Friday, 27 October 2017

BEKAR | Bedah Karya #6 Kisah Sebentar

 Bedah Karya  

Kisah Sebentar


Tujuan BEKAR :
Untuk Penulis : Bisa menjelaskan isi tulisan kamu ke pembacaUntuk Pembaca : Bisa terinspirasi untuk segera membuat karya.


     ATURAN MAIN :
·         Wajib baca sampai habis cerpen ini.
·         Fokuslah pada jalan cerita. Tulis pertanyaan kamu di komentar, penulis tidak akan       langsung menjawab, penulis akan menjawabnya di sesi terakhir pada periode 24 jam.


·         PENULIS UNTUK SEMENTARA KAMI RAHASIAKAN NAMANYA, DAN AKAN DIPANGGIL UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN KAMU DISESI TERAKHIR.

·         Cerpen tayang selama 24 Jam

·         Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email)

SELAMAT MENIKMATI KARYA LUAR BIASA INI !

KISAH SEBENTAR


Teeeetttt!

Bel apartemen berbunyi. Dengan malas Aku bangkit dan berjalan menuju pintu, ku intip dari celah kecil ditengah pintu, nampak berdiri seorang gadis bertubuh mungil. Tanpa menunggu lama aku membuka pintu.

“Hai, mas.” Serunya. Lalu masuk melewatiku begitu saja. Aku menutup pintu dan menyusulnya menuju ruang tamu. 

“Kamu sedang apa, Mas?” Tanyanya sambil duduk di lantai tepat didepan meja sofa. Tas tangannya ia lemparkan begitu saja di atas sofa. Lalu memulai kebiasaannya menempelkan kepala di atas meja kaca. Tangan kecilnya meraih asbak kosong dan memutar-mutarnya. 

Tatapannya kosong. Tangannya terus memainkan asbak itu. Bibir tipisnya terkatup. Sorot matanya memancarkan kelelahan. Aku membiarkanya dalam keadaan itu. Lalu aku menuju dapur dan mengambil dua softdrink dari dalam kulkas.

“Minum dulu.”
Ia hanya menatapku lalu meluruskan duduknya.

“Menurutmu aku cantik tidak? Atau aku kurang menarik? Atau aku kurang pintar? Letak kekuranganku apa dan dimana?” Cecarnya. 

“Dulu mas bilang aku cantik. Aku menarik. Aku juga pintar. Tapi kenapa Lian masih menyakiti perasaanku. Kenapa dia masih bermain di belakangku. Kenapa aku harus percaya segala kebohongan dia? Kenapa aku tidak bisa lepas darinya. Kenapa semua ini harus terjadi pada aku. Aku muak. Aku lelah. Tapi aku juga tidak bisa berhenti mencintainya. Aku bodoh, bodoh, bodoh!” Teriaknya sambil mengacak-acak rambut panjang ikalnya. 

Air matanya mengalir dengan deras. Bibirnya gemetar. Ia menangis sejadi-jadinya. Sungguh aku ingin membawanya masuk kedalam dekapanku. Aku ingin menenangkannya. Tapi itu tidak mungkin. Ada Ratih, wanita yang sekarang menjadi kekasihku itu telah mempercayakan cintanya untuk aku jaga. Dan aku tidak ingin menyakiti hatinya hanya untuk berbuat baik kepada gadis lain.

“Minumlah dulu, agar kamu tenang.” Aku menyodorkan segelas air putih. Ia hanya menggeleng. Lalu jatuh tersungkur di lantai. Matanya masih menerawang jauh.

“Minumlah dulu. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu.”

“Tidak akan terjadi apa-apa denganku selama kamu disampingku, mas.”lirihnya.
Aku tak menjawabnya. Aku membiarkannya dalam keadaan yang ia inginkan. Aku bangkit dan meninggalkannya. Lalu aku menuju balkon kamar, dans menatap luas angkasa. Betapa berat beban gadis itu. Dia seperti anak remaja yang kehilangan arah. Padahal umurnya tidak mudah lagi. Sebesar itukah cinta yang Ia rasakan kepada Lian? Kenapa logikanya mati dengan perasaan cinta yang belum tentu benar adanya. Sungguh gadis yang malang!

Aku menghela nafas panjang. Lalu kembali melihat keadaan gadis kecil mungil yang baru ku kenal seminggu yang lalu. Gadis yang dengan polosnya menceritakan kisah percintaan dengan kekasihnya. Dan bagiku kisah cintanya bagai kisah yang mematikan logika.

“Kamu ngapain di atas mas?” tanyanya saat aku telah duduk di hadapannya. Kini ia terlihat sudah sedikit tenang. Nafasnya mulai teratur. Rambutnyapun sudah ia rapikan. Dia terlihat sungguh manis. 

“Mas, kok bengong?”

“Hehehe, aku hanya nyari udara segar aja.”

“Siang-siang gini mana ada udara segar mas? Yang ada terik matahari tuh.” jawabnya polos sambil memonyongkan bibir layaknya anak kecil. Aku tertawa melihat tingkahnya.

“Kamu sudah tenang?”

“Iya. Setiap kalut seperti ini entah kenapa aku selalu ingin mendatangimu. Melihat keberadaanmu disampingku semua bebanku hilang. Kamu tuh seperti obat tahu, buatku.” Katanya sambil menarik hidungku dengan kuat.

“Auw, sakit!” aduhku.

“Hahahaha...” tawanya terbahak. Seakan tak ada beban lagi.

“Kamu cantik jika tertawa lepas seperti ini” ucapku. Ia hanya tersenyum. Lalu duduk mendekat disampingku. Ia menyandarkan bahunya dipundakku.

“Jangan menolak menopang kepalaku, mas. Sebentar saja, aku ingin merasakan tidur dipundakmu.” Aku menuruti pintanya. Aku merapikan dudukku agar Ia nyaman. 

“Mba Ratih beruntung banget punya pacar kayak, mas. Baik, sabar, pengertian. Setia lagi. Seandainya Lian bisa seperti itu. Aku mungkin tidak akan sekonyol ini.” Suaranya melemah. 

“Aku sudah lelah Mas, dengan semua kebohongan Lian. Aku sudah tidak kuat menghadapi Lian yang playboy. Aku sudah tidak sanggup menahan cemburu. Aku harus bangkit. Aku harus melanjutkan hidupku. Aku tidak mau hidupku sia-sia hanya karna persoalan cinta yang belum tentu sejati. Benar kata kamu mas, seandainya Lian benar-benar mencintaiku dia tidak akan mungkin membohongiku. 

Tapi sudahlah, semua sudah terjadi. Sekarang tinggal bagaiman aku memperbaikinya. Dan aku sudah putuskan, aku akan pindah Mas. Aku mau ke Jogja dan memulai hidup baru di sana. Aku ingin meninggalkan Lian dengan segala janji-janji manisnya.”

Hening.

Aku merasakan gadis manis ini sudah tertidur. Kurapikan tidurnya di atas sofa. Wajah polosnya terpampang manis. Aku beranikan diri menyentuh wajahnya. “Kamu terlalu lugu untuk ukuran playboy seperti Lian, sayang. Tapi kamu juga adalah contoh wanita yang memiliki cinta. Seandainya Ratih memiliki cinta sepertimu, pasti aku tidak akan pernah merasa kesepian seperti saat ini.”

***

Pagi-pagi sekali aku sudah mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Aku tidak boleh terlambat! Dari kejauhan aku melihat gadis mungil menarik koper yang berwarna ungu dan menaruhnya dibagasi mobil. Saat ia akan menaiki mobil, dengan kencang aku memanggil namanya.

“Aluna.......”
Ia berbalik. Sedikit kaget dengan kehadiranku.

“Mas, Rey?”
Aku mendekatinya dengan nafas yang tidak beraturan.

“Ini buat kamu.”

“Apa ini mas?’

“Bukanya nanti, kalau aku sudah pulang”

“Enggak mau. Aku mau bukanya sekarang.” Tanpa basa basi iya menyobek bungkusan yang membalut sebuah bingkai pemberianku. Matanya melotot dan mulutnya sedikit terbuka, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Air matanya jatuh lagi. 

Ia menatapku dengan mata yang sekejap sudah memerah. “Kamu kapan ngelukis aku, Mas?’

“Waktu kamu tertidur. Maaf yah, aku udah lancang tidak minta izin. Bagiku kamu bukan objek, tapi sebuah keikhlasan.”

Aluna tersenyum, “Makasih mas. Ini hadiah yang paling indah yang pernah aku dapatkan seumur hidupku.”

Kami terdiam. Lalu ku beranikan diriku meminta, “Aluna, bolehkah aku memelukmu?” Dia menatapku tepat mengenai bola mataku. Matanya begitu menguasai. Anggukannya membuat tubuhku membeku. Perlahan kutarik ia masuk dalam dekapanku. 

Ya, Tuhan... rasa apa yang sedang aku rasakan. Tubuh mungilnya yang hanya setinggi dadaku, rambut ikalnya yang halus, aroma tubuhnya polos tanpa parfum sedikitpun. Aroma ini akan aku simpan dan akan menjadi pelabuhan kenanganku yang terakhir.

TAMAT

Penulis akan di hadirkan disesi terakhir. Tulis pertanyaan kamu tentang alur ceritanya, pertanyaan kamu akan di jawab sekaligus disesi terakhir.



Kirim cerpen kamu ke Email: jisaafta@gmail.com ( cantumkan akun Fb kamu di email) 






Penulis : Sitti Nurani Kamal