan yang tertinggi. Haruka menghela napas panjang dan merebahkan tubuhnya di atas dahan besar itu. Ia menatap langit yang sepi tanpa taburan bintang untuk menemani bulan di atas sana. “Kau dan aku sama… Sama–sama kesepian.” Gumamnya. “Bisa geser sedikit?” Haruka tersentak dan duduk dengan kaget. “Astaga, Setsu!” Ucapnya. “Kau buat aku kaget.” Setsu mengangkat bahu sebelum merebahkan diri disamping Haruka. “Aku juga tidak mau mati sia–sia di makan binatang pemburu jika tertidur di bawah sana.” Sekali lagi Haruka menghela napas panjang dan merebahkan dirinya di atas dahan pohon. Mereka hanya diam dan menatap lekat langit malam. Suata jangkrik, burung hantu dan beberapa binatang malam lainnya menjadi pemecah keheningan di antara mereka. “Kenapa kau tidak pulang? Aku yakin ibumu sedang cemas mencarimu sekarang.” Kata Haruka pada akhirnya. “Percuma saja aku pulang. 

Tidak ada siapa–siapa dirumah. Bukan hanya ayahku saja yang meninggal dalam kecelakaan yang terjadi 3 tahun lalu, tapi juga ibu dan kakaku.” Sorot mata Haruka berubah menjadi nanar, lalu ia mendesah pelan. “Maafkan aku.” Gumamnya. “Tak masalah, lagi pula kau tidak tahu akan hal itu.” “Aku tidak berfikir bahwa ada orang yang bernasip sama denganku. Dan aku berharap tidak ada orang di luar sana yang akan mengalaminya. Karena kehilangan seluruh anggota keluarga secara bersamaan itu sangat menyakitkan.” “Jika kau berjalan keluar desa dan memasuki desa-desa yang terpencil. Maka kau akan menemukan banyak anak yang bernasip sama dengan kita. Bahkan ada yang lebih parah lagi, selain kehilangan seluruh anggota keluarga, mereka juga harus kehilangan rumah dan hidup terlunta–lunta di jalanan.” Haruka menghela napas berat dan memejamkan matanya. “Aku tidak dapat membayangkan betapa beratnya beban kehidupan mereka.” “Ya! Dan aku rasa… mereka jauh lebih hebat dan tangguh,dibandingkan kau dan aku.” “Ya, kau benar.” Tumbuh seorang diri dan kesepian bukanlah sebuah takdir, tetapi sebuah jalan hidup. Kau tidak akan pernah kesepian jika membuka diri untuk dunia luar dan menyambut uluran tangan seorang teman dalam hidupmu. Tidak ada manusia yang kesepian selama mereka memiliki teman dan sahabat. Hubungan seperti itu yang saat ini tengah terjalin diantara Haruka dan Setsu tanpa mereka sadari. Setelah berlatih setiap hari, hubungan diantara mereka semakin terjalin erat. “Aku berfikir kau, pemuda yang baik.” Kata Haruka kepada Setsu. “ Ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepadamu. Kenapa kau selalu menatapku dengan lembut?” “Karena kau adalah temanku…” Jawab Setsu dengan suara lembut tapi mengisyaratkan ketegasan.

“ Kau satu – satunya orang yang dapat menarik minatku untuk memeperhatikan orang lain. Dan setelah aku memperhatikanmu, aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku… Saat melihatmu terluka, aku juga… Terluka.” Haruka menoleh dan menatap Setsu. “Kenapa?” “Karena kau temanku…” “Teman?” “Ya!” Setsu mendesah pelan. “Setelah sebulan berlatih bersamamu. Aku dapat merasakan ikatan diantara kita semakin terjalin dengan erat, dan aku mulai melihatmu sebagai keluargaku. Aku tahu rasa sakit di hatimu tidak dapat disembuhkan dengan mudah… Tapi aku yakin, kita dapat menyembuhkanya bersama…” Haruka tertawa singkat, lalu kembali menatap langit. “Kau tahu… Kau adalah pemuda yang bodoh. Tidak ada seorangpun yang mau berteman dengan gadis aneh seperti diriku… Aku… Aku tidak bisa bersikap lembut kepada siapapun… Aku… gadis pendiam dan dingin yang tidak disukai oleh para laki–laki diluar sana. Lalu mengapa kau malah menganggapku sebagai teman?” Setsu menoleh menatap Haruka dan tersenyum tipis.

“Dasar Bodoh!” Gumamnya. “Kau adalah gadis yang menarik dan manis. Jangan pernah lagi pikirkan perkataan orang lain dan percayalah dengan kemampuanmu sendiri.” Sekali lagi Haruka menoleh menatap Setsu. “Setsu.” Gumamnya. Setsu melebarkan senyumannya, lalu berkata. “Mulai hari ini kau tidak lagi sendirian. Kau dan aku akan menjalani hidup bersama–sama… Sehingga aku maupun kau, tidak akan merasa kesepian lagi.” Setetes air mata jatuh dari sudut mata Haruka ketika ia tersenyum. Setsu menjulurkan tangan dan menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. “Duri yang ada di dalam hati, akan tercabut oleh uluran tangan seorang sahabat.” Tambahnya. “Kau tidak akan kesepian lagi, aku janji padamu.” Setsu mengangguk dan mengelus pipi Haruka dengan ibu jarinya. “Dan aku dapat menemukan jalan kerumah dengan jelas. Tidak harus takut lagi kesepian dirumah yang besar.” “Aku tidak harus makan ramen instan setiap hari karena takut memasak dan makanannya terbuang sia–sia.”Sesaat mereka merawang jauh ke masa depan dan tertawa geli. Angin berhembus semakin kencang, Setsu menarik tubuh Haruka kedalam pelukannya. Membiarkan kehangatan menjalari tubuh mereka yang mulai membeku. Sehingga akhirnya mereka tertidur pulas di atas dahan pohon sampai pagi menjelang dan kehidupan baru mereka akan segera di mulai.

- End -
Yulia Roza 

Ingin karya cerpen kamu di bedah di BEKAR? silahkan bergabung di Grup Jisa Afta dengan cara klik disini => BEKAR